
PUTRI YANG TERTUKAR
Bab 2
Ana menunduk dalam-dalam saat pangeran itu mendekat. Sial, justru langkah pria bertubuh tinggi besar itu berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka hanya beberapa jengkal. Ana bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya yang beraroma mint campur rosemary. Aneh, katanya wangi nafasnya bau bawang putih dan telur busuk. Tapi aroma nafasnya harum. Apalagi … ciumannya.
Beberapa detik Ana mengusik pikiran itu.
“Angkat wajahmu,” suaranya dalam dan dingin.
Ana mendongak—hanya setengah. Sungguh, mendadak ia diserbu rasa takut bercampur gugup yang tinggi. Ada banyak ketakutan yang menyelimuti dirinya. Bagaimana kalau ia ketahuan bukan Putri Clarissa? Mungkin jasadnya akan berakhir di balairung eksekusi kerajaan.
Pangeran Leonhart menatap gadis itu seperti ingin menyelami isi kepalanya. “Lebih tinggi.”
Dengan ragu, Ana menengadah, menatap matanya. Seketika keheningan turun. Ana bisa melihat jelas tatapan gelap milik pangeran itu. Manik matanya berwarna hitam pekat seperti batu obsidian. Indah namun terlihat seperti penuh luka.
“Buka veil itu!” kata Pangeran Leonhart dengan suara tegas.
Ana meremat gaunnya. Memberanikan diri, ia menjawab dengan sopan meski tak bisa menutupi rasa gugup sepenuhnya. “Sesuai adat, wajahku hanya akan kau lihat sepenuhnya di hari pernikahan nanti, Tuanku…” suaranya lembut meniru logat Putri Clarissa.
“Apa kau mungkin bukan Putri Clarissa,” bisik Leonhart pelan tapi menusuk.
Ana menahan nafas. Peluh sudah membanjiri tubuhnya. “Saya… saya—”
“Terlalu gugup,” lanjut sang pangeran, suaranya sedikit menurun nadanya.
Ana membeku. Pangeran itu mengitarinya perlahan.
“Tapi mungkin itu lebih baik. Karena aku juga bukan seperti yang mereka ceritakan.” Ia mendekat, dan membisik di telinga Ana. “Mungkin kita berdua… sedang berpura-pura jadi orang lain.”
Lalu ia berjalan pergi, meninggalkan Ana yang mematung dengan jantung berdentum.
Pangeran Leonhart berjalan menghampiri Raja Alric dan Ratu Seraphina yang duduk di singgasana bertepatan lantunan lembut suara lute berhenti.
Ia menghentikan langkah kakinya beberapa meter dari singgasana. Ia membungkuk dalam dengan satu tangan di dada dan mata menunduk. “Yang Mulia Raja Alric, Yang Mulia Ratu Seraphina, dengan segala hormat, hamba datang sebagai utusan kerajaan Ravensel, membawa ikatan janji dan itikad baik dari keluarga kami.”
Tak lama kemudian dua pengawal kehormatan mengangsurkan seserahan ke hadapan mereka.
Pangeran Leonhart berkata dengan suara dingin dan penuh kharismatik. “Sebagai lambang penghormatan dan permintaan restu, izinkan hamba mempersembahkan tanda ikatan ini,” imbuhnya kemudian membuka salah satu kotak seserahan berisi gulungan perkamen.
Raja Alric menatapnya dalam dengan perasaan yang berkecamuk sedangkan Ratu Seraphina berusaha tersenyum menyembunyikan kegelisahan hatinya. Secara resmi mereka menerima lamaran Pangeran Leonhart untuk Putri Clarissa.
Tak berselang lama, prosesi tunangan pun selesai.
Penasihat istana berkata dengan suara yang nyaring. “Dengan ini, pertunangan resmi antara Pangeran Leonhart dan Putri Clarissa telah ditetapkan. Sumpah telah diucapkan di hadapan mahkota dan para bangsawan.”
Gemuruh tepuk tangan sopan menggema di udara. Raja Alric diam tanpa banyak kata. Sementara itu Ratu Seraphina melirik ke arah koki istana yang menggantikan putrinya. Tatapannya rumit, tak bisa ditebak.
Ratu Seraphina berkata lirih, dingin. “Kau hanya pion, gadis kecil! Semoga kau bisa menjalankan peranmu dengan baik.”
Sisi lain, Ana merasa sedang menggali kuburannya sendiri. Tatapan tajam Pangeran Leonhart terpacak padanya.
.
.
.
Acara pesta telah usai, untuk beberapa saat Ana merasa lega. Ia pun langsung bersiap-siap akan pergi menuju tempatnya berasal, dapur istana. Ia sudah melepaskan atributnya sebagai Putri Clarissa. Dengan langkah mendugas ia berjalan menuju lorong ke dapur istana.
Sebelum keinginannya terwujud, Madam Mia memanggilnya. “Ana Merwin, siapa yang menyuruhmu pulang?”
Ana berhenti, menoleh ke arah kepala pelayan itu dengan tatapan ingin tahu. “Madam, bukankah tugasku sudah selesai?” katanya dengan hati-hati. Ia memilin jadi jemarinya karena dilanda gugup. Bagaimanapun, Madam Mia adalah salah satu orang kepercayaan Ratu Seraphina. Oleh karena itu ia harus bersikap waspada dan berhati-hati terhadapnya.
Wanita itu menatap lurus Ana lalu mendesah pelan. “Ratu Seraphina ingin bicara. Ayo!”
Dengan langkah tertatih-tatih, ia mengikuti langkah Madam Mia menuju ruang tamu istana yang megah. Kini istana sudah sepi setelah acara pesta.
Tepat kaki Ana mendarat di atas lantai marmer mewah ruang tamu, terdengar percakapan yang masih berlangsung di antara Ratu Seraphina dan orang kepercayaan sang raja.
“Itu keputusan sembrono, Yang Mulia,” suara itu milik Penasehat Duke Arvin, si tua berambut abu yang terkenal bijak namun keras.
“Ia bukan Putri Clarissa! Jika identitasnya terbongkar sebelum pernikahan, kita bisa menghadapi perang diplomatik!”
Ana menahan nafas. Jantungnya berdegup. Ia mendekat, bersembunyi di balik tiang marmer tinggi, mendengarkan. Madam Mia sudah pergi meninggalkannya begitu saja.
“Justru karena itu kita tak bisa mundur sekarang,” tukas Ratu Seraphina dengan tenang, namun nadanya mengandung baja. “Gadis itu telah melakukan perannya lebih baik dari Clarissa sendiri. Ia bisa menundukkan Leonhart tanpa paksaan. Kita hanya perlu waktu… sampai pesta pernikahan.”
“Dan setelahnya? Bagaimana jika Ravensel menuntut darah kerajaan yang asli?” sergah Duke Arvin, memperingati sang Ratu. Ia mengatur rencana calon pengantin pengganti itu berdasarkan ide dari Ratu Seraphina karena keterpaksaan.
Ratu Seraphina terkekeh pelan dengan bersedekap tangan di dada. “Tidak mungkin! Dia bukan putra mahkota. Dia hanya pangeran biasa di kerajaan Ravensel. Sedangkan Clarissa … akan aku persiapkan untuk menikah dengan putra mahkota, Raja pewaris Kerajaan Ravensel.”
Ana merasa darahnya membeku. Ia bukan sekadar pengganti—ia adalah alat, bidak dalam permainan politik kerajaan. Tapi lebih mengejutkan lagi adalah Ratu sendiri yang mengaturnya.
“Dia hanya gadis biasa, Yang Mulia,” tukas Duke Arvin merasa bersalah. Bukan tanpa alasan, ia mendengar dari informan, kalau pangeran Leonhart telah membakar sepupunya karena menolak permintaannya.
Ia mengira sandiwara itu hanya berlangsung sampai acara pertunangan saja. Putri Clarissa kabur dari istana karena menolak mentah-mentah pertunangan politik itu. Ternyata, Ana Merwin akan ditumbalkan demi kepentingan kerajaan.
Duke Arvin kembali menyuarakan isi hatinya. “Saya sedikit khawatir jika Pangeran Leonhart akan mengeksekusinya. Anda tidak boleh meremehkan pria itu. Dia kejam sekali,”
Ratu Seraphina menatap tajam pria tua itu. Aura dingin begitu terasa, menguar dari tubuhnya. “Kau peduli pada pelayan istana? Dia hanya seorang koki dapur.”
Deg,
Duke Arvin menelan salivanya. “Hamba tidak bermaksud lancang, Yang Mulia,” katanya dengan membungkukan badannya.
“Sekarang, dia harapan terakhir,” jawab sang Ratu, lalu menoleh, mendapati sosok gadis dalam seragam pelayan istana—yang mematung kaki di belakangnya. “Dari tadi kau di sana?”
Sontak, Ana langsung mendongak, menatap Ratu yang terlihat anggun dalam gaun mewahnya.
“Ampun, Yang Mulia, hamba tidak bermaksud menguping,” kata Ana dengan membungkuk hormat, bergegas menundukan tatapannya. Keringat dingin sudah menetes di pelipisnya.
Ratu Seraphina menatap Ana Merwin dari dekat. Namun saat mata mereka bertemu, dunia seolah membeku. Nafasnya tercekat.
Ratu Seraphina mundur setapak, wajahnya memucat. Gadis itu mirip seseorang yang ia kenal! Matanya mirip sekali dengan mata pria yang dulu singgah di hatinya ...
Anda Mungkin Juga Suka





