
Rintik Hujan Yang Menggugurkan Cinta
Bab 3
Seketika, Benson berhenti.
Tasya memegangi perutnya, meliriknya sekilas. Lalu, membisikkan sesuatu di telinganya yang tak bisa kudengar.
Benson pun menoleh padaku.
“Yuna, kamu nggak perlu pakai cara seperti ini untuk menipuku.”
“Bagaimanapun juga, aku nggak akan meninggalkan Tasya.”
Setelah itu, mereka pun berjalan beriringan pergi tanpa menoleh lagi.
Seketika, aku benar-benar mati rasa.
Seorang anak yang tidak diharapkan sebaiknya memang tidak datang ke dunia ini.
Pernikahan yang sudah retak cepat lambat akan runtuh juga.
Selesai operasi dan pulang ke rumah, aku mendapati seluruh ruangan gelap gulita.
Beberapa hari berturut-turut, Benson tidak pulang.
Aku pun tidak menelepon dan bertanya dia di mana. Aku hanya berdiam di rumah, menjalani masa pemulihan, sambil menghubungi pengacara menanyakan soal perceraian.
Saat kembali melihat Benson, itu lewat unggahan instagram Tasya.
Pria yang biasanya tak suka difoto, kini memakai bando kartun dan berpose bersama Tasya untuk pemotretan kehamilan.
Keduanya saling membelai perutnya, bertatapan mesra, persis seperti pasangan yang sedang menantikan kelahiran anak mereka.
Kali ini, aku menekan tombol like.
Beberapa hari tanpa kabar, tiba-tiba Benson menelepon dan menyuruhku makan malam di rumah keluarga besarnya.
Belakangan ini, aku sudah mengemas banyak barang pribadiku. Surat perjanjian cerai pun sudah disiapkan oleh pengacara. Rasanya memang sudah saatnya memberitahunya dan keluarganya soal keputusan ini, jadi aku pun mengiyakan ajakannya.
Saat tiba di rumah keluarga besarnya, kursi yang biasanya kududuki di meja makan sudah diduduki orang lain, yaitu Tasya.
Ibu Benson menggenggam tangan Tasya sambil berbicara dengan lembut. Wajahnya terlihat penuh senyuman, wajah yang tak pernah ditunjukkan padaku selama lima tahun aku menjadi menantunya.
Sejak awal, ibu Benson memang tidak menyukaiku. Apalagi selama lima tahun menikah aku belum juga hamil, itu membuatnya semakin dingin padaku.
Dulu, aku sempat berpikir bahwa kehamilanku bisa mencairkan hubunganku dengannya. Sekarang, itu sudah tak ada artinya lagi.
Saat melihatku, Tasya tersenyum canggung.
“Yuna, setelah tahu aku hamil, tante bersikeras mengajakku tinggal di sini biar bisa merawatku. Jangan salah paham, ya….”
Aku malas menanggapinya dan langsung menarik kursi untuk duduk.
Ibu Benson menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu menepuk punggung tangan Tasya, sambil berkata dengan nada penuh sindiran,
“Yuna, kamu sudah menikah dengan Benson lima tahun tapi belum juga hamil, aku sudah nggak sabar ingin menimang cucu.”
“Tasya ini anak yang malang. Suaminya meninggal dan dia hidup sendirian, untungnya ada Benson yang menjaganya.”
“Sekarang, dia juga sudah mengandung cucu keluarga kami. Aku membawanya tinggal di sini, kamu nggak keberatan, ‘kan?”
Perkataannya yang terdengar seperti bertanya padahal sebenarnya sindiran halus, sudah biasa kudengar.
Namun sekarang, apa pun yang terjadi antara Tasya dan keluarga Benson, aku sudah tak peduli lagi.
Aku hanya mengangguk pelan.
“Aku nggak keberatan.”
Anda Mungkin Juga Suka





