APKDock Logo
Sampul Novel Tumbal Pernikahan

Tumbal Pernikahan

9.6 / 10.0
Bagi Amanda, pernikahan bukanlah penyatuan cinta, melainkan belenggu paksaan yang menyiksa. Sebagai istri yang sabar, dia rela mengesampingkan ego dan harga dirinya demi melunakkan hati sang suami yang dingin. Meski badai ujian dan konflik tiada henti menguji ketegarannya, Amanda tetap bertahan dan enggan menyerah. Akankah perjuangan tulusnya mampu meruntuhkan keangkuhan sang suami, atau justru sikap dingin itu akan bertahan selamanya?

Tumbal Pernikahan Bab 1

"Hidup yang sebenarnya baru dimulai."

***

Degupan jantung terus berdetak tak menentu, dia berdebar karena menanti beberapa kalimat yang bahkan belum terucap dari bibir lelaki di sampingnya. Amanda terus menunduk, rasa tak percaya benar-benar ia rasakan. Terlebih lagi ketika lelaki yang berada di sampingnya adalah pria yang telah dicintainya selama ini dalam diam.

Suara 'sah' akhirnya menggema dengan riuh, ucapan syukur serta alhamdulillah pun menggiringi. Amanda bahagia karena stusnya kini telah berubah.

***

Wanita itu tertegun menatap rumah megah nan mewah berdiri kokoh di hadapan. Berbanding terbalik dengan rumah yang di tinggalinya dulu. Ia benar-benar kagum bahwa kini menjadi salah satu keluarga dari orang ber-ada. Namun, kekagumannya segera sirna setelah mendengar perkataan sang suami yang cukup keras itu membuat ia terperanjat dan perlahan menghilangkan senyum yang terpatri di bibir.

"Cepat, Amanda!" ujar laki-laki berpakaian formal itu supaya Amanda mempercepat langkahnya. Masih dengan rasa kagum Amanda memasuki rumah sang mertua. Rumah yang sangat besar dan bagus. Setelah sehari menginap di rumah bunda. Keluarga suaminya langsung memboyong ke rumahnya. Mereka mengatakan ingin menggelar resepsi pernikahan yang akan dihadiri kerabat terdekat saja.

***

Acara demi acara berjalan dengan begitu baik dan lancar, meski penuh kepalsuan. Angga begitu pintar menyembunyikan kekesalannya terhadap Amanda. Sehingga yang melihat pun berpikir bahwa pengantin baru itu sangat bahagia.

***

"Mau ke mana?" tanya Angga datar ketika melihat Amanda mengambil satu bantal dan selimut.

"Mau tidur." Amanda menunduk tak berani menatap wajah Angga karena takut.

"Di mana? Di luar? Mau buat aku malu, iya? Sengaja supaya mama belain kamu," cecar Angga membuat wanita itu semakin ketakutan.

Amanda menggeleng kuat masih dengan menunduk. "Bu--bukan. Aku mau tidur di sofa, aku juga nggak mungkin buat kamu malu. Kamu, 'kan su ...."

"Tidur di kasur! Biar aku yang di sofa. Meskipun, aku nggak suka sama kamu, bukan berarti aku biarin kamu kesakitan tidur di sofa dan efek buruknya pasti ke aku. Cukup pernikahan bodoh ini efek buruknya dan aku ... nggak mau dapat efek buruk lagi karena kamu." Angga merebut paksa selimut dan bantal di tangan Amanda, lalu membaringkan tubuh lelahnya dengan kasar ke atas sofa, sedangkan Amanda istirahat di atas kasur yang empuk. Keinginan mama mertua di malam pertama tak akan terwujud, ia ditolak di malam pertama mereka.

"Cepat tidur! Aku lelah hari ini. Matikan lampunya!" Tanpa menjawab lagi Amanda segera mematikan lampu utama di kamar itu dan berganti dengan lampu tidur di samping ranjang. Ia tersenyum masam. Sepasang pengantin baru yang masih tidur terpisah.

'Aku berjanji akan menjadi istri yang baik untukmu. Meskipun kamu menolak dan sepertinya kini membenci diriku.'

***

Di hari pertama menjadi menantu ia sudah diajarkan untuk melakukan banyak hal. Bangun pagi. Membantu pembantu bersih-bersih dan menyiapkan sarapan untuk semua orang. Dewi---mama Angga---begitu baik padanya, beliau telah menganggap ia sebagai anak sendiri. Sungguh betapa beruntungnya Amanda.

"Angganya mana? Belum bangun dia?" tanya Feri---papa Angga---sambil meminum teh hangatnya.

Amanda tersenyum, menyiapkan sarapan untuk mama dan papa mertua. "Sudah, Pa, dia lagi siap-siap di kamar."

Feri menghentikan meminum tehnya. Menatap sang menantu dengan tajam dan akhirnya berucap, "Mau ke mana dia. Sepagi ini sudah bersiap-siap." Amanda menelan ludah kuat-kuat. Raut wajah Feri berubah tegas dan dingin. Sama persis dengan wajah Angga ketika marah. "Angga bilang mau ke kantor, Pa," jawabnya takut.

Amanda membeku menatap pria tampan yang telah menjadi suaminya. Ia berjalan dengan tegap menuruni anak tangga dengan pakaian formal yang sudah terpasang rapi di tubuh. Jika saja ia mau tersenyum pada wanita itu, pasti rupanya terlihat amat menawan. Amanda masih terpesona dengan penampilan maskulin sang suami, hingga suara Feri membuyarkan lamunan.

"Kamu ini bagaimana. Baru dua hari yang lalu menikah dan sekarang ingin ke kantor. Suami macam apa kamu ini!" lontar Feri tanpa mau menunggu Angga duduk lebih dulu. Amanda hanya menunduk, takut melihat ekspresi sang suami.

"Ada pertemuan penting di kantor, Pa, dan aku harus hadir." Amanda mendongak. Melihat Angga menarik kursinya, segera duduk dan mulai menikmati kopi panas buatan wanita itu.

"Papa sudah memutuskan, kamu ambil cuti satu bulan. Ajak Amanda liburan, kalian harus bulan madu." Feri mengatakan tanpa jeda. Seolah ucapannya wajib dipatuhi.

"Papa bilang apa? Mana bisa Papa mengambil keputusan tanpa bertanya sama Angga." Angga terbelalak tak percaya dengan keputusan Feri. Amanda pun sama terkejutnya dengan pria itu, kapan papa mertua menyiapkan liburan itu. Amanda menunduk kembali ketika melihat tatapan menusuk dari Angga. "Angga menolak, Pa. Kerjaan di kantor menumpuk, bagaimana bisa ditinggal dalam waktu se lama itu." Angga masih protes. Sudah Amanda duga pria itu tak akan mau menerima keinginan Feri.

"Semuanya sudah papa atur. Izin satu bulan dari kantor dan kamu lupa ... papa tidak suka dibantah Angga." Feri tetap pada keinginannya. Ingin mereka berdua bulan madu, menghabiskan waktu hanya berdua.

"Sudahlah, turuti perintah papamu!" Dewi berusaha membujuk anak semata wayangnya supaya menuruti keinginan sang suami.

"Terserah! Selama ini juga kalian yang selalu mengatur hidupku." Angga mendorong kursi yang ia duduki dengan kasar, melangkah cepat menuju lantai atas. Dewi berteriak supaya Angga menghabiskan sarapan paginya, tetapi pria itu acuh. Amanda mendesah pelan, kini semakin yakin bahwa rasa benci Angga kian bertambah.

Setelah membereskan bekas sarapan pagi Amanda menyiapkan makanan untuk Angga, pria itu hanya meminum kopi pagi tadi. Ia yakin pria itu sudah lapar sekarang. Namun, lagi-lagi kekecewaan yang diterima. Angga menolak dengan tegas makanan yang Amanda bawa.

"Cepat siapkan pakaianmu! Jam sepuluh siang nanti kita berangkat!" perintahnya dingin, enggan menatap wajah Amanda sama sekali.

"Kalau kamu nggak mau pergi, kita nggak perlu pergi," usul Amanda, karena ia tahu benar Angga tidak menginginkan liburan ini.

"Aku bilang, siapkan, ya, siapkan, Amanda! Jangan membantah." Amanda terkesiap mendengar bentakan yang keluar dari mulutnya. Ia hanya mengusulkan, tetapi reaksi Angga begitu berlebihan.

"Ma--maaf."

"Cepat, siapkan!" Perintahnya lalu pergi dari kamar begitu saja. Meninggalkan Amanda yang berusaha keras menahan genangan air mata.

***

"Kita di sini hanya dua minggu bukan satu bulan. Ingat itu!" Suara dingin Angga menyadarkan Amanda dari kekaguman. Feri benar-benar menyiapkan semua. Kamar suit room dari hotel berbintang di Negara itu dengan pemandangan langsung ke alam terbuka. Amanda hanya mengangguk pelan sebagai respon dari perkataan Angga, tak ingin memancing emosinya lebih jauh. "Satu hal lagi, jangan berharap kita akan melakukannya, sampai kapan pun aku nggak akan mau menyentuh kamu," peringat Angga seolah tak peduli jika Amanda akan terluka karena ucapannya.

Lagi-lagi wanita itu hanya mengangguk mengiyakan. Ia bahagia bisa menikah dengannya. pria yang telah dicintai dalam diam sejak lama. Namun, ada luka di sana ketika Angga dengan jujur menolak kehadiran Amanda.

'Aku nggak akan nyerah, aku yakin bisa membuatmu mencintaiku. Aku yakin bisa meluluhkan hati kamu dan mendapatkan hati kamu.' Teguhnya sambil menatap nanar punggung Angga yang menatap lautan lepas lewat jendela kamar mereka.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Tumbal Pernikahan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Banyu-2 tak tergenggam dan yang lepas.
9.2
Sebuah surat misterius tiba-tiba datang kepada Banyu. Isinya menyatakan bahwa ia terpilih sebagai avatar setelah dipantau selama enam bulan oleh tim rahasia. Meski diliputi keraguan dan kecurigaan, ia diminta hadir di Jalan Lembayungkuning No. 17, tepat di sebelah kantor MNG Group, untuk menjalani wawancara penjelasan. Didorong rasa penasaran dan ketakutan, Banyu nekat mendatangi lokasi. Keputusan berani ini menjadi titik awal petualangan besar yang mengubah hidupnya.
Sampul Novel Cinta Berujung Duka atau Suka
7.9
Saat sang putri terbaring lemah karena demam tinggi, Jeffry Aryadi justru sibuk menghadiri pertemuan sekolah untuk anak dari cinta sejati masa lalunya. Ketika sang istri mencoba menghubungi, panggilan tersebut justru dijawab oleh wanita lain yang menangis meminta maaf. Jeffry yang merebut ponsel tersebut malah memarahi istrinya, berdalih hanya menolong seorang janda dan anak yatim. Kecewa dengan sikap suaminya, sang ibu akhirnya menawarkan pilihan kepada putrinya untuk hidup berdua saja dengannya mulai sekarang.
Sampul Novel En-PD154
9.0
Kemenangan sepuluh kali berturut-turut di arena justru berujung pengkhianatan dari Roderick. Sang tunangan tega bermesraan dengan cinta pertamanya, bahkan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar tak berkelas. Kelembutan Roderick sirna seketika demi menyatakan cinta pada wanita lain di depanku. Kecewa, aku langsung menghubungi ayahku, sang bos mafia besar. Kupastikan pernikahan kami batal karena aku akan mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel HOT LITTLE WIFE
9.6
Hidup Jelita berubah drastis pada hari kelulusannya saat ia dijodohkan dengan Kenzo Putra Bagaskara. Pria yang jauh lebih tua itu ternyata sudah beristri. Penderitaan gadis yang kerap dirundung di sekolah ini kian mendalam ketika menyadari dirinya hanya menjadi istri kedua di hari pernikahan. Kenyataan pahit pun terungkap bahwa istri pertama suaminya adalah adik kandungnya sendiri. Kini, Jelita terjebak dalam pusaran konflik rumah tangga yang rumit dan penuh kepedihan.
Sampul Novel Istriku Bukan Selingkuhanku
8.1
Satu dekade membina rumah tangga, bara cinta antara aku dan Mas Bram tak pernah padam. Sebagai bos sibuk yang kerap mengurus cabang di luar kota, ia selalu punya cara cerdik untuk menemuiku secara sembunyi-sembunyi dari ibunya. Pagi ini, kehangatan itu kembali terasa lewat pelukan manja dan kecupan mesra di leher saat aku sibuk di dapur. Sikap romantisnya selalu berhasil memanjakan diriku, membuatku tak berdaya dan hanyut dalam pesona gairah suami tercinta.
Sampul Novel Kesetiaanku Dibalas Pengkhianatan
8.4
Sebagai wanita dewasa berumur 30 tahun, aku kerap merasa tidak puas karena suamiku hanya mampu bertahan satu menit di ranjang. Kehadiran seorang montir berotot kekar sempat memicu hasrat terpendamku hingga kami nyaris melampaui batas, meski akhirnya aku menolaknya demi kesetiaan. Namun, pertahanan diriku runtuh saat mengetahui suamiku justru berselingkuh dengan tetangga hamil di seberang rumah. Kenyataan pahit ini mendorongku untuk membalas pengkhianatannya dengan cara yang sama.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan