APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menikahi Bu Manajer

Menikahi Bu Manajer

Pertemuan tak sengaja dengan Erika Hana di trotoar mengubah total garis hidup Prastu. Siapa sangka, sang manajer sukses di bidang kuliner itu adalah sosok yang dijodohkan dengannya. Terikat oleh janji masa lalu kedua orang tua mereka, Prastu dan Erika kini terpaksa menjalani pertunangan tanpa rasa cinta. Di tengah peliknya dinamika dunia modern, mereka harus bertahan dalam hubungan formal ini demi menuntaskan wasiat keluarga.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aroma hujan semalam bercampur dengan aroma embun. Jalanan yang basah dan daun yang dipaksa gugur karena tertimpa hujan mengotori jalanan.

"Kenapa kamu rapi banget pagi-pagi begini?" Suara parau wanita dari balik pintu.

Rambutnya yang panjang sebahu awut-awutan, setengah mengantuk. Kantung matanya terbentuk efek menangis tadi malam.

“Pagi! Tidurnya nyenyak, ya?” sapaku sembari mengancing pergelangan jas berwarna biru langit.

"Mau kopi?" tawarku.

"Jawab dulu! Mau kemana?"

“Ada acara keluarga,” jawabku.

Air mukanya berubah, dia merangsek kembali ke kamar.

“Dimana baju yang kupakai semalam?” teriaknya dari dalam.

"Aku gantung di balik pintu!" balasku.

Brak!

Pintu dibanting dengan keras hingga membuat bahuku bergidik. Seenaknya saja kasar terhadap fasilitas yang kumiliki.

Kalau tidak salah dengar, semalam dia mengatakan dengan raut muram jika hari ini adalah hari pertunangannya. Bukankah seharusnya dia bahagia? Anehnya, raut bahagia sama sekali tidak tergambar di wajahnya itu.

Beberapa menit kemudian wanita itu keluar dari kamar dengan kemeja lengan panjang. Ujungnya dimasukan rapi ke dalam rok motif bunga-bunga warna hijau. Bajunya masih terlihat lembab, aroma apek sedikit tercium karena digantung di dalam kamar.

“Antar aku!” pintanya.

"Mau kopi? " tawarku sekali lagi.

"Gak usah!"

"Hari ini kamu tunangan, kan? Berbahagialah sedikit, Nona!"

"Bukan urusanmu! Pokoknya cepat antar aku pulang!"

"Oke!"

Bagaimanapun juga, aku harus bertanggung jawab karena semalam telah 'memungut' wanita ini di trotoar.

Tanpa banyak bicara kami masuk ke dalam mobil wagon milikku. Aku duduk di belakang kemudi lalu menyalakan mesin. Sementara wanita itu memasang sabuk pengaman.

“Tolong antar aku ke alamat ini!”

Dia memperlihatkan sebuah alamat pada memo smartphone-nya.

“Jalan Kartini, No. XX Gang XX, Denpasar.” Aku membaca alamat itu perlahan. Alamat yang tidak asing bagiku.

Deru mesin dan suara klakson di jalanan kota yang padat membuatku harus mengemudikan wagon hitamku dengan kecepatan standar.

“Bisa cepat dikit gak?” protesnya.

“Gimana mau cepat? Kamu tahu kan, lalu lintas pagi hari di kota ini padat. Tuh, traffic light di depan aja padat begitu.” Aku menunjuk ke arah traffic light di depan. Kendaraan mengantri menunggu lampu hijau menyala.

Dia memasang wajah kesal. Saat seperti ini, seharusnya aku yang kesal karena dia seenaknya saja memperlakukanku seperti sopir pribadi.

Terdengar nada dering dari smartphone milik wanita yang duduk di sebelahku. Dia kemudian mengeluarkan benda pipih dari dalam tas tangan.

“Iya, Ma. Ini lagi di jalan. Sebentar lagi sampai, kok.”

Setelah menutup panggilan, dia mengeluarkan kekesalannya lagi.

“Kalau aku telat ke acara lamaranku ini semua salahmu, ya!”

Aku menginjak pedal gas perlahan, mengatur laju mobil. Tangan kiriku memegang tuas persneling.

“Loh, Kok jadi aku yang salah? Udah tahu mau tunangan hari ini malah berkeliaran. Tidur di trotoar lagi!" sanggahku tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan padat di depan.

"Cih!"

Wanita itu membuang muka, melipat tangan ke dada.

Kamu pikir kamu saja yang jadi terlambat? batinku.

Hampir tiga puluh menit kami berada di tengah kemacetan. Meski melaju pean, mobil yang kukendarai akhirnya berhasil keluar dari kerumunan benda besi itu. Memasuki jalur yang lenggang.

Aku sudah hafal jalanan di kota ini, menemukan alamat tujuan wanita ini pun jadi sangat mudah.

Mobil wagon ku berhenti tepat di depan sebuah rumah. Pagarnya terbuat dari besi yang dicat hijau. Aku mendongak, melihat ke dalam halaman, dari sini tampak suasana ramai di dalam rumah.

"Ramai juga sambutan untuk calon tunanganmu." Aku berkomentar.

Tanpa berkata apa-apa, tahu-tahu pintu wagon ku sudah terbuka. Dia sudah di luar mobil kemudian menutup pintu. Dari balik jendela, seorang wanita paruh baya menyambutnya dengan pertanyaan.

Buk!

Pintu wagon ditutup kasar tanpa perasaan.

Sungguh wanita yang tidak sopan, dia bahkan tidak mengucapkan terima kasih setelah aku memungutnya semalam. Lalu, mengantarnya ke sini demi acara pertunangannya.

Sampai di sini, urusanku dengan wanita itu sudah selesai. Aku mengenakan kacamata hitam kemudian melajukan mobil ke rumah orang tuaku.

***

Begitu aku mematikan mesin , suasana dari luar tampak sedikit krodit di dalam rumah. Aku disambut Ryan, sepupuku yang masih duduk di bangku kelas 6 SD.

"Pras, bandel banget dikasi tahu buat siap-siap hari ini,” ucap mama sambil merapikan dasi yang miring.

“Kayaknya semua udah siap, ya?”

Kusapukan pandangan ke ruang tamu. Suasana di dalam sana ramai oleh keluarga dekat. Parcel dan semua persiapan untuk lamaran sudah siap di atas meja.

Hari ini adalah hari pertunanganku dengan seorang wanita yang sama sekali tidak pernah kutemui. Dua bulan lalu Papa hanya bilang kalau aku akan dijodohkan dengan putri sahabatnya. Membayangkan bagaimana wajah calon tunanganku itu membuatku sedikit was-was.

Berbagai bentuk dan paras wajah terbayang di kepalaku. Pokoknya tidurku hampir tidak bisa nyenyak.

Aku pernah meminta Papa menunjukkan foto calon tunanganku tapi, Papa malah mengatakan kalau wajah calon tunanganku itu cantik, hitam manis.

Semoga saja aku tidak dijodohkan dengan kecap.

“Kamu gugup?” tanya Papa.

“Biasa aja, Pa.”

Meskipun aku menunjukkan ekspresi datar, di dalam dadaku ada sesuatu yang membuat jantungku berdebar. Bahagia dan was-was bercampur di dalam sana.

Aku tidak tahu siapa nama dan bagaimana rupa wanita yang akan jadi calon istriku nanti.

Singkatnya ini pertunangan paksa. Aku ditunangkan dengan anak teman bisnis Papa yang kabarnya sudah seperti keluarga. Mereka berjanji untuk menjodohkan anak-anak mereka sewaktu mulai membangun bisnis puluhan tahun silam.

Hal lain yang kuketahui tentang calon tunanganku adalah, dia berpendidikan tinggi. Pokoknya, calon tunanganku itu adalah wanita sempurna di mata Papa.

Itu berarti aku korban, kan?

Semuanya sudah siap, kami berangkat menuju rumah calon tunangan yang tidak kukenal. Hanya aku, papa dan mama yang berangkat ke rumah calon tunanganku. Tetangga yang membantu mempersiapkan lamaran sudah mulai pulang ke rumah.

Papa yang menyetir.

Aku tidak bisa membayangkan akan jadi apa masa depanku nanti jika pertunangan kami seperti ini. Tidak mengenal satu sama lain bahkan rupanya saja tidak pernah lihat. Kuharap wanita yang dilamar hari ini menolakku.

Sepuluh menit kemudian kami sampai di tempat yang dituju. Mataku membulat ketika mobil diparkir di depan rumah berpagar hijau.

“Pa, benar ini rumahnya?” tanyaku memperhatikan sekeliling sambil memastikan.

“Iya, emang kenapa? Kamu pernah ke sini?”

Tidak salah lagi, ini adalah rumah wanita yang semalam tidur di trotoar.

“Ayo turun!” ajak Mama.

Aku berjalan di belakang mereka memasuki halaman rumah berpagar hijau.

“Halo, Pak Bos!" Papa menyapa seorang pria yang berdiri di depan pintu. Mereka menjabat tangan lalu berpelukan. Mama juga begitu dengan wanita yang ada di sebelah bapak itu.

Sepertinya mereka sangat akrab dilihat dari cara mereka berbasa basi.

Aku mendongak ke dalam rumah, hanya ada beberapa orang lalu lalang di dalam sana. Beberapa lainnya memperhatikan kami.

“Nah, ini Prastu.” Papa memperkenalkanku.

“Pras, ini Om Jayanta, ayo salim!"

“Halo Om, Tante," sapaku. Aku menjabat kedua tangan pasangan suami istri itu bergantian.

“Wah, gantengnya ya. Hahaha.” Bapak itu memuji sambil mengelus pundakku.

“Ah, anakmu juga cantik.” Papa balik memuji.

“Masuk yuk, ditunggu di dalam!” ajak istri Om Jayanta.

Rumah ini dibilang sederhana dari luar tapi, begitu masuk, kamar tamunya begitu luas. Banyak furniture mewah dan sofa bergaya eropa warna merah marun. Lemari yang berjejer memuat berbagai macam buku dan piagam penghargaan. Pigura terpajang sebagai penghias.

Mataku membulat ketika menangkap salah satu pigura keluarga. Di dalam gambar itu terpampang wajah wanita yang tidur di trotoar. Dia mengenakan dress merah marun, rambutnya tergerai dengan posisi berdiri di belakang kedua orangtuanya. Di sebelahnya, berdiri seorang gadis dengan pose tersenyum sambil memegang pundak ibunya.

“Pras!” Mama membuyarku.

“Aku pun mengambil tempat duduk di tengah kedua orangtuaku, berhadapan dengan Om Jayanta dan istrinya. Di Meja sudah diletakkan segala sesuatu yang kami bawa.

“Sebentar lagi turun kok,” kata Om Jayanta.

Perasaan di dalam dadaku ini semakin berkecamuk, menerka-nerka siapa dari dua orang dalam pigura keluarga itu yang akan bertunangan denganku hari ini.

Tap! Tap! Tap!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Guru Bahasa Inggris Baru
8.1
Mihoko adalah seorang pengajar bahasa Inggris yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berparas sangat menawan. Saat mulai bekerja di sekolah gereja yang religius, guru baru ini justru terjebak dalam situasi yang mengancam keselamatannya. Ia menjadi target rencana jahat kekerasan seksual yang sangat licik. Kisah dewasa ini menyoroti perjuangan berat Mihoko dalam menghadapi ancaman mengerikan tersebut serta upayanya untuk lolos dari jebakan pemerkosaan yang mengintainya.
Sampul Novel His Darling Debtor
9.2
Clara harus menanggung akibat dari tindakan ayahnya yang melarikan diri dengan uang milik Tuan Blackwell. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa mengorbankan kebebasannya dan bersedia menjadi wanita simpanan sang miliarder. Namun, kesepakatan dingin ini justru menyeret Clara ke dalam badai emosi yang rumit serta misteri masa lalu yang mulai terungkap. Hubungan yang penuh ketegangan ini pun menjadi ujian berat bagi ikatan sejati mereka.
Sampul Novel Modal Dusta
9.4
Kecewa karena diabaikan dan diperlakukan kasar oleh suaminya yang tidak memberi nafkah, seorang istri merasa hampa. Di tengah kesedihan, ia dikenalkan pada pria tampan oleh temannya. Hubungan biasa itu berubah menjadi pelarian emosional saat sang pria tulus mendengar keluh kesahnya. Lewat pesan yang intens, benih cinta tumbuh. Kini ia terjebak romansa terlarang dengan pria yang jauh lebih muda. Akankah hubungan penuh kebohongan ini bertahan?
Sampul Novel PERNIKAHAN PAKSA : Menikah Tanpa Cinta
9.6
Baskara, sang pewaris takhta Adiputra Group, terpaksa menuruti perjodohan dari orang tuanya di saat hatinya masih milik Viona. Ia pun menikahi Hanna, sosok gadis periang yang patuh pada kehendak sang ayah. Di balik pernikahan tanpa rasa cinta ini, Hanna harus berlapang dada menerima kenyataan pahit bahwa hati suaminya terkunci untuk wanita lain. Akankah pengorbanan tulus ini menuntun mereka pada akhir yang bahagia, atau justru menorehkan luka yang kian perih?
Sampul Novel Suami Yang Menolak, Hati Yang Hancur
9.3
Akibat kesalahpahaman di hotel, Almira terpaksa menikah dengan Adrian Elvano karena desakan keluarga besar. Meski Adrian menolak keras dan bersikap dingin akibat trauma masa lalu, pernikahan tetap terjadi. Almira yang bekerja sebagai guru les anak Adrian pun dianggap sebagai beban tak kasat mata. Di tengah kepedihan batin tinggal di rumah asing tersebut, Almira mendapat peluang emas untuk kuliah di luar negeri. Kini ia dilema: bertahan dalam luka atau pergi demi lembaran baru.
Sampul Novel SWEET ESCAPE
9.5
Sebastian Winata dan Ayuna Larissa bertemu saat sama-sama melarikan diri dari keputusasaan. Sebastian, yang didera konflik rumah tangga, terkejut melihat siswinya sendiri keluar dari kelab malam. Di tengah pelarian emosional tersebut, Ayuna menyadari posisi sulit mereka. Ia pun menegaskan bahwa Sebastian tidak mungkin membagi hati, sebab dirinya hanyalah tempat persinggahan sementara yang tak akan pernah menjadi rumah bagi sang guru.