APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Saat Hati Tertusuk Duri Cinta

Saat Hati Tertusuk Duri Cinta

Bagi Gina, asmara membawa petaka yang mengubah hidup indahnya menjadi mimpi buruk. Sejak Evan hadir, seluruh dunianya hancur tanpa sisa. Gina harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan calon bayinya, menderita cacat fisik pada wajah, serta melihat karier dan nama baiknya hancur lebur. Evan tanpa belas kasih meremukkan perasaannya. Kini, batin Gina tersiksa dan terluka sangat dalam, tertusuk duri tajam dari cinta yang begitu menyesakkan dada.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku menahan napas sambil menunggu di bawah selimut. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan Evan melangkah masuk dengan basah kuyup. Dia langsung menuju kamar mandi tanpa menatapku. Beberapa detik setelah itu, terdengar suara gemericik air.

Sekarang, aku benar-benar terjaga. Aku berdiri dan mengenakan daster untuk menutupi gaun tidur sutraku. Setelah itu, aku mengeluarkan piama Evan dan meletakkannya di lemari samping pintu kamar mandi. Kemudian, aku pergi ke balkon.

Saat ini sedang musim hujan dan hujan hari ini diawali oleh gerimis. Sekarang, suara hujan lebat yang menghantam jendela dan dinding yang tertutup bisa terdengar. Aku melihat sebatang pohon bergoyang, seakan sedang menari.

Tiba-tiba, aku mendengar suara di belakangku. Aku berbalik dan melihat Evan berjalan keluar dengan handuk di pinggangnya. Air menetes dari rambutnya ke tubuhnya. Dadanya yang bidang dan perutnya yang berotot tampak berkilau. Dia terlihat seperti dewa. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya.

Evan menyadari bahwa aku sedang menatapnya, lalu dia balas menatapku sambil merengut. "Sini!" Nada suaranya datar, tanpa emosi.

Aku berjalan mendekatinya dengan patuh. Dia melemparkan handuk kecil ke arahku dan memerintahkan dengan suara pelan, "Keringkan rambutku."

Di kamar mandi ada alat pengering rambut, tetapi Evan tidak suka menggunakannya. Dia selalu memintaku untuk mengeringkan rambutnya dan aku sudah terbiasa.

Dia duduk di atas tempat tidur. Aku segera naik ke tempat tidur, berlutut di belakangnya dan mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk.

"Besok pemakaman Kakek, jadi kita harus pergi ke rumah lama lebih awal." Aku tidak berniat untuk memulai percakapan dengannya. Namun, karena Evan hanya memikirkan Lia, aku khawatir dia akan melupakan pemakaman kakeknya jika aku tidak mengingatkannya.

"Baiklah." Dia mengangguk dan kembali terdiam.

Aku memahami petunjuk ini dan berhenti berbicara. Aku hanya melakukan apa yang diminta dan kemudian berbaring di tempat tidur, bersiap untuk terlelap.

Belakangan ini aku merasa sangat mengantuk. Aku menguap dan meringkuk di sisi tempat tidurku. Biasanya Evan akan tinggal di ruang kerjanya sampai tengah malam setelah mandi. Akan tetapi, entah kenapa, dia hanya mengganti piamanya dan berbaring di sampingku.

Saat aku mencoba memikirkan alasannya, tahu-tahu dia menarikku ke dalam pelukannya dan menciumku dengan bergairah.

Aku terengah-engah dan menatapnya bingung. "Evan, aku ...."

"Apa? Apa kamu tidak bersedia?" tanyanya, sepasang matanya yang hitam pekat seperti malam, tampak dingin dan liar.

Aku mengalihkan pandanganku dengan tidak nyaman. Meskipun aku tidak ingin melakukan itu dengannya, aku tidak berhak untuk menolaknya.

"Apa kamu bisa agak lembut?" Bayi kami baru berusia enam minggu. Jika Evan kasar seperti terakhir kali, mungkin dia akan melukai bayi kami.

Evan mengerutkan kening tanpa mengatakan apa-apa.

Detik berikutnya, hujan turun semakin deras. Guntur sesekali melanda, disertai kilat yang menerangi seluruh ruangan. Erangan dan suara tubuh yang saling beradu dengan keras berlangsung cukup lama. Pikiranku begitu kacau balau. Sebelum aku sadar, Evan sudah bangun dan pergi ke kamar mandi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Perut dan bagian pribadiku begitu sakit sehingga aku berkeringat dingin. Aku meraih laci samping tempat tidur untuk mengambil obat penghilang rasa sakit. Namun, aku teringat akan bayi di perutku dan langsung mengurungkan niatku untuk menelan obat.

Tiba-tiba, suara berdengung memecah kesunyian di kamar. Ponsel Evan bergetar di meja samping tempat tidur. Aku menatap jam di dinding dan melihat bahwa sudah pukul sebelas malam.

Tidak ada yang akan menelepon Evan selarut ini kecuali Lia.

Suara gemercik air di kamar mandi segera berhenti. Evan melangkah keluar dengan jubah mandinya, menyeka tangannya, lalu menjawab panggilan itu. Aku berusaha untuk mendengarkan apa yang dikatakan penelepon, tetapi tidak mendengar apa-apa.

"Lia, jangan bertingkah seperti anak kecil," ucap Evan sambil agak cemberut.

Detik berikutnya, dia menghela napas dalam-dalam dan menutup telepon. Dia mengenakan pakaiannya, lalu bersiap untuk pergi seperti yang kerap dia lakukan. Biasanya aku tidak peduli dengan aktivitasnya pada malam hari. Akan tetapi, hari ini ada sesuatu yang mendorongku untuk meraih tangannya dan memohon, "Jangan pergi, bisakah kamu tinggal di sini malam ini?"

Evan mengerutkan kening. Sedetik kemudian, sedikit rasa dingin dan ketidaksenangan muncul di wajahnya yang tampan. "Apa kamu mulai lancang hanya karena kita melakukannya barusan?"

Kata-katanya terdengar dingin dan menyindir.

Pertanyaan itu membuatku tercengang dan untuk sesaat, aku pun merasa lucu. Aku menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi dan berkata, "Besok adalah pemakaman Kakek. Kamu harus ingat bahwa kita harus berangkat lebih awal. Kalaupun kamu sangat mengkhawatirkannya, kamu tahu apa yang harus dilakukan."

"Apa ini ancaman?" Kedua mata Evan menyipit. Tiba-tiba, dia memegang daguku dan menatap mataku. Lalu, dia berkata dengan suara dingin, "Gina Hanavi, kamu menjadi semakin berani."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ibu Susu Bayi Presdir
8.2
Kehidupan Liana berubah total setelah malam misterius lima tahun lalu. Kini, ia terkejut saat menyadari bahwa bos barunya, CEO Ethan Alvaro, merupakan ayah kandung dari putranya, Noel. Meski Ethan tidak mengingat dirinya, rahasia masa lalu perlahan mulai terungkap dan memicu kecurigaan. Liana berupaya menjauh demi melindungi sang anak, tetapi Ethan justru terus mendekat. Akankah kebenaran ini membuat Ethan merebut Noel, atau ia justru menerima Liana kembali?
Sampul Novel Jeritan yang Tak Terdengar
8.4
Sebuah petaka menimpa Yolanda di hari ulang tahunnya sendiri. Sang ayah yang murka menuduhnya telah mendorong sepupunya yang belajar balet hingga mengalami cedera kaki. Tanpa ampun, sang ayah memukuli kaki Yolanda dengan tongkat hingga ia tak berdaya dan tidak sanggup berteriak. Demi memberi pelajaran, tubuh Yolanda yang sekarat dilempar ke dalam ruang bawah tanah yang gelap. Namun, saat pintu itu akhirnya dibuka kembali, sang ayah hanya mendapati jasad putrinya telah hancur dan membusuk.
Sampul Novel Kuhancurkan Harga Dirimu, Galih
8.4
Tujuh tahun kulupakan karier hukum demi mendukung mimpi Galih. Sialnya, dia malah mengabaikanku demi Davina, bahkan abai pada alergi seafood-ku saat sakit. Setelah 52 kali rencana masa depan kami dibatalkan sepihak, aku memilih pergi. Kini, aku bangkit menjadi pengacara sukses yang mandiri. Saat Galih bersujud memohon di depan kantor, aku menolaknya dengan tegas. Waktunya telah tiba bagiku untuk menghancurkan harga dirinya dan memegang kendali penuh atas takdirku sendiri.
Sampul Novel Mencintai Monster yang Kupanggil Suami
9.0
Elara memaksakan pernikahan sepihak dengan Julian, cinta pertamanya, lewat pengaruh besar keluarganya. Tiga tahun berlalu dalam dinginnya kebencian Julian yang merasa terbelenggu. Sadar kasih sayangnya hanya membawa luka, Elara memutuskan mundur dan lenyap tanpa jejak. Kepergian mendadak ini justru menyisakan kekosongan mendalam di hati Julian. Benarkah kebebasan ini yang ia dambakan, ataukah rasa benci yang selama ini ia pelihara sebenarnya adalah cinta?
Sampul Novel Pudarnya Pesona Janji
8.5
Kehidupan Iman berubah total setelah dilamar oleh Haji Junaedi untuk menikahi putrinya, Intan. Rupanya, Intan sudah lama mengagumi Iman sejak mereka masih di bangku SMP. Walaupun jarak usia keduanya terpaut jauh dengan Iman yang lima tahun lebih tua, pernikahan mereka tetap dilangsungkan. Bagaimana kelanjutan biduk rumah tangga Iman setelah menerima lamaran mengejutkan dari sang juragan? Inilah kisah cinta penuh ujian tentang janji yang mulai memudar.
Sampul Novel Scarlet Regret
8.4
Kayshila Putri, mahasiswi beasiswa di Amerika, menjalin persahabatan erat dengan Kylie Abraham, adik dari pria kejam bernama Adrik. Nasib buruk menimpa Kayshila saat ia menemukan Kylie pingsan di sebuah gang. Alih-alih ditolong, ia justru dituduh polisi sebagai pelaku utama. Di tengah perjuangan membuktikan dirinya tak bersalah, Adrik yang menyimpan dendam mulai memburunya. Kini, Kayshila harus menghadapi ancaman Adrik dan mengungkap dalang asli di balik tragedi ini.