APKDock Logo
Sampul Novel Tarian Aksara

Tarian Aksara

8.5 / 10.0
Sambil menangis di atas kursi roda, Ara meratapi kepedihan hidupnya di bawah langit senja. Ia merasa takdir begitu tidak adil padanya. Namun, Aksa hadir sebagai sahabat setia yang berjanji untuk selalu mendampingi gadis bermata hazel tersebut. Di tengah keputusasaan Ara yang mendalam, Aksa memohon agar ia tetap bertahan. Kisah ini menyoroti perjuangan berat menerima kenyataan hidup yang pahit dengan dukungan tulus dari orang terdekat.

Tarian Aksara Bab 1

[Hallo, iya kenapa, Ma?]

Dari arah seberang telepon tersebut, terdengar suara jawaban. [Kamu sekarang ada dimana, Kiara?]

Kiara yang masih berkutat dengan pekerjaannya juga beberapa kertas dokumen dalam genggaman tangannya, menyempatkan waktu untuk menjawab telepon dari ibunya itu. Ia selalu mengutamakan apa pun yang berasal dari keluarganya, meski saat ini bisa dibilang tengah sibuk.

Kiara mengangkat tangan kirinya yang terpasang jam tangan magnet tersebut. [Kiara masih di kantor Ma, memangnya ada hal yang mau dititipkan, kah?]

Anindita dari seberang panggilan telpon hanya menghembuskan napasnya kasar, dan tak berucap sepatah kata pun. Kiara bahkan sangat memahami apa maksud dari hal tersebut, dan terkekeh pelan.

[Mama ada perlu sesuatu yah? Bilang aja apa, nanti Kiara usahakan kok,] ucap Kiara dengan mata yang tak teralih sama sekali pada berkas yang berserakan di atas meja tersebut.

Anindita tersenyum cerah. [Beneran yah kamu, jangan bohong loh ini. Mama sebenernya lagi pengen banget tas yang branded dan itu ... udah lama sekali diincar, dan sekarang kesempatan itu akhirnya Mama dapat.]

Kiara menganggukkan kepala dan menjawab dengan deheman, untuk terus mendengar ucapan dari Anindita tersebut.

[Jadi, Kiara harus apa, Mamaku sayang,] ucap Kiara disertai napas lelah.

[Kamu bisa gak tolong ambilkan tas tersebut di salah satu toko dan letaknya itu lantai ke dua Mall City, bisa?] tanya Anindita merasa was-was.

"Sudah biasa Kiara," batin Kiara saat mendengar ucapan dari Anindita yang menyuruhnya untuk pergi dan mengambil barang pesanan tersebut, disaat pekerjaan sangat menumpuk dan banyak sekali yang harus ia lakukan kali ini.

Kiara menghela napas, untuk kemudian ia menjawab, [Habis pulang kerja aja gimana? Kalau sekarang Kiara lagi sibuk banget dan gak mungkin bisa untuk ke sana.]

[Dasar anak kurang ajar! Mama mau kamu ke sana sekarang juga, gak ada alasan lain! Itu impian Mama untuk punya barang tersebut, kamu ini gimana sih? Gak pengertian sekali dengan orangtua.]

Sambungan telepon akhirnya terputus dan Kiara tertegun dengan ucapan yang terlontar dari Anindita barusan. Apa ia salah sekarang? Ah, mungkin benar ini adalah kesalahannya, lagi pula semua pekerjaan ini akan ia selesaikan setelah selesai mengambil barang tersebut.

Kiara mengetikkan sesuatu pada layar ponsel tersebut, dan dengan cepat ia mengirimkannya. Setelah itu dengan segera ia kembali membereskan semua berkas yang ada di atas meja untuk kemudian diletakkan pada laci.

"Huh! Semoga terkejar dengan deadline besok nanti," gumam Kiara dengan napas lelahnya.

Kiara sebenarnya sedikit bingung dengan keinginan Anindita yang selalu saja tidak pernah melihat betapa sibuknya ia dengan semua pekerjaan tersebut, dan kenapa harus dan mesti untuk dilakukan setiap kali meminta sesuatu tanpa pernah ingin mengerti situasi dan kondisinya.

Kiara membuka knop pintu, dan berpapasan dengan Aksa yang hendak saja masuk ke dalam ruangannya.

"Ara, lo kenapa deh muka lemes gitu?" tanya Aksa dengan kening berkerut karena merasa aneh pada Kiara yang tumben sekali cemberut dan lesu seperti itu.

Kiara menatap malas ke ara Aksa yang tengah berhadapan dengan dirinya saat ini, dan kembali melangkahkan kaki dengan tangan kanan memegang ponsel sekaligus kunci mobil.

"Gue tuh capek banget, Aksa! Kerjaan lagi banyak dan sekarang ... Mama maksa aku untuk pergi ke toko untuk ambil tas impiannya," keluh Kiara dengan berjalan lunglai.

Aksa yang mengikuti Kiara berjalan dari sampingnya, hanya menggelengkan kepala saja. Tidak habis pikir, dan ia juga tidak mengeluarkan komentar sama sekali.

"Sabar yah," ucap Aksa dengan tangan yang menyentuh bahu Kiara dan mengelus lembut. "Atau gini aja, Ra! Lo masuk ke dalam dan kerja, untuk masalah tas itu biar gue yang ambil, gimana?"

Kiara menatap selintas Aksa yang tengah memberikan penawaran sangat menarik untuk dirinya saat ini, akan tetapi dengan cepat ia tolak karena ini adalah tanggung jawabnya sebagai anak yang harus berbakti pada orangtua.

"Makasih Aksa, udah nawarin ini sama gue. Tapi keknya gak deh, biar gue aja yang ambil," tolak Kiara dengan halus agar Aksa bisa paham dengan maksudnya.

Aksa hanya mengangguk pelan dan mengerti, ia juga tak akan memaksa apa pun yang sudah menjadi keputusan dari Kiara.

"Apa kata lo aja, Ra! Hati-hati di jalannya, dan jangan ngebut itu bawa mobil, gue tunggu di ruangan lo," ucap Aksa dengan senyum dan tangan yang mengusap puncak kepala dari Kiara.

Kiara menatap Aksa dengan lesu dan anggukan pelan. "Okey, tunggu aja di ruangan gue, pasti gue akan pulang secepatnya setelah ambil barang tersebut."

"Okey." Aksa melihat tubuh Kiara yang kini mulai menjauh dari pandangannya saat ini.

Kiara berjalan dengan cepat untuk menuju parkiran kendaraan yang ada di kantornya, memencet tombol yang ada di kunci dan terdengar suara bel dari mobilnya.

"Huh, semoga gak telat gue ke sana," gumam Kiara sembari tubuh yang menunduk dan mulai masuk ke dalam mobil, dan duduk di tempa kemudi.

Kiara mulai menyalakan mesin mobilnya itu, dan dengan perlahan tapi pasti akhirnya bergerak untuk menuju ke jalan raya.

Kiara dengan fokus dan kecepatan yang ia tinggikan agar bisa cepat sampai di tempat yang saat ini hendak ia tuju. Hati yang berdebar was-was karena dua hal yang tengah menanti dan harus ia dapatkan kini, pertama pekerjaan yang belum juga kelar, dan kedua Anindita yang menyuruhnya untuk pergi ke salah satu mall dan jarak tempuhnya cukup jauh dari kantor.

"Tuhan, semoga lancar kali ini!" Kiara dengan tatapan mata yang lurus ke depan, dan juga laju yang kini sudah di atas rata-rata.

Lampu merah mulai telihat di mata Kiara, dan anehnya ia tidak bisa sama sekali untuk menurunkan kecepatan laju kendaraannya saat ini, dan dengan panik ia menekan kuat pedal rem yang ada di bawah kakinya saat ini. Namun, tetap tak ada reaksi sama sekali, dan ia menangis di tengah kekalutan saat ini.

"Ya Tuhan! Mobil Ara kenapa ini? Kenapa tidak bisa dihentikan sama sekali?"

"Tuhan, Ara takut kalau gini ceritanya."

Beruntungnya jalanan nampak lenggang karena di jam seperti ini hanya ada beberapa orang yang ada di luar, dan selebihnya tengah sibuk bekerja.

Lampu merah sudah terpasang dengan jelas dan Kiara melihatnya dengan sangat baik. Air mata, keringat dingin, bahkan sudah keluar dan bercampur aduk seiring matanya menangkap truk yang sedang melaju dari arah yang berlawanan, dan dengan cepat ia membanting stir ke kiri untuk menghindar. Naasnya badan mobil terdorong kuat dan membuatnya terpelanting jauh hingga berguling di atas aspal.

"Tuhan! Kenapa ini?" tanya Kiara sebelum matanya berakhir tertutup dan tidak sadarkan diri.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Tarian Aksara

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Kisah romansa modern ini mengikuti perjalanan emosional David dan Arina dalam menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah keindahan bunga musim semi yang bermekaran, keduanya belajar saling memahami dan mengisi kekosongan hati masing-masing. Hubungan mereka pun tumbuh dengan indah seiring waktu, membuktikan bahwa satu musim yang singkat mampu menyatukan dua jiwa dalam sebuah ikatan cinta yang tulus serta sangat mendalam bagi mereka berdua.
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Kehidupan baru Anisa Rahma dimulai setelah ia dinikahi Seno Bagaskara, seorang konglomerat yang membawanya ke rumah besar keluarganya. Namun, tinggal bersama saudara ipar lain memicu konflik rumit. Di balik kemegahan rumah itu, Anisa tidak menyadari bahwa adik kandung Seno serta suami dari iparnya memendam gairah terlarang pada dirinya. Kini, ia terperangkap dalam bahaya nafsu terselubung di kediaman tersebut. Mampukah Anisa bertahan menghadapi ancaman ini?
Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Demi kesembuhan kekasih Anthony Smith, Alicia Huang rela menjadi donor sumsum tulang belakang. Namun, ia mengajukan syarat agar Anthony bersedia menikahinya. Anthony pun sepakat dengan satu tuntutan mutlak: pernikahan mereka harus dirahasiakan rapat-rapat dari publik. Kini, Alicia menjalani hari-harinya sebagai istri yang tersembunyi layaknya seorang simpanan. Akankah pernikahan kontrak ini menumbuhkan cinta tulus, atau justru berujung luka mendalam bagi mereka?
Sampul Novel Kekasihku Meninggalkanku di Hari Pernikahan
8.0
Hari pernikahan Cherish hancur seketika saat Diego pergi begitu saja setelah menerima sebuah telepon. Kejadian itu membuat nenek Cherish murka hingga muntah darah dan akhirnya meninggal di rumah sakit tanpa ada yang membantu. Di tengah kedukaan di kamar mayat, Diego justru menghubungi Cherish untuk meminta donor darah bagi Zoey yang terluka. Dengan tegas, Cherish mengakhiri hubungan mereka dan pergi. Kini, Diego bersujud di bawah guyuran hujan, memohon kesempatan kedua dan rela memberikan segalanya demi Cherish kembali.
Sampul Novel My Bad Boss
8.6
Xavier Narendra Maximilian sangat yakin takkan pernah mau menikah karena baginya wanita hanya teman ranjang semata. Namun, keyakinan sang miliarder goyah setelah ia mengenal sekretarisnya, Adeeva Adelia Albert, yang bersikap dingin dan acuh padanya. Meski Adeeva awalnya menganggap bosnya itu sebagai kesialan terbesar, Xavier justru merasa ia adalah berkah. Kini, rasa benci di antara mereka telah sirna, berganti menjadi hari-hari penuh romansa yang indah.
Sampul Novel Rahasia Gelap Sang Kekasih
9.5
Kehidupan tenang sang protagonis terusik di tengah malam saat sebuah notifikasi pesan membangunkannya dari tidur. Kiriman video dari sahabatnya memperlihatkan seorang wanita bergaun tipis ketat yang menari dengan anggun. Namun, perhatiannya teralihkan ketika ia melihat sekilas warna ungu di balik gaun tersebut. Keingintahuan berubah menjadi keterkejutan yang mendalam saat ia menyadari bahwa pakaian dalam yang dikenakan wanita dalam video itu sangat identik dengan milik kekasihnya sendiri.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan