APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tarian Aksara

Tarian Aksara

Sambil menangis di atas kursi roda, Ara meratapi kepedihan hidupnya di bawah langit senja. Ia merasa takdir begitu tidak adil padanya. Namun, Aksa hadir sebagai sahabat setia yang berjanji untuk selalu mendampingi gadis bermata hazel tersebut. Di tengah keputusasaan Ara yang mendalam, Aksa memohon agar ia tetap bertahan. Kisah ini menyoroti perjuangan berat menerima kenyataan hidup yang pahit dengan dukungan tulus dari orang terdekat.
Bab
Bagikan

Bab 2

Semua orang yang melihat kecelakaan hebat itu, dengan cepat langsung menelepon polisi dan juga pihak rumah sakit untuk mengurus Kiara yang sepertinya terluka parah.

Mobil ambulance dengan cepat datang ke lokasi kejadian, dengan polisi yang sudah memasang garis kuning agar tidak ada orang yang mendekati guna kepentingan pemeriksaan.

"Korbannya ada di dalam sana, dan sepertinya kaki terhimpit oleh badan mobil bagian depan yang penyok," ujar salah satu dokter pada kepala polisi yang sedang ada di tempat kejadian.

Kepala polisi hanya manggut-manggut. "Kita coba keluarkan korban dengan perlahan yah, karena kita gak tau bagian mana saja yang terluka fatal."

"Siap, Pak! Saya dan tim tengah berusaha," ucap dokter tersebut.

Keadaan sangat ramai, dan juga jalanan padat sekaligus macet. Semua orang dari kejauhan menonton para dokter yang tengah berusaha untuk mengeluarkan Kiara di dalam mobilnya, dan sedang dalam keadaan tidak sadar diri.

Aksa Raihan yang duduk di ruangan Kiara, dan menunggu dalam waktu yang cukup lama. Entah kenapa perasaannya kini gelisah, dan seperti ada sesuatu hal yang buruk tengah menimpa. Kurang lebih seperti itu.

"Ara kok belum balik juga sih, mana ini udah hampir dua jam lagi sejak dia pergi," gerutu Aksa yang mulai beranjak bangun dari tempat duduknya.

Aksa berjalan hendak keluar dari ruangan Kiara, membuka knop pintu dan melangkahkan kaki untuk menuju keluar kantor. Namun, di tengah perjalanan ia diberitahu oleh salah satu karyawan jika orang yang ia tunggu tengah mengalami kecelakaan yang begitu hebat, dan tengah dievakuasi.

"Bapak tau gak? Ibu Kiara mengalami kecelakaan di jalan tadi," terang salah satu karyawan kantor dari Kiara tersebut.

Aksa terdiam mendengar berita tersebut, ia bahkan menganggap itu adalah kebohongan dan tidak benar-benar.

"Jangan bercanda kamu," sentak Aksa yang merasa ini adalah kebohongan. Ia bahkan merasa sulit untuk percaya, dan kalaupun ini memang nyata sungguh ini mengejutkan.

Karyawan itu masih berdiri di hadapan Aksa, dan menggelengkan kepala. "Ini sungguh Pak, saya barusan habis keluar untuk membeli sesuatu tadi, dan melihat mobil Ibu Kiara yang sudah hancur tak berbent-"

"Sudah cukup! Di jalan apa itu kejadian," desak Aksa pada karyawan tersebut.

"Di jalan Rajawali, Pak."

"Baik, terima kasih," ucap Aksa yang langsung melenggang pergi.

Aksa terkejut dengan kabar tersebut, antara ingin percaya atau juga tidak itu sangat susah. Ia melangkahkan kaki dengan cepat untuk menuju parkiran, dan dengan segera ia masuk ke dalam mobil untuk kemudian menuju ke lokasi tempat kejadian tersebut.

"Ara, gue harap kabar itu bohong."

"Kalau itu memang nyata ... gue harap lo baik-baik aja."

Aksa memukul stir mobil cukup kuat, sebenarnya ia sangat kalut karena kabar buruk yang terdengar di hari ini. Pasalnya baru saja beberapa jam yang lalu mereka bersenda gurau, dan ini adalah hal yang tidak terduga dan jelas di luar kendali manusia.

Sesampainya di jalan Rajawali, Aksa melihat mobil Kiara yang terbalik dengan keadaan yang penyok dan rusak di berbagai arah. Segera ia keluar dan menghampiri para polisi yang terlihat tengah memeriksa itu.

"Selamat siang, Pak," tegur Aksa dengan senyum ramah kepada salah satu polisi tersebut.

"Siang, Pak! Ada keperluan apa?" tanya polisi tersebut pada Aksa yang tengah meneliti dari kejauhan akan badan mobil yang penyok tersebut.

Aksa melihat dengan jelas bagaimana kerusakan parahnya dari mobil milik Kiara itu, mendadak satu bulir bening meluncur bebas kala membayangkan kondisinya yang entah sekarang seperti apa.

"Korban kecelakaan ini ... dilarikan ke rumah sakit mana yah, Pak?" tanya Aksa dengan ramah.

Polisi tersebut hanya menganggukkan kepalanya. "Rumah sakit terdekat dari sini," jawabnya yang kembali melangkahkan kaki untuk menuju ke mobil Kiara tersebut.

Aksa terdiam beberapa saat, dan mendadak bingung sekaligus kehilangan arah untuk harus melakukan apa saat ini. Ia berjalan kembali menuju mobilnya dan mencari rumah sakit terdekat di sekitar sini.

Aksa sebelumnya meraih ponsel untuk menghubungi Anindita dan memberitahu keadaan Kiara yang telah mengalami kecelakaan.

[Assalamualaikum Tante,] ucap Aksa dengan suara sedikit panik, tapi berusaha keras untuk santai dan bersikap biasa saja.

[Waalaikumsalam, ada apa Aksa?] tanya Anindita dari seberang telepon tersebut.

Aksa menarik napas terlebih dahulu sebelum mengatakan keadaan dari Kiara saat ini, dan apa yang baru menimpanya.

[Tante ... Kiara sekarang kecelakaan di jalan Rajawali.]

Aksa tak mendengar apa pun selama beberapa menit setelah ia berucap tersebut, dan mendadak ada suara deheman keras dari Anindita yang membuatnya cukup terkejut.

"Astagfirullah! Kirain udah ditutup teleponnya," batin Aksa dengan tangan yang mengelus lembut dada, karena rasa terkejut yang ada di dalam dirinya.

Anindita kembali membuka suaranya setelah lama tadi terdiam. [Memang ceroboh sekali itu anak, terus sekarang dia ada di mana? Baik-baik aja 'kan?]

Aksa menggelengkan kepalanya, entah mau berucap apa lagi mendadak ia merasa kelu untuk melanjutkan percakapan ini.

Tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Anindita itu, Aksa dengan sepihak memutuskan sambungan telepon itu dan memilih untuk kembali mengendarai mobilnya agar segera tau keadaan dari Kiara saat ini.

Sesampainya di rumah sakit, Aksa menanyakan pada resepsionis tentang korban kecelakaan di jalan Rajawali. Setelah mendapatkan infonya ia dengan cepat melangkahkan kaki menuju ruangan tersebut.

"Kiara ... lo baik-baik aja 'kan di dalam sana?" tanya Aksa seorang diri saat melihat ruangan yang tertutup rapat tersebut.

Aksa mengambil duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di depan ruangan itu. Ia sangat gelisah untuk dapat dengan cepat mengetahui kondisi dari Kiara yang ada di dalam sana, dan sesekali meremas kuat rambutnya untuk menyalurkan khawatir dalam diri.

"Seharusnya gue antar dan paksa aja tadi, biar gak ada kisah seperti ini."

"Kiara gue gak tau kondisi lo di dalam seperti apa, tapi gue harap lo baik-baik aja."

Aksa dengan setia duduk dan menunggu para dokter untuk keluar dari ruangan tersebut. Dari kejauhan ia melihat Anindita dan Angel tengah berjalan untuk menuju ruangan Kiara di rawat.

"Aksa, kamu kenapa matiin telepon tadi?" tanya Anindita yang merasa sedikit kesal pada Aksa yang mendadak mematikan begitu saja sambungan telepon.

"Maaf, Tante! Tadi Aksa mau liat keadaan Kiara secepatnya, dan gak mungkin di perjalanan sembari menerima panggilan, jadi ... terpaksa harus dimatikan," terang Aksa yang hanya mendapatkan anggukan dari Anindita.

Anindita menengok ke arah pintu kaca dan berniat untuk memastikan bagaimana dengan kondisi Kiara yang ada di dalam sana. "Keadaan dia sekarang bagaimana, Aksa? Baik-baik saja ataukah tengah sekarat?" tanya Anindita dengan begitu ringannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Ellina
9.7
Mimpi Ellina sangat sederhana: ia ingin menikah di hari Valentine dan hidup bahagia selamanya. Namun, keceriaan perempuan ramah ini seketika sirna saat suaminya hanya memberi kebahagiaan palsu. Bayang-bayang cinta pertama sang suami terus mengusik pernikahan mereka, membuat Ellina berada di titik terrapuhnya. Kini, ia dihadapkan pada ketidakpastian. Akankah sang suami kembali ke masa lalu, ataukah impian indah Ellina akan terwujud?
Sampul Novel Obsesi Sang Pewaris
8.3
Ambar Tri Handayani hanya ingin fokus kuliah dan bekerja setelah kelulusannya. Namun, ancaman bahaya memaksanya menikah dengan Diraja Sakala Sudibyo, pengusaha ambisius dari Sudibyo Corporation. Di sisi lain, Diraja terpaksa menerima perjodohan ini karena ancaman ayahnya demi mengamankan posisi di perusahaan. Meski awalnya pernikahan kontrak ini berjalan dingin demi kepentingan masing-masing, takdir perlahan mulai mengacaukan rencana hidup yang telah mereka susun.
Sampul Novel Satu Talak Seribu Luka
8.4
Setahun menjalani pernikahan hampa, Aurelia Shanum langsung diceraikan Damian Revan Alveric begitu ayah mertuanya tiada. Dua tahun berlalu, kini Aurelia telah bangkit menjadi perempuan mandiri yang sukses memimpin bisnis EO pernikahannya sendiri. Namun, takdir mempertemukan mereka kembali lewat cara yang tak terduga. Damian mendadak datang sebagai klien baru yang meminta Aurelia merancang hari bahagianya. Kini, ia dituntut profesional di hadapan mantan suami yang dahulu telah mematahkan hatinya.
Sampul Novel Setelah Kita Bercerai
9.4
Pernikahan Vina dan Radit kandas akibat campur tangan ibu mertua yang membencinya. Kecewa pada sikap lemah Radit, perempuan berusia 22 tahun ini tidak tinggal diam setelah diceraikan. Selama ini ia kerap direndahkan karena dianggap hanya anak janda miskin. Vina pun merancang rencana pembalasan dendam yang sempurna. Saat Radit menggelar pernikahan barunya, Vina hadir untuk mengungkap identitas aslinya yang sesungguhnya demi membungkam semua orang.
Sampul Novel SKANDAL CEO MESUM
8.4
Axel Biantara Wijaya, CEO sukses PT. Wijaya Karya Reality yang tampan, kerap menjadi sorotan karena skandalnya dengan model-model ternama. Di balik kemewahan dan dominasinya di bisnis properti, takdir mempertemukannya dengan Aulia Putri. Aulia adalah perempuan mandiri dari keluarga sederhana yang terbiasa bekerja keras sejak kuliah. Pertemuan tak terduga ini mulai mengubah hidup sang miliarder. Akankah Axel rela melepas masa lalunya yang liar demi mengejar cinta sejati Aulia?
Sampul Novel Suamiku Selingkuh Di Kala Aku Mengandung
9.3
Memasuki usia kandungan sembilan bulan, kehidupan rumah tangga sang protagonis diuji oleh kedatangan Stella, wanita idaman suaminya. Stella tiba-tiba menumpang tinggal di rumah mereka dengan alasan tertentu. Setiap kali berpapasan, Stella selalu berakting seolah tertekan dan tersiksa oleh masa lalu. Bukannya melindungi sang istri yang hamil tua, sang suami malah menuduhnya sengaja memamerkan perut buncitnya demi menyakiti perasaan Stella. Konflik rumah tangga yang penuh misteri dan pengkhianatan ini pun dimulai.