APKDock Logo
Sampul Novel Harga Diri Seorang Suami

Harga Diri Seorang Suami

9.0 / 10.0
Kehilangan jabatan kepala pengawas pabrik membuat hidup Gunawan runtuh. Nasibnya kian tragis saat sang istri tega menggugat cerai dan mengusirnya begitu saja. Meski terpuruk dan harga dirinya diinjak-injak, Gunawan menolak menyerah pada kenyataan pahit ini. Ia bertekad bangkit dari kehancuran untuk membuktikan kekuatan sejatinya, sekaligus membalaskan dendam kepada setiap orang yang dahulu pernah meremehkan dan merendahkannya.

Harga Diri Seorang Suami Bab 1

"APA, MAS? KAMU DIPECAT?" Anggun berkacak pinggang sambil memekik keras di depan sang suami.

Gunawan hanya mengangguk saja. "Maafkan aku, Dek. Tapi pabrik sedang mengalami kemunduran. Jadi sebagian besar karyawan harus dirumahkan. Termasuk aku," jelas Gunawan.

"Terus aku sama Ibu mau makan apa kalau kamu nggak kerja, Mas?" tanya Anggun.

Gunawan menghela napas panjang. "Aku janji akan mencari pekerjaan setelah ini. Aku akan berusaha keras agar kalian bisa makan," jawabnya.

Anggun berdecak kesal saat mendengar jawaban sang suami. Dalam hati dia bersyukur karena sang suami dipecat. Dia jadi mempunyai sebuah alasan untuk berpisah dari lelaki itu.

"Kamu tuh harusnya bisa mempertahankan posisi kamu di pabrik. Kamu kepala pengawas, kan?" ujar Anggun.

"Iya. Tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa saat pemilik pabrik merumahkan sebagian besar karyawannya," sahut Gunawan.

"Dasar menantu nggak guna." Seorang perempuan paruh baya yang sejak tadi diam, kini ikut berbicara. Nada suaranya terdengar begitu menyakitkan hati.

Gunawan menatap ibu mertuanya sekilas. Dia kemudian menghela napas panjang. "Maafkan aku, Bu. Aku nggak bisa berbuat apa-apa selain menerima keputusan dari pabrik," ucap Gunawan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, perempuan itu melengos dan pergi dari ruang tamu. Sedangkan Anggun, masih menatap tak percaya pada sang suami.

"Bener kata Ibu. Kamu itu menantu nggak guna. Suami nggak berharga ya kamu ini!" Anggun menunjuk tepat di wajah sang suami saat berkata demikian.

Gunawan hanya bisa diam saja. Dia tak berniat untuk menimpali ucapan sang istri. Dia tak ingin terjadi pertengkaran antara dirinya dan sang istri.

"Aku mandi dulu." Gunawan beranjak dari ruang tamu menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur.

Sepeninggal Gunawan, Bu Ika, ibunda Anggun kembali keluar dari kamarnya. Dia menghampiri sang anak yang sedang terduduk lemas di sofa ruang tamu.

"Nggun," panggil bu Ika.

"Ada apa, Bu? Kalau mau minta duit, jangan sekarang deh. Aku lagi nggak pegang duit sama sekali," ucap Anggun.

Perempuan itu mengibaskan tangannya. "Bukan. Ibu nggak mau minta duit sama kamu," sahutnya.

"Terus?" Anggun bertanya dengan kening berkerut heran.

"Kamu ingat nggak sama Rendi?" tanya sang ibu.

"Rendi? Rendi siapa?" tanya Anggun.

"Itu lho anaknya juragan Darman. Yang dulu mau dijodohkan sama kamu," jawab bu Ika.

Anggun mencoba mengingat nama yang disebutkan oleh sang ibu.

"Rendi? Rendi yang mana sih?" tanya Anggun dalam hati.

"Ibu kemarin ketemu sama dia. Sekarang dia tambah kaya lho. Mobilnya aja parejo. Kalau kamu—"

"Pajero, Bu. Bukan parejo!" ralat Anggun.

"Aah! Pokoknya itulah. Kalau kamu bisa menikah sama dia, hidup kamu pasti akan bahagia. Hidup kamu nggak akan kere lagi kayak sekarang," ucap bu Ika lagi.

Anggun mendengarkan perkataan sang ibu dengan setengah hati. Sejujurnya dia sangat mencintai Gunawan. Tapi dia juga tak ingin munafik. Dia juga butuh uang untuk tetap bisa hidup dan bergaya.

Dulu memang sang ibu ingin menjodohkannya dengan orang kaya. Tapi dia menolak karena hatinya terpaut pada cinta seorang Gunawan yang kala itu masih karyawan biasa. Setelah menikah, barulah Gunawan mendapat promosi jabatan. Hingga akhirnya dia bisa menjadi kepala pengawas.

"Gimana, Nggun? Kamu mau kan ketemuan sama Rendi lagi?" Pertanyaan sang ibu membuyarkan lamunannya.

Anggun menoleh ke arah sang ibu dan berkata, "lihat entar ajalah, Bu."

"Ibu berharap kamu mau menuruti perkataan Ibu. Kalau kamu menikah sama dia, hidup kamu pasti akan bahagia," ucap Bu Ika berapi-api.

Anggun mendesah pelan. Tanpa menjawab perkataan sang ibu, dia beranjak dari sana dan masuk ke dalam kamarnya.

Bu Ika hanya mengedikkan bahu. Perempuan itu tak memaksa. Tapi dia sangat berharap sang anak mau menuruti perkataannya kali ini. Dia ingin melihat sang anak menikah dengan orang kaya agar hidupnya ketularan enak. Tak perlu kerja keras tapi yang mengalir bagai air bah.

****************

Mentari pagi menyorotkan sinarnya. Gunawan menggeliat di atas ranjang. Dia menoleh ke samping, tak ada sang istri di sana. Dia segera bangun dan berjalan menuju dapur.

"Anggun ke mana, Bu?" Gunawan bertanya pada sang mertua sembari menuangkan air putih ke dalam gelas.

Bu Ika tak menjawab pertanyaan Gunawan. Dia hanya melengos saja kemudian pergi dari hadapan lelaki itu.

Gunawan hanya bisa mengelus dadanya. Dia harus membiasakan diri dengan sikap sang mertua yang berubah 180° padanya.

"Sabar… sabar! Banyakin sabar ajalah. Jangan kebawa perasaan. Biar nggak jadi runyam." Gunawan menyemangati dirinya sendiri.

"Lebih baik sekarang aku mandi dan bersiap-siap untuk cari kerja. Biar bisa menghidupi keluargaku," ucapnya dalam hati. Dia lantas bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kamar mandi.

Tak sampai 30 menit, Gunawan telah selesai mandi. Dia lantas bersiap-siap untuk pergi mencari pekerjaan baru.

Gunawan mengetuk pintu kamar sang ibu mertua. Dia ingin berpamitan seraya meminta doa restu agar langkahnya diberkati. Tapi sang ibu mertua tak kunjung keluar kamar walaupun Gunawan sudah memanggil perempuan paruh baya itu.

"Aku keluar cari kerjaan dulu ya, Bu. Doakan aku supaya bisa cepat dapat kerjaan lagi," ucap Gunawan. Tak ada jawaban dari sang ibu mertua.

"Nanti kalau Anggun pulang, tolong kasih tahu dia kalau aku keluar untuk mencari pekerjaan," ucap Gunawan lagi.

Tetap tak ada jawaban dari dalam. Gunawan menghela napas panjang. Dia lantas segera keluar dan memakai sepatu bututnya. Dia berdoa dalam hati agar bisa mendapatkan pekerjaan secepat mungkin.

"Mau ke mana, Mas?" tanya Anggun. Dia baru saja tiba dari warung untuk berbelanja.

"Mau cari kerjaan, Dek. Doain ya, semoga Mas bisa segera dapat kerjaan," ucap Gunawan. Senyum manis menghiasi wajahnya yang mampu menggetarkan hati Anggun dulu.

Anggun hanya mengangguk saja. "Cari kerjaan yang bener. Biar aku sama ibu bisa hidup enak dan makan enak tiap hari," ujarnya.

Gunawan tersenyum mendengar ucapan sang istri. Dia paham apa maksud ucapan sang istri. Dirinya harus mencari pekerjaan dengan gaji yang lumayan agar Anggun dan bu Ika bisa berfoya-foya seperti dulu lagi. Ikut arisan sana sini. Bergaya sosialita tanpa melihat realita.

"Mas berangkat dulu ya." Gunawan menyodorkan tangannya pada sang istri.

"Kalau mau berangkat, ya berangkat aja. Enggak usah salaman segala. Entar kalau udah dapat kerjaan, baru deh salaman lagi," ucap Anggun dengan angkuhnya.

Perih rasanya hati Gunawan saat mendengar ucapan sang istri. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa selain tersenyum.

"Ya udah, kalau gitu aku jalan dulu ya. Assalamu'alaikum!" ucap Gunawan.

"Wa'alaikumusalam!" jawab Anggun pendek.

Baru saja dia akan melangkahkan kaki, ponsel di saku celananya berbunyi nyaring. Gunawan merogoh saku dan segera mengambil benda pipih itu. Sebuah nama terpampang jelas di layar benda itu. Membuat Gunawan mengernyitkan kening.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Harga Diri Seorang Suami

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Dicampakkan Setelah Menjadi Korban Rudapaksa
9.4
Nalula Diandra hancur saat kesuciannya dirampas di depan kekasihnya akibat rencana jahat kakek pria itu. Bukannya melindungi, sang kekasih justru mencampakkannya dan menikahi wanita lain. Di tengah keputusasaan, Lula ditemukan oleh orang tua kandungnya yang merupakan konglomerat kuat. Bersama keluarga aslinya, ia menyusun rencana pembalasan dendam untuk menghancurkan mantan kekasih dan keluarganya. Namun, akankah kehancuran mereka membawa kedamaian yang ia cari?
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya terjebak dalam neraka pernikahan penuh kekerasan bersama Adnan, sosok suami yang tega menyiksanya demi membalas dendam kepada mertua. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang tiada henti, orang dari masa lalu Saschya mendadak hadir kembali. Apakah kedatangan sosok tersebut akan menjadi penyelamat yang membebaskannya dari jeratan kejam Adnan, atau justru memicu prahara baru dalam kehidupannya yang telah hancur?
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Dunia dokterku hancur saat merawat Evelyn Santoso, pasien VIP yang menangisi tunangannya. Pria di foto itu adalah Bima, suamiku, yang ternyata bernama asli Brama Wijaya, seorang taipan kejam. Saat Brama datang, ia sama sekali tidak mengenaliku. Ia memeluk Evelyn dan membisikkan janji manis yang dulu sering ia katakan padaku. Melalui tatapan matanya yang sangat dingin, Brama menegaskan bahwa pernikahan kami hanyalah sebuah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Janda Bertemu Dengan Duda
8.1
Demi menghapus duka setelah kepergian Rizal, Sonia memboyong Alif dan Hana ke sebuah apartemen sederhana. Di hunian baru itu, takdir mempertemukannya dengan Yudha, duda menawan yang juga berjuang mengasuh putrinya, Mira, pasca-tragedi memilukan. Pertemuan tak sengaja di lorong apartemen perlahan memantik getaran rasa di hati mereka yang sama-sama terluka. Kini, keduanya dihadapkan pada pilihan sulit: terus meratapi masa lalu atau berani membuka hati bagi cinta yang baru.
Sampul Novel Misteri matinya teman-temanku
8.6
Satu per satu orang terdekatku, mulai dari sahabat, kerabat, hingga musuh masa lalu, tewas mengenaskan. Pelaku pembunuhan berantai ini sangat rapi menyembunyikan bukti, membuat sosoknya tak terdeteksi. Di tengah pusaran misteri yang mencekam ini, daftar korban terus bertambah panjang. Kini, bahaya besar mulai mengancam nyawaku sendiri. Aku yang terjebak di pusaran teror ini harus menghadapi kenyataan bahwa maut sedang mengincar dari kegelapan.
Sampul Novel SRTJC
7.9
Selamat menikmati kompilasi kisah unik tentang realitas kehidupan remaja masa kini. Di dunia mereka, logika sering kali diabaikan demi tindakan spontan yang penuh kejutan tak terduga. Setiap babnya menggambarkan potret autentik mengenai kelakuan nyeleneh dan absurditas khas anak muda di era modern. Mari ikuti petualangan seru mereka yang diwarnai tawa serta kegilaan saat menjalani keseharian. Saksikan bagaimana momen-momen paling mustahil justru menjadi nyata dalam lembar cerita ini.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan