APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jeritan yang Tak Terdengar

Jeritan yang Tak Terdengar

Sebuah petaka menimpa Yolanda di hari ulang tahunnya sendiri. Sang ayah yang murka menuduhnya telah mendorong sepupunya yang belajar balet hingga mengalami cedera kaki. Tanpa ampun, sang ayah memukuli kaki Yolanda dengan tongkat hingga ia tak berdaya dan tidak sanggup berteriak. Demi memberi pelajaran, tubuh Yolanda yang sekarat dilempar ke dalam ruang bawah tanah yang gelap. Namun, saat pintu itu akhirnya dibuka kembali, sang ayah hanya mendapati jasad putrinya telah hancur dan membusuk.
Bab
Bagikan

Bab 1

Tepat pada hari ulang tahunku, seorang sepupu yang sedang belajar balet terjatuh dan kakinya cedera.

Ayah begitu marah dan langsung memukul kakiku dengan tongkat.

Aku menjerit kesakitan, tetapi dia malah menyindir dengan nada kesal.

"Sekarang kamu tahu bagaimana rasanya kesakitan? Waktu kamu dorong sepupumu sampai terjatuh dari tangga, kenapa kamu nggak mikir kalau dia juga akan kesakitan?"

Dia memukulku lebih keras lagi, sampai aku tidak sanggup berteriak lagi.

Untuk membuatku jera, dia melemparku yang sudah sekarat ini ke dalam ruang bawah tanah.

"Yolanda, kalau kamu sudah bisa membuang pikiran jahatmu itu, baru aku akan mengeluarkanmu!"

Namun, saat dia membuka ruang bawah tanah itu lagi, dia hanya menemukan tubuhku yang sudah hancur dan membusuk.

Ketika kesadaranku perlahan kembali, aku melihat Ayah berjalan ke arahku.

Aku langsung terdiam di tempat, tidak tahu harus berbuat apa.

Namun, saat dia melewati tubuhku, aku baru menyadari bahwa dia sama sekali tidak bisa melihatku.

"Kiara, selamat ulang tahun!"

Aku melihat dia tersenyum dan mengelus kepala sepupuku, Kiara, lalu memberinya sebuah hadiah yang dibungkus rapi.

"Terima kasih, Om Teddy!"

Ulang tahun Kiara tujuh hari setelah ulang tahunku.

Baru sekarang aku menyadari bahwa aku sudah meninggal tujuh hari.

Mereka duduk mengelilingi kue yang indah, merayakan ulang tahun Kiara.

Suasananya ramai dan penuh tawa!

Sepertinya kehadiranku tidak menimbulkan perbedaan di sini.

Dari kecil, ulang tahun Kiara selalu sangat meriah.

Sedangkan ulang tahunku, tidak ada yang mau membahasnya, bahkan tidak ada yang peduli.

Ketika Kiara hendak membuat permohonan, Tante Sandra yang ada di sampingnya tiba-tiba bertanya.

"Kak Teddy, di mana Yolanda? Kenapa dia nggak muncul-muncul?"

Mendengar namaku, Ayah menyipitkan mata dengan muak dan berkata dengan dingin.

"Dia sudah melukai Kiara, jadi aku memberi pelajaran padanya. Sekarang dia ngambek entah ke mana."

Mendengar itu, Tante Sandra langsung terlihat khawatir.

"Apa kamu nggak terlalu berat menghukumnya? Yolanda selalu baik, dia nggak akan pergi sembarangan!"

Namun, Ayah tampak acuh tak acuh.

"Aku hanya mengurungnya satu atau dua hari, sekarang sudah dibebaskan. Aku rasa aku masih terlalu ringan menghukumnya!"

Hukuman singkat dari Ayah ini, akan selalu kuingat di sepanjang hidupku.

Malam itu, dia menatapku dengan tajam sambil memegang tongkat besar.

"Kenapa kamu mendorong sepupumu dari tangga?"

Tubuhku bergetar ketakutan, tetapi aku tetap menahan diri dan berkata padanya.

"Ayah, aku nggak mendorongnya, dia terjatuh sendiri!"

Namun, dia langsung memukul kakiku dengan keras.

"Ah ...."

Sakit yang luar biasa membuatku jatuh berlutut, dan aku tak bisa menahan teriakanku.

Namun, Ayah yang di sampingku menyindirku dengan kesal.

Sekarang kamu tahu bagaimana rasanya kesakitan? Waktu kamu dorong sepupumu sampai terjatuh dari tangga, kenapa kamu nggak mikir kalau dia juga akan kesakitan?

Tongkat itu kembali menghantam tubuhku di berbagai tempat, seperti badai yang datang dengan cepat.

Aku menggigit bibirku kuat-kuat, tetap tidak mau mengaku.

Dia makin marah dan memukulku dengan lebih keras.

Ketika akhirnya dia berhenti, aku merasa semua organ dalamku nyeri.

Aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, tetapi di mata Ayah, aku tetap dianggap melawannya.

Jadi dia melemparkan aku yang sudah hampir tidak sadarkan diri ke dalam gudang bawah tanah.

Tempat itu gelap dan sempit, dan aku dijatuhkan di lantai seperti sampah.

Sebagai penderita klaustrofobia, tubuhku bergetar tanpa henti.

"Ayah ... Ayah, jangan .... Jangan kunci aku di sini!"

Namun, di matanya tidak ada sedikit pun rasa sayang, hanya ada rasa dingin dan kebencian.

Dia menarik tangannya dan dengan nada merendahkan, berbicara padaku

"Yolanda, kalau kamu sudah bisa membuang pikiran jahatmu itu, baru aku akan mengeluarkanmu!"

Setelah itu, dia berbalik pergi tanpa belas kasihan, menutup satu-satunya pintu kecil di sana.

Suasana di sekitarku menjadi gelap gulita. Dalam keputusasaan dan rasa sakit, mataku perlahan terpejam.

Sebenarnya, aku tidak tahu bagaimana aku mati.

Sejak saat itu, kesadaranku selalu terasa buram.

Aku pikir hidupku akan terhenti di usia 18 tahun.

Namun, tidak kusangka, meski sudah mati, jiwaku tetap bisa tinggal di sini.

Melihat kemarahan di wajah Ayah, Tante Sandra juga tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Sebagai penopang utama keluarga Limanta, setiap kali Ayah marah, tidak ada yang berani membahasnya lagi.

Hanya Kiara yang dengan mata berbinar menarik tangan Ayah sambil bersikap manja.

"Om Teddy, jangan marah! Kalau marah, nanti kesehatanmu akan terganggu!"

Ayah yang sebelumnya tampak dingin seketika menjadi sangat lembut.

"Untung sekali ada Kiara yang paham! Seandainya saja Yolanda yang nakal itu bisa baik seperti kamu!"

Kalimat ini sudah berulang kali aku dengar sejak Kiara datang ke rumah ini.

Kiara tampaknya selalu menunjukkan sikap pengertian.

Apakah ini yang dianggap Ayah sebagai sikap yang baik?

Namun, apa dia tahu bahwa di balik penampilannya yang sopan dan santun itu, tersembunyi niat jahat yang mengerikan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AYAH JANGAN!!
8.7
Di balik keanggunan dan sikap manisnya, Putri menyimpan kepedihan mendalam yang merusak jiwanya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat aman justru berubah menjadi neraka akibat tindakan keji sang ayah yang menjadikannya pemuas nafsu. Terjebak dalam belenggu trauma hebat dan ketakutan yang mencekam, Putri memilih bungkam. Ia tidak sanggup membagikan penderitaan ini kepada siapa pun, membiarkan batinnya menjerit sendirian menghadapi kengerian nyata di keluarganya.
Sampul Novel Baru Dicintai Suami Setelah Meninggal
8.8
Dalam novel Baru Dicintai Suami Setelah Meninggal, Sheny tewas bersama janinnya setelah dipaksa sang suami mendonorkan sumsum tulang demi kekasih lamanya. Tujuh hari setelah kematiannya, sang suami justru membawa wanita itu ke ranjang pernikahan mereka. Namun, kepuasan itu segera berubah menjadi penyesalan histeris. Pria itu kini menangisi barang peninggalan Sheny dan memohonnya pulang, seolah lupa bahwa dialah yang telah merenggut nyawa istri dan calon anaknya.
Sampul Novel Disekap Wanita Yang Menginginkan Suamiku
8.9
Niat Laras menyelamatkan diri dari rumah justru berujung petaka ketika ia dan ketiga anaknya diculik sopir travel. Di tempat penyekapan yang kejam, ia harus kehilangan salah satu buah hatinya. Tragedi memilukan ini menyalut dendam mendalam, memicu tekadnya membongkar dalang serta motif di balik aksi keji ini. Kini, Laras harus berjuang demi menyelamatkan anak-anaknya yang tersisa sekaligus meloloskan diri dari ancaman maut yang mengintai.
Sampul Novel Kak, Kalian Sungguh Kejam
8.9
Akibat tuduhan palsu sang adik tiri tentang alergi makanan, seorang protagonis dihukum oleh ketiga kakak laki-lakinya—seorang pebisnis, penyanyi terkenal, dan pelukis genius. Mereka mengurungnya di ruang bawah tanah yang kedap tanpa memedulikan permohonannya. Sementara mereka pergi ke rumah sakit untuk merawat sang adik tiri, protagonis perlahan kehabisan oksigen hingga akhirnya tewas mengenaskan. Tiga hari kemudian, saat mereka kembali dan baru teringat untuk membukakan pintu, semua sudah terlambat.
Sampul Novel Kecelakaan dan Penyesalan
8.4
Pasca-kecelakaan mobil bersama adiknya, sang protagonis mengalami luka fatal berupa robekan pada jantung yang membutuhkan bedah darurat. Ironisnya, sang ibu yang menjabat sebagai direktur rumah sakit justru mengerahkan seluruh tim medis demi memeriksa goresan kecil pada tubuh sang adik. Meski telah memohon pertolongan, ia malah dituduh mencari perhatian di tengah situasi kritis tersebut. Tanpa penanganan medis yang semestinya, ia mengembuskan napas terakhir dalam kesendirian yang tragis.
Sampul Novel Roh Jiwa Putri yang Teraniaya
9.5
Dua bulan pasca kematiannya, sebuah keluarga baru menyadari bahwa mereka meninggalkan putri mereka di tengah hutan saat wisata. Mengira sang putri hanya merajuk karena dihukum berjalan kaki, sang adik justru mengirimkan pesan ejekan agar dia mati demi menguasai warisan nenek mereka. Ibu yang bersikap dingin bahkan mengancamnya agar hadir di pesta ulang tahun keluarga. Mereka tidak pernah menduga bahwa korban tidak pernah bisa keluar dari sana. Pencarian intensif di pegunungan akhirnya mengungkap kenyataan mengerikan saat sisa-sisa tulang belulangnya ditemukan terkubur.