APKDock Logo
Sampul Novel MALAM TERAKHIR DI KOTA

MALAM TERAKHIR DI KOTA

8.7 / 10.0
Menjelang hari pernikahan, seorang pria merayakan malam terakhirnya sebagai lajang bersama sahabat terdekat. Namun, pesta tersebut berubah tegang ketika rahasia kelam masa lalu yang lama terpendam mendadak terbongkar. Kebenaran tersembunyi ini kini mengancam masa depan yang telah ia rancang. Di tengah gemerlap kota, ikatan persahabatan mereka diuji secara ekstrem, sementara rencana pernikahannya terancam batal akibat badai konflik yang tak terduga.

MALAM TERAKHIR DI KOTA Bab 1

Bar favorit mereka selalu dipenuhi lampu-lampu redup, suasana hangat yang dipenuhi tawa, dan dentingan gelas yang saling bersentuhan. Aroma bir bercampur dengan wangi kayu tua dari meja yang sudah tak lagi mulus. Ardi duduk di salah satu sudut bar itu, mengamati pemandangan malam yang terbentang di luar jendela besar. Perasaan campur aduk memenuhi dadanya. Dalam waktu seminggu, dia akan menikah. Dan malam ini, adalah malam terakhir kebebasannya.

Di sebelahnya, sahabat terdekatnya sudah hadir untuk memberikan semangat terakhir. Reza, pria yang selalu tampak tenang dan bijaksana, adalah yang pertama tiba. Senyumnya hangat saat ia menepuk bahu Ardi. "Kamu siap, bro?" tanyanya sambil mengangkat segelas bir.

Ardi mengangguk sambil tersenyum tipis. "Sepertinya begitu. Tapi jujur saja, rasanya aneh. Malam terakhir ini... semacam simbol dari semua yang akan berubah, kan?"

Reza tertawa kecil. "Pernikahan memang mengubah banyak hal, tapi bukan berarti semuanya buruk."

Tidak lama setelah itu, Andi masuk, dengan penuh energi seperti biasa. "Si calon pengantin!" serunya sambil menjabat tangan Ardi dengan antusias. "Ayo kita buat malam ini tak terlupakan!"

Ardi tertawa, meskipun ada sedikit kegelisahan yang mulai merayap di dadanya. Andi selalu orang yang paling bersemangat, dan mungkin itu yang Ardi butuhkan malam ini-sedikit hiburan untuk melupakan semua tekanan yang datang dengan persiapan pernikahan.

Ketika malam semakin larut, Fira, satu-satunya perempuan dalam lingkaran pertemanan mereka, datang. Dengan gaya kasual dan senyum manis yang selalu bisa menghangatkan suasana, dia langsung bergabung dengan mereka di meja. "Maaf terlambat, macet tadi," katanya sambil meletakkan tas di kursi. Dia menatap Ardi dan tersenyum lembut. "Malam terakhir sebagai pria bebas, ya?"

Ardi tersenyum padanya, merasa sedikit lebih tenang. Fira selalu menjadi tempat yang aman baginya, seseorang yang selalu bisa dia andalkan. Mereka semua adalah bagian penting dari hidupnya, dan malam ini adalah pengingat betapa berharganya persahabatan mereka.

Mereka mengangkat gelas dan bersulang. "Untuk Ardi," kata Reza. "Untuk cinta, persahabatan, dan kebahagiaan yang abadi!"

Tawa memenuhi bar, dan untuk sesaat, Ardi merasa semua tekanan sirna. Dia tertawa bersama teman-temannya, mengenang masa-masa dulu ketika hidup terasa lebih sederhana. Mereka bercerita tentang masa-masa kuliah, petualangan liar, dan kesalahan bodoh yang pernah mereka buat. Malam yang seharusnya menjadi perayaan penuh kebahagiaan ini berlanjut dengan penuh tawa dan kegembiraan.

Namun, di balik senyum dan tawa itu, ada sesuatu yang terasa aneh. Ada keheningan di antara beberapa kalimat, tatapan yang tertahan terlalu lama, terutama dari Fira. Ardi merasakannya, tapi ia berusaha menepis. Ini adalah malam terakhirnya sebagai pria lajang, dan dia tidak ingin merusaknya dengan perasaan yang membingungkan.

Saat musik di bar semakin keras, Fira tiba-tiba menawarkan untuk berbicara empat mata dengan Ardi di luar. "Ayo, sebentar aja. Udara di luar lebih segar," ajaknya dengan senyum yang tampak sedikit gugup.

Ardi mengangguk. "Boleh," jawabnya sambil berdiri, meninggalkan Andi dan Reza yang masih tertawa dengan gelas mereka.

Di luar bar, malam terasa dingin, dan kota seakan bernapas dalam keheningan. Fira mengeluarkan sebatang rokok, menyulutnya, lalu menatap Ardi dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Ada apa?" tanya Ardi, merasa gelisah dengan perubahan suasana.

Fira tersenyum samar, tapi senyumnya tidak seperti biasanya. "Aku cuma mau bilang... aku senang untukmu, Ardi. Benar-benar. Tapi, ada hal yang selama ini aku pendam."

Ardi menatapnya, tiba-tiba merasa gugup. "Apa maksudmu?"

Fira menarik napas dalam-dalam. "Aku... Aku selalu punya perasaan untukmu, Ardi. Dari dulu."

Keheningan menyelimuti mereka. Ardi tidak tahu harus berkata apa. Perasaannya bergejolak, dan tiba-tiba malam terakhir ini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.

"Fira, aku..." Ardi mulai bicara, tapi dia tidak tahu harus melanjutkan ke mana.

"Sudahlah," Fira memotong, sambil mengembuskan asap rokoknya. "Aku tahu ini malam terakhirmu sebelum menikah, dan aku tidak ingin merusaknya. Aku cuma... ingin kamu tahu. Itu saja."

Malam yang dimulai dengan penuh tawa tiba-tiba berubah menjadi kebingungan yang tak terduga.

Persahabatan, cinta, dan masa lalu berbaur menjadi satu. Ardi menatap Fira, bingung harus melangkah ke mana setelah pengakuan itu. Tapi satu hal yang pasti: malam terakhir ini baru saja berubah menjadi malam yang tidak akan pernah dia lupakan.

Ardi terdiam, merasakan beban yang tiba-tiba datang bersama angin malam yang menusuk. Suara hiruk-pikuk dari dalam bar terdengar samar di belakang mereka, seolah menggambarkan jarak yang semakin melebar antara dirinya dan Fira. Pengakuan itu datang begitu tak terduga, dan untuk sesaat, ia merasa tenggelam dalam pusaran perasaan yang tak ia mengerti.

Fira mengisap rokoknya sekali lagi, tatapannya teralihkan ke arah jalanan yang lengang. "Aku tahu ini salah waktu, Ardi. Dan aku nggak berharap apa-apa. Tapi aku pikir... aku akan menyesal selamanya kalau nggak pernah bilang."

Ardi masih berusaha mengatur pikirannya. Ia selalu menganggap Fira sebagai sahabat terbaik, seseorang yang selalu ada di sisinya sejak masa kuliah. Namun, perasaan Fira-perasaan cinta yang tak pernah ia ketahui-mengubah semua hal dalam sekejap. Bagaimana mungkin ia tidak menyadarinya selama ini?

"Fira, aku..." Suaranya tertahan, berat. Kata-kata terasa kering di bibirnya, sulit untuk diungkapkan. "Aku nggak pernah tahu kamu merasa seperti itu."

Fira tertawa kecil, tapi tidak ada kegembiraan di matanya. "Ya, mungkin karena aku terlalu pintar menyembunyikannya. Aku tahu kamu bahagia dengan Citra, dan aku nggak ingin merusaknya. Aku senang untukmu, sungguh."

Ardi menatapnya dengan rasa bersalah. Dalam benaknya, Citra-calon istrinya-berkelebat seperti bayangan yang menjauh. Ini bukan sesuatu yang pernah ia siapkan, terlebih pada malam seperti ini. Dia menggelengkan kepalanya, mencoba mengembalikan fokusnya.

"Tapi kamu nggak harus bilang sekarang, Fir," kata Ardi akhirnya. "Kenapa malam ini? Kenapa nggak sebelumnya?"

Fira menoleh ke arahnya, tatapannya serius. "Karena kalau bukan malam ini, aku nggak akan pernah bisa bilang. Setelah kamu menikah, semuanya akan berubah. Dan aku nggak ingin menyimpan ini selamanya."

Ardi merasakan dadanya semakin berat. Ia menatap Fira dalam keheningan, berusaha menemukan kata-kata yang tepat. Tapi semakin lama ia berpikir, semakin sedikit yang bisa ia katakan. Ini bukan hanya tentang Fira; ini juga tentang dirinya sendiri. Apakah selama ini ia terlalu fokus pada kehidupannya sendiri, tanpa pernah benar-benar memahami orang-orang terdekatnya?

"Saya minta maaf, Fir. Aku nggak pernah bermaksud bikin kamu merasa kayak gini." Ardi berkata dengan jujur. "Tapi kamu tahu aku mencintai Citra. Kami akan menikah, dan... aku nggak bisa mengubah itu."

Fira mengangguk, seolah sudah tahu jawaban itu akan keluar. "Aku tahu, Ardi. Dan aku nggak berharap kamu berubah. Aku cuma ingin keluarin perasaan ini, biar aku nggak lagi membohongi diri sendiri."

Ardi melihat Fira membuang rokoknya, memadamkannya di trotoar dengan ujung sepatunya. Mereka kembali terdiam. Di dalam bar, suara Andi dan Reza yang tertawa terdengar samar, tak tersentuh oleh kebingungan yang kini melingkupi mereka.

"Jadi... gimana sekarang?" tanya Ardi, mencoba menembus keheningan yang tak nyaman.

Fira tersenyum kecil, kali ini dengan kehangatan yang lebih tulus. "Sekarang, kita kembali ke dalam, minum, dan nikmati malam ini. Bukan begitu?"

Ardi tersenyum lemah, merasa lega karena Fira tidak berusaha memaksakan apa pun. Ia tahu, malam ini akan berbeda sekarang. Namun, setidaknya Fira memberinya ruang untuk tetap melanjutkan malam tanpa beban besar di pundaknya. "Ya... ayo kita nikmati malam terakhir ini."

Mereka kembali masuk ke bar, di mana Andi dan Reza masih tertawa tanpa tahu apa yang baru saja terjadi di luar. Suasana kembali hangat dan penuh tawa, tapi di benak Ardi, ada sesuatu yang telah berubah. Ia tidak bisa berhenti berpikir tentang apa yang baru saja Fira katakan, meski ia berusaha sekuat tenaga untuk fokus pada malam itu.

Saat mereka mengangkat gelas untuk bersulang lagi, Ardi menyadari bahwa malam terakhir ini, malam yang seharusnya menjadi perayaan sebelum ia menikah, telah menjadi malam yang jauh lebih rumit dari yang ia kira. Rahasia yang muncul tak hanya dari Fira, tapi juga dari dirinya sendiri, memaksanya untuk memikirkan kembali apa arti cinta, persahabatan, dan kebebasan.

Dan meski tawa masih mengisi ruangan itu, Ardi tahu bahwa malam ini hanyalah permulaan dari perubahan besar yang akan datang.

Bersambung...

Lanjut Membaca

Daftar Isi MALAM TERAKHIR DI KOTA

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel En-PD158
8.7
Demi menyembuhkan putra kandungnya dengan Lin Yanran yang terkena leukemia, Zhou Yu'an mendadak meminta cerai setelah tiga tahun menikah. Ia memohon kepada istrinya agar diizinkan memiliki anak lagi dengan sang mantan pacar demi mendapatkan sel pengobatan, berjanji akan kembali setelah semuanya usai. Namun, di balik tangis pilu suaminya, sang istri justru menemukan pesan provokatif dari Yanran yang menuntut Yu'an untuk menghamilinya malam itu juga.
Sampul Novel Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
8.1
Angela nekat hamil anak Jeremy secara sembunyi-sembunyi walau sadar dirinya cuma dimanfaatkan. Demi bisa lepas dari cengkeraman Jeremy yang kejam, ia sengaja memicu kemarahan pria itu. Sayang, pelarian Angela gagal setelah Jeremy melacak keberadaannya. Saat Angela pasrah dan memohon dilepaskan, kehadiran anak mereka justru membalikkan keadaan. Jeremy yang berhati dingin kini malah berbalik ingin mengabdi dan melayani Angela serta buah hati mereka.
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa untuk pembaca usia 21 tahun ke atas ini menyoroti sisi tersembunyi kehidupan yang penuh luka, dilema, dan kerinduan di balik topeng kesucian. Melalui narasi realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan diri di tengah kegelapan untuk menemukan cahaya. Sebuah hiburan mendalam tentang pencarian makna hidup serta cinta yang berliku, menyajikan perspektif baru bagi Anda.
Sampul Novel Menjadi Orang Ketiga Dipernikahan
7.9
Pernikahan hasil perjodohan Mira Aditya dengan Rafiq Jaya berujung pilu. Di balik ikatan tersebut, Rafiq rupanya telah menikahi Elena Faris, cinta masa lalunya, secara diam-diam. Terasing di rumah sendiri dan terus didera kepedihan mendalam membuat Mira berada di titik nadir. Di tengah kekecewaan serta hampa yang kian menyiksa, ia pun kini harus menentukan pilihan sulit: tetap bertahan dalam kepalsuan atau melangkah pergi demi meraih kebebasannya.
Sampul Novel Misteri matinya teman-temanku
8.6
Satu per satu orang terdekatku, mulai dari sahabat, kerabat, hingga musuh masa lalu, tewas mengenaskan. Pelaku pembunuhan berantai ini sangat rapi menyembunyikan bukti, membuat sosoknya tak terdeteksi. Di tengah pusaran misteri yang mencekam ini, daftar korban terus bertambah panjang. Kini, bahaya besar mulai mengancam nyawaku sendiri. Aku yang terjebak di pusaran teror ini harus menghadapi kenyataan bahwa maut sedang mengincar dari kegelapan.
Sampul Novel Rahasia Keluarga dan Pengkhianatan
9.5
Nadia terpaksa menerima tawaran licik Satria, ibu dari miliarder Reza Azhar, untuk menjadi ibu pengganti demi biaya pengobatan sang adik. Namun, setelah adiknya wafat, kepedihan mendalam mendorong Nadia melarikan diri dalam kondisi mengandung anak Reza. Di tengah pelarian dari kejaran Satria dan bayang-bayang kebenaran yang mulai tersingkap, mampukah Nadia bertahan menyembunyikan diri dari takdir serta pusaran intrik kekuasaan keluarga konglomerat tersebut?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan