APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bermula Dari Casing Berminyak

Bermula Dari Casing Berminyak

Sebuah benda biasa membawa petaka dalam novel misteri Bermula Dari Casing Berminyak. Sang protagonis menyadari casing ponselnya selalu terasa berminyak secara aneh. Keluhan tersebut hanya dianggap angin lalu, hingga sang sahabat melontarkan gurauan mengerikan bahwa wadah ponsel itu terbuat dari kulit manusia. Ketakutan itu menjadi nyata saat malam tiba, ketika ia terbangun dan merasakan sensasi mengerikan seolah wajahnya sedang dikuliti secara perlahan disertai bisikan dingin yang menuntut kulitnya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku membelalakkan mata memandangnya.

Di balik kacamata tebalnya, terlihat jelas ekspresi ketakutannya. Aku buru-buru menenangkannya,

"Lina, kamu gila, ya?"

"Kita tinggal bareng Jenny setiap hari, mana mungkin dia sudah mati?"

"Kamu pasti kebanyakan baca novel horor, makanya lihat siapa pun kayak lihat hantu ... "

Karena gugup, aku mengoceh panjang lebar.

Aku tidak bisa langsung memercayainya, bagaimana kalau Lina sedang membohongiku.

Kalaupun dia tak berbohong, tanpa pengakuan dariku, Lina juga hanya bisa mencurigai, tidak mungkin langsung menyebutkan ini di asrama.

Yang perlu kulakukan hanyalah menenangkan si mayat selama dua minggu ke depan.

Melihat aku terus membantah, ekspresi wajah Lina semakin muram.

Aku merasakan hawa dingin di sekeliling kami dan tubuhku langsung merinding. Langkahku juga otomatis menjadi lebih cepat.

Begitu sampai di asrama, aku mau segera makan dan tidur. Tidak ada yang boleh menggangguku!

Namun, saat kami hampir tiba di depan gedung asrama, Lina akhirnya tidak tahan lagi.

Dia memaksaku duduk di bangku panjang pinggir jalan, memastikan tidak ada orang di sekitar, lalu memaksa aku mendengar cerita horornya.

Hari itu, Lina sedang menjemur pakaian di balkon.

Saat itu, gerbang asrama akan segera ditutup dan semua pasangan kekasih sudah kembali ke kamar masing-masing.

Hanya Jenny dan pacarnya yang masih duduk di bangku belakang gedung, sedang bermesraan.

Gedung asrama kami memang terletak paling belakang. Di belakangnya ada tempat pengambilan paket dan tidak ada apa-apa lagi.

Di waktu itu, tempat pengambilan paket juga sudah tutup.

Jadi, area tersebut gelap gulita, hanya diterangi lampu jalan yang redup. Dalam pandangan Lina, hanya ada Jenny dan pacarnya yang duduk membelakanginya.

Saat bercerita sampai sini, Lina menelan ludah dengan susah payah.

Dia menggenggam tanganku erat-erat.

Tangannya basah dan dingin, penuh keringat dingin.

Aku pun merasa tidak nyaman. Aku merinding, bulu kudukku berdiri dan keringat dingin mulai mengalir di tubuhku. Namun, aku tetap harus berpura-pura tenang.

Aku menggenggam balik tangannya sambil berkata, "Lina, sudah malam, ceritamu menakutkan sekali."

Namun, Lina menatapku dengan mata membelalak, "Nggak bisa! Kamu harus dengar sampai selesai!"

Dia menekan bahuku erat-erat agar aku tak bisa bangun.

Kekuatannya begitu besar, aku bahkan tak bisa melepaskan diri.

Akhirnya, aku tak punya pilihan selain mendengarkan.

Lina yang tidak ingin mengganggu mereka, melanjutkan menjemur pakaian tanpa berkata apa-apa.

Namun, saat dia kembali ke kamar untuk mengambil gantungan baju, hal aneh terjadi.

Jenny sedang mengintip dari tirai tempat tidurnya, mengobrol dengan diriku yang duduk di atas tempat tidur.

Melihat Lina kembali, tiba-tiba Jenny menoleh dan bertanya dengan senyuman lebar, "Kamu lihat apa barusan di luar?"

Lina terkejut hingga gantungan bajunya terjatuh ke lantai.

Tanpa peduli untuk mengambilnya, Lina langsung berjalan cepat kembali ke balkon.

Dan saat itu, wanita yang membelakanginya tadi perlahan memutar tubuh.

Wajahnya ... adalah wajah Jenny!

Ada dua Jenny!

Suara Lina menjadi tinggi, wajahnya pucat, bagaikan selembar kertas putih.

Sementara diriku yang mendengar ceritanya, sudah basah kuyup karena keringat dingin.

Hari itu, aku juga ada di sana.

Aku ingat bahwa kemarin sedang berbincang dengan Jenny dan aku juga ingat Lina terlihat aneh malam itu.

Dia tidak berbohong.

Jangan-jangan, Jenny benar-benar orang mati itu?

Lalu, apakah aku harus memberitahu Lina kebenarannya.

Melihat kondisi mentalnya saat ini, dia mungkin tidak akan bisa bertahan lebih lama.

Jika dia tiba-tiba kehilangan kendali dan langsung mempertanyakan Jenny, bukankah itu seperti menyerahkan diri pada maut?

Aku menelan ludah dengan berat dan akhirnya memutuskan untuk memberitahunya.

Bagaimanapun, Lina adalah teman asramaku. Dia tidak pantas kehilangan nyawa di usia yang seharusnya penuh kebahagiaan.

Namun, belum sempat aku mengatakan apa-apa. Lina sudah terjatuh ke lantai.

Matanya menatap ke belakangku dengan penuh ketakutan, tubuhnya gemetar hebat.

Keringat dingin mengalir di pelipisku. Mengikuti arah pandangannya, aku perlahan menoleh.

Entah sejak kapan, Jenny sudah berdiri di sana, menatap kami dengan tatapan tajam.

Jika bukan karena lampu menyala tiba-tiba, pasti tidak ada yang menyadari Jenny yang berdiri di tempat gelap itu.

Aku tidak tahu seberapa banyak yang dia dengar, tapi aku tetap berpura-pura tenang. Namun, tubuhku membeku, gemetar tak terkendali.

Melihat Jenny perlahan mendekat, aku benar-benar hampir kehilangan akal.

"Bilang saja, apa yang sedang kalian lakukan diam-diam di sini?"

"Melihatku datang langsung ketakutan seperti ini. Jangan-jangan kalian sedang membicarakanku?"

Jenny tidak menunjukkan tanda-tanda berubah, aku sedikit merasa lega.

"Bukan, kami hanya mencari udara segar di luar saja. Lina sedang cerita horor tadi, aku ketakutan sampai ngompol."

Mendengar itu, Lina buru-buru mengangguk.

Jenny memandang kami dengan curiga, tapi akhirnya tidak berkata apa-apa.

Dia lalu merangkul aku dan Lina di kedua sisi dan kami bertiga pun kembali ke asrama bersama.

Begitu sampai, aku makan dengan cepat, lalu langsung naik ke tempat tidur.

Tempat tidur kami semua punya tirai yang bisa ditutup, yang tidak hanya melindungi dari nyamuk tapi juga cahaya.

Setelah menutup tirai, akhirnya aku bisa merasa sedikit tenang.

Tidak lama kemudian, Lina memanggilku untuk mandi bersama.

Aku tahu dia ingin membahas rencana. Baru saja aku mau menyetujui, tiba-tiba terdengar suara Jenny,

"Aku juga ikut, yuk barengan saja!"

Suasana menjadi hening sejenak. Aku langsung mengatakan bahwa diriku sedang datang bulan dan merasa tidak enak badan, jadi tidak bisa ikut.

Rasanya seperti ada duri yang menusuk punggungku dan aku hanya ingin sendiri.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta & Obsesi SANG PSIKOPAT Cantik
9.5
Via terjebak obsesi buta pada Fatih, abangnya sendiri. Namun, kehadiran Kenan, pemuja lamanya sejak SMP, perlahan menggoyahkan hatinya. Saat menyadari perasaannya pada Fatih bukanlah cinta, Via pun memilih Kenan. Tanpa disadari, keduanya ternyata berbagi kegilaan dan obsesi yang sama. Akankah ketulusan Kenan mampu menaklukkan sisi gelap Via yang menyimpan kepribadian seorang psikopat?
Sampul Novel Ghost At School
9.0
Yui bersama sahabatnya berupaya menyelamatkan arwah-arwah yang terperangkap di area sekolah. Namun, sebuah petunjuk dari mimpi mengungkap kebenaran kelam bahwa korban perdana teror ini adalah teman dekat Yui. Investigasi mereka justru menyingkap rahasia keluarga, di mana salah satu anggota keluarga terbukti menjadi dalang demi membalas dendam masa lalu. Di bawah bayang-bayang ketakutan, sanggupkah mereka menghentikan kutukan tersebut?
Sampul Novel Jeritan yang Tak Terdengar
8.4
Sebuah petaka menimpa Yolanda di hari ulang tahunnya sendiri. Sang ayah yang murka menuduhnya telah mendorong sepupunya yang belajar balet hingga mengalami cedera kaki. Tanpa ampun, sang ayah memukuli kaki Yolanda dengan tongkat hingga ia tak berdaya dan tidak sanggup berteriak. Demi memberi pelajaran, tubuh Yolanda yang sekarat dilempar ke dalam ruang bawah tanah yang gelap. Namun, saat pintu itu akhirnya dibuka kembali, sang ayah hanya mendapati jasad putrinya telah hancur dan membusuk.
Sampul Novel Kecelakaan dan Penyesalan
8.4
Pasca-kecelakaan mobil bersama adiknya, sang protagonis mengalami luka fatal berupa robekan pada jantung yang membutuhkan bedah darurat. Ironisnya, sang ibu yang menjabat sebagai direktur rumah sakit justru mengerahkan seluruh tim medis demi memeriksa goresan kecil pada tubuh sang adik. Meski telah memohon pertolongan, ia malah dituduh mencari perhatian di tengah situasi kritis tersebut. Tanpa penanganan medis yang semestinya, ia mengembuskan napas terakhir dalam kesendirian yang tragis.
Sampul Novel KEMBANG KANTHIL KEMBANG MLATHI
7.8
Niat tulus seorang ibu yang mendambakan kebahagiaan bagi anaknya justru berbuah petaka mengerikan. Upaya penuh pengorbanan tersebut malah menyeret keluarga mereka ke dalam pusaran teror yang mencekam dan tak terduga. Di balik kasih sayang orang tua, tersimpan rahasia kelam yang perlahan mengubah mimpi indah menjadi mimpi buruk tanpa akhir. Kehidupan mereka kini dihantui misteri gelap yang mengancam keselamatan jiwa selamanya.
Sampul Novel Kuyang Kalimantan
9.1
Legenda kuno penghisap darah menyebarkan teror mistis di tanah Kalimantan. Makhluk gaib ini mengincar ibu hamil dan perempuan yang sedang melahirkan. Menghadapi ancaman mengerikan tersebut, hukum adat menjadi benteng pertahanan terakhir yang mutlak. Seluruh masyarakat, termasuk warga suku asli, dilarang keras melanggar pantangan suci turun-temurun. Kelalaian kecil dalam mematuhi aturan adat ini dipastikan akan mendatangkan malapetaka yang sangat fatal bagi mereka.