APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Salah Target

Salah Target

Demi membalas dendam pada Dicky Prasetyo, Andrey memimpin sindikatnya untuk menculik Flamboyan Prasetyo demi tebusan. Sialnya, mereka salah sasaran; Flamboyan hanyalah anak asisten rumah tangga Dicky, sementara target asli, Kirana yang difabel, sedang pergi. Ketika Dicky mendadak lenyap misterius, Bramastyo Hartawan harus berjuang sendirian. Ia mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan kekasih sekaligus calon mertuanya dari ancaman kematian yang kian nyata.
Bab
Bagikan

Bab 2

Gadis itu mempertajam indera pendengarannya. Terdengar, laki-laki berkumis tebal itu sedang berbicara dengan seseorang. Setelah beberapa saat kemudian, terdengar dering telepon genggamnya.

“Pastikan gadis itu tetap hidup. Beri dia makan dan minum tepat pada waktunya. Jangan biarkan gadis itu mampus sebelum waktunya. Dicky biar merasakan, betapa sakitnya kehilangan seorang yang dia cintai.”

“Siap, Bos!”

“Perketat penjagaan, jangan sampai dia melarikan diri. Besok siang, aku kirim helikopter ke situ. Bawa dia ke markas utama.”

“Oke, Bos!”

Percakapan lewat telepon yang di-loudspeaker itu cukup membuat bulu kuduk gadis itu meremang. Dadanya terlihat naik turun menahan emosi sekaligus rasa panik. Seketika tubuh gadis itu panas dingin.

Belum terjawab rasa penasarannya tentang banyak hal. Mengapa dia berada di tempat itu, kini dia didera rasa ketakutan.

Bahkan, sempat terbersit dalam pikirannya, bahwa dengan kekuatan dan kekuasaan ayahnya, pasti dia akan segera ditemukan.

Namun, tiba-tiba nyalinya menjadi ciut saat mendengar percakapan mereka. Besok dia sudah dipindahkan ke markas utama.

“Di mana markas utama itu? Bagaimana jika aku akan dijual ke luar negeri? Shit! Mengapa aku terjebak di sini?”omel gadis muda itu.

Dalam panik, tanpa sadar siku gadis itu menyentuh sesuatu di dalam saku celana piyamanya. Dengan susah payah dia menggeser tangannya yang terikat.

Lima belas menit kemudian setelah tali agak kendor, gadis itu bisa menggeser posisi tangannya, lalu mengeluarkan benda yang terselip dalam saku celananya. Sungguh, girang hatinya ketika dia menemukan sebuah ponsel di dalam saku celananya.

Matanya menyapu ke segala penjuru ruangan, memastikan dirinya sedang tidak dalam pengawasan. Segera dia menghidupkan benda pipih yang dalam kondisi mati itu.

Perlahan dia mengetik huruf B dalam pencarian, lalu segera muncul nama Bram. Langkah selanjutnya, kemudian dia shareloc posisinya, sebelum dia segera mematikan benda pipih yang hanya tinggal lima puluh persen batrenya itu.

Dengan wajah pucat, napas memburu, dan detak jantung tak berirama takut ketahuan para penjahat di luar sana, dia segera mengembalikan ponsel ke saku celananya.

Gadis itu memejamkan matanya. Sudut matanya sedikit basah oleh air mata. Dalam diam dia berharap ada keajaiban esok hari, sebelum dia dibawa helikopter seperti percakapan yang baru saja dia dengar.

“Ya Allah, tolonglah aku. Ayah, aku butuh pertolonganmu,” gumam gadis itu nelangsa.

Gadis itu menghela napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Tidak perlu membuang energi untuk berusaha kabur, toh sekuat apapun untuk berusaha kabur, di luar sana banyak orang menjaga.

Seperti kata laki-laki berkumis tebal tadi, meskipun dia galak tapi dia baik, mengobati lukanya dan memberi makan padanya.

“Tapi siapa mereka? Apa, Ayah punya musuh? Tadi kudengar orang di seberang sana menyebut nama Ayah.” Kening gadis itu mengkerut.

Berbagai kemungkinan dan kejadian-kejadian dia sambung-sambungkan untuk menganalisa apa dan siapa mereka. Juga langkah apa yang harus dia lakukan agar dalam waktu yang serba terbatas itu bisa menghasilkan action yang pas dan tepat. Sungguh gadis yang smart.

Belum genap dua jam dia bernapas lega, dari balik pintu kembali muncul laki-laki berkumis tebal itu dengan dua orang anak buahnya yang sama-sama berwajah bringas.

Dia memaksa membawa gadis itu. Ketika gadis itu mencoba berontak, dengan kasar mereka menyeret gadis muda itu.

“Lepaskan aku bangsat!” teriak gadis itu hilang kesabaran.

Bagaimana tidak, dengan kasar kedua anak buah laki-laki berkumis tebal itu, menarik bagian lengan yang terluka. Gadis itu meringis kesakitan.

“Bedebah! Kamu merepotkanku saja, brengsek!” teriak laki-laki berkumis tebal itu, tidak kalah garang. Ketika melihat kedua anak buahnya kerepotan dibuatnya.

Gadis itu terus meronta, berharap dapat mengulur sedikit waktu, agar dia tidak dibawa pergi dari tempat tersebut pada hari itu. Dengan shareloc yang dia kirimkan kepada seseorang yang bernama Bram tadi, berharap dapat terdeteksi keberadaannya, walau ponselnya sekarang dalam keadaan mati.

“Shit! Mengapa begitu cepat mereka berubah pikiran. Baru sore tadi aku mendengar akan dipindahkan ke markas utama besok. Mengapa baru jam tujuh malam mereka sudah membawaku pergi. Jangan-ja –”

Belum selesai gadis itu menganalisa asumsinya sendiri, kembali kedua anak buah laki-laki berkumis tebal itu menyeret gadis itu.

Dari percakapannya ketika mereka saling memanggil, laki-laki berkumis tebal itu dipanggil dengan sebutan Bos Fredy.

Sedangkan kedua anak buahnya, yang satu berwajah tirus, dengan kulit bersih, dipanggil dengan sebutan Pras. Sedangkan anak buahnya yang berwajah oval dengan kulit gelap dipanggil dengan sebutan Jack.

“Diam! Jangan melawan. Atau kamu akan kusakiti,” ancam Jack kepada gadis itu.

Terpaksa gadis itu, hanya menurut. Sebab, semakin dia meronta, rasa nyeri pada lengan dan pelipisnya semakin tidak bisa diajak kompromi.

“Nah, kalau nurut seperti ini kamu, kan, tambah manis, Cantik!” ujar Jack sambil mencolek dagu gadis itu.

Cih!

Spontan gadis itu meludahi muka Jack. Wajah gadis itu tiba-tiba merah padam, ketika mendapat perlakuan yang dari dulu sangat dia benci dari lawan jenisnya. Dia tidak suka dilecehkan.

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Wajah manisnya berputar sembilan derajat searah jarum jam. Rona wajahnya berubah merah membentuk cap telapak tangan.

“Brengsek! Dasar gadis binal!”

Jack mencengkeram dagu gadis itu, sembari bersumpah serapah mengutuknya.

“Lepaskan Jack! Apa yang kamu lakukan? Jika terjadi sesuatu dengan dengan gadis itu. Awas saja! Nyawamu taruhannya. Ayo cepat, segera bawa masuk ke mobil,” perintah Bos Fredy.

“Baik, Bos.”

Sebuah mobil offroad type toyota hardtop, melaju perlahan. Gadis itu diam terpaku, duduk meringkuk di belakang seat kemudi yang dipegang oleh Pras.

Sementara Bos Fredy sedang berkabar dengan seseorang di seberang sana lewat sambungan teleponnya. Sedangkan Jack duduk di samping gadis itu, masih dengan wajah merah padam menahan amarah.

Mata gadis itu menerawang jauh ke depan, mengawasi jalanan berlubang, sementara di kanan kiri jalan, terhampar sederetan semak belukar, entah di mana dia sekarang berada.

Terlintas dalam pikirannya sosok ayah yang sangat melindunginya, sosok ibu yang sangat menyayanginya, sosok kakaknya yang sangat peduli kepadanya, serta sosok Bram kekasih hatinya yang sangat perhatian padanya.

“Lalu, di mana mereka semua? Saat ini aku sangat membutuhkan pertolongan. Mengapa tak satu pun dari mereka mencariku?” lirihnya, yang tentunya hanya didengar oleh dirinya sendiri.

Berbagai pertanyaan berputar-putar di kepalanya, ditambah rasa nyeri di lengan dan pelipisnya, serta bekas tamparan Jack yang membekas perih di wajahnya.

Belum lagi bau alkohol dari mulut Jack yang duduk di sampingnya, membuat makanan yang tiga jam yang lalu masuk ke perutnya berasa ingin dia muntahkan lagi.

Saat tiba-tiba ban mobil offroad itu terjebak di dalam lubang sedalam lima puluh centimeter. Tanpa sengaja kepalanya membentur jok kemudi di depannya, lalu dia benar-benar memuntahkan isi perutnya.

Huek! Huek! Huek!

“Brengsek! Benar-benar gadis bedebah kamu!”

Jack menjambak rambut gadis itu, hingga kepalanya mendongak ke belakang. Kembali ujaran sumpah serapah keluar dari mulut Jack.

Kesadaran yang belum begitu pulih, karena sedang dipengaruhi minuman keras, membuat emosinya mudah sekali tersulut.

“Jack! Apa-apaan kamu! Lepaskan gadis itu,” ucap Bos Fredy emosi.

Jack melepaskan jambakannya, lalu mengambil tisu di dashbord mobil untuk mengelap celananya yang sedkit terpercik dengan muntahan gadis itu.

“Jack, Pras, turun! Dorong mobilnya biar kemudi aku yang pegang,” perintah Bos Fredy sambil beringsut menggeser tempat duduknya dengan menggantikan kemudi yang dipegang oleh Pras.

Sementara dua anak buahnya turun mendorong mobil yang sedang selib itu, kembali dengan cepat gadis itu merogoh ponsel dalam saku celana piyamanya.

‘Plis! Semoga perhatian mereka teralihkan sejenak. Semoga mobil ini tidak segera beres,’ doanya dalam hati.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Fitnah Pelakor Membuatku Babak Belur
8.5
Akibat unggahan foto suaminya di media sosial, seorang istri sah dituduh sebagai pelakor oleh selingkuhan sang suami. Tuduhan kejam ini memicu aksi pengeroyokan brutal oleh sekelompok orang yang membuatnya babak belur hingga mengalami patah tulang dan gegar otak. Tidak tinggal diam, korban segera melaporkan kejadian ini ke polisi. Di saat yang sama, ia menyiapkan surat cerai untuk mendepak suaminya yang tidak tahu diuntung itu agar pergi tanpa membawa sepeser pun kekayaannya.
Sampul Novel Gairah Membawa Petaka
8.3
Zakia ‘Kia’ Ananta Arman, remaja polos yang belum pernah merasakan cinta, terpesona pada Gus Beren, putra kyai pesantren. Demi mendapatkan perhatiannya, ia nekat mencampur obat perangsang dan alkohol ke dalam teh Gus Beren. Malam itu, nafsu yang ia picu justru menjadi bencana—ia mengandung anak pria yang sama sekali tak mau bertanggung jawab, bahkan saat tahu Gus Beren telah beristri siri. Kia mulai melihat karma di balik perbuatan papanya yang menyelingkuhi ibu dan kakaknya. Ketakutan masa lalu Arman pun kembali menghantui. Di tengah kehancurannya, ia harus memilih: memperjuangkan keadilan atau tenggelam dalam karma keluarganya.
Sampul Novel Ikatan Suci
8.8
Mona, janda dari pahlawan negara, terpaksa menuruti kehendak ayahnya, Jenderal Handoko, untuk menikah dengan Galih. Pernikahan ini memicu kontroversi karena status Galih sebagai mantan narapidana kasus narkoba. Di tengah keraguan, Mona bertekad menyelidiki motif asli di balik kesediaan Galih menerimanya. Kini, dua sosok yang sama-sama terluka ini terikat pernikahan, siap berkorban demi mengungkap misteri di balik persatuan mereka.
Sampul Novel Pedang Terhunus
9.3
Temukan kisah legendaris Khalid Bin Walid, sang panglima militer perkasa yang mengabdikan hidupnya demi panji Islam. Dikenal sebagai pedang Allah, ia mengukir sejarah luar biasa di medan perang tanpa pernah terkalahkan sekalipun. Buku ini merangkum perjuangan heroik serta kehebatan strategi sang jenderal dalam menaklukkan setiap musuh dan tantangan besar. Ikuti perjalanan penuh aksi dan petualangan bersejarah yang sangat mengagumkan ini.
Sampul Novel Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran
9.2
Setelah tewas membeku akibat dikhianati keluarganya, Anggi Suharjo terbangun kembali di hari pernikahannya dengan Luis Giandra yang kejam. Menyadari dirinya hanya figuran yang dikorbankan demi sang adik kembar, Wulan, Anggi bertekad tidak akan lagi mengemis kasih sayang. Menggunakan kecerdasan strategi militer dan keahlian medisnya yang luar biasa, ia siap menaklukkan dunia. Saat keluarganya yang menyesal mulai memohon ampun, Luis yang awalnya dingin justru enggan melepaskan Anggi demi membayar utang nyawa.
Sampul Novel Pembalasan Istri Yang Teraniaya
8.8
Intan kehilangan kabar dari suaminya, Franz, yang sedang bertugas di luar kota. Begitu pulang, Franz berubah menjadi sosok kejam dan dingin, bahkan nekat memadu Intan dengan membawa istri baru berdalih hilang ingatan. Usai mahligai rumah tangga mereka hancur, Franz tak pernah menduga bahwa Intan sebenarnya adalah wanita berpengaruh dengan kekayaan melimpah yang sengaja disembunyikan. Kini, saatnya bagi Intan untuk bangkit dan membalas seluruh rasa sakit yang telah mereka perbuat.