APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tarian Aksara

Tarian Aksara

Sambil menangis di atas kursi roda, Ara meratapi kepedihan hidupnya di bawah langit senja. Ia merasa takdir begitu tidak adil padanya. Namun, Aksa hadir sebagai sahabat setia yang berjanji untuk selalu mendampingi gadis bermata hazel tersebut. Di tengah keputusasaan Ara yang mendalam, Aksa memohon agar ia tetap bertahan. Kisah ini menyoroti perjuangan berat menerima kenyataan hidup yang pahit dengan dukungan tulus dari orang terdekat.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Aksa kurang tau, Bu! Mari kita tunggu dokter keluar, dan sembari berdoa agar Ara baik-baik saja," ucap Aksa dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya.

Aksa sangat takut jika Kiara di dalam sana tidak baik-baik saja. Bayangan mobil yang begitu hancur di setiap sisi membuatnya sedikit merinding dan sekaligus ketakutan, ia bahkan terus menerus merapalkan kalimat doa di dalam hatinya.

Aksa menutupi wajahnya agar tidak terlihat jika saat ini tengah meresah begitu hebat, dan sekaligus ia tidak ingin menambahkan beban pikiran dengan raut wajah dari Anindita juga Angel yang bahkan jelas lebih terpukul.

Anindita mondar-mandir di depan pintu ruang UGD yang di dalamnya ada Kiara--putrinya. Hati merasa tidak tenang dan sekaligus takut, dan berharap tidak ada masalah serius hingga memakan waktu yang cukup lama seperti ini.

"Angel! Kenapa sih Kakak kamu itu cerobohnya gak ngotak sekali," gerutu Anindita dengan wajah kesal.

Angel hanya mengedikkan bahunya, cuek dan tidak perduli. "Mau mencari sensasi kali tuh orang! Hobi banget buat orang panik, menjijikkan!"

Aksa mendengar ucapan yang keluar dari mulut Angel, sontak langsung menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa Kiara begitu baik pada adik-adiknya, sedangkan saat ia tertimpa kemalangan saja mereka sama sekali tidak perduli, sungguh miris.

"Bisa jadi, yang kamu omongin itu ada benernya," ucap Anindita yang kemudian melangkah untuk duduk tepat di samping Aksa. "Ambil tas saya saja dia gak becus, benar-benar tidak berguna sekali," gumam Anindita kembali.

Aksa hanya diam. Tenang, dan mengambil napas sembari mengingatkan pada dirinya sendiri jika ini bukan ranahnya sama sekali, urusan keluarga dan ia tidak berhak untuk ikut campur sama sekali.

Bunyi pintu ruangan terdengar. Aksa dengan cepat berdiri di depannya, dan ia ingin bertanya banyak hal pada dokter yang menangani Kiara di dalam sana. Namun, sebelumnya ia harus tenang dan santai, agar semunya tetap kondusif.

"Dokter! Kondisi pasien di dalam sana bagaimana? Dia baik-baik saja, bukan?" tanya Aksa memberondong dokter yang baru saja keluar dengan banyak pertanyaan. Ternyata rasa khawatir yang ada di dalam dirinya sama sekali tak bisa dikontrol, meskipun awalnya ia berusaha menenangkan diri terasa sangat percuma.

Dokter tersebut menatap satu persatu orang yang ada di depan ruangan tersebut. "Untuk keluarga dari Ibu Kiara, mana yah?" tanya dokter.

Anindita melangkah maju ke depan, dan menggeser Aksa agar tak perlu repot untuk mengurusi Kiara, meski ia tau mereka berdua memang sahabat baik sedari awal.

"Saya Ibu dari pasien, dokter. Bagaimana dengan kondisi anak saya?" tanya Anindita dengan harap-harap cemas.

Dokter tersebut menganggukkan kepalanya. Sekali lagi menatap orang yang ada di depan ruangan dengan mimik wajah yang begitu tegang, dan ini semakin sulit untuk ia menyampaikan kabar tidak baik.

"Saya harap kalian jangan terkejut! Ibu Kiara mengalami benturan keras pada kepalanya, dan juga himpitan pada kedua kaki. Saat ini beliau tengah koma, dan kalaupun sembuh nanti ... ia akan mengalami kelumpuhan," terang dokter tersebut.

Aksa menggelengkan kepalanya. Semakin menyalahkan diri sendiri, karena kenapa ia tidak memaksa untuk mengantar dan malah membiarkan pergi seorang diri dan mengalami kefatalan seperti ini.

Anindita cukup terkejut. "Jadi kondisi Kiara saat ini ... koma, dokter?"

"Iya, Bu! Ibu Kiara mengalami koma saat ini, kita doakan saja semoga segera sadar dengan cepat." Dokter itu dengan berat hati harus menyampaikan apa yang terjadi di dalam sana. "Jika ingin menjenguk pasien, tolong hanya satu orang saja yang bisa masuk ke dalam. Kalau begitu saya permisi dulu!"

Aksa memaksa dirinya untuk tersenyum. "Silahkan, dok!"

Anindita menatap ke arah Angel yang berdiri dengan begitu angkuh dan sama sekali tidak menunjukkan raut wajah cemas. Ia melangkahkan kaki dan bertanya apakah perlu untuk masuk ke dalam sana, karena ia sendiri sudah malas dengan orang yang sama sekali tidak berguna seperti itu.

"Apa kamu mau masuk ke dalam, Angel?" tanya Anindita pada Angel yang hanya diam dan menggeleng.

"Mending juga kita pulang, diam di sini hanya buang-buang waktu saja," ketus Angel yang kemudian melangkahkan kakinya untuk menjauh dari ruangan Kiara dan sial disusul juga dengan Aninidita.

Aksa menatap kepergian dua orang kerabat dekat dari Kiara, tidak habis pikir.

Aksa kini membuka knop pintu dari ruangan Kiara saat ini. Saat tubuh sudah masuk dengan sempurna, ia mencium bau obat-obatan yang terasa menyengat pada hidung. Melangkah semakin dalam untuk duduk pada kursi yang ada tepat di samping tempat tidur.

"Ara ... lo bangun yah, secepatnya."

"Ara, gue nyesel karena gak antar lo waktu itu, dan yang akhirnya lo kehilangan salah satu hal paling berharga ... kaki lo."

Aksa menangis saat melihat wajah Kiara yang penuh dengan luka. Perban yang ada di kening terlihat ada rembesan darah, dan ia tidak tau seberapa dalamnya luka tersebut. Menggenggam jemari yang bebas dari infus itu, untuk kemudian ia belai lembut.

"Ara ... gue gak tau apa saja yang terjadi dengan lo selama ini, tapi kenapa gue merasakan sakit yang teramat sangat kala mereka tidak perduli dengan keadaan lo saat ini."

Aksa menghapus air mata yang jatuh. Jangan bilang lelaki tidak bisa menangis, ini akan dilakukan ketika ia merasakan perih yang begitu mendalam. Ia bahkan tidak kuat menghadapi kenyataan saat ini, karena Kiara yang tengah koma dan entah kapan akan sadar dan bisa melihat bibir yang tersenyum ceria seperti biasanya.

"Gue kuat kok, Ara! Kalau lo bisa liat ekspresi gue sekarang gimana, mungkin lo akan puas ledek gue abis-abisan kayaknya," lirih Aksa.

Aksa hanya berucap seorang diri, tanpa ada satu suara pun yang membalas semua itu. Hanya ada bunyi elektrokardiogram dan juga tetesan infus, suasana yang bena-benar hening dan senyap.

Aksa memandangi wajah Kiara yang begitu pucat, dan bahkan seperti ini saja terasa sangat cantik, lebih dari siapa pun yang ia kenal.

-

Aksa selalu rutin untuk menyambangi Kiara di setiap harinya. Selama tiga bulan penuh ini, ia tidak pernah absen sama sekali untuk memastikan perkembangan dan keajaiban yang ingin ia lihat secepatnya, yaitu Kiara yang terbangun dari masa-masa kritisnya.

"Hallo, Ara! Lo gak capek yah tidur terus? Bangun yuk, gue nunggu lo udah lama banget tau, gak kasian nih ceritanya," oceh Aksa dengan mata yang memandangi Kiara intens dan tangan yang menggengam jemarinya.

Beberapa menit, Aksa merasakan ada sedikit pergerakan yang ia dapat di dalam genggaman tangannya, tapi mungkin itu salah.

"Ara! Lo serius udah bangun nih? Ara gue bahagia banget! Wait, gue panggil dokter dulu," ucap Aksa dengan begitu bahagianya.

Aksa berlarian untuk mencari dokter dan menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam ruangan Kiara, dan memeriksa bagaimana kondisinya saat ini.

"Bagaimana, dokter? Dia udah sadar 'kan?" tanya Aksa dengan ekspresi yang kelewat bahagia.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA TAK MEMILIKI POLA
8.0
Demi menghidupi kedua buah hatinya, Dirgana rela membanting tulang sebagai pengemudi ojek online. Suatu hari, takdir mempertemukannya dengan Dimas, seorang anak pemilik toko emas yang sedang dirundung keputusasaan. Tanpa disangka, ibu Dimas ternyata telah merencanakan pernikahan rahasia untuk mereka berdua. Rencana ini dibuat sebagai wujud balas budi atas kebaikan Dirgana dahulu. Kini, keduanya harus mengarungi bahtera rumah tangga tersembunyi yang penuh dengan ketidakpastian.
Sampul Novel Dan ternyata cinta
9.4
Pertemuan tak terduga di atas pesawat mempertemukan Vita, seorang pramugari, dengan Andrian yang merupakan prajurit TNI. Andrian langsung jatuh hati pada pandangan pertama saat bertolak ke Jawa. Hubungan mereka berjalan lancar hingga berlanjut ke jenjang pernikahan. Namun, badai datang menerpa rumah tangga mereka ketika Vita tiba-tiba mengajukan gugatan cerai. Kini, Andrian terjebak dalam dilema besar apakah harus menyetujui perceraian tersebut atau tidak.
Sampul Novel Kali ini, Kita Tak Terpisahkan
8.3
Hubungan Rosa dan tunangannya, Bobby, jauh dari kata romantis. Sebagai seorang putra Buddha yang dikenal tidak peduli pada urusan duniawi, Bobby tampak mustahil untuk digoyahkan. Namun, Rosa akhirnya menyadari kebenaran yang menyakitkan: Bobby bukannya tidak memiliki perasaan atau kebal terhadap godaan, melainkan hatinya saja yang tertutup rapat khusus untuk Rosa. Sadar akan posisinya yang tak pernah diinginkan, Rosa memilih untuk mundur. Ia menetapkan batas waktu selama tujuh hari saja untuk menghapus seluruh perasaannya dan melupakan Bobby sepenuhnya.
Sampul Novel KESAKSIAN CINTA STEVI
8.1
Wasiat terakhir mendiang ibunya untuk selalu bekerja keras terus membayangi Stevi. Kini, di tengah duka yang belum sepenuhnya sirna, ia memulai lembaran baru sebagai istri Aria. Stevi berharap sang ibu bisa beristirahat dengan damai karena suaminya kini sangat mengandalkan dirinya. Sementara itu, Aria disibukkan oleh tanggung jawabnya sebagai dosen. Saat membimbing mahasiswi menyusun makalah, ia dengan tegas mengingatkan pentingnya keaslian karya agar terhindar dari plagiarisme saat seminar nanti.
Sampul Novel Ketika Rencana Jahatmu Kembali Kepadamu
8.7
Hidup Maura Laksmi berubah kelam setelah menjadi korban pelampiasan amarah Ravel Santoso yang dikhianati tunangannya. Mengalami trauma berat, pelayan polos berusia 21 tahun ini memilih kabur ke rumah sang kakek demi menenangkan diri. Namun, keadaan kian rumit ketika Maura mendapati dirinya sedang hamil. Kini, ia dihadapkan pada pilihan sulit: menuntut pertanggungjawaban dari Ravel atau menanggung semua kepedihan ini seorang diri.
Sampul Novel Melarikan Diri dari Pernikahan
9.7
Cathy sangat bahagia saat Andika Senjaya tiba-tiba melamarnya setelah kehamilan yang tak diduga, meski pria itu dikenal selalu menghindari pernikahan. Namun, kebahagiaan itu hancur di hari pernikahan mereka. Cathy tidak sengaja mendengar Andika mengaku kepada temannya bahwa pernikahan ini hanyalah siasat. Demi menuruti ibunya yang menolak latar belakang Nancy, Andika memanfaatkan Cathy agar anaknya bersama Nancy bisa hidup di keluarga baik-baik. Andika bahkan menghina Cathy sangat membosankan.