APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanita Kedua Tuan Alex

Wanita Kedua Tuan Alex

Demi mencukupi kebutuhan finansial sang ibu yang serakah, Bianca terpaksa bekerja sebagai biduan kafe. Takdir mempertemukannya dengan Alex, seorang pria dari kalangan bangsawan yang sebenarnya telah memiliki istri. Pertemuan itu memicu ketertarikan instan hingga berujung pada malam penuh gairah. Kini, Bianca terjebak dalam pusaran cinta segitiga yang rumit. Ia pun harus berjuang mengatasi dilema batinnya demi merebut posisi utama di hati Alex dari sang istri sah.
Bab
Bagikan

Bab 2

Bianca melirik jam dinding, ia terkejut melihat hari sudah malam. Mengingat janjinya tampil malam ini di kafe Ifa, iapun terpaksa bangun.

Gegas mengguyur tubuhnya dan merapikan barang-barang pribadinya ke dalam tasnya sebelum keluar dari apartemen. Puluhan panggilan tidak terjawab dari kafe Ifa, ia sambungkan kembali.

"Iya, ini jalan kesana," katanya masuk ke lift menuju basemen parkiran.

Sesaat Bianca sibuk mencari-cari kunci mobilnya di dalam tasnya.

"Duh, ke mana lagi itu?" gusarnya menumpahkan semua isi tasnya di lantai parkiran. Hatinya semakin kesal, kunci mobilnya yang seolah menghilang dari tasnya.

Tiba-tiba teringat ucapan ibunya yang hendak ke boutique temannya. Matanya memandang ke arah parkiran biasa mobilnya parkir.

"Ya, ampun. Ibuuu ...!" jeritnya benar-benar tidak bisa membendung rasa marahnya.

Bianca menjambak-jambak rambutnya dengan air matanya luruh membasahi wajahnya.

Bianca meninggalkan parkiran, ia terpaksa meminta bantuan Ifa untuk menjemputnya.

"Ifa, mobilku tiba-tiba mogok, nih. Bisa jemput gak?"

"Di mana? Kau suruh Anto menjemputmu. Aku lagi sibuk banget," sahut Ifa memberikan ponsel ke Anto, adik lelakinya.

"Di mana dijemput, Bianca?" tanya pria bersuara serak di seberang.

"Di apartemenku. Aku berdiri di depan udahan."

Bianca memasukkan ponselnya ke tas. Dalam hati ia mengutuki sikap Ibunya yang keterlaluan. Berkali-kali ingin meninggalkannya saja, tetapi ia tidak tega dan merasa kasihan dengannya kalau harus hidup sendiri.

Mobil Anto berhenti di depannya, ia langsung membuka pintu dan duduk di samping pria maskulin itu. Wajahnya juga masih tampak masam, rasa kesalnya masih belum hilang.

"Ekhhem, itu makeup nya dibenerin dikit udah kayak nenek sihir," goda Anto, selama ini pria tersebut memang akrab dengannya.

"Emang, tinggal juga bareng nenek sihir!" ketusnya.

Anto menaikkan alisnya. "Ibumu berulah lagi?" tanyanya melirik Bianca tengah merapikan riasan tebal di wajahnya.

"Emm, itu memang sudah kewajibannya," sahutnya menyemprotkan parfum yang seketika aromanya memenuhi seluruh isi mobil.

"Cukup! Itu parfum apaan? Menyengat banget," omel Anto membuka kaca mobil.

"Biarin entar keringatan ilang sendiri juga," ketusnya terus menyemprotkan ke seluruh badannya.

Anto hanya menggeleng-geleng melihat gadis cantik itu. "Turun sana!" usirnya menghentikan mobil di depan kafe Ifa, seraya mengibaskan tangan mengusir aroma menyengat.

Bianca gegas turun, di meja depan Ifa sudah gelisah menunggu kedatangannya.

"Maaf, mbak," ucapnya langsung masuk ke ruang ganti.

Ifa mengikutinya dari belakang membawa tas tenteng berisi gaun mini yang hendak dikenakan Bianca.

"Malam ini pake gaun ini, ya." Ifa memberikan paper bag ke Bianca yang lagi asyik memilih-milih gaun yang tergantung di ruang ganti.

"Baju apaan ini?" tanyanya dengan mata terbelalak.

"Iya, gaun untuk malam inilah. Cepat kenakan dan jangan banyak protes!" sahut Ifa meletakkannya di meja rias, kemudian meninggalkan Bianca yang masih kebingungan.

Bianca tidak berdaya menolak. Karena untuk gaun seksi itu juga ia dibayar mahal malam ini. Meski yang ia kenakan itu lebih pantas disebut bikini renang ketimbang gaun biduan.

Bianca berjalan anggun ke atas panggung, matanya menyapu ruangan kafe yang penuh dengan pengunjung pria bukan kalangan biasanya.

Tepuk tangan dan sorakan meriah terdengar riuh dari meja pengunjung setelah melihat dirinya.

"Bianca, i love you." Terdengar suara dari pengunjung mungkin seseorang pengagum Bianca.

"Lantunkan lagu merdu mu, Sayang. Kita bergoyang sampai pagi."

Tubuh Bianca mulai meliuk indah seirama dengan hentakan musik keras, kedipan nakalnya menggoda pengunjung pria berkantong tebal.

Seketika lembaran uang merah memenuhi sela-sela gaun mininya.

Tatapan liar pria hidung belang.tidak berkedip memandang kemolekan tubuh Bianca yang basah keringat dibalik gaun mininya.

Matanya nakal menggoda pria yang ia inginkan, menariknya ke panggung. Bibir bergincu merah tebal itupun mendarat di pipi sang pria, seraya tangannya menyelip di kantong celana pria tersebut.

"Terimakasih, besok kita bergoyang sampai pagi lagi," seru Bianca mengakhiri panggungnya sebelum menghilangkan diri.

"Sepuluh juta lima ribu rupiah," gumamnya segera menyimpannya ke dalam tasnya.

Menjadi seorang biduan bar dan kafe membuat harga dirinya sudah tidak ada lagi. Siapa yang percaya jika ia masih seorang gadis suci?

Di balik mata nakal dan kelihaiannya meliuk-liuk di atas panggung, hatinya tersimpan luka perih oleh ibunya sendiri.

"Kamu mau pulang?" tanya Ifa memberikan amplop tebal kepadanya.

"Apa ini?" tanyanya dengan dahi mengerut.

"Itu bonus untukmu. Besok malam kamu naik ya."

Sebenarnya Bianca ingin istirahat dulu, tapi di apartemen juga ia tidak akan bisa istirahat. Tentu Ibunya akan mengomelinya dengan kata-kata kasar. Atau mungkin membawa teman-teman prianya ke apartemen.

"Iya, kebetulan aku belum ada job besok malam. Nanti aku kabari lagi," sahut Bianca beranjak. "Apa Anto bisa mengantarku pulang, Mbak?"

"Mmm, bisa seh. Tetapi apa kamu tidak mau berbincang-bincang dengan Om Paris?" tanya Ifa sedikit salah tingkah.

"Aku mau pulang, mungkin lain kali aja."

Entah mengapa setelah turun dari panggung, nyalinya turut menciut berhadapan dengan para pria hidung belang itu.

Ia masih merasakan trauma ketika Ibunya mengajaknya ke acara makan-makan dengan teman sosialitanya. Ibunya dengan sengaja meninggalkannya dikamar hotel bersama seorang pria paruh baya.

Untung pria itu masih memiliki nurani melihat Bianca yang memohon.

"Hei ...!" panggil Ifa menyentakkan lamunannya.

"Maaf, besok saja. Aku mau pulang cepat. Mau bawa mobil ke bengkel," bohongnya segera meninggalkan ruangan ganti.

Namun, baru saja keluar dari kamar ganti, seorang pelayan menghadang langkahnya yang terburu-buru keluar dari kafe.

"Mbak Bianca, dipanggil tuh sama Om yang duduk di meja 25," ucap pelayan tersebut mengikuti jari telunjuk pelayan kafe tersebut.

Namun, tidak melihat pria di meja 25 tersebut seperti ingin bicara dengannya. "Siapa?" tanyanya mengerutkan dahi tanpa menurunkan pandangannya dari pria tua berpostur gemuk dan pendek. Ihh, sebanyak apapun duit pria itu ia pasti akan menolak berkencan dengannya.

"Itu Om yang di meja 25 bukan meja di depannya, Mbak, " tunjuk pelayan kafe melambaikan tangan ke arah pengunjung yang ingin mendekati Bianca.

Menyadari ia salah memperhatikan pria yang ingin bertemu dengannya, kini tatapannya berhenti pada pria dewasa berwajah tampan dan masih terlihat kekar. Meskipun pria itu tampak berusia 40 tahunan.

Entah kenapa saat melihatnya, tiba-tiba saja keberanian Bianca kembali. Ia memberikan senyum nakalnya pada pria itu. Mungkin juga melihat penampilan pria tersebut yang berkelas, tentu memiliki banyak uang yang akan di berikan kepadanya nanti.

Iapun mulai berani menggoda dengan senyum genitnya. Bahkan mengedipkan sebelah matanya tanda ia mengiyakan ajakan pria tampan itu. Melihat pria merespon cepat, dan segera bangkit seperti ingin menghampirinya. Bianca kembali masuk ke ruang ganti. Niat ingin memperbaiki riasan wajahnya yang telah ia hapus tadi.

"Bianca!" panggil pria itu menarik tangan Bianca yang hendak menutup pintu.

Bianca berjengit kaget dan menarik tangannya refleks. Entah kapan pria itu ada di sana.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Dokter Ibumu, Bukan Pembantumu, Mas!
9.3
Niat tulus Ayu merawat Ibu Lestari demi balas budi justru menyeretnya ke dalam perjodohan rumit dengan Tama. Pria itu telah memiliki kekasih dan sangat membenci Ayu. Namun, saat kondisi kesehatan ibunya memburuk, Tama terpaksa menikahi Ayu lewat perjanjian kontrak yang dingin. Di tengah pernikahan tanpa cinta ini, benih asmara perlahan tumbuh. Pengabdian tulus Ayu lambat laun mengikis kebencian Tama, mengubah luka hati menjadi cinta yang sulit dilepaskan.
Sampul Novel Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)
8.9
Pamela harus menelan kepahitan saat cintanya ditolak dan dihina oleh Zero, sahabatnya yang posesif. Setelah berhasil bangkit dan menemukan kebahagiaan baru bersama Tirta, masa lalunya kembali mengusik. Menjelang pernikahan mereka, Zero tiba-tiba hadir untuk merusak segalanya. Meski bayang-bayang mantan kekasih Tirta ikut mengintai, ancaman terbesar tetaplah Zero. Dengan kekuasaan dan obsesi gilanya, putra konglomerat itu bertekad merebut kembali Pamela.
Sampul Novel En-PD161
9.1
Dua tahun membina rumah tangga, seorang pria harus menghadapi kenyataan pahit saat suaminya berubah menjadi gemar bermain wanita. Segala upaya mempertahankan pernikahan, bahkan hingga melibatkan polisi, hanya dibalas dengan sikap dingin. Kebenaran menyakitkan pun terungkap bahwa pernikahan mereka cuma kedok balas dendam atas kematian cinta pertama sang suami. Lelah dikhianati, pria tersebut akhirnya memutuskan bangkit dan menyetujui perceraian.
Sampul Novel Lidah Menantu
9.5
Sikap santun sang menantu rupanya hanya topeng. Kini, Mak Esah harus menghadapi lisan tajam dan perilaku tidak sopan dari istri anaknya tersebut. Di balik perubahan drastis ini, Mak Esah mencium adanya sebuah rahasia besar yang sengaja ditutupi darinya. Konflik batin dan ketegangan di antara mereka pun kian memuncak. Sanggupkah Mak Esah bertahan dari tekanan mental yang menderanya? Mampukah semua misteri dan kebenaran yang tersembunyi akhirnya terbongkar?
Sampul Novel Mantan Istriku Hamil?!
9.4
Miliarder ibu kota bernama Lenny terjebak pernikahan hampa tanpa cinta. Demi menikahi wanita misterius dari cinta satu malamnya, ia memutuskan menceraikan sang istri. Namun beberapa bulan pasca-perceraian, Lenny sangat terkejut saat melihat mantan istrinya hamil tujuh bulan. Kecurigaan pun mulai menyelimuti benaknya, membuatnya bimbang apakah mantan istrinya itu telah berselingkuh dan mengkhianati komitmen pernikahan mereka selama ini.
Sampul Novel Meniti Ulang di Usia Senja
9.6
Sebuah album foto yang ditemukan saat membersihkan rumah di hari ulang tahun pernikahan mengungkap rahasia menyakitkan. Selama dua puluh tahun, dari usia 40 hingga 60 tahun, sang suami diam-diam mengambil foto pernikahan tahunan bersama cinta sejatinya, lengkap dengan tulisan "Cinta abadi selamanya". Menyadari dirinya tidak pernah dicintai, sang istri memutuskan untuk berhenti mengurus rumah tangga, anak, hingga cucu. Setengah hidupnya mungkin telah sia-sia, tetapi kini ia siap meniti ulang takdirnya sendiri.