APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanita Berhati Es

Wanita Berhati Es

Sejak lahir, aku tidak pernah memiliki hasrat atau gairah yang besar layaknya orang lain. Kehidupan yang datar itu mendadak berubah saat aku melakukan pemeriksaan kesehatan di rumah sakit. Di sana, takdir mempertemukanku dengan seorang dokter yang sangat pandai memikat dan mempermainkan hati wanita. Sentuhan dan pengaruhnya yang perlahan namun pasti mulai meruntuhkan kepolosanku. Kini, sosok dingin itu telah lenyap, berganti menjadi wanita yang dipenuhi gairah membara tanpa lagi memedulikan rasa malu.
Bab
Bagikan

Bab 1

Aku terlahir tanpa banyak hasrat. Namun, saat pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan, aku tak pernah menyangka akan bertemu dengan seorang dokter yang ahli dalam mempermainkan wanita. Perlahan, dia mengubahku, dari seorang wanita polos menjadi sosok yang haus akan nafsu, tanpa lagi mengenal rasa malu.

Karena sejak lahir aku dingin secara seksual, pacarku akhirnya ingin meninggalkanku. Aku pun pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri, berharap menemukan jawabannya. Namun siapa sangka, dokter yang kutemui di sana justru seorang ahli dalam mempermainkan perempuan.

Sedikit demi sedikit, dia mengubahku menjadi wanita nakal yang kehilangan rasa malu, hanya hidup untuk mengejar nafsu semata.

Hari itu, aku memakai masker dan kacamata hitam, lalu mendorong pintu klinik kebidanan. Tapi ternyata, yang ada di dalam adalah seorang dokter pria.

"Silakan duduk," katanya sambil mengambil buku rekam medis dari tanganku dan menulis sesuatu di atasnya. Suaranya dalam dan tenang. "Namaku John Pablo, kau bisa memanggilku Dokter John."

Mungkin karena nada profesionalnya, aku pun sedikit merasa lebih nyaman.

"Aku ini dingin secara seksual, pacarku mau putus denganku..."

Tangan John yang sedang menulis di rekam medis itu berhenti, lalu dia kembali mengangkat matanya menatapku.

Aku tak berani menatap balik, hanya terus berbisik pelan, "Aku sebenarnya mau saja tidur dengannya, tapi... tapi, begitu dia menyentuh bagian pribadiku, aku langsung merasa sangat tidak nyaman..."

John meletakkan pena, menyatukan jemari panjangnya di depan dada.

"Apakah kau pernah mengalami kekerasan seksual? Seperti pemerkosaan, pemaksaan dengan obat-obatan, atau pelecehan oleh orang yang kau kenal?"

"Tidak," aku menggelengkan kepala.

"Coba pikir baik-baik, pernahkah suatu hari kau bangun tidur dan merasa tubuhmu nggak enak?"

"Benar-benar nggak pernah."

Sebelum datang ke sini, aku sempat mencari tahu tentang penyebab dinginnya hasrat seksual di internet. Beberapa orang menyebutkan kemungkinan adanya trauma.

Tapi aku yakin, aku sama sekali tidak pernah mengalami kekerasan atau insiden semacam itu.

John mengangguk kecil.

"Penyakitmu bisa disembuhkan."

Hatiku langsung berbunga-bunga, aku lupa rasa maluku, dan spontan menggenggam tangan John.

"Benarkah?"

"Ya, hanya saja..."

"Hanya saja apa?"

"Tapi kondisimu ini spesial. Tidak bisa ditangani dengan metode biasa. Dalam proses pengobatan nanti, aku akan melakukan kontak yang cukup dalam dengan area-area pribadimu. Jadi, kau masih mau melanjutkan? Kalau tidak, kau bisa pergi sekarang."

Wajahku langsung memerah lagi, sempat ingin kabur keluar. Tapi saat teringat penderitaan pacarku, aku akhirnya menahan diri.

"Dokter John, aku mau!"

"Kalau begitu, berbaringlah. Aku akan memeriksa tubuhmu dulu."

John menarik tirai di belakangnya, memperlihatkan ranjang kecil berwarna putih di baliknya.

Aku menurutinya dan berbaring.

John pergi ke kamar mandi kecil di dalam ruangan untuk mencuci tangan, lalu dengan serius mendisinfeksi tangannya, memakai sarung tangan sekali pakai, dan berdiri di samping ranjang.

Dalam ruang tertutup itu, aku bisa mendengar napasku sendiri yang gugup. Membayangkan Dokter John yang tampan dan asing ini akan menyentuh bagian tubuhku yang sensitif, aku jadi merasa malu dan canggung.

"Aku... aku sudah siap. Silakan mulai."

Dari balik kacamata berbingkai emasnya, tatapan John begitu lembut sekaligus tenang, memberiku rasa aman.

"Sekarang, aku akan mulai memeriksa tubuhmu," ujarnya.

"Mm." Aku mengangguk kecil.

Lalu, dengan perlahan, John mulai membuka kancing kemejaku satu per satu.

Dia begitu dekat denganku, sampai-sampai napas panasnya terasa di wajahku, membuat seluruh tubuhku menegang seketika. Aku tak sadar, mataku terpejam sendiri.

"Buka matamu. Kau harus belajar memahami tubuhmu sendiri."

Nada suara Dokter Song lembut, namun entah kenapa, kata-katanya justru memberiku ketenangan yang luar biasa, meredakan kegugupanku.

Perlahan-lahan aku membuka mata.

Begitu mataku terbuka, aku langsung berhadapan dengan tatapan John.

Berbeda sekali dengan pacarku yang kasar dan terburu-buru, John tidak berusaha dengan tergesa-gesa membuka paksa kakiku, juga tidak mengucapkan kata-kata yang memalukan. Tatapannya justru penuh ketenangan dan profesionalisme.

Saat kancing baju terbuka, pakaian dalam di balik kemeja pun terlihat.

"Buang semua pakaian dalam berwarna gelap di rumah. Mulai besok, kau hanya boleh memakai warna-warna cerah, seperti merah atau oranye."

"Baik, Dokter John," jawabku sambil menunduk, pipiku memerah.

Memang, sejak kecil aku selalu memakai pakaian dalam berwarna biru, hijau, atau putih. Pantas saja aku jadi kurang bergairah.

Lalu, John melepas pakaian dalamku, memperlihatkan dadaku yang gemetar halus.

"Apa yang kau rasakan?"

Dia mengulurkan tangan, menutupi seluruh dadaku, lalu memijatnya perlahan.

"Ngg... nggak... nggak ada rasa apa-apa."

Karena malu, wajahku panas seakan terbakar, tapi bau disinfektan yang tercium dari tubuhnya membuatku tetap patuh dan jujur menjawab.

John mempererat cengkeramannya, berpindah posisi, dari pijatan lembut berubah menjadi sedikit lebih kasar, tapi tetap tidak membuatku merasa sakit.

"Kalau sekarang?"

"A-ada..."

Sensasi aneh saat dadaku dipermainkan oleh pria asing membuatku menggigit bibir, jemariku mencengkeram erat sprei, dan tanpa sadar mengeluarkan suara kecil dari tenggorokanku.

"Tubuhmu ada sedikit masalah, kurang sensitif,"

John menyimpulkan dengan tenang. Tangan besarnya kemudian bergerak turun, dari pusarku ke perut bagian bawah, menuju ke bagian pribadiku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AFFAIR
9.5
Mauren, gadis 19 tahun, dipaksa ayahnya menikah dengan Aron, duda kaya berumur 45 tahun. Di bawah atap yang sama, putra Aron yang berusia 23 tahun, Liam, juga menderita dalam pernikahan dingin bersama Bella akibat ketidakpuasan ranjang. Saat Mauren tersiksa melayani hasrat pria tua itu tanpa pernah bahagia, Liam didera frustrasi mendalam terhadap istrinya. Takdir kelam ini menjerat mereka semua dalam pusaran konflik rumah tangga yang penuh penderitaan batin.
Sampul Novel Ayah CEO Pengen Pelukan
9.1
Akibat pengkhianatan orang terdekat, Nadia terpaksa melewati satu malam bersama lelaki asing. Penyesalan melanda dirinya, tetapi paras rupawan pria itu justru membuatnya salah tingkah hingga nekat meninggalkan sejumlah uang sebelum kabur. Kresna, pria misterius tersebut, merasa sangat direndahkan karena diperlakukan bak lelaki bayaran. Diselimuti amarah, ia langsung menyuruh asistennya melacak identitas Nadia lewat CCTV hotel untuk menuntut balas.
Sampul Novel BABY CEO 21+
8.6
Dalam momen yang intim, Vanya terhanyut oleh ciuman intens Ares yang membuatnya sesak napas. Sentuhan lembut serta kecupan membara dari Ares di area sensitif terus membakar gairah Vanya hingga ia mengerang gelisah. Di tengah gejolak hasrat yang menyiksa itu, Vanya berulang kali memanggil nama Ares seolah mendambakan lebih. Namun, Ares dengan tenang memintanya untuk menikmati prosesnya dan tidak terburu-buru, membiarkan ketegangan romansa dewasa mereka kian memuncak.
Sampul Novel Bittersweet
9.0
Arvin Bintang Mahatama dan Hana Farsya Aurina bertetangga sejak kecil. Meski Arvin sangat jahil sedangkan Hana manja tapi dewasa, mereka tak terpisahkan dari TK hingga SMA. Hubungan keduanya kerap diwarnai pertengkaran bagai Tom and Jerry akibat perbedaan sifat. Memasuki masa remaja, persahabatan erat ini diuji oleh tumbuhnya benih-benih cinta. Akankah ikatan platonis mereka mampu bertahan saat perasaan baru mulai mewarnai kisah pahit manis di sekolah?
Sampul Novel Cinta Bersemi Di Lokasi Proyek
8.1
Kehadiran seorang wanita di lokasi proyek memicu kesalahpahaman besar di antara para pekerja. Karena prasangka sepihak, semua orang di sana salah mengira dirinya sebagai wanita murahan yang bisa dipermainkan. Anggapan keliru tersebut membuat para pria di tempat kerja itu mencoba mendekatinya hanya demi mencari kesenangan pribadi. Di tengah lingkungan yang keras ini, ia harus bertahan menghadapi berbagai pandangan merendahkan dan godaan dari orang-orang di sekelilingnya.
Sampul Novel I Will Always Love You
9.7
Penyesalan mendalam menghantui Aarav Ravindra karena telah mengabaikan sang istri akibat konflik masa lalu. Begitu ia mulai mencintainya, sang istri justru berpulang untuk selamanya. Di tengah rasa bersalah yang menghancurkan hidupnya, Aarav sangat mendambakan kesempatan kedua. Sebuah keajaiban datang lewat sosok wanita misterius yang menawarkan kemampuan melintasi waktu. Kini, Aarav harus berjuang memperbaiki masa lalu dan menghapus luka yang membekas.