APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menikahi Bu Manajer

Menikahi Bu Manajer

Pertemuan tak sengaja dengan Erika Hana di trotoar mengubah total garis hidup Prastu. Siapa sangka, sang manajer sukses di bidang kuliner itu adalah sosok yang dijodohkan dengannya. Terikat oleh janji masa lalu kedua orang tua mereka, Prastu dan Erika kini terpaksa menjalani pertunangan tanpa rasa cinta. Di tengah peliknya dinamika dunia modern, mereka harus bertahan dalam hubungan formal ini demi menuntaskan wasiat keluarga.
Bab
Bagikan

Bab 1

Wanita itu masih berbaring di tempat tidur saat aku keluar dari kamar mandi. Aku menemukannya tergeletak di trotoar dalam perjalanan pulang dari kedai mie ayam milikku. Aku tidak kenal wanita itu sama sekali. Mungkin dia terlalu banyak minum alkohol namun kalau kuperhatikan wajahnya, dia sama sekali tidak terlihat seperti wanita pemabuk atau wanita yang bekerja di klub malam.

Aku tidak bermaksud buruk terhadapnya, hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantu wanita itu supaya tidak kedinginan di luar sana saat hujan begini. Bajunya sudah ku ganti dengan yang kering. Meski ukurannya kebesaran, setidaknya dia tidak akan masuk angin karena mengenakan baju yang basah.

Sambil menunggunya bangun, aku menyibukkan diri bermain playstation. Memasang semua kabel penghubung ke smart TV. Logo produsen muncul begitu kutekan tombol pada remote. Selanjutnya, aku menekan tombol untuk menghubungkan ke playstation. Menu game kemudian muncul. Sudah lama sekali aku tidak memainkan playstation yang sudah lama kubeli ini.

“Siapa?”

Terdengar suara parau dari belakang.

“Sudah bangun?” tanyaku tanpa menoleh ke sumber suara karena mataku fokus pada layar dan jariku asik menekan konsol.

“Ke ... kenapa aku di sini?”

Aku tidak langsung menjawab. Suara konsol game terdengar lebih menyenangkan.

“Kamu siapa?” tanyanya lagi.

Aku masih tidak memperdulikannya dan fokus pada permainanku. Lalu tiba-tiba saja layar smart TV berubah jadi gelap.

“Aish! Lagi seru, nih!" umpatku.

Wanita itu mengacungkan remote, seakan-akan benda itu adalah senjata. Rambut hitam panjang sebahu wanita itu terlihat lepek dan kusut. Mata sipitnya melebar.

“Kamu siapa? Kenapa aku di sini?”

Aku meletakkan konsol game di lantai, berdiri dan pelan-pelan mendekat. Tatapan matanya awas. Sembari terus mengarahkan remote seperti mengarahkan pistol, dia mundur selangkah-selangkah seiring dengan langkahku yang maju mendekat.

“Bingung?”

“Apa maksudnya itu? Tentu saja aku bingung. Bangun-bangun ada di rumah orang asing!” nadanya mulai meninggi.

“Justru aku yang bingung. Lagian, kamu ngapain tidur di trotoar malam-malam begini? Apa kamu mabuk?”

Aku mendekatkan wajahku lalu mengendusnya.

“Gak bau alkohol sama sekali.”

Kaki jenjangnya terus melangkah mundur hingga masuk kembali ke kamar.

Aku duduk di tepi tempat tidur sementara, dia tetap waspada, menjaga agar bagian depan badannya tetap berhadapan denganku.

“Aku mau pulang!” rengeknya.

Dengan santai aku meraih gorden, menyibak nya. Menunjuk suasana di luar, begitu gelap di tengah derasnya hujan.

“Masih hujan deras di luar. Sudah larut malam juga.”

“Pokoknya aku mau pulang!”

Degar!

Petir menggelegar di luar sana, bak lampu flash kamera yang memotret objek. Wanita itu merosot ke lantai sambil menutup kedua telinga dengan tangan kurusnya.

“Yakin berani pulang sendiri?” tanyaku sambil menyilangkan kaki.

“Pokoknya aku mau pulang, titik!” bentaknya.

“Oke!”

Aku menarik tangan yang menempel di telinganya, mengantarnya ke pintu kemudian menghempas tubuhnya keluar, mengunci pintu secepat mungkin.

Bukannya bermaksud kasar terhadap wanita tapi, dia sendiri yang merengek ingin pulang.

Degar!

Petir kembali menggelegar di langit dalam waktu sepersekian detik.

“Buka! Buka pintunya!” teriak wanita itu dari luar.

Dia menggedor pintu dengan keras.

"Buka pintunya, woy!"

"Pulang saja sendiri!" teriakku dari dalam.

Bukannya berhenti menggedor pintu, dia malah menggedor semakin keras. Nyaris memecah gendang telinga.

“Berisik! Katanya mau pulang?” bentakku sembari membuka pintu lebar-lebar.

Wanita itu terisak, mengedikkan bahu mendengar bentakanku.

“Masuk!” perintahku.

Dia masuk dengan langkah lunglai, menunduk dan takut. Namun begitu melewatiku yang berdiri memegang pintu, dia berlari ke ruang tamu, duduk di lantai beralaskan karpet berwarna biru muda.

"Merepotkan!" umpatku pada diri sendiri.

Aku melenggang ke belakang konter dapur. Mengambil gelas kaca lalu memenuhinya dengan cairan berwarna bening dari dispenser. Aku membawanya ke hadapan wanita itu.

“Tenang dan minum dulu!”

Gemang, tangan wanita itu merebutnya dengan kasar, nyaris tumpah namun diteguknya juga cairan berumus kimia H2O itu, habis dalam sekali teguk bak seorang kelana dari gurun pasir yang menemukan oasis.

Aku bersila berhadapan dengannya di atas karpet.

"Jangan dekat-dekat!" bentaknya.

Aku mengusap wajah, mengela napas dan mengembuskannya kasar.

"Mau aku keluarkan lagi atau bagaimana?" Kutatap dalam-dalam matanya yang basah.

Lagi-lagi, dia hanya terisak.

“Aku bukan orang jahat, Nona!"

Dia memeluk lutut.

“Kalau lapar, di atas meja makan ada bubur. Mungkin udah sedikit dingin tapi, masih layak makan, kok. Kamu mau pulang pun gak bisa!"

Derau air di luar sana semakin deras, hujan malam ini tidak akan mereda dalam waktu singkat.

"Besok aku harus tunangan, kalau gak pulang malam ini apa kata orang tuaku nanti?" ucapnya lirih.

“Kalau hujannya sederas ini tidak akan segera mereda. Di luar juga bahaya!” Aku mengingatkan.

“Malam ini boleh pakai kamarku, aku tidur di kamar sebelah,” ucapku sembari meninggalkannya yang masih duduk memeluk lutut.

Aku masuk ke dalam selimut putih. Meski mencoba untuk memejamkan mata tetap saja alam bawah sadarku tidak dapat mendorongku untuk masuk ke mimpi. Pikiranku terganggu oleh wajah tirus wanita itu. Dari jendela kamar ini, aku melihat dengan jelas hidung pesek yang mengembang dan mengempis karena menarik napas.

***

Sudah jam setengah dua belas malam, sejak dia merengek ingin pulang aku jadi hanya mengerjap- ngerjapkan mata di atas kasur. Entah sudah berapa posisi yang kucoba untuk memaksa diri ke alam mimpi akan tetapi tetap saja, aku mengkhawatirkannya. Tidak tahan lagi dengan perasan gelisah ini, aku menghampirinya. Posisi duduknya tidak berubah, masih memeluk duduk dan menopang dagunya di atas lengan.

"Kamu kenapa?" tanyaku.

Alih-alih menjawab pertanyaanku dia menangis sejadi-jadinya.

"Eh … Ssssst!" Aku menempelkan jari telunjuk di bibir. Mencoba menenangkannya.

"Ini tengah malam, bisa-bisa suaramu mengganggu tetangga!" bisikku.

Melihat tingkahnya seperti bocah, aku menepuk pipiku. Entah kenapa aku jadi menyesal membawanya ke sini meski niatku baik.

"Nona, tenanglah!" tegasku sekali lagi.

Mataku berkelana mencari sesuatu untuk menenangkannya lalu, terhenti ketika mataku menangkap bungkus teh hijau di atas konter dapur. Otakku bergerak dengan cepat, memerintah untuk menyeduhkannya teh hijau. Aku kembali padanya dengan cangkir yang mengeluarkan uap, duduk bersila di depannya.

"Minumlah!" Kusodorkan cangkir benda di tanganku kepadanya.

"Ini udah malam, setelah ini tidur, ya!" ucapku kepadanya yang sedang menyeruput teh.

Wanita itu mengangkat wajah, memandangku lekat-lekat.

"Kamu gak ngapa-ngapain aku, kan?" tanyanya penuh curiga.

"Ngapa-ngapain gimana?"

Sejurus kemudian dia mengerutkan badan. Menyadari dia sudah salah sangka, aku menepuk pipi.

"Huft. Jangan negatif thinking begitu. Aku pilih-pilih kalau soal wanita. Aku gak selera sama wanita yang tiduran di trotoar!" ucapku.

Mata wanita itu kembali memincing. Aku sudah salah sangka karena menganggapnya menerima niat baikku.

"Tapi, kamu itu laki-laki. Tampangmu mesum!"

Seenaknya saja berkata begitu. Benar-benar wanita tidak tahu diri. Padahal aku sudah menolongnya sampai mengorbankan waktu tidurku.

"Masih bagus tampangku saja yang terlihat mesum. Kalau kamu dipungut oleh pria mesum beneran gimana?" umpatku.

Matanya memandangku lurus-lurus, menutup seluruh bagian depan tubuhnya dengan lutut.

"Kalau gak percaya padaku, kamu cuma punya satu pilihan. Keluar!" ucapku.

Dia malah membulatkan mata, ujung bibirnya melengkung turun.

"Di luar sana bahaya malam-malam begini. Kamu bisa ketemu pria hidung belang, begal atau anjing liar."

Melihat wajahnya memucat, aku menghentikan kata-kataku.

"Besok pagi aku akan mengantarmu pulang. Sekarang tidurlah!"

"Bener?"

"Kenapa harus bohong?"

Aku berdiri, sekali lagi memperingatkannya untuk kembali tidur. Ragu-ragu, dia melangkah pelan ke kamarku. Menutup pintu kemudian, aku tidak tahu lagi kegiatannya di dalam kamar kesayanganku itu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Adegan Panas Malam Pertama
8.7
Malam pengantin yang semestinya menjadi momen sakral bersama suami justru berakhir mengejutkan. Aku malah menghabiskan malam penuh gairah yang begitu intim dengan sosok pria perkasa lain yang misterius. Begitu pagi menjelang, kekacauan hidup yang rumit mulai menerpa diriku. Pengalaman tak terduga yang memabukkan itu seketika menjungkirbalikkan duniaku, membawa konsekuensi besar yang akan mengubah seluruh alur takdir masa depanku selamanya.
Sampul Novel Bos Posesifku
9.5
Richard Lewis sempat memandang sebelah mata Viola, sekretaris barunya yang berparas menawan, cerdas, dan kuat. Daya tarik Viola membuat Richard bertekad menaklukkan hatinya, walau wanita itu masih trauma akibat dikhianati di masa lalu. Melalui kepemilikan protektif dan aturan yang kaku, Richard berjuang membuktikan ketulusannya. Namun, Viola tidak goyah. Mampukah Richard meluluhkan pertahanan Viola saat ia harus bersaing ketat dengan dua pria lain?
Sampul Novel Istri Bayaran Untuk Bos Galak
8.9
Kontrak pernikahan telah usai, namun Devan menolak melepaskan Cecil. Terobsesi untuk terus memiliki wanita itu, sang bos yang angkuh melontarkan ancaman ekstrem. Ia bersumpah akan menghamili Cecil agar sang mantan istri bayaran tidak bisa pergi dari sisinya. Meski Cecil memohon dengan ketakutan dalam tekanan tersebut, Devan justru kian bertekad mengikatnya lewat kehadiran seorang anak demi mempertahankan hubungan mereka.
Sampul Novel Kembalinya Cinta Sang Mantan
9.0
Dibuang setelah tujuh tahun pacaran karena status sosialnya, Kalea berhasil bangkit menjadi pemilik butik sukses. Saat hendak menikahi seorang dokter bedah, mantan kekasihnya datang mengacaukan pernikahan dengan fitnah keji. Pria itu membawa seorang anak dan memaksa Kalea kembali demi membesarkan bocah tersebut. Benarkah itu darah daging Kalea? Di mana istri pria itu sebenarnya? Kini, Kalea terjebak di antara bayang-bayang masa lalu dan masa depannya.
Sampul Novel Larisa
9.5
Kehilangan orang tua dalam kecelakaan tragis membawa Larisa ke dalam asuhan kerabat lama yang hangat. Namun, putra mereka justru bersikap dingin dan selalu menjaga jarak darinya. Takdir kemudian membawa mereka ke dalam ikatan pernikahan yang tak terduga. Di tengah dinginnya sikap sang suami, Larisa harus berjuang menjalani kehidupan rumah tangga barunya. Sanggupkah ia bertahan dan menemukan kebahagiaan sejati dalam pernikahan yang penuh keterpaksaan ini?
Sampul Novel Melodi Curian, Cinta Dikhianati
8.2
Karya musik yang kutulis selama tiga tahun dicuri oleh tunanganku, Bima, dan adikku, Bianca. Pengkhianatan mereka direstui oleh orang tuaku sendiri demi ambisi keluarga. Bakatku diperas, perasaanku diabaikan, bahkan janin di rahimku dianggap alat untuk mengendalikanku. Di tengah kepura-puraan kasih sayang Bima, aku akhirnya memilih mengambil langkah drastis untuk mengakhiri semua penderitaan ini.