APKDock Logo
Sampul Novel CINTA TAK MEMILIKI POLA

CINTA TAK MEMILIKI POLA

8.0 / 10.0
Demi menghidupi kedua buah hatinya, Dirgana rela membanting tulang sebagai pengemudi ojek online. Suatu hari, takdir mempertemukannya dengan Dimas, seorang anak pemilik toko emas yang sedang dirundung keputusasaan. Tanpa disangka, ibu Dimas ternyata telah merencanakan pernikahan rahasia untuk mereka berdua. Rencana ini dibuat sebagai wujud balas budi atas kebaikan Dirgana dahulu. Kini, keduanya harus mengarungi bahtera rumah tangga tersembunyi yang penuh dengan ketidakpastian.

CINTA TAK MEMILIKI POLA Bab 1

Aku melirik jam yang melingkar di tangan, memastikan sudah waktunya untuk kembali ke rumah dan beristirahat bersama 2 malaikatku. Jarum jam menunjukkan angka 10 tepat, aku merogoh saku jaket kebesaran dan mengambil HP, baru saja aku berniat mematikan aplikasi ojek online, ponsel ku mengeluarkan nada keras tanda orderan baru masuk. Melihat nama pemesan yang tertera, aku langsung merasa ragu untuk menerimanya, tapi melihat tempat yang dituju oleh si pemesan tidaklah jauh dari tempat tinggal ku, aku cepat menerimanya. Gegas kutekan beberapa angka yang tertera di aplikasi dan tersambung.

["Selamat malam, dengan pak Ardi?"] Tanyaku membuka percakapan.

["Benar,"] jawab seorang pria di seberang.

[" Maaf… Bapak barusan pesan ojek ya, Pak?"] tanyaku memastikan.

[" Iya, maaf… Kok suara perempuan ya? Apa memang perempuan?"] tanyanya balik. Seperti biasa, melihat namaku di aplikasi orang pasti menyangka kalau aku adalah seorang laki-laki, karena nama yang tertera pada aplikasi adalah Dirgana. P.

[" Iya pak, benar. Jadi, bagaimana pak? apa Bapak keberatan kalau yang mengantar perempuan?"] tanyaku lagi.

[" Oh, iya... tidak apa - apa. Jemput sesuai aplikasi ya,"] jawabnya langsung. Aku mematikan sambungan telepon setelah menutup pembicaraan dan langsung mengarahkan motorku ke tempat penjemputan yang juga tidak terlalu jauh dari tempatku berdiri tadi. Bismillah, aku meminta perlindunganNya selalu, apalagi di jam-jam seperti sekarang dan dengan pemesan ojek laki-laki.

Tempat penjemputan sebenarnya sih di tengah kota, masih banyak kendaraan berlalu-lalang. Tapi, tetap saja aku harus waspada. Tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil namaku bersamaan dengan tepukan, ku arahkan pandangan ke sebuah warung yang gelap, aku melihat beberapa laki-laki berdiri di sana. Dua orang laki-laki memintaku datang ke arah mereka lewat lambaian tangan. Kuarahkan stang motor ke tempat orang-orang yang memanggilku barusan, sambil terus melafalkan doa meminta penjagaan dari sang pemilik dunia.

"Saya pikir tadi laki-laki," kata salah seorang dari laki-laki yang tadi melambaikan tangan ke arahku. Aku hanya merespon ucapannya lewat senyuman sopan saja, seraya menenangkan hati dan perasaanku.

"Saya minta tolong antar kan nenek ini, ya."

Aku menatap ke arah tangannya menunjuk, seorang perempuan tua keluar dari balik warung yang hanya diterangi cahaya lampu lima Watt berwarna oranye. Aku lekas mengucap hamdalah di dalam hati, lalu melebarkan senyuman.

"Nenek beruntung, tukang ojeknya perempuan. Jadi, nenek nggak perlu takut," ucap salah seorang dari belakang.

"Alhamdulillah, iya nak... Terima kasih banyak ya…." kata si nenek.

"Sama-sama nek... hati - hati," jawab para laki-laki itu berbarengan.

"Hati-hati bawa motornya buk, Uni." Pesan mereka padaku sebelum aku berlalu, aku tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan sopan, lalu membunyikan klakson dan berlalu.

Ku kendarai motor dengan hati - hati, bahkan cenderung pelan. Mengingat kalau wanita yang duduk di boncengan motorku adalah seorang nenek tua.

"Darimana Nek, kok malam - malam sendirian?" tanyaku membuka pembicaraan.

"Baru sampai dari Bukittinggi, udah jam segini angkutan umum udah gak ada lagi," jawab si nenek ramah.

"Nenek sendirian saja ke Bukittinggi? Kenapa gak ajak anak atau cucu?" tanyaku lagi.

Mengalir lah cerita si nenek, kalau dia menemui anak dan cucunya di Bukittinggi. Anaknya hanya satu, tinggal bersama keluarganya di sana. Si nenek hanya tinggal sendirian di Padang. Karena lebaran pertama si anak dan cucu tidak pulang ke Padang, si nenek memberanikan diri datang mengunjungi sendiri di lebaran kedua ini, pengennya buat surprise ternyata si nenek yang dapat surprise karena si anak justru sudah sampai di Padang ketika dia berada di Bukittinggi. Menurut beliau, beliau masih cukup kuat berjalan-jalan sendirian, jadi tidak butuh ditemani. Cara bicara si nenek yang lucu mampu menghangatkan suasana, aku langsung teringat ibuku di rumah. Usianya belum setua si nenek, tapi kemana - mana masih aku temani. Tapi, itu juga karena aku yang memaksa. Aku tidak akan mungkin tega membiarkannya pergi ke sana kemari sendirian.

"Ini nak, terimakasih banyak, hati - hati... Semoga berkah untuk anak-anaknya, ya…." Ucap si nenek setelah aku mengantarkannya. Aku memang bercerita kepadanya tadi kalau aku memilih pekerjaan ini demi anak-anakku.

"Sama-sama, Nek… Mari, saya permisi dulu," ucapku berpamitan, setelah memasukkan upah mengantarkannya langsung ke saku celana. Rasanya tidak perlu dihitung, kalau pun kurang aku ikhlas. Aku kasihan melihatnya yang sudah tua, tinggal sendirian, dan sedang bahagia karena ternyata si anak dan keluarganya sudah berada di Padang untuk mengunjunginya.

Sebelum melajukan motor tadi, aku sudah mematikan aplikasi biker di ponsel, sudah waktunya pulang dan berkumpul bersama mama dan anak-anakku. Aku tahu sekali, kedua anakku belum akan tertidur sampai aku tiba di rumah. Buat kedua anakku, saat menjelang tidur adalah saatnya berbagi cerita tentang kegiatan mereka selama seharian, bercanda, saling ejek dan berebut pelukan dariku. Aku sangat menikmati waktu-waktu seperti itu. Entah berapa lama lagi aku bisa bercanda bersama keduanya, mengingat semakin hari usia mereka semakin bertambah, waktu mereka buatku pastinya akan semakin berkurang nanti.

*

Namaku Dirgana Putri, aku seorang single parents yang harus membesarkan dua orang anakku sendirian. Mantan suamiku sudah lama tak membiayai kebutuhan kedua anakku, jadi aku lah yang harus banting tulang untuk memenuhi semua kebutuhan anak-anak ku yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Aku hanya tamatan SMA, karena itulah aku memilih bekerja sebagai pengemudi ojek on line. Selain karena pekerjaan ini tidak membutuhkan ijazah sarjana, aku juga bisa mengatur waktu bekerja sendiri. Sehingga, aku masih bisa mengurusi anak-anak sementara aku bekerja mencari nafkah.

Aku tinggal bersama kedua anak dan Ibuku di rumah orang tuaku, rumah yang ditinggalkan almarhum Ayah untukku dan Ibu. Sejak kecil hingga saat ini, aku tak pernah hidup berpisah dengan Ibu. Bahkan setelah menikah dulu pun, aku dan suami tinggal bersama beliau. Sebagai anak tunggal, aku tentu tidak mungkin meninggalkan Ibu seorang diri. Sudah menjadi tanggung jawabku untuk menjaga beliau sampai akhir hayat.

*

Nada pemberitahuan masuk dari ponselku berbunyi, pertanda orderan ojek memanggil. Ku perhatikan sebentar tujuan jemput dan tujuan antar yang tertera di aplikasi, lalu segera menekan tulisan OK yang ada pada layar.

["Selamat siang, dengan Ibu Ajeng?"]

["Ya, benar."]

["Saya dari Gojek, Bu… Titik jemputnya sesuai aplikasi ya, Bu?"]

["Iya, Dek."]

["Ok, ditunggu ya, Bu… Terima kasih, selamat siang,"] ucapku menutup percakapan. Lekas kukenakan jaket hijau kebesaran, lalu menyandang tas punggung dan segera keluar dari kamar menuju teras. Setelah berpamitan pada Ibu dan si bungsu, Fajri, aku segera menyalakan mesin motor dan berlalu meninggalkan rumah. Bismillah… Semoga perjalanan hari ini lancar, pintu rezeki dibukakan dan aku bisa pulang dengan selamat untuk beristirahat bersama anak-anak… Aamiin.

Lanjut Membaca

Daftar Isi CINTA TAK MEMILIKI POLA

Ch. 1
Ch. 2
Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel A Thousand Tears of Sword
8.8
Di benua terkutuk yang penuh penindasan dan perdagangan manusia, dewa mengutus Dewi Kematian untuk menegakkan keadilan. Sialnya, sebuah insiden saat turun ke bumi melenyapkan seluruh kekuatannya. Ia justru bereinkarnasi sebagai gadis kecil bernama Hua Hua. Tanpa kekuatan dewa yang tersisa, mampukah ia menuntaskan misi sucinya untuk menyelamatkan mereka yang tertindas di tengah neraka dunia ini?
Sampul Novel Aldrich Delano And His Wound
8.0
Kebahagiaan Aldrich begitu membuncah saat mengetahui kehamilan Ara. Langkah besar ini ia ambil sebagai bentuk penebusan atas dosa-dosa masa lalunya. Ara yang selalu setia mendampingi keputusan Aldrich mulai menyadari bahwa masa sulit mereka belum usai. Alih-alih membawa kedamaian, kehamilan Ara justru menjadi titik awal dari babak baru yang penuh ujian. Badai konflik yang jauh lebih besar kini siap menguji ketahanan hubungan mereka berdua.
Sampul Novel Rencana Perceraian 100 Poin
9.7
Tiga tahun membina rumah tangga, aku mencatat tiap perselingkuhan Baskara dalam jurnal khusus berskala seratus poin. Batas sabarku habis saat kecelakaan tragis merenggut poin terakhir itu di usia kehamilan delapan minggu. Di ruang darurat, Baskara yang merupakan dokter bedah tega menolak menyelamatkanku demi mendahulukan mantan kekasihnya. Keputusan dingin itu tanpa sengaja menjadi vonis mati yang ia jatuhkan sendiri untukku dan calon buah hati kami.
Sampul Novel Terkadang Cinta Itu Pilu
9.4
Menikah dengan seorang CEO tidak menjamin kebahagiaan. Sang suami berjanji hanya akan mengabulkan 99 permintaan mantan kekasihnya yang hilang ingatan. Namun, setelah hitungan terakhir terlewati, sang istri justru menyaksikan mereka berpelukan mesra. Tanpa keributan, ia memilih mundur dan menyiapkan surat perceraian secara diam-diam melalui pengacaranya. Saat ia meminta gelang kaki bayi sebagai kenang-kenangan terakhir untuk calon anak mereka, sang suami yang tidak tahu apa-apa hanya memintanya menunggu hingga urusannya selesai.
Sampul Novel The Warriors
8.8
Ingatan dewi rubah Gu Chaewon disegel oleh suaminya, Hwa nim, saat ia dikirim ke bumi. Menjalani hidup sebagai manusia biasa membuatnya krisis identitas dan sangat protektif pada sahabat kecilnya, Lee Tae-oh. Namun, saat jati diri aslinya bangkit, kemarahan besar Chaewon meledak hingga mengancam keselamatan dunia manusia dan dewa. Hwa nim pun turun ke bumi demi menghentikannya. Akankah Chaewon tunduk pada takdir, atau justru nekat menghancurkan tatanan kedua alam tersebut?
Sampul Novel Undangan Eksklusif Dari Presdir
8.4
Naura mendapatkan amplop misterius tanpa pengirim dari Sinta, rekannya yang cemas. Khawatir surat itu adalah pemecatan memalukan, Sinta sengaja memberikannya kepada Naura demi menyembunyikan masalah dari orang tuanya. Siapa sangka, isi undangan tersebut justru sangat mengejutkan. Naura ditawari menjadi istri seorang presdir dengan mahar fantastis senilai 100 juta dolar. Kini, ia berada dalam dilema besar untuk mengabaikan tawaran gila itu atau menerimanya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan