APKDock Logo
Sampul Novel Menikahi Bu Manajer

Menikahi Bu Manajer

9.3 / 10.0
Pertemuan tak sengaja dengan Erika Hana di trotoar mengubah total garis hidup Prastu. Siapa sangka, sang manajer sukses di bidang kuliner itu adalah sosok yang dijodohkan dengannya. Terikat oleh janji masa lalu kedua orang tua mereka, Prastu dan Erika kini terpaksa menjalani pertunangan tanpa rasa cinta. Di tengah peliknya dinamika dunia modern, mereka harus bertahan dalam hubungan formal ini demi menuntaskan wasiat keluarga.

Menikahi Bu Manajer Bab 1

Wanita itu masih berbaring di tempat tidur saat aku keluar dari kamar mandi. Aku menemukannya tergeletak di trotoar dalam perjalanan pulang dari kedai mie ayam milikku. Aku tidak kenal wanita itu sama sekali. Mungkin dia terlalu banyak minum alkohol namun kalau kuperhatikan wajahnya, dia sama sekali tidak terlihat seperti wanita pemabuk atau wanita yang bekerja di klub malam.

Aku tidak bermaksud buruk terhadapnya, hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantu wanita itu supaya tidak kedinginan di luar sana saat hujan begini. Bajunya sudah ku ganti dengan yang kering. Meski ukurannya kebesaran, setidaknya dia tidak akan masuk angin karena mengenakan baju yang basah.

Sambil menunggunya bangun, aku menyibukkan diri bermain playstation. Memasang semua kabel penghubung ke smart TV. Logo produsen muncul begitu kutekan tombol pada remote. Selanjutnya, aku menekan tombol untuk menghubungkan ke playstation. Menu game kemudian muncul. Sudah lama sekali aku tidak memainkan playstation yang sudah lama kubeli ini.

“Siapa?”

Terdengar suara parau dari belakang.

“Sudah bangun?” tanyaku tanpa menoleh ke sumber suara karena mataku fokus pada layar dan jariku asik menekan konsol.

“Ke ... kenapa aku di sini?”

Aku tidak langsung menjawab. Suara konsol game terdengar lebih menyenangkan.

“Kamu siapa?” tanyanya lagi.

Aku masih tidak memperdulikannya dan fokus pada permainanku. Lalu tiba-tiba saja layar smart TV berubah jadi gelap.

“Aish! Lagi seru, nih!" umpatku.

Wanita itu mengacungkan remote, seakan-akan benda itu adalah senjata. Rambut hitam panjang sebahu wanita itu terlihat lepek dan kusut. Mata sipitnya melebar.

“Kamu siapa? Kenapa aku di sini?”

Aku meletakkan konsol game di lantai, berdiri dan pelan-pelan mendekat. Tatapan matanya awas. Sembari terus mengarahkan remote seperti mengarahkan pistol, dia mundur selangkah-selangkah seiring dengan langkahku yang maju mendekat.

“Bingung?”

“Apa maksudnya itu? Tentu saja aku bingung. Bangun-bangun ada di rumah orang asing!” nadanya mulai meninggi.

“Justru aku yang bingung. Lagian, kamu ngapain tidur di trotoar malam-malam begini? Apa kamu mabuk?”

Aku mendekatkan wajahku lalu mengendusnya.

“Gak bau alkohol sama sekali.”

Kaki jenjangnya terus melangkah mundur hingga masuk kembali ke kamar.

Aku duduk di tepi tempat tidur sementara, dia tetap waspada, menjaga agar bagian depan badannya tetap berhadapan denganku.

“Aku mau pulang!” rengeknya.

Dengan santai aku meraih gorden, menyibak nya. Menunjuk suasana di luar, begitu gelap di tengah derasnya hujan.

“Masih hujan deras di luar. Sudah larut malam juga.”

“Pokoknya aku mau pulang!”

Degar!

Petir menggelegar di luar sana, bak lampu flash kamera yang memotret objek. Wanita itu merosot ke lantai sambil menutup kedua telinga dengan tangan kurusnya.

“Yakin berani pulang sendiri?” tanyaku sambil menyilangkan kaki.

“Pokoknya aku mau pulang, titik!” bentaknya.

“Oke!”

Aku menarik tangan yang menempel di telinganya, mengantarnya ke pintu kemudian menghempas tubuhnya keluar, mengunci pintu secepat mungkin.

Bukannya bermaksud kasar terhadap wanita tapi, dia sendiri yang merengek ingin pulang.

Degar!

Petir kembali menggelegar di langit dalam waktu sepersekian detik.

“Buka! Buka pintunya!” teriak wanita itu dari luar.

Dia menggedor pintu dengan keras.

"Buka pintunya, woy!"

"Pulang saja sendiri!" teriakku dari dalam.

Bukannya berhenti menggedor pintu, dia malah menggedor semakin keras. Nyaris memecah gendang telinga.

“Berisik! Katanya mau pulang?” bentakku sembari membuka pintu lebar-lebar.

Wanita itu terisak, mengedikkan bahu mendengar bentakanku.

“Masuk!” perintahku.

Dia masuk dengan langkah lunglai, menunduk dan takut. Namun begitu melewatiku yang berdiri memegang pintu, dia berlari ke ruang tamu, duduk di lantai beralaskan karpet berwarna biru muda.

"Merepotkan!" umpatku pada diri sendiri.

Aku melenggang ke belakang konter dapur. Mengambil gelas kaca lalu memenuhinya dengan cairan berwarna bening dari dispenser. Aku membawanya ke hadapan wanita itu.

“Tenang dan minum dulu!”

Gemang, tangan wanita itu merebutnya dengan kasar, nyaris tumpah namun diteguknya juga cairan berumus kimia H2O itu, habis dalam sekali teguk bak seorang kelana dari gurun pasir yang menemukan oasis.

Aku bersila berhadapan dengannya di atas karpet.

"Jangan dekat-dekat!" bentaknya.

Aku mengusap wajah, mengela napas dan mengembuskannya kasar.

"Mau aku keluarkan lagi atau bagaimana?" Kutatap dalam-dalam matanya yang basah.

Lagi-lagi, dia hanya terisak.

“Aku bukan orang jahat, Nona!"

Dia memeluk lutut.

“Kalau lapar, di atas meja makan ada bubur. Mungkin udah sedikit dingin tapi, masih layak makan, kok. Kamu mau pulang pun gak bisa!"

Derau air di luar sana semakin deras, hujan malam ini tidak akan mereda dalam waktu singkat.

"Besok aku harus tunangan, kalau gak pulang malam ini apa kata orang tuaku nanti?" ucapnya lirih.

“Kalau hujannya sederas ini tidak akan segera mereda. Di luar juga bahaya!” Aku mengingatkan.

“Malam ini boleh pakai kamarku, aku tidur di kamar sebelah,” ucapku sembari meninggalkannya yang masih duduk memeluk lutut.

Aku masuk ke dalam selimut putih. Meski mencoba untuk memejamkan mata tetap saja alam bawah sadarku tidak dapat mendorongku untuk masuk ke mimpi. Pikiranku terganggu oleh wajah tirus wanita itu. Dari jendela kamar ini, aku melihat dengan jelas hidung pesek yang mengembang dan mengempis karena menarik napas.

***

Sudah jam setengah dua belas malam, sejak dia merengek ingin pulang aku jadi hanya mengerjap- ngerjapkan mata di atas kasur. Entah sudah berapa posisi yang kucoba untuk memaksa diri ke alam mimpi akan tetapi tetap saja, aku mengkhawatirkannya. Tidak tahan lagi dengan perasan gelisah ini, aku menghampirinya. Posisi duduknya tidak berubah, masih memeluk duduk dan menopang dagunya di atas lengan.

"Kamu kenapa?" tanyaku.

Alih-alih menjawab pertanyaanku dia menangis sejadi-jadinya.

"Eh … Ssssst!" Aku menempelkan jari telunjuk di bibir. Mencoba menenangkannya.

"Ini tengah malam, bisa-bisa suaramu mengganggu tetangga!" bisikku.

Melihat tingkahnya seperti bocah, aku menepuk pipiku. Entah kenapa aku jadi menyesal membawanya ke sini meski niatku baik.

"Nona, tenanglah!" tegasku sekali lagi.

Mataku berkelana mencari sesuatu untuk menenangkannya lalu, terhenti ketika mataku menangkap bungkus teh hijau di atas konter dapur. Otakku bergerak dengan cepat, memerintah untuk menyeduhkannya teh hijau. Aku kembali padanya dengan cangkir yang mengeluarkan uap, duduk bersila di depannya.

"Minumlah!" Kusodorkan cangkir benda di tanganku kepadanya.

"Ini udah malam, setelah ini tidur, ya!" ucapku kepadanya yang sedang menyeruput teh.

Wanita itu mengangkat wajah, memandangku lekat-lekat.

"Kamu gak ngapa-ngapain aku, kan?" tanyanya penuh curiga.

"Ngapa-ngapain gimana?"

Sejurus kemudian dia mengerutkan badan. Menyadari dia sudah salah sangka, aku menepuk pipi.

"Huft. Jangan negatif thinking begitu. Aku pilih-pilih kalau soal wanita. Aku gak selera sama wanita yang tiduran di trotoar!" ucapku.

Mata wanita itu kembali memincing. Aku sudah salah sangka karena menganggapnya menerima niat baikku.

"Tapi, kamu itu laki-laki. Tampangmu mesum!"

Seenaknya saja berkata begitu. Benar-benar wanita tidak tahu diri. Padahal aku sudah menolongnya sampai mengorbankan waktu tidurku.

"Masih bagus tampangku saja yang terlihat mesum. Kalau kamu dipungut oleh pria mesum beneran gimana?" umpatku.

Matanya memandangku lurus-lurus, menutup seluruh bagian depan tubuhnya dengan lutut.

"Kalau gak percaya padaku, kamu cuma punya satu pilihan. Keluar!" ucapku.

Dia malah membulatkan mata, ujung bibirnya melengkung turun.

"Di luar sana bahaya malam-malam begini. Kamu bisa ketemu pria hidung belang, begal atau anjing liar."

Melihat wajahnya memucat, aku menghentikan kata-kataku.

"Besok pagi aku akan mengantarmu pulang. Sekarang tidurlah!"

"Bener?"

"Kenapa harus bohong?"

Aku berdiri, sekali lagi memperingatkannya untuk kembali tidur. Ragu-ragu, dia melangkah pelan ke kamarku. Menutup pintu kemudian, aku tidak tahu lagi kegiatannya di dalam kamar kesayanganku itu.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Menikahi Bu Manajer

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel ALFARO | Berandal gilaku
8.5
Keenan Alfaro tumbuh tanpa orang tua, mengandalkan kalimat papanya yang keras untuk bertahan. Kini di usia 18 tahun, ia menjadi murid beasiswa yang urakan dan playboy, ditakuti semua orang. Namun Mutiara, gadis pintar seangkatannya, berhasil meluluhkan hatinya. Hubungan mereka berubah menjadi neraka ketika Mutiara meminta Keenan mempublikasikan status mereka. Para cewek yang merasa dimanfaatkan oleh rayuan Keenan, bersama para cowok yang pernah dikalahkannya, kini membalas dendam dengan membuli Mutiara. Akankah cinta mereka bertahan di tengah tekanan dan kekerasan? Atau Mutiara akan menyerah pada keadaan?
Sampul Novel Gairah Nakal Ayah Temanku
8.8
Novel romansa modern ini menyajikan kisah khusus dewasa dengan konflik emosional yang rumit dan menantang. Pembaca diharapkan bijak serta cukup umur saat mengikuti dinamika hubungan yang penuh gejolak di dalamnya. Menampilkan narasi yang berani dan eksplisit, buku ini menuntut kedewasaan sikap untuk memahami setiap ketegangan yang ada. Sebuah pilihan bacaan yang sangat cocok bagi para pencinta literasi romantis matang.
Sampul Novel ID-PD76
9.0
Tiga tahun Evelyn tulus merawat Aidan yang amnesia sekaligus menjadi kekasih rahasianya. Namun, semua hancur saat ia tahu Aidan hanya pura-pura hilang ingatan. Lebih kejam lagi, Aidan dan masa lalunya terlibat dalam kematian ayah Evelyn. Tak tinggal diam, Evelyn mengumpulkan bukti demi menjebloskan mereka ke penjara di hari pernikahan mereka. Saat Aidan akhirnya sadar siapa cinta sejatinya, Evelyn telah menutup rapat hatinya dan memilih pergi selamanya.
Sampul Novel I'm Sorry, Rachel
8.7
Sejak kecil, Rachel selalu menderita akibat kebencian sang ibu yang menyesali kelahirannya. Kemalangan hidupnya kian memuncak saat ia dipaksa menikahi putra bungsu keluarga Halim yang berkebutuhan khusus demi menjadi tumbal keluarga. Namun, Fahlan, sang suami, rupanya menyimpan sebuah rahasia besar yang menyakitkan. Diabaikan oleh Fahlan bersama anak mereka, Rachel kini harus tegar menghadapi kejamnya dunia dan kenyataan bahwa karma itu memang nyata.
Sampul Novel Sindiran Pedas Istri Kedua
8.9
Kehidupan Tiara hancur setelah mengizinkan suaminya menikah lagi. Kesabaran dan sikap mengalahnya tidak membuahkan kedamaian. Istri kedua sang suami justru terus mengusik ketenangannya dengan sindiran pedas, baik secara langsung maupun lewat media sosial. Terjebak dalam situasi yang menyakitkan ini, Tiara kini dihadapkan pada pilihan sulit. Haruskah ia tetap bertahan demi pernikahannya, atau mengumpulkan keberanian untuk melangkah pergi?
Sampul Novel Tante Lusi Yang Menggoda
9.0
Sebagai pelatih kebugaran berfisik prima, pria ini terbiasa dengan rutinitas disiplin. Namun, kepergian istrinya untuk dinas luar kota selama setengah bulan menyisakan kesepian mendalam yang membuatnya terjaga tiap malam. Keadaan berubah drastis saat seorang wanita menawan berusia empat puluhan menyelinap masuk ke dalam kamarnya secara diam-diam. Menawarkan godaan yang sulit ditolak, wanita itu siap mengambil langkah pertama jika sang pelatih terus terdiam dalam kebimbangan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan