
Rintik Hujan Yang Menggugurkan Cinta
Bab 2
Keesokan paginya, aku pergi ke rumah sakit.
Baru saja selesai membayar dan bersiap menunggu giliran operasi, aku melihat Benson sedang dengan hati-hati memapah Tasya keluar dari ruang USG.
Tak lama kemudian, mereka duduk bersebelahan di bangku. Tasya menunjuk-nunjuk hasil USG sambil berbicara dan Benson mendengarkannya dengan serius, bahkan sesekali mencatat sesuatu di ponselnya.
Melihat pemandangan itu, aku reflek memegang perutku sendiri. Mataku terasa panas dan sedikit perih.
Aku tak mau menambah sesak di dada dengan melihat mereka berduaan seperti itu. Saat hendak berbalik pergi, tak diduga, Benson malah menoleh dan melihatku.
Dia berdiri, mengernyit dan bertanya dengan kesal,
“Kamu mengikutiku?”
Belum sempat aku bicara, Tasya sudah lebih dulu menarik ujung lengannya. Nada suaranya terdengar gugup,
“Benson, jangan-jangan Luna salah paham? Biar aku yang jelasin ke dia. Jangan sampai merusak hubungan suami istri kalian.”
Kemudian, Tasya pun hendak berdiri menghampiriku.
Benson buru-buru menahannya agar tetap duduk.
“Kamu lagi hamil, jangan banyak bergerak. Biar aku saja yang bicara dengan Yuna.”
Aku tak tertarik mendengar drama manis mereka, jadi langsung berbalik ingin pergi.
Namun, Benson tiba-tiba menarik pergelangan tanganku. Tubuhku terhuyung dan hampir terjatuh.
Saat berhasil menstabilkan diri yang kulihat adalah wajah Benson yang penuh amarah.
“Yuna, aku sudah menjelaskan tadi malam, kenapa kamu belum juga mengerti? Masih mengikutiku ke rumah sakit segala?”
Aku meronta dan melepaskan tangannya. Tanganku sudah terlihat memerah.
“Maaf, aku nggak punya waktu untuk mengikuti kalian, jangan kegeeran.”
Benson jelas tidak percaya.
“Kalau begitu, kenapa kamu ada di rumah sakit?”
Aku mengangkat lembar bukti pembayaran dan menjawab datar, “Aku ke rumah sakit untuk berobat.”
Benson mengernyit dan bertanya, “Kamu sakit? Kok aku nggak tahu?”
Usai bicara, dia langsung berusaha merebut kertas dari tanganku, tapi tiba-tiba Tasya melangkah maju, menggenggam tanganku sambil berlinang air mata.
“Yuna, setelah Celvin meninggal, aku sangat kesepian sendirian. Aku hanya ingin punya anak untuk menemaniku, makanya aku minta bantuan Benson. Aku nggak pernah berniat merusak hubungan kalian.”
Kalau Tasya memang hanya ingin punya anak, dia bisa menggunakan donor dari bank sperma. Tapi, dia malah memilih menggunakan sperma Benson.
Belum lagi panggilan akrabnya yang sudah berubah.
Orang yang sudah benar-benar sadar, akan mulai melihat banyak detail yang dulu terabaikan.
Tatapanku tampak sinis, lalu menarik tanganku pelan.
Tak kusangka, tiba-tiba Tasya malah terjatuh ke belakang dan berteriak kecil. Benson langsung memeluknya erat, wajahnya tampak ketakutan.
“Tasya, kamu nggak apa-apa?”
Tasya melingkarkan tangan di lehernya, air mata menggenang.
“Aku nggak apa-apa, Benson. Aku nggak menyangka, Yuna bakal….”
Seketika, emosi Benson meledak. Api amarah jelas terlihat di matanya.
“Yuna! Kamu tahu nggak dia lagi hamil?! Kok bisa kamu sekejam itu?!”
Aku tidak menyangka Tasya akan memakai trik seperti ini dan lebih tak menyangka lagi bahwa Benson akan langsung memercayainya tanpa ragu.
Aku menatap mereka dengan dingin, “Aku nggak mendorongnya.”
Mendengar itu, Benson semakin marah.
“Aku bahkan sudah melihat sendiri, kamu masih saja beralasan?! Untung saja aku sempat menahannya. Kalau sampai terjadi apa-apa pada Tasya, aku nggak akan memaafkanmu!”
“Tadinya aku mau menunggu kamu selesai periksa biar kita bisa pulang bersama. Tapi sekarang, kamu pulang sendiri saja! Aku mau antar Tasya pulang ke rumah!”
Usai bicara, dia merangkul Tasya dengan hati-hati dan berbalik pergi.
Melihat wajah Benson yang begitu khawatir padanya, tiba-tiba aku memanggilnya,
“Benson, kalau aku bilang aku hamil dan hari ini datang ke rumah sakit untuk menggugurkan kandungan, kamu akan tetap tinggal di sini, nggak?”
Anda Mungkin Juga Suka





