APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanita Kedua Tuan Alex

Wanita Kedua Tuan Alex

Demi mencukupi kebutuhan finansial sang ibu yang serakah, Bianca terpaksa bekerja sebagai biduan kafe. Takdir mempertemukannya dengan Alex, seorang pria dari kalangan bangsawan yang sebenarnya telah memiliki istri. Pertemuan itu memicu ketertarikan instan hingga berujung pada malam penuh gairah. Kini, Bianca terjebak dalam pusaran cinta segitiga yang rumit. Ia pun harus berjuang mengatasi dilema batinnya demi merebut posisi utama di hati Alex dari sang istri sah.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Iya, Om. Maaf saya mau ke dalam dulu," ucapnya salah tingkah dengan tatapan pria yang sangat tampan itu.

"Oiya, tunggu di mejanya aja, Om. Nanti aku ke sana setelah selesai," pintanya merasa kurang nyaman dengan kehangatan tiba-tiba dari pria yang baru saja dikenalnya itu.

Bianca memiliki dua kepribadian, di atas panggung dia merupakan gadis yang nakal dan menggoda namun dibalik panggung dia seorang wanita yang baik hati, pemalu dan sopan.

Ia menangkap ekspresi wajah pria itu yang menunjukkan kebingungannya. Mungkin melihat sikap Bianca yang sangat berbeda. Namun, pria tersebut sangat tertarik dengan dirinya.

"Iya, aku menunggu di sini saja," sahut pria itu membiarkan Bianca kembali masuk ke ruangan.

Sosok Bianca yang begitu menggoda itu, membuat hati pria tersebut langsung jatuh hati padanya dipandangan pertama tadi. Awalnya tertarik dengan kenakalan gadis itu yang meliuk-liuk indah di atas panggung, tetapi setelah berhadapan langsung dengan Bianca, dia semakin tertarik dengan sifat malu-malunya.

Bianca membuka pintu dan melihat pria tadi masih berdiri menunggu di sana.

"Bianca!"panggilnya seakan tidak percaya melihat gadis yang berdiri di depannya adalah gadis yang sama di panggung tadi.

Wajahnya yang natural itu semakin memikat hatinya saja.

"Iya, kenapa Om?" tanya Bianca bingung melihat pria di depannya tidak berkedip memandangnya sejak tadi.

"Kamu sangat berbeda dengan yang tadi di panggung," sanjung nya tanpa bisa menutupi rasa kagumnya pada gadis belia di hadapannya.

"Iya, tadi terlihat cantik karena riasan bedak Om, sekarang ini wajah aslinya aku," ucapnya sedikit minder.

"Bukan begitu, saya lebih menyukai kamu yang seperti ini."

"Iya, terimakasih," ucapnya tersipu malu-malu.

Pria itu tidak berhenti menatap wajah Bianca yang merona merah tersipu malu dengan pujiannya tadi.

"Ayo, ikut aku," katanya menarik tangan Bianca keluar.

Bianca yang tidak memiliki persiapan, tidak sempat mengelak. Ia menurut saja mengikuti pria itu membawanya masuk ke mobil mewahnya.

"Kita kemana, Om?" tanyanya bingung.

Karena baru kali ini ia meladeni tamu kafe yang mengajaknya berkencan di luar.

"Temani saya istirahat, ya," ucap pria itu melajukan mobilnya menuju sebuah hotel.

Bianca kelabakan ketika pria itu menarik tangannya memasuki hotel mewar. "Om, aku menunggu di sini saja," ujarnya sangat ketakutan, ia tidak berhenti mengutuki dirinya karena mau saja diajak pria yang baru dikenalnya barusan.

"Aku lelah, jadi kamu cukup menemaniku istirahat saja, kok," kata pria itu seolah ingin meyakinkannya. Kemudian

menggandeng tangan Bianca memasuki hotel.

Anehnya, ia tidak ada perlawanan, seperti kerbau di cucuk hidung saja mengikuti pria itu masuk ke dalam kamar hotel.

Pria itu menuntunnya duduk di sofa, dan kemudian duduk merapat padanya.

"Maaf, Om, aku harus pulang. Kebetulan siang nanti aku ada pekerjaan. Nanti malam juga aku ada jadwal manggung lagi," katanya merasa risih ketika pria itu merangkul mesra pundaknya.

"Apa kamu tidak capek, Bianca?" Disahuti gelengan kepala dari Bianca.

"Saya Alex Rudiart, panggil saja Alex." tambah pria itu mengenalkan diri.

Bianca mengangguk dan membalas dengan senyum kecilnya. Iapun tidak tertarik sebenarnya mengetahui siapa nama pria itu.

"Kamu sampai jam berapa nanti malam manggung?"

"Sampai pagi, Om."

"Hahh !!" pekik Alex kaget mendengarnya.

"Bukannya sudah cukup uang yang kamu dapat semalaman di kafe tadi?" Lagi-lagi disahuti gelengan kepala dari Bianca.

"Emang ada kontrak kerjamu di sana?"

" Gak, Om. Aku cuma dapat gaji 1 juta sebulan per kafe di tambah bonus saweran itu. Lain halnya kalau double malam ke siangnya, biasanya aku dapat bonus."

Tampak Alex mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apa kamu tidak niat berhenti menjadi biduan panggung itu?"

"Aku tidak tahu nyari uang dimana lagi, Om."

"Apa ayah dan ibumu mengetahui pekerjaan mu seperti ini?" tanyanya tiba-tiba merasa kasihan kepadanya.

"Ayah udah lama meninggal, dan Ibuku sendiri yang memaksaku seorang biduan dari kafe ke kafe." Bianca menelan liurnya berkali-kali sebelum melanjutkan ucapannya.

"Bahkan Ibu pernah menjual aku ke pria paruh baya, saat itu Ibu mengajakku menghadiri undangan makan malam bersama geng sosialitanya," tuturnya, tiba-tiba airmatanya luruh begitu saja di pipinya.

Alex tersentuh dengan nasibnya. Pria itu tidak canggung menyeka air matanya, dan memeluknya erat. Bianca bisa merasakan kehangatan dari pelukan Alex. Entah ia nyaman sebagai pelukan seorang ayah atau seorang pria yang siap mengisi hatinya.

"Apa pria itu menodai mu, Bianca?" tanyanya tidak yakin Bianca gadis suci lagi.

"Gak, Om itu tidak jadi menyentuhku."

Alex menarik nafas lega. Sepertinya dia telah jatuh cinta pada Bianca. Dia bisa merasa sangat cemburu membayangkan Bianca bercumbu dengan pria hidung belang.

"Om, antar aku pulang, ya. Sebentar lagi aku harus persiapan nyanyi di kafe Welly."

Namun, Alex malah menatapnya dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya.

"Berapa usiamu?"

"17 tahun, Om."

"Apa ibumu begitu jahat padamu?" tanyanya menyelidiki.

"Maaf, Om. Antarin aku pulang takut keburu sore, entar aku kena omel lagi," mohonnya setengah memelas.

"Mmm." Hanya itu. Lalu, Alex membuka dompetnya dan mengambil kartu ATM dan kartu kredit menyerahkannya pada Bianca.

"Gak, usah Om," ucap Bianca meletakkannya kembali di atas meja.

"Kalau kamu tidak ambil, jangan harap malam ini kamu lepas dari pelukanku," ancamnya, mendekatkan wajahnya ke wajah Bianca yang tiba-tiba memerah.

"I- iya aku ambil, Om," katanya mengambil kembali kartu di atas meja dan bergegas menuju pintu hotel.

Alex tersenyum manis melihat tingkah Bianca yang polos dan sedikit lugu, tidak seperti yang dia lihat tadi di panggung.

"Kok pintunya terkunci, Om?"

Alex menghampirinya, dan menarik tangan Bianca dengan menyentak kasar. Ia sempat sempoyongan namun tidak sampai terjatuh. Tangannya berpegangan kuat di tangan Alex.

Bianca belum sempat menguasai dirinya, ketika

akhirnya tubuhnya harus terjatuh di dada bidang Alex. Aroma tubuh pria itu seolah menghipnotisnya ingin berlama-lama berada di sana.

'Mmm, begini rasanya di peluk?' batinnya pertama ini di peluk pria.

Tanpa sadar matanya menatap dalam raut wajah Alex. Bahkan ketika pria itu merapatkan bibirnya di bibir Bianca, ia hanya terpaku.

Sementara dalam hati Alex, dia begitu mengagumi daya tarik Bianca. Tidak bisa membohongi hati jika dia sangat mencintainya.

Semakin dalam dia memandang bola mata Bianca di pelukannya itu, semakin terasa getaran cinta bergejolak di hatinya.

"Aku mencintaimu, Bianca," bisiknya tanpa mengingat statusnya lagi.

Dengan lembut melumat bibir merah muda milik Bianca, semakin larut dan terbawa suasana hati yang seolah keduanya memiliki perasaan yang sama.

"Lepaskan, Om," pekik Bianca seperti tersadar, mendorong dada Alex.

Bianca segera menyambar kunci di atas nakas, dan berlari keluar kamar. Ia gegas menuju lift dan menutup pintu liftnya.

Entah perasaan apa yang membawanya bisa sedekat itu dengan pria yang baru dikenalnya.

Saat pintu lift terbuka Alex sudah berdiri di depan menunggu Bianca. Senyuman seringai di wajah pria itu menyambutnya di lantai dasar.

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Dokter Ibumu, Bukan Pembantumu, Mas!
9.3
Niat tulus Ayu merawat Ibu Lestari demi balas budi justru menyeretnya ke dalam perjodohan rumit dengan Tama. Pria itu telah memiliki kekasih dan sangat membenci Ayu. Namun, saat kondisi kesehatan ibunya memburuk, Tama terpaksa menikahi Ayu lewat perjanjian kontrak yang dingin. Di tengah pernikahan tanpa cinta ini, benih asmara perlahan tumbuh. Pengabdian tulus Ayu lambat laun mengikis kebencian Tama, mengubah luka hati menjadi cinta yang sulit dilepaskan.
Sampul Novel Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)
8.9
Pamela harus menelan kepahitan saat cintanya ditolak dan dihina oleh Zero, sahabatnya yang posesif. Setelah berhasil bangkit dan menemukan kebahagiaan baru bersama Tirta, masa lalunya kembali mengusik. Menjelang pernikahan mereka, Zero tiba-tiba hadir untuk merusak segalanya. Meski bayang-bayang mantan kekasih Tirta ikut mengintai, ancaman terbesar tetaplah Zero. Dengan kekuasaan dan obsesi gilanya, putra konglomerat itu bertekad merebut kembali Pamela.
Sampul Novel En-PD161
9.1
Dua tahun membina rumah tangga, seorang pria harus menghadapi kenyataan pahit saat suaminya berubah menjadi gemar bermain wanita. Segala upaya mempertahankan pernikahan, bahkan hingga melibatkan polisi, hanya dibalas dengan sikap dingin. Kebenaran menyakitkan pun terungkap bahwa pernikahan mereka cuma kedok balas dendam atas kematian cinta pertama sang suami. Lelah dikhianati, pria tersebut akhirnya memutuskan bangkit dan menyetujui perceraian.
Sampul Novel Lidah Menantu
9.5
Sikap santun sang menantu rupanya hanya topeng. Kini, Mak Esah harus menghadapi lisan tajam dan perilaku tidak sopan dari istri anaknya tersebut. Di balik perubahan drastis ini, Mak Esah mencium adanya sebuah rahasia besar yang sengaja ditutupi darinya. Konflik batin dan ketegangan di antara mereka pun kian memuncak. Sanggupkah Mak Esah bertahan dari tekanan mental yang menderanya? Mampukah semua misteri dan kebenaran yang tersembunyi akhirnya terbongkar?
Sampul Novel Mantan Istriku Hamil?!
9.4
Miliarder ibu kota bernama Lenny terjebak pernikahan hampa tanpa cinta. Demi menikahi wanita misterius dari cinta satu malamnya, ia memutuskan menceraikan sang istri. Namun beberapa bulan pasca-perceraian, Lenny sangat terkejut saat melihat mantan istrinya hamil tujuh bulan. Kecurigaan pun mulai menyelimuti benaknya, membuatnya bimbang apakah mantan istrinya itu telah berselingkuh dan mengkhianati komitmen pernikahan mereka selama ini.
Sampul Novel Meniti Ulang di Usia Senja
9.6
Sebuah album foto yang ditemukan saat membersihkan rumah di hari ulang tahun pernikahan mengungkap rahasia menyakitkan. Selama dua puluh tahun, dari usia 40 hingga 60 tahun, sang suami diam-diam mengambil foto pernikahan tahunan bersama cinta sejatinya, lengkap dengan tulisan "Cinta abadi selamanya". Menyadari dirinya tidak pernah dicintai, sang istri memutuskan untuk berhenti mengurus rumah tangga, anak, hingga cucu. Setengah hidupnya mungkin telah sia-sia, tetapi kini ia siap meniti ulang takdirnya sendiri.