APKDock Logo
Sampul Novel Kuhancurkan Harga Dirimu, Galih

Kuhancurkan Harga Dirimu, Galih

8.4 / 10.0
Tujuh tahun kulupakan karier hukum demi mendukung mimpi Galih. Sialnya, dia malah mengabaikanku demi Davina, bahkan abai pada alergi seafood-ku saat sakit. Setelah 52 kali rencana masa depan kami dibatalkan sepihak, aku memilih pergi. Kini, aku bangkit menjadi pengacara sukses yang mandiri. Saat Galih bersujud memohon di depan kantor, aku menolaknya dengan tegas. Waktunya telah tiba bagiku untuk menghancurkan harga dirinya dan memegang kendali penuh atas takdirku sendiri.

Kuhancurkan Harga Dirimu, Galih Bab 1

Demi tunanganku, Galih, aku rela mengorbankan karirku sebagai koki dan menelan ludah saat ia membatalkan rencana restoran kami untuk ke-52 kalinya. Aku menoleransi semua itu, bahkan saat ia lebih mementingkan model "rapuh" bernama Davina.

Namun, saat aku demam tinggi dan sangat membutuhkannya, ia justru mengirimiku sup tom yum udang-makanan favorit Davina.

Dia bahkan tidak ingat aku alergi seafood.

Tujuh tahun pengorbanan terasa sia-sia. Aku membuang kalung pemberiannya, mengundurkan diri dari pekerjaan, dan kembali ke kampung halaman untuk memulai hidup baru sebagai pengacara, identitas asliku yang selama ini kusembunyikan.

Galih yang panik akhirnya menyusulku. Ia bahkan berlutut di depan kantor baruku, melamarku di hadapan semua orang.

Aku menatapnya dingin, lalu dengan suara lantang aku berkata, "Aku tidak akan menikahimu karena kamu membatalkan pernikahan kita 52 kali. Aku tidak akan menikahimu karena kamu melupakan alergi seafood-ku. Dan aku tidak akan menikahimu karena kamu tidak pernah setia."

Aku akan menghancurkan harga dirinya, sama seperti ia menghancurkan hatiku. Mulai sekarang, aku adalah ratu atas takdirku sendiri.

Bab 1

Amira Suwito POV:

Ketika Galih Palgunadi membatalkan rencana pembukaan restoran impian kami untuk yang ke-52 kalinya, aku tahu ada yang tidak beres. Angka lima puluh dua. Itu bukan sekadar angka, itu adalah pengingat betapa seringnya aku menelan ludah dan memaafkan. Setiap kali dia mengatakan 'nanti', hatiku terasa diremas.

Saat itu aku sedang demam tinggi. Tubuhku menggigil hebat, tenggorokanku sakit, dan kepalaku berdenyut-denyut seperti ditusuk jarum. Aku hanya ingin bersandar pada bahu Galih, mencari sedikit kekuatan di tengah kekacauan ini. Restoran yang hampir jadi, impian kami berdua, kini terasa seperti beban yang menghimpitku sendirian.

"Aku butuh kamu, Galih," kataku lirih di telepon, suaraku serak dan parau. "Aku tidak enak badan. Kita bisa menunda ini, kan?" Jeda di ujung sana terasa seperti jurang yang menganga, menelan habis sisa harapanku. "Davina butuh aku, Mir," jawabnya, suaranya terdengar jauh dan terburu-buru. "Dia baru saja pingsan di lokasi syuting. Kamu tahu dia rapuh." Aku merasa seperti tidak pernah ada di daftar prioritasnya.

Aku melihat ke sekeliling, pada dinding-dinding bata ekspos yang baru saja kami pasang dengan susah payah. Aku menatap meja-meja kayu jati yang terukir indah, hasil pilihanku sendiri. Ini adalah tempat kami, atau setidaknya, aku berpikir begitu. Tapi kini, bayangan Davina Arsyad, model pendatang baru yang selalu diklaim 'rapuh' oleh Galih, menguasai ruang ini. Keberadaannya terasa lebih nyata daripada keberadaanku sendiri.

Ayah dan Ibu menelepon, nada suara Ibu dipenuhi kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. "Amira, kamu baik-baik saja, Nak?" Suara Ibu terdengar lembut tapi tegang. "Ayah dengar Galih lagi sibuk sama model itu lagi." Aku hanya bisa mengangguk, padahal mereka tidak bisa melihatku. Air mata mulai menetes, bukan karena sakit fisik yang kurasakan, tapi karena luka yang jauh lebih dalam, mengoyak-ngoyak batinku.

Selama tujuh tahun ini, aku telah mengorbankan segalanya untuk Galih. Karier koki yang cemerlang, mimpi-mimpi pribadiku yang begitu berharga, semua kukesampingkan demi mendukungnya. Aku merancang menu restoran kami, membantunya mencari investor, bahkan membersihkan studio fotografinya saat ia lelah dan tak berdaya. Tapi siapa yang melihat itu? Siapa yang menghargai semua itu? Tidak ada.

Puncak kekesalan itu terjadi hari ini. Aku berada di lokasi restoran, mengecek pemasangan lampu gantung terakhir. Tanganku gemetar saat menggenggam getaran ponsel di sakuku. Galih. Dia membatalkan proyek ini lagi. "Davina pingsan, Mir. Aku harus membawanya ke rumah sakit," katanya terburu-buru, tanpa memberiku kesempatan sedikit pun untuk bicara atau membalas.

"Tapi... aku di sini, Galih. Sendirian," suaraku bergetar, hampir tidak terdengar. "Ini hari penting, kita harus memastikan semuanya beres!" Aku mencoba menjelaskan, berharap ia mengerti. "Davina lebih butuh aku," ulangnya, seolah itu adalah mantra ajaib yang bisa membenarkan segalanya. Tidak ada penjelasan lain, tidak ada permintaan maaf tulus. Hanya Davina. Selalu Davina.

"Aku janji, setelah Davina pulih, kita akan menyelesaikan ini. Kita akan menikah, Mir. Aku akan menebus semuanya," katanya, suaranya kini terdengar lebih halus, seperti madu yang terlalu kental dan lengket. Aku mendengarnya, tapi kata-katanya terasa hampa, menguap begitu saja. Pernikahan? Restoran? Hanya janji manis belaka yang tak pernah terwujud.

Sebelum aku bisa membalas, telepon sudah terputus. Sambungan mati. Dia pergi. Meninggalkanku sendirian di antara puing-puing impian kami yang baru saja kubangun dengan kedua tanganku.

Ini bukan pertama kalinya. Ingat angka 52? Itu bukan sekadar kebetulan. Ini adalah pola yang berulang, sebuah siklus penghancuran yang terus terjadi, dan aku, dengan bodohnya, selalu menunggu di ujungnya, berharap kali ini akan berbeda, berharap dia akan berubah.

Aku mengepalkan tangan kuat-kuat. Keringat membanjiri dahiku, bukan hanya karena demam, tapi juga amarah yang kini mulai membakar seluruh relung hatiku. Aku tidak menangis, tidak menjerit. Hanya sebuah dingin yang menusuk, menembus tulang-tulangku. Ini bukan aku. Aku tidak pernah sesabar ini.

Saat Galih kembali ke rumah malam itu, ia terlihat sangat lelah. "Maaf, Mir," katanya sambil membelai rambutku, seolah itu bisa menghapus segalanya. Aku memaksakan senyum tipis. "Tidak apa-apa," jawabku, suaraku datar dan hampa. Aku menatapnya, mencoba mencari tahu, apakah ada sedikit penyesalan di matanya. Aku tidak menemukan apa pun.

Dia terkejut. "Kamu tidak marah?" tanyanya, alisnya terangkat, seolah aku adalah teka-teki yang sulit dipecahkan. Aku hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. Apa gunanya marah? Bukankah itu hanya akan menjadi salahku lagi?

"Aku tahu kamu sakit," katanya sambil menyerahkan sebuah kotak bekal berwarna biru. "Aku bawakan makanan favoritmu. Sup tom yum udang." Aku menatap kotak itu. Aroma pedas dan asam langsung menyeruak, menusuk hidungku. Makanan favoritku?

"Terima kasih," kataku singkat, tidak menatapnya, menghindari tatapannya. Hatiku terasa kosong, hampa tak berujung.

Setelah Galih kembali sibuk dengan ponselnya, seolah aku tidak ada, aku menatap sup di tanganku. Senyum pahit merekah di bibirku. Ini bukan makanan favoritku. Aku alergi seafood. Makanan ini... Makanan ini adalah favorit Davina. Kebohongan kecil yang menyakitkan. Dia bahkan tidak ingat hal sesederhana itu.

Sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk hati. Hadiah Galih saat kami merayakan ulang tahun pertama kami. Dulu, setiap melihatnya, hatiku berdesir, dipenuhi kebahagiaan. Kini, kalung itu terasa seperti rantai yang membelenggu, mencekik leherku. Pengingat akan janji-janji kosong dan pengorbanan yang tak dihargai.

Aku mencengkeram kalung itu kuat-kuat. Dingin dan berat di telapak tanganku. Tidak ada lagi kehangatan yang terpancar dari sana. Hanya beban yang teramat sangat.

Aku bangkit, berjalan ke tempat sampah di dapur, dan melemparkan kalung itu ke sana. Suara dentingan logam beradu dengan plastik. Bersamaan dengan suara itu, sesuatu dalam diriku ikut hancur dan mati.

Cukup. Tujuh tahun. Cukup. Semuanya berakhir sekarang.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Kuhancurkan Harga Dirimu, Galih

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Cinta tulusku pada Bima Wijoyo berakhir tragis saat ia membiarkanku terpanggang di studio seni yang terbakar demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Aku terbangun di masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga berlangsung. Dengan memori kelam tentang kobaran api dan pengkhianatan mereka, kini aku berdiri kokoh untuk membatalkan pertunangan kami. Aku bersumpah tidak akan membiarkan diriku hancur untuk kedua kalinya.
Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai dari Laurence Andrews untuk ke-99 kalinya. Bukannya peduli, Laurence malah mengusir Josie dari mobil demi menerima telepon dari sang mantan, Rosalie Harris. Laurence terus meremehkan Josie dan yakin istrinya tidak akan pernah pergi. Namun, ia tidak sadar bahwa kesabaran Josie telah habis akibat terus diabaikan. Di saat yang sama, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie agar segera bercerai dan pergi dari negara itu selamanya.
Sampul Novel Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
8.7
Demi menyelamatkan Adrian dari ledakan, punggungku hancur terbakar. Empat tahun aku merawatnya saat koma, tetapi setelah sadar, ia malah menyatakan cinta pada Stella di depan publik. Mereka menghinaku, bahkan Adrian menuduhku berbohong saat diserang preman. Baginya, aku hanya beban. Puncaknya, ia membuangku di jalan tol saat hari pernikahan demi Stella. Kini, aku memilih pergi meninggalkan segalanya dan menuju bandara.
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Dunia dokterku hancur saat merawat Evelyn Santoso, pasien VIP yang menangisi tunangannya. Pria di foto itu adalah Bima, suamiku, yang ternyata bernama asli Brama Wijaya, seorang taipan kejam. Saat Brama datang, ia sama sekali tidak mengenaliku. Ia memeluk Evelyn dan membisikkan janji manis yang dulu sering ia katakan padaku. Melalui tatapan matanya yang sangat dingin, Brama menegaskan bahwa pernikahan kami hanyalah sebuah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Demi kesembuhan kekasih Anthony Smith, Alicia Huang rela menjadi donor sumsum tulang belakang. Namun, ia mengajukan syarat agar Anthony bersedia menikahinya. Anthony pun sepakat dengan satu tuntutan mutlak: pernikahan mereka harus dirahasiakan rapat-rapat dari publik. Kini, Alicia menjalani hari-harinya sebagai istri yang tersembunyi layaknya seorang simpanan. Akankah pernikahan kontrak ini menumbuhkan cinta tulus, atau justru berujung luka mendalam bagi mereka?
Sampul Novel Kekasihku Meninggalkanku di Hari Pernikahan
8.0
Hari pernikahan Cherish hancur seketika saat Diego pergi begitu saja setelah menerima sebuah telepon. Kejadian itu membuat nenek Cherish murka hingga muntah darah dan akhirnya meninggal di rumah sakit tanpa ada yang membantu. Di tengah kedukaan di kamar mayat, Diego justru menghubungi Cherish untuk meminta donor darah bagi Zoey yang terluka. Dengan tegas, Cherish mengakhiri hubungan mereka dan pergi. Kini, Diego bersujud di bawah guyuran hujan, memohon kesempatan kedua dan rela memberikan segalanya demi Cherish kembali.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan