
Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!
Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai! Bab 1
Aku memilih mati dengan cara paling tragis setelah tahu lima kali keguguranku bukan karena tubuhku lemah, melainkan ulah suamiku yang menolak memberiku anaknya. Bangkit dari kematian, aku bersumpah: aku akan pergi darinya — namun ternyata dia masih menghantuiku dengan janin miliknya yang tumbuh didalam diriku .
1. Ayo Bercerai , Duke!
"Nyonya!" "Nyonya!"
Teriakan terdengar dari bawah. Semua orang melihat ke arah menara tertinggi kastil, tempat seorang wanita dengan gaun putih penuh darah berdiri di tepi.
Selene Moreau Leventis.
Duchess Leventis. Wanita yang biasanya tenang dan penurut itu kini berdiri di tempat yang paling berbahaya. Para penjaga di belakangnya bergerak hati-hati, takut salah langkah akan membuatnya benar-benar melompat.
Tangisnya pecah, jelas dan memilukan. Selene memegang perutnya yang sakit. Ia baru saja keguguran untuk kelima kalinya. Kali ini ia tahu kebenarannya: semua itu bukan karena penyakit atau kelemahan tubuhnya, tapi karena ulah suaminya sendiri yang tidak menginginkan dia melahirkan keturunan.
"Selene!" suara berat memanggil dari belakang. Dirian, sang Duke, suaminya.
Selene mendengar tapi enggan menoleh. Kecewa sudah terlalu dalam.
"Apa ini trik lain untuk menarik perhatianku?" tanya Dirian dingin. Ia memang tidak suka dibuat repot. Selene tahu, pria itu datang hanya karena tidak tahan mendengar bisik-bisik orang soal istrinya yang berdiri di puncak menara.
Selene tersenyum miris. Suaranya serak saat ia menjawab, "Bukankah kau seharusnya meminta maaf?" Pandangannya jatuh pada seorang wanita cantik yang berdiri di antara para pelayan. Wanita yang rapi, berbeda jauh dari dirinya yang berantakan. Wanita itu dicintai Dirian, wanita yang bahkan tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan dirinya dimata Dirian
"Apa kau gila?" Dirian membalas, nadanya meremehkan.
Selene berbalik menatapnya. Mata suaminya merah, tapi tetap dingin.
"Ya, aku memang gila! Aku gila karena mencintaimu, padahal kaulah yang membunuh lima anakmu sendiri!" teriak Selene.
Semua pengawal terkejut. Dirian pun terdiam sesaat.
"Selene, jangan bicara omong kosong," ucapnya, mencoba menahan kendali.
Selene tertawa getir. Darah terus merembes membasahi gaunnya.
"Pernahkah kau mencintaiku?" tanyanya dengan tatapan penuh harap.
Dirian diam. Lalu ia mengalihkan pandangan
"Tidak pernah " Selene menjawab sendiri karena reaksi Dirian
Kata dari mulutnya sendiri menghantam Selene. Ia menarik napas gemetar.
"Hentikan semua ini dan turun. Kau butuh istirahat," kata Dirian.
"Jangan pura-pura peduli!" bentak Selene. Air matanya jatuh. "Mengapa tidak membunuhku saja, daripada membunuh semua janin yang tidak berdosa itu?"
"Selene, berhenti! Turun sekarang!" Dirian berteriak memberi perintah.
"Aku akan melompat dan mati lalu bertemu dengan anak-anakku untuk meminta maaf karena tidak mampu melindungi mereka dari ayah mereka sendiri!" balas Selene lagi.
"Jangan gila, Selene! Kau tidak boleh mati!" seru Dirian, gelisah. Langkah mundur Selene membuatnya semakin rentan di tepi menara.
Selene justru tersenyum. "Demi anak-anakku yang kau bunuh, aku bersumpah! Kau akan membayar semuanya! Aku akan menghantuimu seumur hidup dengan penyesalan dan penderitaan tanpa akhir!"
Ia lalu melompat.
"Selene!" Dirian menjerit, berlari ke tepi menara bersama para pengawal. Tapi mereka terlambat. Tubuh Selene meluncur cepat dan menghantam tanah.
Brak
Suara seluruh tulang yang dihancurkan dan darah yang menggenang disana .
Matanya masih terbuka, sempat melihat wajah Dirian yang kacau melihat tubuhnya di bawah.
Teriakan pelayan dan orang-orang pecah memenuhi udara malam. Langit gelap tanpa bintang malam itu menjadi saksi tragedi yang menimpa Duchess Leventis.
.
.
"Selene!"
Selene tersentak, matanya terbuka lebar. Napasnya pendek, seperti orang yang baru saja diselamatkan dari tenggelam. Di depannya berdiri Dirian Leventis, suaminya. Wajahnya tenang, dingin, matanya tajam. Di belakangnya ada dokter dan pelayan, bau obat memenuhi ruangan. Semua terasa nyata, seperti panggung yang sama ketika hidupnya berakhir dulu.
Dia menoleh ke samping. Jam di meja kecil berdetak. Hari dan tahun yang tertera menunjukkan dua tahun sebelum ia mati. Angin malam masuk lewat jendela yang terbuka sedikit, membawa aroma yang sama dengan saat ia terjatuh dari menara. Ingatan itu kembali: tubuhnya menghantam tanah, sakit yang luar biasa, lalu gelap. Ia meraba perutnya, mencari bekas luka. Tangannya berbalut kasa, hangat, berdarah. Ia bingung — pernah mati, tapi sekarang hidup lagi.
"Nyonya Duchess, tangan anda berdarah. Saya akan memasang infus," kata dokter cepat. Selene menatap gerakannya dengan kaku, masih tidak percaya.
Dirian berkata, suaranya terdengar jengkel. "Jangan mempersulit dokter."
Selene menarik napas panjang. Kepalanya penuh dengan bayangan jasadnya, jeritan orang-orang, dan terutama lima janin yang tidak pernah lahir. Semua itu menghantam dirinya sekaligus.
Ia menoleh pada Dirian. Suaranya pelan tapi jelas.
"Dirian."
Suaminya menatap. "Apa?"
Selene menatap lurus ke matanya.
"Ayo bercerai."
2. Rahasia gelap dibalik keguguran Selene
Wajah Dirian berubah drastis ketika kata itu keluar dari bibir Selene—kata yang mempermalukannya di hadapan dokter dan pelayan. Ruangan seketika hening; dokter berhenti menggulung plester, pelayan menahan napas, bahkan detak jam terasa tertahan oleh ketegangan.
Dirian menatap istrinya dengan mata menyala. Wajah yang biasanya dingin memerah karena malu dan marah. Suaranya sempat tercekat saat berkata,
“Kau… apa?” lalu berubah menjadi cercaan.
Selene menatap tegak, suaranya tenang namun tegas. “Ayo bercerai.”
Kata itu seperti tamparan. Semua yang hadir kaget. Dirian terdiam sebentar, seolah tak percaya perempuan yang selama ini tampak mencintainya begitu tiba-tiba berkata sekejam itu.
Ia lalu menyeringai sinis. “Jangan bercanda, Selene. Candaanmu tidak lucu.”
Tapi Selene tak mundur. Di dadanya ada api yang tak lagi bisa dipadamkan—bukan sekadar amarah sesaat, melainkan pembebasan yang dirajut oleh dua tahun hidup yang baginya seperti kematian. Ia tahu tatapan acuh Dirian, tahu desas-desus yang akan beredar di dalam rumah, bahkan tahu wajah wanita yang akan menghancurkan rumah tangganya. Semua itu sudah pernah ia alami di kehidupan yang lalu; kini ia memilih tak diam.
Tubuhnya masih lemah akibat keguguran, namun ia menegakkan badan.
Dokter ragu berkata, “Nyonya, hati-hati. Anda baru saja keguguran.” Selene menatap dingin, sudah siap menanggapi serangan yang selalu diarahkan padanya—narasi tentang rahim yang ‘bermasalah’.
“Aku tahu,” jawabnya datar. Lalu menatap Dirian: “Tidak ada yang pantas kau pertahankan dari istri yang tak bisa memberimu keturunan. Ceraikan aku. Sekarang.”
Dirian menegang. Sekilas ada kilasan perasaan di matanya—mungkin bersalah, mungkin jengkel—lalu ia menutupnya dengan ejekan
“Rupanya bukan hanya rahimmu yang bermasalah, tapi juga otakmu.” Kata itu menusuk. Beberapa pelayan menutup mulut, terkejut; bagi Selene, hinaan bukan hal baru, namun tetap menyakitkan.
“Aku perintahkan periksa dia dengan benar,” ujar Dirian dingin kepada dokter. “Setelah itu kurung dia. Jangan sampai dia menggila karena keguguran.”
Selene mengepalkan tangan, menahan diri. “Dirian, aku serius!” teriaknya.
Dirian membalas, “Kau gila, Selene!” Suara itu menggema sampai ke sudut ruangan, membuat semua orang membeku.
Bisik-bisik berhamburan, ada yang iba, ada yang tak percaya, bahkan ada yang diam-diam puas. Dirian memberi isyarat agar semua orang keluar.
“Istirahatlah. Kau butuh pemulihan,” katanya lalu menambahkan sinis, “Bukan hanya kau yang berduka—aku juga.” Bagi Selene, itu hanya kebohongan lainnya.
Sendiri di kamar dengan dua pelayan setia yang dimintanya pergi, Selene melihat dari jendela kereta keluarga Leventis pergi—Dirian yang menuju Viviene Moreau.
Nama itu menusuk: Viviene, sepupunya yang pernah kabur sebelum pernikahan lalu kembali untuk merebut apa yang menjadi miliknya. Ingatan dua tahun itu muncul jelas—malam ketika ia lemah dan mendengar Dirian di ruang kerja berkata dingin
“Aku sudah melakukannya lagi. Dia keguguran.” Suaranya dingin, datar. Seolah yang ia bicarakan hanyalah barang rusak. Lalu terdengar tawa pelan.
Suara seorang wanita. Viviene. “Kau benar-benar tega, Dirian. Tapi itu pilihan tepat. Bayangkan saja kalau Selene berhasil melahirkan anakmu. Kau akan terikat padanya selamanya.”
Dirian mendesah. “Aku tidak pernah mencintainya. Dari awal, aku hanya menginginkanmu. Selene hanyalah pengganti. Sebuah kewajiban karena kau kabur sebelum pernikahan.”
Jantung Selene berhenti berdetak sejenak.
Viviene terkekeh, manja. “Kau masih marah soal itu? Bukankah akhirnya aku kembali padamu?”
“Ya,” jawab Dirian cepat, hampir tak sabar.
“Kau kembali, dan itu cukup. Selene tak ada artinya bagiku. Selama dia di sisiku, aku akan memastikan dia tidak pernah memberiku keturunan. Aku tidak ingin satu pun jejaknya ada dalam darahku.”
Air mata mengalir deras malam itu, panas dan menyakitkan. Selene menutup mulutnya agar tidak berteriak. Sejak malam itu, ia tahu semua penderitaannya bukan takdir. Semua keguguran itu adalah perbuatan Dirian.
Dulu ia menangis sampai napas tersengal. Kini airmata itu telah kering. Yang tersisa adalah api di dada: dendam, tekad, dan kebencian yang dingin. Selene memejam, merasakan gejolak emosi. Lalu, dengan suara pelan namun pasti, ia berbisik kepada dirinya sendiri,
“Tidak lagi. Aku tak akan jadi wanita bodoh yang sama. Aku akan menghancurkan semua ini sebelum mereka menghancurkanku.”
3. Aku Harus Bercerai
Dari luar, suara derap kuda semakin menjauh. Dari dalam, Selene berdiri tegak di kamarnya, seolah baru saja memakukan tekadnya pada dinding hatinya sendiri.
Mulai hari ini, pernikahannya bukan lagi penjara—melainkan medan perang.
Ia menjatuhkan diri ke atas ranjang yang dingin. Bibirnya bergetar, suara nyaris hanya berupa bisikan.
“...Sebenarnya apa salahku?”
Lima tahun ia hidup sebagai istri Duke Leventis. Lima tahun penuh usaha yang ia curahkan demi perannya sebagai Duchess. Ia tidak pernah bermalas-malasan; ia belajar, mengatur, menyiapkan, melayani.
Ia memastikan segala kebutuhan suaminya terpenuhi—dari makanan hingga pekerjaan wilayah. Semua ia lakukan demi satu hal: pengakuan. Namun balasannya? Tatapan kosong. Kata-kata dingin. Dan yang paling kejam, setiap janin yang ia kandung… direnggut dengan tangan suaminya sendiri.
Dirian tidak hanya menolaknya sebagai seorang istri—ia menghancurkan kesempatan Selene untuk menjadi seorang ibu.
Selene menggenggam seprai hingga kusut. Hatunya yang dulu lembut kini terasa keras seperti batu. Dulu ia bisa menipu dirinya sendiri, berpikir cinta akan memperbaiki segalanya. Tapi setelah kematian—dan kebangkitannya kembali—ia sadar, cinta itu hanya ilusi.
Semua kebohongan Dirian terbuka. Dan semua itu berujung pada satu nama: Viviene.
Sepupunya. Saudara tirinya. Wanita yang kabur sebelum pernikahannya dengan Dirian, lalu kembali setahun lalu dan merebut segalanya di depan mata Selene.
Selene menutup mata, napasnya tercekat. Ia masih bisa mengingat jelas: pulang dari makam ibunya, hanya untuk memergoki Viviene keluar dari ruang kerja Dirian dengan tubuh terbungkus kemeja suaminya. Dan betapa bodohnya Selene—ia percaya begitu saja alasan konyol bahwa gaun Viviene kotor dan butuh diganti.
Sekarang, semua potongan itu membentuk gambaran utuh: mereka bukan sekadar “teman masa kecil”. Mereka kekasih. Mereka berkhianat.
Ingatan itu menoreh luka demi luka. Dan akhirnya, di tengah kepedihan itu, Selene menarik napas panjang.
“Aku harus bercerai.”
Tangannya meraih sebuah laci, menarik keluar dokumen-dokumen warisan ibunya.
Sebidang tanah kecil di luar wilayah kekaisaran. Satu-satunya jalan keluar. Ia tidak bisa kembali ke rumah Count—ayahnya telah menikah dengan ibu Viviene, dan sejak itu Selene hanya jadi bayangan. Semua kemewahan jatuh ke tangan Viviene, bahkan calon suami yang seharusnya milik Selene.
Ia meremas dokumen itu di dada. Aku harus pergi.
Namun langkahnya terhenti ketika suara derap kuda terdengar lagi dari luar. Kereta berhenti di halaman depan. Ia tahu persis siapa yang datang.
Pintu kamarnya terbuka lebar. Dirian masuk dengan aura dingin khasnya. Dan di sampingnya—Viviene.
Selene merasakan mual yang pahit naik ke kerongkongan.
“Selene,” suara lembut itu terdengar. Viviene melangkah masuk dengan wajah penuh pura-pura prihatin. Ia meraih tangan Selene, seolah menunjukkan kasih sayang. “Aku dengar kau keguguran… aku harap kau baik-baik saja.”
Selene langsung menarik tangannya. Pandangannya menusuk seperti pisau. “Aku baik-baik saja.”
Sekejap, wajah Viviene kaku. Tak menyangka Selene tak menelan drama murahannya.
“Selene, jangan begitu—”
“Kau tidak perlu datang,” potong Selene dingin. “Aku tidak butuh simpati darimu.”
Dirian melangkah maju, suara beratnya terdengar seperti perintah.
“Selene. Viviene sudah berbaik hati menjengukmu. Kau malah bersikap seperti ini?”
Selene menoleh, matanya menatap suaminya lurus tanpa gentar.
“Kalau begitu ceraikan aku.”
Ruangan itu membeku. Dua pelayan setianya, Mona dan Daisy, menunduk semakin dalam, seolah takut badai akan segera pecah.
“Selene,” suara Dirian berubah tajam, penuh ancaman. “Hentikan omong kosong ini.”
Selene tersenyum tipis, getir. “Aku sudah cukup melihatmu. Jadi silakan keluar.”
“Selene!” Nada Dirian meninggi. Tapi sebelum ia bisa melanjutkan, Viviene cepat-cepat menyela dengan suara lembut yang dibuat-buat.
“Duke, jangan marah… ini salahku. Seharusnya aku tidak datang. Suasana hati Selene memang buruk setelah kehilangan anak…”
Selene tidak menoleh. Baginya, semua itu hanyalah sandiwara murahan.
Dirian mendengus, lalu menatap Viviene. “Dia tidak layak mendapatkan perhatianmu. Ayo pergi.”
Pintu tertutup. Ruangan kembali sunyi.
Namun di luar, langkah Dirian terhenti ketika Viviene menggenggam lengannya.
“Kau dengar tadi, bukan?” bisiknya dengan mata berbinar. “Dia ingin bercerai. Bukankah itu kesempatan bagus untuk kita?”
Dirian menatapnya, wajahnya tetap dingin. “Dia baru saja keguguran. Ucapannya ngelantur.”
4. Mengapa tidak menceraikan aku ?
Baru keguguran?
Ngelantur?
Viviene tertegun, wajahnya menegang menahan tidak suka. Dirian melepaskan tangannya begitu saja lalu pergi tanpa menoleh.
Diam di tempat, Viviene menyipitkan mata. Bibirnya melengkung menahan amarah, namun senyum samar perlahan muncul. Jika Selene serius dengan ucapannya tadi, bukankah peluangnya menjadi Duchess semakin besar?
“Duchess Leventis...” bisiknya, mencicipi gelar itu. Senyum licik merekah, lalu ia terkekeh pelan sambil mengikuti langkah Dirian.
.
.
Fajar menyingsing. Cahaya keemasan menembus kaca kastil, namun tak mampu menghangatkan dinding batu yang beku oleh rahasia.
Selene melangkah di lorong sunyi. Gaunnya berdesir pelan, wajahnya pucat tapi tatapannya tetap jernih. Ia baru hendak berbalik ketika sebuah pintu terbuka—pintu kamar Dirian.
Dari sana, Viviene keluar dengan senyum puas, rambut pirangnya berkilau disinari pagi. Sesaat kemudian, Dirian menyusul dengan wajah datar, seolah semua itu hanyalah kebiasaan biasa.
“Selene!” panggil Viviene lantang.
Selene menoleh. Senyum tipis menghiasi bibirnya—dingin, tak terbaca. Ia hanya menatap Dirian sejenak, lalu melangkah pergi tanpa sepatah kata.
Viviene panik. “A-aku hanya membangunkan Duke. Semalam aku… menginap di ruang tamu—”
“Tidak masalah,” potong Selene datar, seperti bilah baja.
Dirian mengernyit, Viviene gelisah. Namun Selene terus berjalan tegak, membuat para pelayan menunduk hormat—seolah hanya dirinya nyonya sejati kastil itu.
“Apa ini?” bisik Viviene gemetar. “Jangan-jangan dia tahu?”
“Kenapa kalau dia tahu?” jawab Dirian datar.
“Sayang… dia tetap istrimu. Jika dia bicara, semua orang akan memihaknya. Aku akan jadi perebut suami kakakku sendiri.”
“Vivi.” Dirian mengusap rambut emasnya, senyum tipis terbit. “Apa pun yang terjadi, hanya kau yang kucintai.”
Viviene menghela lega dan memeluknya erat. Para pengawal berpaling pura-pura tak melihat. Semua tahu hubungan itu, hanya Selene yang selama ini terjebak dalam kepercayaannya.
Tapi pagi ini… sikap Selene terasa berbeda.
Ruang makan dipenuhi aroma roti panggang dan sup hangat. Selene duduk anggun di kursinya, tatapannya kosong pada piring. Dua orang yang paling ingin ia hindari masuk bersamaan.
“Selene,” suara Viviene terdengar manis, terlalu manis. “Bolehkah aku sarapan bersamamu dan Duke?”
“Jika makan, ya makan saja,” jawab Selene dingin, tanpa mengangkat wajah.
“Selene!” tegur Dirian, tajam.
“Dia tamumu. Itu bukan urusanku.”
Ruangan membeku.
“Kenapa kau terus menargetkan Viviene?” tuduh Dirian.
“Aku?” Selene menoleh perlahan, tatapannya menusuk. “Aku bahkan tidak punya hak membuat masalah. Memangnya aku siapa?”
Seisi ruangan hening. Para pelayan menunduk lebih dalam. Nyonya mereka bukan lagi wanita lembut penuh pengabdian. Ia berubah—dingin, misterius, tak terbaca.
“Untung kau sadar diri,” balas Dirian sinis.
Selene tidak menjawab.
“Duke…” Viviene bersuara pelan. “Lebih baik aku pulang saja. Selene jelas tidak suka aku di sini.”
Selene tetap diam. Tidak menahan, tidak memohon.
“Selene, minta maaf pada Viviene,” perintah Dirian.
“Aku tidak salah padanya.”
Viviene buru-buru menengahi. “Tidak perlu. Aku tidak apa-apa.”
“Selene, kau benar-benar keterlaluan!” bentak Dirian.
Senyum tipis terbit di wajah Selene. “Terima kasih. Tapi tak perlu. Jika ingin menginap, lakukan saja. Kau tak perlu repot mencari alasan.”
Viviene tercekat. Dirian terdiam, wajahnya menegang.
“Aku masih sakit. Dokter melarangku bekerja berat. Sekalian saja, aku minta cuti,” lanjut Selene, tenang.
Kata-kata itu membuat rahang Dirian mengeras.
Hidangan daging panggang tersaji. “Itu burung?” tanya Viviene pelan.
“Itu hidangan khusus untuk Duchess,” jawab Ilard, kepala pelayan.
“Viviene alergi unggas!” seru Dirian.
“Tidak ada yang tahu dia menginap,” balas Selene dingin. “Menu ini disiapkan untukku.”
Dirian menahan marah.
Selene menatap Viviene, senyumnya samar. “Burung adalah favorit Duke. Sebagai tamu, sudah sepantasnya kau makan apa pun yang disuguhkan tuan rumah.”
“Selene!” bentak Dirian.
“Kenapa?” balasnya. “Semua orang memperhatikan kesehatanku. Tapi suamiku… lebih sibuk memperhatikan selera tamunya.”
Viviene pucat. “Aku bisa makan yang lain…”
“Ambilkan makanan lain untuk Lady Moreau,” titah Selene pada Ilard.
Dirian mendekat. “Apakah kau senang membuat masalah?”
“Aku masih Duchess. Aku masih istrimu. Jika kau keberatan, ceraikan aku.”
Kata-kata itu menghantam Dirian. Wajahnya mengeras.
“Selene…” suara Viviene lembut, menenangkan "hal seperti ini adlah hal pribadi , lebih baik bicarakan berdua dengan Duke."
Selene menoleh. “Tidak masalah , ngomong-ngomong mengapa tidak tinggal sekalian, Viviene? Bukankah kau sudah sering menginap?”
Viviene pucat. “Aku—”
“Vivi tidak mungkin tinggal di sini!” potong Dirian keras.
Deg. Hati Viviene berdegup. Kata-kata itu terdengar seperti pengakuan.
“Apa masalahnya?” Selene mendesak. “Kalian pernah saling mencintai. Jika perasaan itu tumbuh lagi, mengapa tidak menikah?”
“Selene!” Dirian meledak.
“Aku tidak mungkin menikahi saudaramu!” suaranya pecah.
“Mengapa tidak?” Selene menyandarkan tubuh dengan santai. “Kau punya kekuasaan, kekuatan. Seorang Duke bisa memiliki lebih dari satu wanita. Mengapa tidak menikahi Viviene… dan menceraikan aku?”
5. Menyusun Rencana
Udara ruang makan membeku. Kata-kata Selene jatuh dingin, membuat Viviene pucat dan Dirian tertegun, seolah baru mengenalnya kembali.
“Ini… tidak seperti dirimu,” gumam Dirian.
Selene tersenyum tipis. “Aku justru terkejut, karena kau baru mulai memperhatikanku.”
Viviene memotong cepat. “Apa kau tak malu dengan ucapanmu?”
Tatapan Selene datar. “Aku hanya menyesuaikan diri dengan kalian. Kenapa malah kalian yang terusik?”
Viviene bangkit panik, pergi. Dirian menyusulnya, meninggalkan Selene sendiri.
Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum dingin. Akhirnya, ia bisa menikmati makanannya tanpa dua pendosa itu.
“Ilard,” panggil Selene setelah menyelesaikan suapan terakhirnya, sambil menggigit sepotong buah persik dengan tenang.
“Ya, Nyonya,” jawab Ilard dengan hormat, menunduk.
“Apakah kau mengenal seseorang yang bisa… menyelundupkan orang?” tanyanya tiba-tiba.
Ilard terhenti, tenggorokannya tercekat. “Maksud Anda?”
Tatapan Selene tenang tapi dalam. “Kita bicarakan di ruanganku.”
Tanpa menunggu jawaban, ia berdiri. Ilard memberi isyarat pada pelayan untuk membersihkan meja dan mengikuti Selene ke ruang kerja.
“Ilard, aku akan pergi,” kata Selene tegas.
“Nyonya… tapi—” Ilard ragu, takut melanjutkan.
“Jangan katakan pada siapa pun. Hanya kau yang boleh tahu.” Selene menatap tajam, membuat rahasia itu terkunci.
Ilard menarik napas panjang. Selene jarang sekali mempercayai orang. Namun kali ini hatinya tergerak. Ia ingin Selene benar-benar menemukan kebahagiaan.
“Kau tahu situasiku, Ilard. Kau tahu… semua bayiku gugur karena Duke, bukan?” Selene berkata lirih.
Ilard menunduk, wajahnya tegang.
“Tidak perlu menyangkal. Aku tahu kau orangnya. Tapi kali ini… bisakah kau membantu?” Suara Selene lembut, tapi matanya tajam.
Ilard menutup mata sebentar lalu menarik napas. “Kemana Anda akan pergi, Nyonya?”
Selene tersenyum samar dan mengulurkan dokumen berisi peta. Ilard membuka peta itu perlahan; matanya melebar melihat tanda wilayah yang sangat jauh.
“Ini… sangat jauh,” gumamnya.
“Aku harus pergi sejauh mungkin,” jawab Selene mantap.
Ilard menunduk. “Baik. Saya mengerti.”
“Kau tampak lega,” kata Selene, mengangkat alis.
Ilard tersenyum tipis, matanya berair. “Saya hanya mendoakan kebahagiaan Anda, Nyonya.”
Kata-katanya tulus. Itu membuat Selene sedikit hangat. Menyerahkan semuanya bukanlah hal mudah bagi orang yang setia padanya.
“Perlukah aku menyiapkan sesuatu?” tanya Ilard hati-hati.
Selene menggeleng. “Tidak.”
“Tapi anggaran Nyonya masih banyak yang tak terpakai,” Ilard mengingatkan.
“Aku tidak akan membawa satu sen pun,” tegas Selene.
“...Nyonya.” Suara Ilard tercekat. Ia tahu ketidakadilan itu: Viviene boros, sementara Selene, istri Duke, jarang menyentuh haknya.
“Aku ingin menjual sahamku pada toko adikmu. Boleh?”
Ilard terkejut, lalu cepat mengangguk. “Tentu, Nyonya. Saya akan urus.”
Selene tersenyum lembut. “Aku berharap kau juga selalu bahagia, Ilard.”
Ia menunduk sebentar, menahan emosi.
“Kapan Anda pergi?” tanya Ilard akhirnya.
“Lima hari dari sekarang.”
“Secepat itu?” Ilard kaget.
“Ya. Waktunya tepat.” Selene tidak menjelaskan banyak: tiga hari lagi perang akan meletus di perbatasan barat, dan dua hari setelah itu Dirian akan memimpin pasukan — saat itulah pengamanan kastil akan melemah.
Ilard mengepalkan tangan. “Saya akan mengusahakan semuanya.”
Selene mengangguk, menahan kerentanannya. Ilard membungkuk hormat, lalu mundur, meninggalkannya sendiri dengan pikirannya.
Tidak lama kemudian terdengar ketukan lembut di pintu.
“Masuk,” jawab Selene.
Mona dan Daisy masuk dengan wajah tegang. Tanpa aba-aba, keduanya berlutut dan bahkan bersujud.
Selene terkejut lalu cepat bangkit. “Ada apa?”
“Nyonya, jangan tinggalkan kami…” suara Daisy pecah.
Selene menelan ludah, menahan perasaan. “Kalian menguping?” tanyanya datar, penuh arti.
Keduanya mengangguk, air mata mengalir. Selene menarik mereka duduk, lalu ikut duduk di lantai. Sikap itu malah membuat keduanya makin panik.
“Aku bukan tipe yang menuduh tanpa bukti,” Selene berkata lembut. “Kenapa kalian tak ingin aku pergi?”
“Kalau Nyonya pergi, kami ikut!” seru Daisy sambil terisak.
“Aku juga,” tambah Mona, suaranya bergetar tapi tegas.
“Aku tak punya banyak uang untuk kalian,” Selene memperingatkan.
“Kami tidak butuh uang. Asalkan bisa bersama Anda, kami rela,” jawab Daisy cepat.
“Tentang keluarga kalian di rumah Count?” Selene menanyakan.
Mona menggigit bibir. “Mereka tunduk pada Count. Mereka tidak akan membantu kami.”
Selene mengerti. Dua gadis itu yatim dan tak punya pelindung.
“Baiklah,” katanya akhirnya, meletakkan tangan di kepala mereka. “Aku akan pergi lima hari dari sekarang. Siapkan barang yang bisa kalian bawa.”
Wajah mereka langsung bersinar, air mata bercampur senyum.
“Kami sangat bahagia, Nyonya!” seru keduanya.
Selene mengangkat satu sudut bibir, lalu menegaskan dengan nada tajam: “Ingat. Jika ini gagal dan aku tertangkap, kalian akan dihukum mati.”
Ancaman itu nyata, tapi keduanya tidak mundur. “Kami bersumpah demi nama orang tua kami, Nyonya,” kata Daisy.
Selene menatap lama, lalu tersenyum tipis. Hatinya sedikit terhangat. Kesetiaan mereka kecil, namun nyata.
“Kalau begitu…” bisiknya, suaranya seperti rahasia. “Kita harus mulai menyusun rencana.”
6. Surat Cerai
Pagi itu udara terasa sangat dingin. Seperti biasa, Selene tidak melihat Dirian. Ia sudah terbiasa—suaminya jarang pulang. Dulu ia masih mencoba percaya bahwa Dirian sibuk dengan urusan kastil, tapi setelah tahu kebenaran, yang tersisa hanya rasa muak. Luka di hatinya memang belum sembuh, tapi ia terus meyakinkan diri bahwa waktu akan membuatnya lebih kuat.
Namun pagi itu menjadi lebih berat saat ayahnya, Count Moreau, datang tiba-tiba ke kastil Duke.
“Apa sebenarnya yang kau katakan pada Viviene?” suara Count terdengar menekan, menuntut jawaban.
“Apa yang bisa kukatakan? Memangnya dia mengadu apa padamu?” Selene membalas, nadanya dingin, acuh tak acuh.
Count terdiam sejenak, menarik napas panjang. “Selene… Viviene dan Duke itu teman masa kecil. Mereka bahkan pernah bertunangan. Wajar jika mereka dekat. Kau tidak bisa sedikit mengalah?”
Selene menahan tawa sinis di balik bibirnya.
“Tuan Count…” ucapnya dengan nada sedingin es.
Mata Count terbelalak. Putrinya—anak sahnya sendiri—baru saja memanggilnya dengan sebutan yang menusuk.
“Aku sudah mengatakan pada Duke untuk menikahi Viviene. Kurang apa lagi aku mengalah?” Tatapan Selene lurus menembus Count, menusuk hingga ke dasar hati.
“Selene, bukan begitu maksudku—”
“Sekarang kau bilang mereka hanya teman?” Selene menyela, senyumnya sinis. “Teman macam apa yang berbagi ranjang?”
Kata-katanya menampar keras. Count menelan ludah, bibirnya terkatup rapat. Tidak ada bantahan yang bisa ia lontarkan.
“Jangan kira aku tidak tahu,” Selene melanjutkan dingin. “Dan sekarang kau datang ke sini hanya untuk menyudutkan putri sahmu demi membela putri tirimu.”
“Selene—”
“Aku penasaran,” tatap Selene menajam, suara lirih tapi menusuk. “Apakah dia benar hanya putri tiri… atau sebenarnya dia putrimu?”
“Selene! Kau sudah terlalu jauh!” suara Count meninggi.
Selene menghela napas panjang, mata sayu namun tetap penuh perlawanan.
“Seumur hidup ibuku, kau mungkin tidak pernah menduakan cintanya. Tapi kau… menduakan putrinya sendiri.”
Kata-kata itu menampar keras. Wajah Count perlahan meredup, amarah digantikan kesenduan. Untuk pertama kalinya, Selene menantangnya seperti ini.
“Pernahkah kau sedikit saja memikirkan perasaan putri sahmu sendiri, Ayah?” tanyanya lirih, menembus lebih dalam daripada teriakan.
Count menunduk, kata-kata tak lagi keluar.
“Seluruh hidupku… semua hal yang seharusnya milikku, selalu kau serahkan padanya. Apakah itu belum cukup? Sampai aku pun harus merelakan suamiku?” Suara Selene bergetar, pahit.
“Selene, aku tidak bermaksud begitu. Bagaimanapun, sebelumnya kaulah yang memberikannya padanya,” Count mencoba membela diri.
Selene tertawa hambar, sinis. “Kalau aku tidak memberikannya, aku akan berakhir dikurung di loteng… tidur di lantai, berbagi makanan dengan tikus. Kau lupa?”
“Selene—”
“Pulanglah, Ayah,” potong Selene dingin. “Jika kedatanganmu hanya untuk membela putri tirimu, lebih baik jangan pernah muncul lagi di hadapanku.” Ia bangkit, wajah keras tanpa sisa kelembutan.
Count menatapnya, tak berani membalas. Selene menyingkir, meninggalkan ayahnya sendiri di ruangan itu.
Dirian berdiri di balik pintu dan mendengar semuanya. Dadanya sesak. Selene tahu tentang perselingkuhannya, dan itu membuatnya berubah—dingin, tegas, tak lagi takut padanya.
Pikiran Dirian kalut. Siapa yang memberitahunya? Bagaimana ia tahu? Yang jelas, luka Selene lebih dalam dari yang ia kira—dari ayahnya, dan darinya sendiri.
Siang itu, Selene masuk ke ruang kerja Dirian membawa dokumen. Dirian duduk, tatapannya kosong.
“Aku ingin kau menandatangani ini,” kata Selene tenang, meletakkan berkas di meja.
Dirian menoleh, sedikit terkejut. “Apakah ini mendesak?” suaranya datar, tapi ada getaran jelas.
“Kalau tidak penting, tidak perlu tanda tangan,” jawab Selene sambil menarik dokumen, hendak pergi.
“Besok,” tiba-tiba Dirian bersuara.
Selene berhenti, menatapnya sulit dibaca.
“Besok… malam intim dan nenek akan datang,” ucap Dirian, seolah meminta pengertian.
“Aku belum pulih. Tak perlu berpura-pura. Katakan saja pada nenek,” jawab Selene.
Dirian bangkit, mendekat. “Aku akan tanda tangan,” katanya akhirnya.
Dengan hati berdebar, Selene menyerahkan dokumen lagi. Dirian menandatangani lembar demi lembar—hingga surat cerai terakhir. Dirian tidak membaca, hanya menahan napas. Rasanya sakit, tapi semuanya sudah sia-sia.
“Selene…” panggil Dirian saat ia hendak pergi.
Langkahnya terhenti. “Apa?”
“Apakah kau… baik-baik saja?” tanyanya ragu.
Pertanyaan itu membuat Selene tercekat. Sepanjang hidupnya, bahkan saat nyawa nyaris hilang, Dirian tak pernah menanyakannya. Air mata nyaris jatuh, tapi ia menahannya.
“Aku baik-baik saja. Tak perlu khawatir,” jawab Selene lirih, lalu pergi.
Sejak itu, Dirian gelisah. Sosok Selene terus menghantui pikirannya. Selene yang dulu lembut, kini tegas dan dingin.
Ia berdiri di jendela, menatap taman. Selene berjalan bersama dua pelayan, cahaya sore menyorot wajahnya, menampilkan kecantikan yang menyesakkan dada.
Jika jujur, Selene jauh lebih memesona dan berkarisma dibanding Viviene. Malam-malam intim mereka bukan kewajiban, tapi kenikmatan yang ia nikmati. Namun hatinya tetap pada Viviene—bukan karena pesona, tapi hutang budi. Gadis kecil itu pernah menyelamatkan nyawanya saat keluarganya hancur.
Itulah sebabnya ia memberi lebih pada Viviene—meski Selene adalah wanita yang sepenuhnya miliknya.
“Tuan.”
Sven masuk. “Ada apa?”
“Lady Moreau mengirim surat, menanyakan kapan Anda akan menyusulnya.”
Dirian menghela napas. “Hari ini dan besok tidak bisa. Nenek akan datang. Katakan begitu.”
“Baik, Tuan,” Sven menunduk hendak pergi.
“Tunggu,” panggil Dirian. “Sven.”
“Ya, Tuan?”
“Panggil dokter. Suruh dia memeriksa Nyonya.”
7. YIsla Arundel
Pagi itu terasa berbeda bagi Selene. Jarang sekali Dirian berada di kastil saat sarapan, apalagi duduk bersamanya di meja makan. Biasanya, jika ia ada di rumah, lelaki itu lebih sering bersembunyi di ruang kerja atau kamarnya. Selene pun sudah berhenti mencoba mendekat. Ia sadar—apapun yang ia lakukan hanya dianggap gangguan. Luka di hatinya menahan langkahnya, membuatnya berhenti berusaha.
“…Nenek dan Ibu akan datang nanti,” ucap Dirian setelah meletakkan sendok.
Selene menatapnya sebentar. “Kau sudah bilang kalau aku masih dalam masa pemulihan?”
“Untuk itulah mereka ingin menjengukmu,” jawab Dirian tenang.
Selene menarik napas, lalu mengangguk. “Baiklah.”
Hening sejenak, lalu Dirian berkata lagi.
“Malam ini aku akan tidur di kamarmu.”
Selene terdiam. Hatinya menolak. Ia takut melemah dan batal melangkah pergi.
“Kau tidak perlu, kau tidak perlu mengikuti apa yang diinginkan oleh nenek dan ibu . Tidurlah di kamarmu sendiri,” ucapnya dingin.
“Ini keinginanku,” jawab Dirian mantap.
Selene menatapnya, senyum tipis penuh sindiran. “Kalau begitu, mengapa kita tidak tidur di kamarmu saja?”
Dirian menatap tajam. “Kau ingin itu?”
“Kebetulan aku tidak merasa cukup istimewa untuk tidur di kamarku sendiri,” sahut Selene, teringat Viviene yang pernah diizinkan masuk ke sana.
Dirian mengangguk. “Baiklah. Malam ini kita tidur di kamarku.”
Selene hampir kehilangan kata-kata. Selama ini, bahkan berdiri di depan pintu kamarnya bisa memicu amarah Dirian. Ia selalu menjaga kamar itu sendiri. Seolah semuanya cukup mudah sekarang.
“Baiklah. Aku keluar sebentar. Kembali sebelum makan malam. Kita makan bersama,” ucap Dirian, lalu pergi.
Selene menatap punggungnya hingga menghilang. Piringnya kosong bersih—seperti biasa, Dirian selalu menghabiskan masakannya, tanda ia menghargai usaha Selene.
Siang harinya, Selene berada di ruang kerja.
Dokter yang dipanggil menunduk hormat. “Saya hanya ingin memastikan keadaan Anda, Nyonya.”
“Aku baik-baik saja. Sudah minum obat dan mengikuti anjuranmu,” jawab Selene tegas.
“Setelah keguguran—”
“Tidak perlu. Katakan saja aku sudah pulih,” potong Selene dingin. Tubuhnya menolak pemeriksaan semacam itu. Dokter pun menunduk dan pergi.
Begitu pintu menutup, Ilard masuk membawa map cokelat.
“Ini semua dokumen Anda, termasuk kartu identitas dan tiket perjalanan. Karena Anda akan menggunakan kereta api, semuanya sudah siap,” ucap Ilard, meletakkan map di meja.
Selene membuka map itu. Identitas baru dengan nama ibunya: Ysla Arundel. Arundel, keluarga kecil berpangkat baron yang sudah punah sebelum ia lahir. Ayahnya, Count Moreau mengambil semuanya tanpa tersisa bahkan tanpa mengingat jika Selene berhak atas itu semua.
Matanya berhenti pada kartu berukir lambang yang familiar.
“Apa ini?” tanyanya.
“Jika Anda butuh pengawal atau bantuan mendesak, datanglah ke alamat ini. Guild itu tersebar di seluruh benua,” jawab Ilard tenang.
Selene terkejut. “Bagaimana kau bisa memilikinya?”
“Kenalan lama. Kartu ini membuat Anda diprioritaskan,” jawab Ilard.
Selene menahan senyum getir. “Ini berlebihan…”
“Tidak. Aku hanya ingin Anda aman. Terutama sendirian di luar negeri,” kata Ilard.
Ia kemudian menyerahkan kartu bank. “Semua uang Anda sudah ada di sini. Aku menjual setengah saham, jadi Anda tidak kekurangan apa pun. Keuntungan masuk tiap bulan.”
Selene menelan ludah. “Terlalu banyak…”
“Ini memang milik Anda,” jawab Ilard tulus.
Selene menggenggam kartu itu erat. “Andai saja kau bukan milik Dirian…”
“Saya justru berharap bisa ikut,” sahut Ilard.
“Tapi perjanjian keluarga membuatmu tetap setia pada Duke,” kata Selene.
“Cukup Anda bahagia, Nyonya. Sampai kita bertemu lagi,” jawab Ilard sambil menunduk hormat.
Selene mengangguk.
“Ngomong-ngomong… tetap akan pergi ke tanah itu?” tanya Ilard hati-hati.
“Itu warisan ibuku. Aku tidak tahu kenapa beliau memilikinya,” jawab Selene.
“Apakah beliau dari sana?”
Selene menggeleng. Dokumen itu hanya diserahkan pelayan ibunya sebelum ia diusir. Pelayan itu mati sebulan kemudian. Tidak ada lagi yang bisa ditanya.
Ilard mengangguk. “Mungkin dulu beliau sempat membelinya.”
“Mungkin. Aku akan memastikannya sendiri. Jika tidak, aku akan mencari tempat lain,” jawab Selene mantap.
“Baik, Nyonya. Aku pamit. Masih ada urusan lain yang harus diselesaikan.”
8. Hanya Selene menantu keluarga duke!
Ilard pergi, dan Selene memeriksa semua dokumen dengan cermat. Ia harus memahami semuanya agar tidak kebingungan saat nanti meninggalkan kastil.
Tak terasa, hari sudah sore ketika Ilard kembali mengetuk pintu. “Nyonya tua dan nyonya besar sudah tiba, Nyonya,” ucapnya.
Selene segera keluar, menyambut mereka dengan sopan, lalu mengantar mereka duduk di ruang keluarga. Seperti biasa sang Ibu mertua akan selalu mengedarkan pandangan dan juga memeriksa semua hal terkecil , dia adalah orang yang tidak suka ada kesalahan bahkan sekecil apapun. Untuk itu Selene selalu berusaha membuat kastil selalu bersih dengan penataan yang disukai oleh mertuanya itu.
Sementara Nenek selalu lembut seperti biasa pada Selene, walaupun sebetulnya dia adalah wanita tegas yang ditakuti didalam keluarga Leventis.
“Aku sudah menyiapkan kamar untuk ibu dan nenek,” kata Selene.
“Kau selalu perhatian,” ucap nenek sambil membelai rambut Selene. “Tapi aku sedih mendengar kabar itu. Kehilangan anakmu… sungguh menyakitkan.”
“Lain kali jika hamil lagi, kau harus lebih berhati-hati. Kami akan minta Dirian menjaga lebih ketat,” tambah Odette, ibu mertuanya.
Selene tersenyum tipis, hatinya getir. Bagaimana bisa menjaga bayinya, jika ayah bayi itu justru menghancurkannya?
“Baik, ibu. Aku akan memperhatikannya,” jawab Selene tenang.
Namun Odette belum berhenti. Tatapannya tajam. “Kau juga harus memperhatikan suamimu. Rumor itu sampai ke rumah kami. Dirian masih bersamanya, bukan?”
“Odette,” tegur nenek lembut.
“Biarkan dia tahu, Ibu!” Odette membentak. “Apakah kau belajar menjadi duchess hanya supaya diinjak-injak? Kau tidak seharusnya ditindas begitu saja!”
Selene hanya diam, menahan senyum kecil. Ya, Odette membenci Viviene lebih dari dirinya. Kelak, Viviene yang akan menghadapi tembok ini, bukan Selene.
“Maaf, ibu. Aku akan memperhatikannya,” ucap Selene, tapi hatinya berteriak: Tidak akan! Aku akan pergi dan tak kembali.
“Jangan dengarkan ibumu. Fokuslah pada pemulihanmu,” kata nenek lembut.
Selene menunduk, menyembunyikan getir di matanya.
“Dia tidak akan pernah bahagia selama pelacur itu masih di sini,” desis Odette.
Selene hampir tertawa. Kelak, penderitaan itu akan menjadi milik Viviene, bukan dirinya.
Tiba-tiba pintu terbuka. Dirian pulang. Tapi bukan ia sendiri—di sampingnya berdiri Viviene.
Udara seketika tegang.
“Salam, nenek, ibu,” Viviene menunduk, suaranya bergetar.
“Apa ini?” Odette berseru, marah.
Nenek pun kecewa. “Dirian… apa yang kau lakukan?”
Viviene menegang, matanya pucat. Dirian menjawab dingin, “Dia hanya ingin menyapa ibu dan nenek.”
“APA kau bilang?!” Odette berdiri. “Bawa wanita itu keluar sekarang juga!”
“Ibu!” Dirian mencoba menahan.
“KAU TIDAK PUNYA OTAK!” Odette membentak. “Kau bawa orang lain ke rumah istrimu… ketika Selene baru kehilangan bayinya!”
Viviene mundur, menatap Selene. Ada luka di matanya, tapi ia tetap menahan diri.
“Dia adik Selene,” ujar Dirian tegas. “Wajar jika dia ingin bertemu kakaknya.”
“Tidak perlu! Bawa dia keluar!” Odette membentak lagi.
“Ibu…” suara Viviene bergetar.
“AKU BUKAN IBUMU!” potong Odette.
Viviene menegang, lalu menatap Selene. Selene mengulurkan tangan dengan lembut. “Ayo, kita keluar dulu,” ucapnya lirih.
Viviene ragu, tapi akhirnya menggenggam tangan Selene. Mereka berjalan keluar, Viviene menahan tangis, Selene tetap tegak.
Dirian hanya berdiri, wajah kaku, menunduk di hadapan ibunya dan nenek. Ia tidak menghentikan mereka.
Saat pintu menutup, ruangan itu hening.
“…Ibu,” panggil Dirian pelan.
“Sekali lagi kau bawa dia ke sini, aku tidak akan mengakuimu anak!” bentak Odette.
Dirian menarik napas. Ia tahu Odette membenci Viviene, lebih dari dirinya membenci Selene.
“Ibu, ini bukan seperti yang ibu pikirkan. Dia hanya datang untuk menyapa Selene, kebetulan ibu dan nenek ada di sini,” ucap Dirian.
“Dirian, apa pun alasannya, kau tidak seharusnya melakukan itu,” kata nenek.
Dirian menatapnya, bibirnya menegang. “Selene juga tidak masalah dengan kedatangan saudaranya.”
“Apakah Selene mengatakannya?” tanya nenek serius.
Dirian terdiam.
“Sekalian tanya padanya, apakah kau pernah sedikit pun peduli dengan perasaan istrimu?” Odette menatap tajam.
Kata-kata itu membuat Dirian menegang. Selama ini, jawabannya memang: Tidak pernah.
“Dengar baik-baik,” Odette menatapnya. “Hanya Selene yang menantu keluarga Duke! Jika kau pikir wanita itu bisa menggantikannya… kau akan menyesal seumur hidup!”
9. Palsu
Suara Odette begitu lantang hingga Dirian hanya bisa terdiam. Ia tidak bisa menentang ibunya, wanita yang sangat dihormatinya.
“Sial sekali aku memiliki anak bodoh sepertimu!” bentak Odette, lalu pergi meninggalkan Dirian dan neneknya.
Nenek menghela napas.
“Untuk ini, aku setuju dengan ibumu. Kau tidak seharusnya seperti ini,” ucap nenek lembut.
“Nenek…” panggil Dirian.
Nenek menatapnya.
“Perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan,” ucap Dirian.
Nenek tersenyum, mengangguk.
“Suatu hari nanti, kau akan tahu: lebih baik dicintai dengan sepenuh hati daripada mencintai seorang yang salah.”
Kata-kata itu menusuk hati Dirian. Ia tahu nenek benar—antara Selene dan Viviene ada perbedaan yang ia sendiri selalu abaikan. Nenek pun akhirnya pergi meninggalkannya sendiri.
Di luar kastil, Selene dan Viviene berdiri bersama. Udara sore terasa berat, langit memerah keemasan, tapi di antara mereka dingin membeku. Para pengawal sudah menjauh memberi ruang.
“Ibu memang keras dan sulit ditenangkan,” kata Selene datar.
Viviene menatapnya, mata berkilat, luka masih terasa.
“Apakah kau memperingatkanku?”
“Aku hanya memberitahumu,” jawab Selene. “Setidaknya kau bisa bersiap menghadapi beliau.”
Viviene menyipitkan mata. “Kau bicara seolah mampu melakukannya.”
Selene tertawa pendek, getir.
“Aku bahkan tak pernah mendapatkan hati putranya. Bagaimana mungkin aku bisa merebut hati ibunya?”
Viviene menegakkan dagu, senyum sinis.
“Jadi kau cukup tahu diri.”
Selene tersenyum miris. Dalam hatinya, ia tahu: hanya ia yang pernah mencintai Dirian sepenuh jiwa, dan lelaki itu tak pernah benar-benar menoleh padanya.
“Yah…” suara Viviene rendah, beracun. “Kau pasti sudah sadar bagaimana hubungan aku dan Dirian sekarang.”
Selene tersenyum tipis, diam. Sorot matanya cukup membuat Viviene sadar: Selene sudah tahu segalanya.
“Tidak ada yang perlu kusembunyikan. Dirian akan selalu menjadi milikku,” lanjut Viviene, melangkah lebih dekat.
Selene tetap tenang.
“Aku masih istrinya. Masih Duchess di kastil ini. Di mata semua orang, aku penguasa Leventis. Jadi aku akan terus bersamanya.”
Viviene tertawa dingin.
“Apa yang bisa kau miliki, Selene? Aku sudah mengambil semuanya darimu—ayahmu, hartamu, bahkan Dirian. Semuanya milikku.”
Selene tersenyum lembut, hampir mengasihani.
“Bagus. Karena sepertinya, justru kau yang sangat membutuhkannya.”
Tawa Viviene terhenti. Senyumnya memudar, diganti kemarahan.
“Kau… seharusnya sejak awal berwajah seperti ini, biar semua orang tahu aslimu yang penuh kebencian!”
“Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun,” balas Selene, nadanya tenang tapi menusuk. “Tidak seperti dirimu.”
Viviene menegang.
“Apa maksudmu?”
Selene menunduk sedikit, berbisik.
“Lebih baik bersikap baik padaku… sebelum aku bongkar rahasiamu. Rahasia kita berdua.”
Viviene pucat, tubuhnya terpaku.
Selene tersenyum tipis, melangkah lebih dekat.
“Aku sudah memberimu ayahku, hartaku, bahkan Dirian. Bukankah seharusnya kau berterima kasih padaku?”
Viviene bergidik, bibir bergetar.
Selene mendekatkan bibir ke telinga Viviene, berbisik menusuk jantung.
“Jangan sampai Dirian tahu… yang menyelamatkannya saat kecil itu aku. Bukan kau. Bukan gadis yang berpura-pura menjadi aku.”
Viviene membeku, jantung berdetak liar.
Selene tersenyum, terkekeh kecil.
“Aku penasaran… apa yang akan ia lakukan jika tahu? Apakah dia akan meninggalkanmu?”
Selene melangkah mundur, tegak dengan senyum kemenangan.
“Palsu,” kata satu kata ringan tapi mematikan.
Ia berbalik masuk kastil, meninggalkan Viviene kaku, pucat, dan retak topengnya.
.
.
Langit menggelap, kastil sunyi. Nenek dan ibu makan di kamar masing-masing, Dirian mengurung diri di ruang kerja. Selene mengira Dirian akan mengantar Viviene pulang, tapi ia membiarkan adiknya pergi sendiri.
Usai mandi dan berganti gaun tidur, ketukan pintu terdengar. Mona membuka, Ilard berdiri di sana.
“Saya akan mengantar Anda ke kamar Tuan. Tuan menyusul setelah pekerjaannya selesai,” ucap Ilard.
Selene mengangguk, mengenakan jubah tipis, mengikuti Ilard.
“Anda masuk saja, tunggu di dalam,” kata Ilard saat sampai di depan kamar Dirian.
Selene melangkah masuk. Aroma maskulin ruangan langsung menyergapnya. Kamar besar bernuansa gelap, memberi kesan dingin namun berwibawa. Tak ada tanda Viviene di sana.
Ia duduk di tepi ranjang, membiarkan aroma itu menyelimuti inderanya, seolah merasakan sisi Dirian yang hangat namun jauh dari jangkauannya.
Kreet—pintu terbuka. Dirian masuk, rambut sedikit berantakan, mata merah dingin namun mempesona.
“Aku akan mandi sebentar,” ucapnya.
Selene mengangguk. Dirian berhenti sejenak, menatapnya.
“Apakah kau mau menemaniku?” suaranya tenang.
Selene tersenyum tipis. Mereka sudah terlalu sering berbagi malam tanpa batasan.
Dirian mengambil sebotol wine dan dua gelas.
“Ayo. Mandi bersama.”
Daftar Isi Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!
Novel Rilisan Baru











