APKDock Logo
Sampul Novel Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman

9.3 / 10.0
Karmila tak ingin lagi meratapi nasib akibat terus-menerus direndahkan oleh keluarga suaminya. Demi masa depan buah hatinya, ia bangkit dan menolak untuk terus pasrah. Dengan memanfaatkan kreativitasnya, ia mengubah barang bekas menjadi kerajinan bernilai tinggi. Langkah ini ia ambil secara mandiri demi meraih kesuksesan di tengah tekanan batin. Mampukah kerja keras Karmila membuktikan kekuatannya sekaligus membungkam segala hinaan yang selama ini ia terima?

Bukan Istri Idaman Bab 1

"Ini jatah uang bulananmu," ucap Mas Haikal. Dia memberikan 10 lembar uang seratus ribuan padaku. Sebelumnya dia sudah menghitung uangnya lebih dulu.

"Tidak mas, kamu saja yang mengatur uangnya. Seperti yang kamu bilang, aku ini boros, tidak bisa mengatur keuangan, jadi lebih baik kamu saja yang mengatur semuanya, yang penting semua kebutuhanku dan anak-anak terpenuhi," tukasku.

Ya, aku bertekad lebih baik tidak menerima uang suami dari pada terus menerus jadi bahan cacian. Aku percaya Allah akan memberikan rezeki pada kami walau dari jalan yang tak terduga.

Mas Haikal memandangku dengan tatapan heran. "Kenapa? Kamu sudah tidak butuh uang, hah?"

Aku berlalu begitu saja. Malas sekali menanggapi ocehannya. Aku sudah lelah, Mas. Lelah. Berdebat denganmu dengan masalah yang sama, dan aku selalu kalah karena hanya kamu yang punya kuasa.

"Dasar istri belagu! Dikasih uang belanja sok-sokan gak mau! Awas saja kau minta uang ini lagi! Gak bakalan kukasih sepeserpun!" umpatnya lagi.

Aku tersenyum getir.

"Ada apa sih kamu ribut-ribut, Kal? Gara-gara Mila lagi?" Suara ibu terdengar lantang menuduhku.

"Ya iyalah Bu, siapa lagi kalau bukan dia! Dasar istri tidak berguna! Hanya numpang hidup saja belagu."

"Heleeh, istrimu emang begitu Kal, bisanya cuma ngurus anak! Mana tahu dia capeknya cari duit! Kerja juga kagak!"

Aku memilih tak peduli. Sudah sering begitu, telingaku sudah kebal mendengarnya.

Ah kalian tidak tahu saja, kalau aku punya uang sendiri dari hasil ngecraft. Ya, aku membuat beberapa kerajinan tangan dari barang-barang bekas, lalu menitipkannya ke toko-toko besar. Hasilnya selama ini sudah lumayan. Apalagi akhir-akhir ini banyak permintaan dari konsumen, jadi barang yang kutitipkan selalu habis. Meskipun jika tak sengaja kepergok, Mas Haikal selalu mencibirku kalau aku seperti pemulung. Lalu dia akan marah-marah tak jelas.

Hasil konsinyasi itu aku simpan, meskipun terkadang kuambil untuk menambal kebutuhan. Selama ini aku memang belum merambah dunia online, karena waktu produksi ku terbatas hanya siang hari saja saat Mas Haikal ada di kantor. Itupun harus sembunyi-sembunyi di kamar si kecil sembari melihatnya main bersama.

Terkadang juga ibu selalu tiba-tiba datang ke rumah tanpa permisi. Kalau tidak minta uang pada Mas Haikal, dia akan meminta makanan. Membuatku makin tak nyaman kalau ada ibu di rumah.

***

"Mil, buatkan kopi, gulanya dikit saja," ujar Mas Haikal sembari menyesap rokoknya.

Aku hanya meliriknya sekilas, sambil terus berselancar di dunia maya. Ya, aku ingin sekali hasil karyaku dijual secara online. Jadi aku harus belajar dari nol mengenai hal ini.

"Kopi ada tinggal sedikit, paling satu kali seduh lagi tapi gulanya habis mas. Silahkan beli gula ke warung dulu kalau mau ngopi."

"Ck!"

Dia berdecak kesal, lalu bangkit sembari mengambil uang di dompet.

"Tunggu, mas!"

"Apalagi?"

"Sekalian belanja sembako buat sehari-hari."

"Hah? Kenapa gak kamu aja sih yang belanja!"

"Kan sudah kubilang mas, atur sendiri uangmu, yang terpenting kebutuhanku dan anak-anak terpenuhi. Selama ini kamu selalu bilang kalau aku boros."

"Ya iyalah, dikasih uang satu juta tidak cukup!"

"Iya, makanya kamu sendiri yang belanja. Agar tahu seberapa banyak kebutuhan kita."

"Ya sudah, apa aja yang mau dibeli?"

"Sebentar mas, aku catat dulu."

Dengan cekatan, aku langsung menulis kebutuhan pokok kami sekeluarga. Mumpung Mas Haikal yang akan belanja, aku tulis dengan lengkap dari mulai bahan makanan pokok, beras, minyak, dan lain-lain hingga home care, sabun, odol, shampo serta kebutuhan anak-anak susu dan pampers.

Selama ini, aku selalu menutup kekurangannya dengan uangku. Tapi sekarang tidak lagi, aku tak ingin pusing sendirian.

"Sebanyak ini?" tanya Mas Haikal heran. "Jangan-jangan kamu nambah-nambahin dengan kebutuhanmu ya?"

"Apanya yang ditambah-tambah? Baca aja semuanya mas, apa ada kebutuhan pribadiku disitu? Tidak ada kan? Semua kebutuhan keluarga dan anak-anak. Itu baru kebutuhan pokok bulanan mas, belum yang lain belanja sayur dan lauk, tagihan air, tagihan listrik, uang kebersihan serta keamanan kompleks."

"Ck! Harusnya kamu bisa berhemat!"

"Itu sudah yang paling hemat mas, harus dikurangi apalagi? Berasnya? Silahkan kalau kamu gak makan gak apa-apa. Kalau aku dan anak-anak sih sudah terbiasa berpuasa. Kamu saja yang tidak menyadari kalau selama ini kami kekurangan."

Mas Haikal berlalu begitu saja. Sedangkan aku kembali melanjutkan cara belajar jualan dan berbisnis secara online. Untung saja anak-anak sudah tertidur dengan pulas.

Aku memeriksa ke dalam kamar si kembar. Dalam kamar ini ada tiga kardus yang berisi harta karunku, Mas Haikal tak pernah menginjakkan kakinya ke kamar Daffa-Daffi jadi aman. Kardus itu berisi alat dan bahan craftku, kain-kain perca yang kudapatkan dari tukang jahit serta barang rongsokan lain yang kudapatkan dari mengumpulkan sampah sekitar. Lalu alat dan bahan yang kubeli dulu dari sisa uang belanja. Aku membuat beberapa aksesoris seperti bros dari kain perca, kalung, bando, gantungan kunci, hiasan gorden lalu celengan hias dari kardus bekas yang dibentuk menyerupai rumah. Semua kukerjakan sendiri kalau ada waktu luang.

Deru mobil memasuki halaman, tak lama ia membunyikan klakson. Mas Haikal pulang. Sebenarnya belanja dimana dia sampai lama sekali, padahal warung terdekat saja ada.

Aku membukakan pintu saat mendengar bel. Dengan wajah ditekuk masam Mas Haikal berlalu ke dalam, sambil membawa beberapa gembolan di tangannya.

"Tekor, tekor kalau kayak gini!" umpatnya.

"Ada apa, Mas?"

Mas Haikal memberikan nota belanja itu padaku. Tak tanggung-tanggung, ia habiskan sekitar delapan ratus ribu rupiah dalam sekali belanja. Kedua sudut bibirku tertarik ke atas. Emang enak! Makanya jangan sekali-kali menghinaku. Dasar suami pelit.

Ah tidak, kamu kan tidak mau dibilang pelit tapi maunya dibilang suami baik, ibu mertua baik dan biar aku saja yang jahat.

Kuperiksa semua daftar belanjaannya. Lengkap. Sesuai yang kutulis, bahkan ada yang tidak tertulis masuk dalam belanjaan. Apalagi kalau bukan kebutuhannya sendiri.

"Kok bisa sih belanjaannya sebanyak ini?" tukas Mas Haikal kesal.

"Kan sudah kubilang, itu belum semuanya, Mas. Lauk, sayur, bumbu dapur belum kau beli."

"Ckck!"

"Dah capek ngurusin kerjaan di kantor, capek juga di rumah disuruh belanja ini itu. Kamu aja nih yang atur uangnya lagi!"

"Gak mau, Mas. Kamu kan yang bilang sendiri, aku gak becus jadi istri. Tak apa aku tak dikasih uang darimu dari pada terus-menerus dimaki. Yang penting kebutuhan pokok terpenuhi."

Kubawa belanjaan itu ke dapur. Kusimpan pada tempatnya.

"Aku udah capek-capek kerja. Masih harus ngurusin kayak ginian. Kamu yang di rumah aja tinggal okang-okang kaki sambil menikmati uangku!" umpat Mas Haikal kembali. Ia masih belum terima.

"Siapa yang menikmati uangmu, Mas? Yang jelas bukan aku ya! Kamu aja hanya memberiku jatah satu juta! Gimana ceritanya menikmati uangmu?!"

Lanjut Membaca

Daftar Isi Bukan Istri Idaman

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Hitungan Mundur Di Atas Kepala
9.0
Sejak kecil, kemampuanku melihat angka kematian di atas kepala orang terdekat membuatku dicap sebagai pembawa petaka. Setelah kakek, ayah, dan ibu tewas tragis dalam sehari sesuai ramalanku, ketiga kakak laki-lakiku menaruh dendam mendalam padaku. Sebaliknya, adik perempuan kami yang kelahirannya merenggut nyawa ibu justru dipuja sebagai pembawa keberuntungan. Kini, tepat di usia kedelapan belas, cermin memperlihatkan hitungan mundur kematianku sendiri. Usai membeli kotak abu dan menyiapkan jamuan terakhir untuk kakak-kakakku yang tak kunjung datang, aku hanya bisa menunggu ajal menjemput dalam keheningan yang dingin.
Sampul Novel I'm Your Wife : Bukan Dia Tapi Aku
8.9
Alan, seorang wanita kutu buku, terperangkap dalam pernikahan dingin bersama Gavin Wildberg, sang CEO angkuh yang berselingkuh dengan adik angkat Alan bernama Aluna. Penderitaan Alan kian berat ketika sang ibu mertua mengusirnya dan menuntut perceraian karena penampilannya yang dinilai buruk. Saat nyaris mengakhiri hidupnya, seorang pria datang menolong dan mengungkap jati diri asli Alan. Kini, sebagai pewaris takhta konglomerat, ia bersiap membalas dendam.
Sampul Novel ISTRI TERCINTA BOS BESAR
9.7
Elitta kehilangan kekasih dan kasih sayang ayah akibat ulah Vivian. Setelah pertunangannya batal, sang ayah memaksanya menikahi pria yang dianggap miskin. Vivian merasa di atas angin, hingga ia menyadari suami Elitta adalah Vito Vincent Ravello, CEO Sunmart sekaligus mantan kekasih yang dulu ia buang. Kini Vivian bertekad merebut Vito kembali. Mampukah Elitta menjaga pernikahan dan pria yang dicintainya dari rencana jahat Vivian?
Sampul Novel Sesal yang Terlambat
9.4
Lima tahun silam, ia memilih pergi saat didesak melakukan tes DNA untuk sang anak. Sekarang, ia kembali dan memohon hal serupa. Di tengah kesuksesanku, aku curiga ia hanya ingin memanfaatkan anak itu. Namun, kebenaran di balik kepulangannya sungguh tak terduga. Ia ternyata ingin menitipkan buah hati kami karena sisa usianya tak lama lagi. Penyesalan mendalam kini mulai menghantui seiring terungkapnya rahasia masa lalu.
Sampul Novel Terjebak Cinta Mantan Buron
9.3
La Rossa, pembunuh bayaran andal, mendapat tugas mengeksekusi pewaris tunggal SKYLINE yang dikenal lumpuh dan idiot. Tak disangka, sang target ternyata menyembunyikan jati diri aslinya yang sangat berbahaya. Bukannya berhasil membunuh, La Rossa malah terjebak dan disandera oleh pria misterius itu di tempat persembunyiannya. Kini, ia dihadapkan pada dilema besar: mencari jalan untuk kabur atau justru selamanya terjerat dalam pelukan mantan buronan tersebut.
Sampul Novel WANITA SIMPANAN SUAMIKU,
8.3
Nela sempat merasakan indahnya pernikahan bersama Bima, sosok suami penyayang yang selalu memanjakannya. Namun, kehangatan itu mendadak lenyap saat perangai Bima berubah total menjadi sangat dingin dan acuh tak acuh. Didorong rasa curiga, Nela pun menyelidiki penyebab perubahan tersebut. Betapa hancur hatinya saat mendapati kenyataan bahwa suaminya telah berkhianat. Lebih menyakitkan lagi, wanita selingkuhan Bima adalah Seyla, sahabat dekat yang sangat ia percayai.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan