APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Skenario Palsu

Skenario Palsu

Di New York, pengacara tangguh Victoria Calloway harus berhadapan dengan hakim federal yang dingin, Damian Whitmore. Hubungan mereka memanas saat Victoria menangani kasus keluarga elit Manhattan di bawah pengawasan Damian. Di balik sengitnya persidangan, keduanya justru menemukan rahasia kelam yang saling bertautan. Batas profesional kini berubah menjadi ketegangan personal yang rumit. Akankah mereka mampu menghadapi kebenaran pahit saat skenario besar di balik semua ini terungkap?
Bab
Bagikan

Bab 1

Gugatan ini bukan sekadar kasus biasa. Itu adalah pertempuran hukum yang bisa mengguncang seluruh New York-dan Victoria Calloway berada di garis depan, siap menghadapi siapapun yang berani menghalanginya.

Dia berjalan melewati koridor pengadilan dengan langkah pasti, sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan ritme yang tegas. Matanya yang tajam menatap lurus ke depan, ekspresinya dingin dan penuh determinasi. Dia tahu, di balik pintu ruang sidang yang akan segera dimasukinya, ada pria yang akan menjadi lawan terbesarnya hari ini.

Hakim Damian Whitmore.

Namanya sudah cukup untuk membuat banyak pengacara menghindari konfrontasi langsung. Dia bukan sekadar hakim federal biasa. Dia dikenal karena ketegasannya, keputusannya yang nyaris tak bisa digoyahkan, dan prinsipnya yang mutlak terhadap hukum. Tidak ada ruang bagi emosi atau kompromi dalam persidangannya.

Tapi Victoria tidak peduli. Jika Damian Whitmore adalah tembok yang harus ia hancurkan untuk memenangkan kasus ini, maka ia akan melakukannya dengan caranya sendiri.

Ketika pintu ruang sidang terbuka, ruangan itu sudah dipenuhi oleh pengacara, jurnalis, dan beberapa petinggi perusahaan yang memiliki kepentingan dalam kasus ini. Ini bukan sekadar persidangan biasa-ini adalah pertarungan hukum yang akan menentukan nasib salah satu keluarga paling berpengaruh di Manhattan.

Victoria melangkah masuk dengan penuh percaya diri, berusaha mengabaikan tatapan tajam dari beberapa pengacara lawan yang mencoba mengintimidasi. Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa membuatnya goyah. Dia sudah menghadapi ratusan sidang sebelumnya, dan tidak ada yang berbeda kali ini.

Namun, ketika matanya akhirnya bertemu dengan pria di kursi hakim, untuk sesaat, ia merasakan sesuatu yang berbeda.

Damian Whitmore duduk tegak di kursinya, ekspresinya dingin dan tajam seperti pisau bedah. Matanya yang gelap menatap langsung ke arahnya, seolah mencoba menelanjangi setiap rahasia yang tersembunyi di balik wajah tenangnya. Ada sesuatu yang mengintimidasi dari tatapannya-bukan hanya karena dia adalah hakim paling ditakuti di kota ini, tapi juga karena cara dia menatap Victoria, seakan menantang keberaniannya secara langsung.

Tidak, ini bukan pertama kalinya mereka bertemu.

Lima tahun lalu, mereka berada dalam situasi yang berbeda-bukan sebagai hakim dan pengacara, tetapi sebagai dua orang yang terjebak dalam situasi yang tidak terduga. Malam itu masih terpatri di benak Victoria, meskipun dia telah menguburnya dalam-dalam.

Namun, tidak ada waktu untuk membiarkan masa lalu mengalihkan fokusnya sekarang. Ini adalah pertempuran yang harus dimenangkan.

Damian mengetukkan palunya, dan suara itu menggema di seluruh ruangan.

"Sidang dimulai." Suaranya dalam dan berwibawa. "Jaksa Calloway, Anda memiliki waktu lima belas menit untuk memberikan pernyataan pembuka."

Victoria berdiri, memperbaiki jasnya, lalu melangkah ke tengah ruangan dengan penuh percaya diri.

"Hormat saya kepada Yang Mulia dan seluruh hadirin yang berada di ruang sidang ini," katanya, suaranya tenang namun penuh tekanan yang tajam. "Kasus ini bukan hanya tentang hukum, tetapi juga tentang keadilan yang telah lama dipermainkan oleh mereka yang memiliki kekuasaan. Terdakwa, keluarga Holloway, telah selama bertahun-tahun menggunakan pengaruh mereka untuk menyembunyikan tindak kejahatan finansial mereka, dan hari ini, kita akan memastikan bahwa mereka tidak bisa lagi bersembunyi di balik uang dan koneksi mereka."

Di seberang ruangan, pengacara pihak lawan, Theodore Hayes, hanya menyunggingkan senyum tipis. Dia pria tua yang sudah puluhan tahun bermain di dunia hukum, dan Victoria tahu dia bukan lawan yang mudah.

Saat ia berbicara, Victoria bisa merasakan tatapan Damian tetap tertuju padanya. Dia tidak memberikan reaksi, tidak menunjukkan ekspresi apa pun, tapi dia memperhatikan. Setiap kata, setiap gerakan.

Ketika Victoria selesai dengan pernyataan pembukanya, Damian akhirnya berbicara.

"Pihak terdakwa," katanya, menoleh ke arah Theodore, "Anda dipersilakan untuk memberikan pernyataan pembuka Anda."

Theodore bangkit, dengan senyuman percaya diri yang selalu membuat Victoria muak.

"Yang Mulia, Nona Calloway telah membuat tuduhan yang sangat menarik hari ini. Namun, seperti yang akan kita buktikan dalam persidangan ini, tidak ada dasar yang cukup untuk klaim tersebut. Keluarga Holloway adalah pilar komunitas kita, dan mereka telah menjadi korban dari perburuan penyihir oleh jaksa yang terlalu ambisius."

Victoria mengepalkan tangan di bawah meja. Ini sudah dimulai. Theodore mencoba mengalihkan fokus dari bukti ke narasi manipulatif yang membuat terdakwa tampak seperti korban.

Damian mendengarkan tanpa ekspresi, sebelum akhirnya mengetukkan palu.

"Kita akan membiarkan bukti yang berbicara."

Dan dengan itu, persidangan dimulai.

Dua Jam Kemudian

Victoria menarik napas dalam saat berdiri dari kursinya. Ia baru saja menyelesaikan pemeriksaan silang terhadap saksi kunci, dan meskipun sebagian besar jawabannya menguatkan kasusnya, Theodore terus mencoba memutarbalikkan fakta.

Tapi yang membuatnya benar-benar frustrasi adalah Damian.

Dia tetap tidak menunjukkan ekspresi, tidak memberikan celah sedikit pun yang bisa dibaca Victoria. Setiap kali dia berbicara, suaranya tetap tenang dan berwibawa, membuat suasana di ruang sidang tetap terkendali.

Dan itu membuat Victoria gila.

Dia ingin melihatnya bereaksi.

Dia ingin melihat apakah Damian benar-benar sekokoh yang dikatakan semua orang, atau jika ada sesuatu di balik sikap dinginnya yang tak tergoyahkan itu.

Setelah Theodore selesai memberikan argumen pembelaannya, Damian akhirnya menatap langsung ke Victoria.

"Jaksa Calloway," katanya, suaranya terdengar lebih dalam dari sebelumnya. "Anda memiliki kesempatan terakhir untuk menanggapi."

Victoria menatapnya balik, lalu melangkah ke depan.

"Yang Mulia," katanya, suaranya sedikit lebih tajam dari sebelumnya. "Apa yang sedang terjadi di ruangan ini bukan hanya tentang siapa yang memiliki pengacara terbaik atau siapa yang bisa berbicara lebih meyakinkan. Ini adalah tentang keadilan. Dan saya tidak akan membiarkan terdakwa berlindung di balik manipulasi narasi yang dibuat oleh pengacaranya."

Sesaat, keheningan menyelimuti ruangan.

Dan untuk pertama kalinya sejak persidangan dimulai, Victoria melihat sesuatu berubah di mata Damian.

Sebuah kilatan emosi yang nyaris tidak terlihat, tapi cukup untuk membuatnya tahu-pria itu tidak sepenuhnya kebal terhadapnya.

Tapi apakah itu kemarahan? Atau sesuatu yang lain?

Damian mengetukkan palu.

"Sidang ditunda hingga besok pagi."

Victoria tetap berdiri di tempatnya, menatap pria itu yang masih berada di kursinya. Ada sesuatu yang belum selesai di antara mereka. Sesuatu yang lebih besar dari sekadar persidangan ini.

Dan dia berjanji pada dirinya sendiri-dia akan mencari tahu apa itu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bantu  Mertuaku Ngerjai Pelakor
9.1
Terkenal berwatak keras dan pantang mengalah saat berdebat, seorang wanita sempat khawatir akan kehidupan pernikahannya. Namun, ia justru mendapatkan suami penurut dan ibu mertua yang sangat lembut, membuat hari-harinya terasa membosankan tanpa tantangan. Keadaan berubah drastis saat cinta lama ayah mertuanya kembali ke negara ini dan menyengsarakan ibu mertuanya. Enggan tinggal diam melihat mertua yang baik hati menderita, ia pun bersiap menggunakan ketajamannya untuk bertarung melawan sang pengganggu.
Sampul Novel Bukan Gadis Simpanan
9.2
Carl Davidson gemar menjahili Samantha Walker sejak kecil dengan menaruhnya di meja tinggi hingga menangis. Kebiasaan unik ini bertahan hingga Carl sukses menjadi miliuner otomotif. Kini, ia tidak hanya mendudukkan Samantha di meja, tapi juga membawanya ke ranjang. Di tengah stigma buruk masyarakat yang melabelinya sebagai gadis simpanan, mampukah Samantha mempertahankan kehormatannya dan bersanding dengan Carl di pelaminan?
Sampul Novel Derita Seorang Gadis Desa
9.4
Demi membiayai neneknya yang sakit, Alya, seorang yatim piatu tamatan SMP, mengadu nasib di kota. Keberuntungan sempat berpihak saat ia bekerja pada Ibu Ratna yang berhati mulia. Namun, kembalinya putra majikannya bernama Arka menjadi mimpi buruk. Kehormatan Alya direnggut paksa oleh pria itu. Alih-alih bertanggung jawab, Arka justru mencaci dan mengusirnya dengan kejam. Kini, dengan batin yang terluka parah, Alya harus berjuang keras demi bertahan hidup.
Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Nadia Antika rela bersabar atas perlakuan buruk ibu mertuanya demi membina rumah tangga bersama Askara Brahma selama dua tahun. Namun, kehangatan Askara mendadak hilang dan ia berubah menjadi sangat dingin. Perubahan drastis ini memicu kecurigaan Nadia akan adanya rahasia kelam. Akankah ia sanggup menghadapi kenyataan pahit saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan adik iparnya sendiri di dalam rumah mereka?
Sampul Novel JIKA CINTA INI SALAH
8.8
Aku merelakan hidup mewah demi cinta, tetapi ketulusanku justru dikhianati. Sekarang, aku menghadapi pilihan sulit: tetap bertahan dalam rumah tangga yang retak demi masa depan anak-anak remaja kami, atau memilih pergi. Di tengah rasa bimbang dan ketergantungan ini, sebuah perasaan baru mulai tumbuh. Layakkah seorang ibu dengan dua anak sepertiku kembali membuka hati untuk cinta lain yang kini datang membawa harapan baru?
Sampul Novel Obsesi Cinta Mafia Kejam
8.4
William Henry, gembong mafia berdarah Italia-Indonesia, mendarat di Jakarta untuk menuntut balas atas kematian ayahnya kepada Thomas Hartono. Rencana balas dendamnya goyah seketika saat ia terobsesi pada Wulan, putri tunggal sang musuh. Walau Wulan sudah bertunangan, hasrat gelap William mendorongnya menghalalkan segala cara untuk merebutnya. Kini ia terjebak dilema antara dendam masa lalu atau obsesi cintanya. William bersumpah takkan membiarkan siapa pun memiliki Wulan jika ia gagal mendapatkannya.