APKDock Logo
Sampul Novel Lidah Menantu

Lidah Menantu

9.5 / 10.0
Sikap santun sang menantu rupanya hanya topeng. Kini, Mak Esah harus menghadapi lisan tajam dan perilaku tidak sopan dari istri anaknya tersebut. Di balik perubahan drastis ini, Mak Esah mencium adanya sebuah rahasia besar yang sengaja ditutupi darinya. Konflik batin dan ketegangan di antara mereka pun kian memuncak. Sanggupkah Mak Esah bertahan dari tekanan mental yang menderanya? Mampukah semua misteri dan kebenaran yang tersembunyi akhirnya terbongkar?

Lidah Menantu Bab 1

"Mak … Mak, di mana?" Kudengar suara Dini, menantuku memanggil.

"Di belakang, Din," sahutku. Kulanjutkan pekerjaan membilas baju.

"Mak, kenapa, di tudung belum ada lauk? Dini laper!" tanya Dini ketus.

Aku menoleh kepadanya. Dini sudah berdiri di ambang pintu tempat cucian.

"Mak, belum masak! Baju kemarin numpuk, makanya, Mak nyuci dulu," jelasku.

"Tapi, ini udah jam sepuluh, Mak! Mak, kan tau kalau jam segitu, Dini makan lagi! Nyucinya tinggal aja, Mak masak dulu, gih!" perintah Dini padaku.

"Ta— tapi ini nanggung, Din."

"Udah, Mak cepet masaknya! Dini gak mau tau, jam sebelas udah mateng, udah laper!"

Dini beranjak dari tempatnya berdiri, meninggalkanku yang masih berjibaku dengan cucian. Kugelengkan kepala melihat perlakuan menantuku itu. Kulanjutkan membilas baju yang tinggal sedikit. Jadi, nanti tinggal menjemur saja.

***

"Din, itu lauknya sudah mateng," panggilku. Kuketuk pintu kamarnya.

Pintu terbuka. Terlihat wajah Dini yang kusam, dengan rambut acak-acakan. Pasti dia ketiduran lagi.

"Sudah selesai masaknya?" tanya Dini lagi sambil menguncir rambutnya yang berantakan.

"Su— sudah. Mak dah tarok di atas meja, lauk sama sayurnya," jawabku.

"Ya, sudah. Dini mau mandi dulu, gerah!" ucap Dini sembari langsung menutup kembali pintu kamarnya.

Aku hanya bisa mengelus dada, menghadapi tingkah Dini.

Aku, Esah. Biasa dipanggil Mak Esah. Usiaku sudah memasuki kepala enam dan aku seorang janda. Dini, menikah dengan Imron, anak sulungku.

Mereka menikah sudah hampir setahun, namun belum dikaruniai anak. Sedangkan anak keduaku, Wita, sudah menikah terlebih dahulu sebelum Imron dan memiliki sepasang anak. Wita tinggal tak jauh dari rumahku, sekitar 20 menit dengan mengendarai motor.

Awalnya, aku sangat bahagia menerima kepindahan mereka. Kulayani Dini, menantuku itu, seperti anakku sendiri. Berharap, dia akan menyayangiku seperti ibunya sendiri. Namun, ibarat kata, jauh panggang dari api, jauh pula harapanku. Dini sepertinya, tidak menganggap aku sebagai mertua. Apalagi, setelah dia tahu, bahwa selama ini, kebutuhan hidupku, masih bergantung pada Imron.

"Assalamu'alaikum." Terdengar suara dari luar. Aku menuju ke depan, untuk melihat siapa yang datang.

"Wa'alaikumsalam," jawabku. Ternyata, Wita yang datang.

"Kenapa, dak langsung masuk, Nduk? Biasanya, kan gitu?" tanyaku pada Wita.

"Itu dulu, Mak, sekarang beda. Ntar, Wita diprotes lagi!" Bibir Wita manyun, matanya melirik ke dalam.

Aku langsung mengerti apa maksud Wita.

"Zidan sama Zakia, gak diajak?" tanyaku lagi.

"Ntar kalau sering diajak kesini, habisin duit Mak!

Jadi, Wita gak mau nyusahin!"

"Kok, ngomong gitu toh, Nduk?" tanyaku lagi.

Wita hanya tersenyum tipis. Lalu menyodorkan rantang kepadaku.

"Weslah, Mak. Ini, Wita bawain kesukaan Mak, urap. Tadi habis panen sayur di belakang, hasilnya lumayan, jadi, tak bikinin urap," tutur Wita.

"Alhamdulillah, makasih, ya, Wit. Dah lama mak dak makan urap." Aku tersenyum memandang Wita.

"Kesini, cuman bawak urap doang! Pulang dari sini, lebih dari urap yang dibawa!" Tiba-tiba Dini muncul dihadapanku dan Wita.

Aku mengernyitkan kening tanda tak mengerti, apa maksud ucapan Dini. Kulihat, Wita merengut. Apa, Dini barusan menyindir Wita.

"Maksud kamu apa?" tanya Wita dengan nada ketus.

"Gak ada maksud apa-apa, sadar diri aja! Kalau kesini buat nyusahin, mending gak usah kesini!" Dini tersenyum sinis.

Wita menatap tajam iparnya itu. Terlihat dari wajahnya, Wita menahan kesal. Dia menarik napas dan memejamkan mata menahan emosinya.

"Mak, Wita pulang dulu, ya! Ada penganggu di sini, jadi, Wita gak bisa lama-lama," pamit Wita akhirnya.

"Eh, iya, Wit. Hati-hati, Nduk! Salam sama Bagas dan cucu-cucu mak."

Wita mengangguk dan segera berlalu. Kulihat Dini mencebikkan mulutnya. Tak lama dia beranjak ke dalam. Kususul Wita kedepan yang lagi menaiki motornya.

"Nduk, yang sabar, ya!" ucapku memohon. Kuelus punggungnya berharap emosi Wita sedikit berkurang.

"Kalau gak mikir, dia itu istrinya mas Imron, sudah Wita ajak begulat, Mak! ucap Wita ketus.

"Sudah … sudah, sabar, Nduk! Gak baik, kek gitu!

"Ini masih sabar, Mak! Nanti, kalau sudah habis batasnya, Wita lawan beneran, tu orang! Udah dari kemarin-kemarin nyindir terus! Makanya, Wita jarang ke sini. Ini, kalau gak mas Bagas, yang maksa dan ingetin Wita, supaya ngeliat Mak, males banget kesini!" ucap Wita dengan penuh emosi.

Aku tercenung. Ternyata ini alasannya, kenapa Wita sekarang jarang ke rumahku.

"Ya, sudah! Biarkan saja, mudah-mudahan, Dini cepat sadar, berdoa saja!" ucapku lagi.

"Orang kek gitu, susah sadarnya, Mak!" timpal Wita.

"Kita cuma bisa berdoa saja, Nduk. Allah Maha Mengetahui segalanya," ucapku.

"Ya, sudahlah, Mak! Wita pulang dulu! Mak jangan capek-capek, ya! Wita berpamitan seraya mencium punggung tanganku.

" Iya, Nduk. Doakan, mak sehat selalu ya!" pintaku.

Wita mengangguk dan segera menghidupkan motornya. Tak lama dia pun berlalu.

Aku pun heran dengan sikap Dini, yang berubah drastis. Waktu Imron memperkenalkanku pada Dini, anak itu terlihat santun dan baik. Makanya, aku menyetujui pernikahan Imron dan Dini.

Mak … kesini, Mak!" Terdengar suara Dini memanggil dari arah dapur. Aku segera masuk dan menuju dapur.

"Ada apa, Din?" tanyaku sambil duduk di kursi makan. Kulihat, Dini sedang menghadap piring berisi nasi dan lauk, yang kumasak tadi.

"Sore nanti, mas Imron pulang." ucap Dini sambil mengunyah.

"Alhamdulillah," jawabku.

Imron, anak sulungku memang jarang di rumah. Pekerjaannya, sebagai sales luar kota, mengharuskan dia sering bepergian. Terkadang untuk order barang, menagih sekaligus mengantarkan barang pesanan pelanggan. Dalam seminggu, hanya dua hari di rumah.

"Nanti, kalau mas Imron nanya, siapa yang masak dan beberes rumah, seperti biasa, Mak bilang, Dini yang urus semuanya! Mak, jangan pernah ngomong macam-macam sama mas Imron! Mak, gak mau, kan kami bertengkar gara-gara, Mak?" ancam Dini

Aku menghela napas. Berbohong lagi untuk kesekian kali. Kapankah menantuku ini akan sadar.

"Mak!" panggil Dini lagi. "Mak denger, gak? Terlihat wajah kesalnya menatapku.

" Iya, mak denger dan mak paham. Dak perlu kamu ingatkan lagi. Llagipula selama ini, emang selalu begitu, kan?" sindirku.

"Baguslah, kalau Mak sudah paham!" sungut Dini.

Untuk kedua kalinya, kuhela napas. Dosa apa aku, dapat menantu seperti ini. Pandai berpura-pura. Apakah karena kepandaiannya ini, anakku Imron, terlena, hingga mati-matian ingin menikahinya.

"Ya, sudah, Dini mau lanjutin makan lagi, Mak ke depan aja lagi!" usir Dini.

Aku bangkit dari duduk, menuju kamarku. Badanku terasa letih sekali. Belum lagi, penyakit rematik yang kuderita, sering membuatku kesakitan. Ditambah, semua pekerjaan, aku yang menyelesaikan.

Tiba-tiba, teringat aku akan urap pemberian Wita tadi. Gegas aku keluar kamar. Perut pun sudah terasa keroncongan. Aku menuju ke meja tamu, tempat urap tadi kuletakkan. Namun, rantang berisi urap tadi tidak ada.

Aku menuju ke dapur, barangkali aku salah tarok.

"Ya, Allah, Din!!! Apa yang kamu lakukan?" pekikku.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Lidah Menantu

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel AKSARA HUJAN
7.9
Julie rela bekerja keras menjadi penari pole dance di sebuah klub malam demi menjamin masa depan Gemma, adik yang sangat ia sayangi. Sayangnya, ketulusan Julie justru dibalas dengan pengkhianatan menyakitkan oleh sang adik sendiri. Saat berjuang menggapai kebahagiaan hidup, Julie malah harus menerima kenyataan pahit dari tindakan Gemma. Akankah sang adik menyadari kesalahannya, atau justru membiarkan Julie kian terpuruk dalam kepedihan yang mendalam?
Sampul Novel CEO mengejar cinta adik mafia
8.0
Rio mencintai Kikan, adik dari musuh bebuyutan sang ayah. Hubungan mereka ditentang keras, bahkan situasi memburuk saat kakak Kikan yang seorang mafia difitnah membunuh abang Rio. Terbakar dendam, Rio melakukan aksi balas dendam yang kejam. Namun, ia kemudian mendapati bahwa ibu tirinya adalah pelaku asli. Kini Rio didera penyesalan besar karena telah menghancurkan keluarga Kikan, di tengah perasaan cintanya yang masih membara.
Sampul Novel Jebakan Kemenangan
8.4
Dunia seorang orang tua runtuh seketika saat rahasia kelam sang anak terungkap. Putri tercinta yang selama ini dijaga bagai permata berharga ternyata terjerumus ke dalam lingkaran prostitusi yang kejam. Membayangkan gadis kecilnya menjadi korban eksploitasi pria-pria paruh baya yang menjijikkan mendatangkan rasa sakit yang luar biasa. Novel misteri modern Jebakan Kemenangan ini mengupas tuntas kepedihan mendalam dan perjuangan menghadapi kenyataan pahit yang menghancurkan hati.
Sampul Novel Kembalinya Cinta Sang Mantan
9.0
Dibuang setelah tujuh tahun pacaran karena status sosialnya, Kalea berhasil bangkit menjadi pemilik butik sukses. Saat hendak menikahi seorang dokter bedah, mantan kekasihnya datang mengacaukan pernikahan dengan fitnah keji. Pria itu membawa seorang anak dan memaksa Kalea kembali demi membesarkan bocah tersebut. Benarkah itu darah daging Kalea? Di mana istri pria itu sebenarnya? Kini, Kalea terjebak di antara bayang-bayang masa lalu dan masa depannya.
Sampul Novel Nikah Muda
9.0
Menjelang kelulusan SMA, Dirga Sanjaya harus merelakan masa mudanya demi memenuhi keinginan sang ayah untuk menikah dengan putri sahabat ibunya. Kejutan terbesar muncul saat mengetahui calon pengantinnya adalah Lexsa, musuh bebuyutannya di sekolah. Terbiasa bertengkar layaknya Tom and Jerry, kini mereka terpaksa hidup bersama. Akankah pernikahan dini yang diwarnai gengsi, perseteruan, dan aksi saling mengganggu ini bisa bertahan?
Sampul Novel Sebatas Pernikahan Bisnis
9.2
Trauma masa lalu membuat Arjuna menutup rapat hatinya dari cinta. Demi merebut warisan keluarga dan mendepak ibu tirinya, ia menawarkan pernikahan kontrak kepada Anjani. Di sisi lain, Anjani yang terlilit utang mendiang orang tua terpaksa setuju, terlebih ia memang telah lama mencintai Arjuna secara rahasia. Di balik kesepakatan bisnis ini, mampukah mereka menyembuhkan luka batin masing-masing dan mengubah hubungan tanpa rasa menjadi cinta yang nyata?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan