
Rintik Hujan Yang Menggugurkan Cinta
Bab 4
Mendengar jawabanku, ibu Benson tampak sedikit terkejut dan menatapku sejenak. Saat melihat wajahku tanpa tanda-tanda marah, ekspresinya sedikit melunak.
“Baguslah kalau kamu bisa mengerti. Bagaimanapun juga, keluarga ini nggak mungkin dibiarkan tanpa penerus.”
“Untung saja Benson itu orang yang setia kawan. Kalau nggak, aku juga nggak akan bisa mendapatkan cucu.”
Sambil berbicara, ibu Benson membelai perut Tasya, wajahnya terlihat penuh kegembiraan.
Namun bagiku, semua itu terdengar begitu ironis.
Setia kawan?
Kalau Celvin tahu bahwa menjaga istrinya berarti membuat Tasya mengandung anak Benson, mungkin dia akan berontak sampai penutup peti matinya tak bisa menahannya di dalam.
Melihat aku diam saja, Tasya melirikku dengan ragu.
“Yuna, kamu masih marah pada aku dan Benson?”
“Aku sungguh hanya ingin punya anak sendiri. Aku sendirian di rumah, rasanya sangat sepi dan menakutkan.”
Sambil bicara begitu, Tasya terisak pelan, seolah-olah baru saja mendapat perlakukan paling kejam di dunia.
Ibu Benson buru-buru memberinya tisu untuk menyeka air mata, lalu menatapku dengan tak senang.
“Yuna, kamu itu ayam betina yang nggak bisa bertelur, nggak pantas marah-marah di sini. Anak yang dikandung Tasya ini adalah darah daging keluarga ini dan dia harus melahirkannya.”
Aku menatap dingin dua orang yang begitu serentak di depanku, lalu berkata,
“Baiklah, kebetulan sekali, aku akan memberikan posisiku pada Tasya. Jadi, nanti anak itu bisa terang-terangan memanggilnya ibu, bukan malah memanggilku ibu dan memanggilnya ibu angkat.”
Aku masih ingin melanjutkan, tapi tiba-tiba Tasya malah berlutut di depanku, memegang ujung celanaku sambil terisak.
“Yuna, aku tahu kamu masih marah, tapi anak ini nggak bersalah. Kamu nggak boleh mencelakainya.”
Aku bingung apakah Tasya memang tidak mengerti maksudku. Dengan dahi berkerut, aku berniat menariknya berdiri, tapi tiba-tiba terdengar bentakan keras.
“Hentikan!”
Begitu masuk, Benson melihat Tasya berlutut sambil menangis dan mengatakan bahwa anak itu tidak bersalah. Dia langsung mengira aku yang menyuruhnya menggugurkan kandungan.
Tanpa pikir panjang, dia menghantam perutku dengan tendangan keras. Tubuhku terhempas jatuh ke lantai bersama kursi.
Rahimku yang baru saja menjalani aborsi beberapa hari lalu masih sangat lemah, sama sekali tak mampu menahan tendangannya.
Tubuhku terasa dingin, seolah tercebur ke dalam air es. Pandanganku berkunang-kunang, perutku terasa perih menusuk.
Di telingaku samar-samar terdengar suara Benson yang masih memaki.
“Yuna, kamu malah mau menyuruh Tasya menggugurkan anaknya? Kejadian waktu di rumah sakit kemarin masih belum cukup? Kamu benar-benar kejam sekali!”
Aku berusaha menahan napas, berdiri dengan sisa tenaga, lalu mengeluarkan perjanjian cerai dari tas dan melemparkannya ke wajah Benson.
“Benson, kita cerai!”
Di tengah tatapan tak percaya darinya, aku berjalan terhuyung menuju pintu. Tapi, baru beberapa langkah, pandanganku gelap dan tubuhku kembali terjatuh.
Sebelum kesadaranku hilang, samar-samar kudengar teriakan orang sekitar,
“Kenapa nyonya mengeluarkan begitu banyak darah?!”
“Cepat panggil ambulans!”
“Yuna!”
Anda Mungkin Juga Suka





