APKDock Logo
Sampul Novel Ingin Tenang, Dengan Menumpang

Ingin Tenang, Dengan Menumpang

8.1 / 10.0
Kehidupan yang penuh tekanan membuat mental Deli benar-benar kelelahan. Demi memulihkan diri dan mencari ketenangan batin yang hilang, ia harus mengambil keputusan penting. Deli akhirnya memilih mengungsi dan menumpang hidup di rumah adik kandungnya, Dena. Di kediaman sang adik, ia berharap bisa mengistirahatkan pikiran yang penat sekaligus melarikan diri sejenak dari segala kerumitan masalah yang selama ini terus menjeratnya.

Ingin Tenang, Dengan Menumpang Bab 1

Jam di dinding menunjukkan hampir pukul dua belas siang, cuaca terasa sangat panas hari ini. Alhamdulillah, semuanya selesai tepat waktu sesuai perkiraanku. Mengamati dan memastikan kembali keadaan rumah, rasanya senang melihat semua sudah bersih dan rapi. Sejak pagi, aku dan Nisa bekerjasama menyelesaikan semua pekerjaan rumah. 

Satu per satu ku tutup pintu kabinet di dapur. Bahan makanan serta keperluan sehari-hari lainnya, baru saja selesai ditata rapi sesuai tempatnya. Ku lepas rasa lelah dengan duduk bersandar di kursi. Terlintas dalam pikiran ingin menikmati segelas es teh manis, pasti terasa sangat segar di tenggorokan.

Saat ini yang ada di rumah hanya aku dan Nisa–Anak Sulungku. Sejak selesai menyantap sarapan pagi, Bang Hasyim–Suamiku dan Zio–Anak Bungsuku pergi bersama-sama mengikuti kegiatan gotong royong. Hari ini semua warga di sini wajib ikut berperan serta membersihkan saluran air yang tersumbat di ujung komplek perumahan.

Dua hari yang lalu, sedari pagi hingga sore hujan turun sangat deras. Tadi pagi saat aku pergi ke pasar untuk berbelanja, luapan air selokan masih menggenang setinggi mata kaki di depan gerbang masuk komplek. Menurut informasi dari tetangga sebelah rumah, saluran air yang berada di ujung komplek tersumbat oleh banyak sekali sampah.

Perlahan ku aduk seduhan teh di dalam gelas dengan dua sendok makan gula. Dari kulkas, ku ambil beberapa buah es batu kecil kemudian memasukkannya ke dalam gelas. Samar-samar terdengar seperti suara ketukan pintu. Ku hentikan adukan sendok di gelas, mencoba mendengar lebih jelas.

"Assalamu'alaikum …." Kini terdengar suara seseorang mengucap salam.

Nisa yang sedang asyik menonton televisi di ruang keluarga terdengar menyahut salam. Ku lihat dia mematikan televisi, kemudian beranjak pergi ke pintu depan. Ruang keluarga dan dapur rumah tidak ada sekat, apapun yang terjadi di ruang keluarga bisa terlihat dari dapur.

'Wa'alaikumsalam … eh, Tante Deli. Mari masuk, Tante! Sendirian aja, ya?" Sesaat hening, tak terdengar jawaban apapun dari lawan bicara Nisa. Tak lama terdengar seperti suara gesekan benda berat bergeser di lantai.

Ternyata Kak Deli yang datang, tapi tadi tak terdengar suara mobil travel yang mengantarnya. Biasanya dia ke sini bersama anak atau menantunya, kali ini kenapa hanya datang sendirian?.

"Sini, Nisa bantu bawa kopernya!" Santun terdengar suara Nisa menyambut kedatangan Tantenya. Kureguk es teh manis hingga tersisa setengah gelas, setelahnya kembali menajamkan telinga menyimak percakapan Nisa dengan Kak Deli. 

"Iya, Nisa. Terimakasih, loh, hati-hati berat! Makin tinggi aja kamu, Nisa. Kok, malah jadi kelihatan kurus banget. Nggak bagus tahu, kurus kayak gini!" Teganya Kak Deli mengomentari tubuh Nisa. Seolah sangat perhatian pada keponakannya itu, padahal di telingaku terdengar seperti sedang menghinanya. 

"Nih ada sedikit oleh-oleh dari kampung, kasih sana ke Mamak mu!" titah Kak Deli.

Sesaat tak terdengar apapun, aku mengernyitkan kening.

"Ngapain lagi kamu, Nisa? Sana, cepat panggil Mamakmu!" hardik Kak Deli pada Nisa. Aku tersentak. Sebenarnya apa yang telah dilakukan Nisa, sehingga Kak Deli meninggikan suaranya. 

Baru saja hendak beranjak, derap langkah Nisa terdengar semakin dekat. Yang pertama terlihat adalah raut wajahnya yang murung dan juga kesal. Anak perempuanku yang mulai beranjak remaja ini, tertunduk lesu melangkah ke arahku.

"Mak … Tante Deli sudah datang! Bawa koper besar, loh! Nisa bantu angkat tadi, ternyata berat banget. Jangan-jangan ... isinya batu!" celetuk Nisa dengan polosnya.

Hah! Koper Besar? Apa Kak Deli berencana tinggal lama di rumahku? Apa terjadi sesuatu di kampung, atau Kak Deli hanya ingin liburan saja. Aku terus menduga-duga, apa sebenarnya tujuan kedatangan Kak Deli ke sini. Semakin dipikirkan rasanya sangat aneh, tak mungkin Kak Deli meninggalkan usaha warung makan yang dikelolanya di kampung.

Usaha warung makan itu dulunya milik almarhum Ibu, Kak Deli meneruskannya setelah kondisi kesehatan Ibu semakin memburuk. Dari hasil usaha warung itu lah, Kak Deli mencukupi kebutuhan hidup dia dan anak-anaknya.

Nama ku Dena, aku saudara satu-satunya Kak Deli. Ibu kami sudah wafat 10 tahun yang lalu, sedangkan Ayah sudah menikah lagi setahun setelah Ibu wafat.

Seketika lamunanku buyar, saat Nisa menyentak lenganku pelan.

"Mak … dengar Nisa, tidak?" rengeknya.

"I–iya, Sayang! Mamak dengar, kok."

"Tadi Tante Deli sempet-sempetnya komentar, kalo Nisa terlalu kurus. Lah, emangnya Nisa kurus banget, ya? Nyinyir banget sih mulut Tante Deli, Nisa nggak suka!" Setengah berbisik Nisa berbicara, seperti takut terdengar oleh Kak Deli. Ternyata Nisa paham dan masih ingat tabiat Tantenya itu.

"Nisa nggak lupa, kan? Apa pesan Mamak, bila ada yang memperlakukan Nisa seperti Tante Deli tadi? Ambil nafas tiga kali dari hidung, dan hembuskan dari mulut. Ucap Istighfar sebanyaknya dalam hati, terus … kasih deh senyum termanis yang Nisa punya!" Kuusap-usap bahunya menenangkan, menatap gemas wajahnya yang mulai tersenyum.

Nisa mengulurkan tangannya padaku, memberikan satu bungkusan plastik yang dibawanya.

"Nih Mak, Tante Deli bilang ini buat Mamak! Oleh-oleh dari kampung katanya, boleh Nisa lihat tidak apa isinya?" Pasti dia mengira isi plastik ini jajanan kampung kesukaannya. Camilan adalah makanan favorit Nisa, kalau belum dapat yang diinginkannya pasti akan terus menggangguku.

"Kalau isinya camilan bolehlah, ya, Nisa minta? Buat besok dibawa ke rumah Lia, jadi Mamak besok nggak perlu bikinkan Nisa camilan lagi." Tuh kan benar dugaan ku. Belum lagi sempat menjawab, Nisa sudah merebut plastik yang diberikannya tadi. Padahal aku sendiri belum melihat apa isi di dalamnya.

"Eh … anak ini, main rebut aja! Sana bilang Tante Deli, tunggu sebentar. Mamak mau ganti baju dulu!" Nisa mendengus kesal, terpaksa memberikan lagi plastik berisi oleh-oleh itu kepadaku.

Dari dalam kamar, samar ku dengar Nisa mengobrol dengan Kak Deli. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tak bisa mendengar dengan jelas.

Selesai berganti pakaian dan sedikit memoles wajah agar tak terlihat pucat. Aku tersentak saat hendak melangkah keluar kamar, tiba-tiba saja Nisa sudah menghadang di depan pintu. Matanya mengamatiku dengan seksama, seperti sedang mencari-cari sesuatu. 

"Mana Mak bungkusan tadi, apa sih isinya? Nisa mau, Mak!" Alisnya dinaik turunkan, tangan kanannya diangkat setinggi dada menadah padaku, sedang tangan kirinya berkacak pinggang. Tingkah Nisa membuatku tertawa terbahak-bahak, ada saja ulahnya di rumah selama libur sekolah ini.

"Tuh, Mamak taruh di atas meja dapur." Tanganku menunjuk ke arah plastik yang dicari Nisa.

"Makan siang dulu, Mamak sudah masak lauk kesukaanmu. Itu oleh-oleh bisa dimakan nanti saja, tunggu Adek sama Bapak pulang, ya!" sambungku lagi.

"Iya, Mak! Oh iya, Jadi nanti malam Nisa tidur sama Tante Deli, ya? Nisa tidur sama adek Zio aja, ya, Mak?" Mulut Nisa mencebik, tangannya menggoyang-goyangkan lenganku berusaha membujuk.

Ku sentil ujung hidung Nisa, mengacak-acak rambut pendeknya agar dia segera menyingkir dari depan pintu kamar. Nisa memasang raut wajah sedih, terlihat kecewa karena aku tak mau memenuhi permintaannya.

Di ruang tamu, terlihat Kak Deli duduk santai di sofa. Sepertinya tengah asyik menonton sesuatu di ponselnya. 

Sebenarnya aku kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Biasanya Kak Deli akan memberi kabar jauh hari sebelum keberangkatannya, bila ingin mengunjungiku di sini. Tadi malam, setelah adzan isya berkumandang Kak Deli menelponku. Katanya baru saja berangkat dari rumah, akan menuju kota tempat tinggal ku sekarang.

Aku tak sempat menanyakan apa-apa, takut Kak Deli tersinggung dan marah. Tabiatnya yang mudah marah dan keras kepala, membuatku berpikir berulang kali untuk bertanya. Daripada nanti dapat amukannya saat sampai di rumahku, lebih baik aku diam dan mengiyakan saja ucapannya.

Setelah panggilan berakhir, langsung saja ku beritahukan hal ini pada Bang Hasyim. Dia hanya mengangguk saja, tanda bahwa setuju dan tak keberatan akan kedatangan Kak Deli.

"Maaf, ya! Kakak jadi menunggu lama. Dena baru selesai beresin dapur, mumpung hari minggu," celotehku pada Kak Deli. Yang ku ajak bicara terkesan cuek dan tak peduli.

"Kamar yang biasa ku tempati sudah siap, kan? tanya Kak Deli tanpa melihat ke arahku sama sekali.

"Se–sementara, Kak Deli sekamar sama Nisa dulu, ya? Di kamar tamu banyak stok barang pesanan pelanggan, rencananya nanti sore baru diambil pemiliknya, Kak!" Aku tersenyum kecut, saat Kak Deli spontan menoleh kearahku. Wajahnya memancarkan rasa tak suka atas jawabanku tadi.

"Ya sudah, bilang Nisa tolong bikinin minuman dingin dan bawakan ke kamar. Aku mau istirahat dulu, capek banget rasanya!" Pandangan Kak Deli tak lepas dari layar ponsel, dia perlahan beranjak menuju koper yang diletakkan Nisa didekat  meja tamu. 

"Kenapa Kak Deli tak langsung memintaku menyiapkan minuman yang dimintanya, malah menyuruhku bilang ke Nisa? Aneh!" Monolog ku sambil menggelengkan kepala.

Langkahku terhenti, saat hendak beranjak menuju dapur. Ku perhatikan apa yang sedang dilakukan Kak Deli. Raut wajahnya tak menunjukkan kelelahan, penuh senyum seperti sedang kasmaran. Dengan pandangan masih ke layar ponsel,  Kak Deli melangkah tertatih menyeret koper besar menuju ke kamar Nisa. 

Di dapur, kuambil sebotol minuman dingin dari dalam kulkas. Membuka tutup botol dan menuangkan isinya ke dalam gelas. Di atas nampan bermotif bunga, ku letakkan setoples nastar keju beserta gelas berisi minuman dingin tadi.

Saat hendak beranjak membawa nampan, terasa getar ponsel di saku gamisku. Di layar terlihat ada pesan  masuk, rupanya dari Bang Anto. Keningku mengernyit, tak paham dengan isi pesan itu. 

Belum hilang kebingunganku, dering panggilan masuk di ponsel membuatku tersentak. Tertera nama Bang Anto, namun tak langsung ku terima panggilan teleponnya. Aku bergegas membawa nampan menuju ruang keluarga, terlihat Nisa sedang menonton tayangan televisi.

"Nisa … tolong antarkan ini ke Tante Deli di kamarmu, ya. Jangan lupa, ketuk pintu terlebih dahulu!" 

"Siap … Mak!" Nisa langsung beranjak mendekat. Dengan sigap dia mengambil nampan di tanganku, kemudian melangkah pergi menuju kamarnya.  Alhamdulillah, aku sangat bersyukur Nisa tak pernah protes dan mengeluh saat  diminta bantuan apapun. 

Dering ponsel masih terdengar, ku percepat langkah menuju kamarku. Jemariku menggeser tombol hijau di layar ponsel, setelah sebelumnya pintu kamar ku pastikan tertutup rapat dan terkunci.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Ingin Tenang, Dengan Menumpang

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Calon tunanganku yang direbut adik angkatku
9.8
Setelah mendapatkan kesempatan hidup kedua, sang protagonis menolak menjadi korban penindasan adik angkatnya, Maudy. Saat Maudy mencoba merebut Felix dan mengacaukan sesi foto pernikahan mereka dengan membawa-bawa nama Grup Setiawan, ia tidak lagi melarikan diri sambil menangis seperti di masa lalu. Dengan keberanian baru, ia menampar Maudy dan mempertanyakan kelayakannya dalam mewakili nama besar keluarga. Ini adalah kisah pembalasan dendam dan perebutan kembali hak yang sempat terampas.
Sampul Novel Jadi Wanita
9.1
Sota, pemuda malas berusia dua puluh tahun, lebih memilih menganggur dan sibuk dengan gawainya meski ia sangat cerdas dan licik. Kebiasaan buruk ini membuat ibunya, Artisa, merasa sangat khawatir. Sebagai pekerja keras yang juga punya sisi licik, Artisa bertekad mengubah tabiat putranya secara total. Ia pun mengambil langkah ekstrem dengan mengubah fisik Sota. Akankah rencana drastis Artisa berhasil mengubah jati diri sang anak melalui transformasi tubuh ini?
Sampul Novel Ketika Keabadian Runtuh: Kenyataan Pahit Cinta
9.7
Baskara Aditama semula adalah suami miliarder idaman, sebelum masa lalunya datang membawa seorang putra yang sakit parah. Di saat kritis, Baskara lebih memilih menyelamatkan anak itu dan mengabaikan kondisiku yang terluka hingga aku keguguran sendirian. Puncak kepedihanku tiba ketika ia memohon agar aku mengizinkannya menikahi sang mantan secara pura-pura demi sang putra. Melihat tanda cinta wanita lain di lehernya, aku yang sedang berduka akhirnya menyetujui rencana itu.
Sampul Novel Menikahi Taipan Misterius
9.3
Bertahun-tahun Amelia mengejar cinta Jako, namun ia justru diminta berlutut demi wanita lain. Muak dengan penghinaan itu, Amelia membuang cincin pertunangannya dan pergi. Tanpa diduga, ia segera menikah dengan miliarder misterius hingga fotonya viral. Jako yang cemburu menuduhnya ingin balas dendam. Namun, sang taipan justru membela Amelia dengan tegas dan menyebut perannya sebagai pelindung Amelia sebagai sebuah kehormatan.
Sampul Novel Pengantin Pengganti Mafia Berdarah Dingin
8.7
Demi harta, Dominic Toretto tega menjanjikan pernikahan kepada keluarga De Luca yang kejam. Demi melindungi adiknya, Alessia Toretto mengambil keputusan nekat untuk maju sebagai pengantin pengganti bagi bos mafia pembunuh berdarah dingin itu. Langkah berani ini justru menyeret Alessia ke dalam pusaran konflik hidup dan mati yang berbahaya. Kini, ia harus berjuang mengumpulkan keberanian untuk melawan takdir kelam yang dipaksakan padanya.
Sampul Novel Psikopat itu Adik Pacarku
9.2
Sebuah keputusan fatal menghancurkan segalanya. Saat dikejar pembunuh, panggilan darurat korban diabaikan oleh kekasihnya yang mengira itu hanya lelucon. Sang pacar justru sibuk merayakan ulang tahun teman masa kecilnya hingga korban tewas dibantai dengan kejam. Penyesalan terlambat datang ketika pria yang bekerja sebagai ahli perbaikan mayat ini menerima tugas merekonstruksi jasad dengan kepala hancur. Begitu mengenali wajah kekasihnya sendiri di balik luka tersebut, ia langsung kehilangan kewarasannya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan