APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tumbal Pernikahan

Tumbal Pernikahan

Bagi Amanda, pernikahan bukanlah penyatuan cinta, melainkan belenggu paksaan yang menyiksa. Sebagai istri yang sabar, dia rela mengesampingkan ego dan harga dirinya demi melunakkan hati sang suami yang dingin. Meski badai ujian dan konflik tiada henti menguji ketegarannya, Amanda tetap bertahan dan enggan menyerah. Akankah perjuangan tulusnya mampu meruntuhkan keangkuhan sang suami, atau justru sikap dingin itu akan bertahan selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Sepulang dari liburan, Angga langsung mengajak Amanda untuk tinggal berdua. Dewi dan Feri menolak keras usul darinya dengan alasan takut bila Angga menyakiti wanita itu. Amanda sendiri juga sempat berpikir demikian. Namun, ia mencoba menepisnya. Yakin bahwa Angga tak mungkin bermain kasar meskipun tiap ucapannya selalu tak mengenakkan hati.

Dewi memberikan banyak wejangan supaya Angga menjaga Amanda dengan baik, wanita paruh baya itu benar-benar tak rela berpisah dengan sang menantu. Demi kemandirian ia pun harus rela membiarkan anak dan sang menantu tinggal berdua.

***

Setelah menempuh perjalan yang cukup lama, kini mereka telah sampai di kediaman milik Angga. Rumah minimalis bergaya modern dengan dua lantai. Berpagar besi berwarna hitam yang lumayan tinggi. Amanda terus mengekor di belakangnya sambil menikmati suasana rumah yang akan mereka tinggali berdua. Rumah dengan warna abu-abu yang mendominasi.

"Kamarnya cuma satu. Kamu di kamar dan aku di ruang tengah," ucap Angga dingin sambil memutar anak kunci, seperti biasa Amanda hanya mengangguk tanpa bersuara. "Aku mau membersihkan diri. Kamu beres-beres dulu. ingat! Jangan pernah merubah apa pun yang berada di ruangan ini, atau pun melepas semua foto-foto itu." Angga menunjuk beberapa bingkai foto yang berada di ruang tamu. Foto-fotonya dengan Nessa---wanita yang seharusnya menjadi istri Angga---ketika mereka masih bersama.

"Iya, tapi Angga, aku, 'kan sudah jadi is ...."

"Istriku gitu. Kamu lupa, aku menikah sama kamu, karena terpaksa Amanda," jelas Angga penuh penekanan supaya Amanda sadar akan posisinya, bahwa pria itu tidak akan pernah menganggapnya ada.

"Setidaknya hargai aku sebagai istri kamu," jawab Amanda sambil menahan tangisnya yang entah sudah keberapa kali.

Angga tersenyum remeh sambil menatap Amanda lama. "Jangan pernah berharap aku akan melakukannya, kamu tahu benar seharusnya yang aku nikahi itu siapa?" Tepat setelah mengatakan demikian, Angga pergi meninggalkan Amanda yang mulai menangis.

Amanda terduduk lemah di atas lantai, menatap nanar bingkai foto kemesraan Angga dan Nessa. "Kenapa kamu harus pergi dan melimpahkan semuanya padaku. Sekarang lihat! Bagaimana sikap Angga padaku, ia muak dan benci. Menolakku dalam hidupnya." Di hari pertama tinggal berdua Amanda sudah menangis. Bagaimana jika satu bulan lamanya. Apakah ia akan sanggup menghadapi sikap acuh Angga yang tidak pernah menghargai dirinya. Kesabarannya mulai di uji oleh tuhan. Amanda sanggup atau tidak melewati itu atau malah menyerah dan mundur.

***

Hubungan keduanya masih sama, tak ada perkembangan sama sekali. Angga sudah aktif di kantor, tetapi Amanda belum. Wanita itu meminta cuti selama satu bulan penuh dan Jadwal cutinya masih tersisa lima hari lagi. Merasa mulai bosan Amanda memutuskan untuk mengunjungi sang bunda. Sekali pun baru minggu lalu bertemu, tetapi sekarang ia merindukan wanita yang telah melahirkannya itu. Amanda memasuki area rumah sederhana milik ibundanya dengan hati bahagia. Ia rindu kepada Rania---sang Ibunda.

"Assalamualaikum, bunda, Amanda datang," ucap Amanda penuh binar bahagia. Namun, tak ada sahutan dari yang bersangkutan. "Bunda," ulangnya dan tetap sama, Rania tidak menyahuti. Mengetahui pintu tidak di kunci membuat Amanda memutuskan masuk begitu saja.

***

Amanda terus menangis di samping gundukan tanah yang masih basah, sungguh, ia benar-benar tak menyangka bahwa Rania akan meninggalkannya secepat ini. Ia menemukan Rania tak sadarkan diri di rumah, dengan perasaan kalut ia membawa wanita itu ke rumah sakit. Rupanya penyakit jantung yang selama ini di derita kambuh yang mengakibatkan anfal saat itu juga.

"Bunda ... Kenapa pergi? Amanda nggak bisa tanpa bunda, masih ingin bunda di sini. Amanda sendirian sekarang." Masih dengan tangisan, Amanda mengusap nisan sang ibunda. Selama ini hanya Rania yang ia miliki, dan sekarang wanita itu malah pergi.

Dewi memeluk menantunya penuh sayang. "Amanda nggak sendirian, ada mama sama papa dan juga Angga. Kami keluarga kamu, Sayang," kata Dewi penuh kelembutan. Memberi kekuatan kepada menantu malangnya.

"Iya, Nak. Kami juga orang tuamu, jadi jangan pernah berkata kamu sendirian," sahut Feri yang berdiri di belakang istri dan menantunya membuat Amanda tersenyum masih dengan tetesan air mata, lalu menatap Angga sekilas yang saat itu entah sedang memikirkan apa.

'Bahkan, saat aku kehilangan, sekali pun kamu nggak peduli. Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan, Ga. Pasti Nessa,' ucap Amanda dalam hati sambil menahan rasa sakit yang terasa kian nyata.

"Sebaiknya tinggal dengan mama-papa dulu, mama khawatir sama keadaan kamu."

"Nggak perlu, Ma. Amanda harus ikut sama Angga," tolak Amanda halus dan sesekali melirik Angga dengan ekor matanya.

"Apa Angga bisa menjaga kamu?" ucap Feri, seolah ia tahu bahwa Angga tidak mampu menjaga sang menantu dengan sangat baik. Mengingat sikap Angga pada wanita itu membuat Feri meragukan sang anak.

"Mama-Papa tenang saja. Angga akan menjaganya dengan sangat baik." Angga merangkul bahu Amanda dan berdiri di sampingnya membuat wanita itu terkejut dengan dada yang berdebar, karena pertamakalinya ia sedekat ini dengan lelaki itu. "Angga juga akan membahagiakannya," lanjutnya masih merangkul bahu Amanda dengan sebelah tangan, membuat senyum bahagia terbit di bibir Feri dan Dewi.

***

Mereka berpisah di luar pemakaman, Amanda langsung ikut Angga pulang ke rumah mereka. Sepanjang perjalanan ia terus tersenyum, teringat akan perlakuan Angga beberapa menit lalu dan juga janji pria itu.

"Jangan pernah berharap lebih tadi hanya sandiwara." Angga menoleh, menatap Amanda dengan senyum satu sudut. Senyum meremehkan karena wanita yang duduk di sampingnya telah percaya akan sandiwaranya.

"Maksud kamu apa?" Amanda benar-benar tak tahu maksud dari ucapan Angga, jangan-jangan janjinya tadi ....

"Itu hanya janji palsu, Amanda. Kamu tahu benar bagaimana sikapku terhadapmu, sampai kapan pun aku tidak akan menerimamu, A--manda Fri--sela," jelas Angga mengeja nama lengkap sang istri. Amanda terdiam, mengalihkan pandangan ke jendela mobil di sampingnya. Baru menit yang lalu ia berharap dan kini sudah dijatuhkan. Namun, dalam hati terus merapalkan do'a supaya sikap sang suami segera berubah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Istri Idaman
9.3
Karmila tak ingin lagi meratapi nasib akibat terus-menerus direndahkan oleh keluarga suaminya. Demi masa depan buah hatinya, ia bangkit dan menolak untuk terus pasrah. Dengan memanfaatkan kreativitasnya, ia mengubah barang bekas menjadi kerajinan bernilai tinggi. Langkah ini ia ambil secara mandiri demi meraih kesuksesan di tengah tekanan batin. Mampukah kerja keras Karmila membuktikan kekuatannya sekaligus membungkam segala hinaan yang selama ini ia terima?
Sampul Novel Di Jodohkan Dengan Om Galak
8.2
Nessa, mahasiswi berjiwa bebas, terpaksa menikah dengan Arga, CEO dingin yang sempat ia temui dalam situasi buruk. Demi menuruti perjodohan tanpa membongkar rahasia dari orang tua, mereka sepakat menjalani pernikahan kontrak selama satu tahun. Di tengah bayang-bayang masa lalu Arga, hubungan keduanya perlahan mulai berubah. Akankah benih cinta tumbuh di antara mereka, atau justru kembalinya masa lalu Arga yang akan menghancurkan pernikahan ini?
Sampul Novel Habis Manis Sepah Dibuang
9.3
Setelah disiram air dan dihina oleh seorang klien, Jocelyn tidak mendapatkan pembelaan dari atasannya, Michael. Pria itu malah memeluk asisten pribadinya dan memecat Jocelyn dengan dingin karena dianggap tidak becus bekerja. Enggan menerima perlakuan semena-mena tersebut, Jocelyn menyeka wajahnya, menenggak segelas alkohol, lalu menyiram balik wajah Michael sebelum akhirnya menyatakan keluar dari perusahaan. Kisah dalam novel modern ini berfokus pada harga diri Jocelyn yang menolak ditindas.
Sampul Novel Harga Diri Seorang Suami
9.0
Kehilangan jabatan kepala pengawas pabrik membuat hidup Gunawan runtuh. Nasibnya kian tragis saat sang istri tega menggugat cerai dan mengusirnya begitu saja. Meski terpuruk dan harga dirinya diinjak-injak, Gunawan menolak menyerah pada kenyataan pahit ini. Ia bertekad bangkit dari kehancuran untuk membuktikan kekuatan sejatinya, sekaligus membalaskan dendam kepada setiap orang yang dahulu pernah meremehkan dan merendahkannya.
Sampul Novel Maaf, Merebut Suamimu
9.2
Melihat kebahagiaan orang lain membuat Gilsha merasa hidupnya sangat tidak adil. Didorong rasa putus asa, ia bertekad merebut kembali apa yang diyakininya sebagai miliknya. Target utamanya adalah Noah, pria yang kini telah membangun rumah tangga bahagia bersama wanita lain. Demi obsesi tersebut, Gilsha nekat menghancurkan pernikahan mereka. Namun, akankah tindakan ini benar-benar membawanya pada kebahagiaan sejati yang ia impikan?
Sampul Novel MALAM TERAKHIR DI KOTA
8.7
Menjelang hari pernikahan, seorang pria merayakan malam terakhirnya sebagai lajang bersama sahabat terdekat. Namun, pesta tersebut berubah tegang ketika rahasia kelam masa lalu yang lama terpendam mendadak terbongkar. Kebenaran tersembunyi ini kini mengancam masa depan yang telah ia rancang. Di tengah gemerlap kota, ikatan persahabatan mereka diuji secara ekstrem, sementara rencana pernikahannya terancam batal akibat badai konflik yang tak terduga.