APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mafia Koplak: Kekacauan Cinta Antara Don Arkhan dan Si Bebeb Gila

Mafia Koplak: Kekacauan Cinta Antara Don Arkhan dan Si Bebeb Gila

Kehidupan Don Arkhan, bos mafia yang dingin dan disegani, berubah total setelah menikahi Yara. Tingkah konyol dan kelakuan ajaib sang istri terus menguji kesabarannya. Di balik keceriaan itu, Yara rupanya memendam trauma masa lalu yang membuatnya takut akan keintiman. Di tengah gempuran ancaman dari rival organisasinya, Arkhan berjuang meruntuhkan tembok pertahanan hati Yara. Inilah kisah cinta yang absurd sekaligus emosional antara sang predator dan istrinya yang unik.
Bab
Bagikan

Bab 2

Malam itu, setelah acara selesai, Yara merasa lega bisa keluar dari ballroom tanpa harus bertemu Arkhan lagi. Ia sudah cukup stres dengan acara formal yang penuh aturan itu. Ia hanya ingin pulang, tidur, dan mungkin ngemil cokelat di atas kasur sambil nonton drama Korea. Tapi takdir berkata lain.

Saat ia melangkah menuju parkiran, sebuah mobil hitam berhenti mendadak di depannya. Kaca jendela mobil itu turun perlahan, dan wajah Arkhan, dengan tatapan tajam yang khas, muncul dari baliknya.

"Masuk," kata pria itu singkat.

Yara mengerutkan kening, bingung. "Hah? Masuk ke mana? Aku nggak pesan taksi online, deh."

Arkhan menghela napas. Tatapannya tidak menunjukkan kesabaran sedikit pun. "Aku tidak suka mengulangi perintah dua kali. Masuk sekarang, atau aku yang menarikmu masuk."

Yara mendadak panik. Ia mundur selangkah, lalu mencoba tertawa untuk mencairkan suasana. "Hehe, Arkhan, aku tahu kamu serius banget orangnya, tapi bercanda dikit dong. Lagian aku bawa motor, aku bisa pulang sendiri."

Arkhan tidak bergeming. Rahangnya mengeras. "Lima detik."

"Hah?"

"Lima detik. Kalau kamu nggak masuk, aku yang turun dan membawamu masuk."

Yara menatap Arkhan dengan pandangan setengah takut, setengah kesal. Pria ini benar-benar tidak bercanda. Tapi ia juga tipe yang tidak mau kalah begitu saja.

"Dengar, tuan Mafia. Aku ini bukan salah satu anak buahmu, oke? Jadi-"

Arkhan membuka pintu mobilnya, keluar, dan berjalan ke arahnya dengan langkah besar. Yara menelan ludah. Ia tahu Arkhan tidak main-main. Sebelum pria itu sempat sampai di depannya, ia buru-buru mengangkat tangan.

"Oke, oke! Aku masuk! Jangan sentuh aku! Rambutku baru dikeramas!"

Arkhan berhenti, menatapnya sejenak dengan ekspresi datar, lalu kembali ke mobil. Yara menghela napas panjang, mengumpulkan keberanian, dan akhirnya masuk ke dalam mobil itu.

"Happy?" omelnya sambil menyandarkan tubuh ke jok.

Arkhan tidak menjawab. Ia hanya memberi tanda pada sopir untuk menjalankan mobil. Yara mendengus, merasa sangat tidak dihargai.

"Bisa nggak sih kamu jelasin dulu kenapa aku harus ikut kamu? Aku kan punya hak untuk tahu apa yang terjadi. Kita ini suami-istri, bukan bos sama anak buah, ngerti?"

Arkhan menatapnya sekilas. "Kamu bikin kekacauan malam ini."

Yara melongo. "Kekacauan? Kekacauan apa? Aku cuma diam aja di pojokan, nunggu waktu pulang. Apa itu termasuk kekacauan buat kamu?"

"Kamu menumpahkan wine ke baju salah satu klien pentingku."

"Itu bukan salahku!" Yara langsung membela diri. "Dia yang jalan terlalu dekat ke arahku! Dan, lagian, siapa sih yang taruh meja wine di tengah ruangan kayak gitu? Itu kan bahaya buat orang ceroboh sepertiku!"

Arkhan memijat keningnya, tanda ia mulai kehilangan kesabaran. "Kamu bahkan tidak meminta maaf padanya. Kamu malah tertawa."

Yara tersentak. "Hei, aku nggak sengaja ketawa, oke? Aku gugup. Kalau aku gugup, aku memang suka ketawa. Itu reflek!"

Arkhan menatapnya tajam, tapi kali ini ada sedikit kelelahan di matanya. "Yara, kamu tidak bisa terus seperti ini. Dunia yang aku jalani bukan tempat untuk orang seperti kamu. Kalau kamu terus bertingkah seperti tadi, kamu akan membuat masalah besar."

Yara mengernyit. "Masalah besar? Jadi, sekarang aku ini masalah buat kamu?"

Arkhan menghela napas panjang, menahan diri untuk tidak mengeluarkan komentar tajam. "Bukan itu maksudku."

"Kalau bukan itu, terus apa? Kamu malu punya istri kayak aku? Kamu lebih suka kalau aku diem aja, tunduk sama kamu, kayak patung?"

Arkhan tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan, seolah mencoba mengabaikan semua protes Yara. Tapi sikap diamnya justru membuat Yara semakin kesal.

"Kamu tahu nggak, Arkhan?" Yara mulai berbicara dengan suara yang lebih tinggi. "Aku ini nggak pernah minta untuk masuk ke dunia kamu. Kamu yang bawa aku ke sini. Jadi, kalau kamu nggak suka sama aku, ya salahkan dirimu sendiri!"

Arkhan tetap diam. Tapi rahangnya yang mengeras menunjukkan bahwa ia sedang menahan diri dengan sangat keras untuk tidak membalas.

Yara mendengus. Ia menyilangkan tangan di dada, memalingkan wajah ke jendela. "Pria. Selalu merasa benar. Selalu merasa paling tahu segalanya."

Mobil melaju dalam keheningan yang canggung selama beberapa menit. Yara mencoba menyibukkan diri dengan memandangi lampu jalan yang berkelap-kelip. Tapi rasa penasarannya akhirnya mengalahkan rasa kesalnya.

"Jadi, kita mau ke mana?" tanyanya akhirnya.

"Ke markas," jawab Arkhan singkat.

Yara menoleh, kaget. "Markas? Serius? Kamu mau bawa aku ke sarang Mafia? Kamu ini beneran nggak punya otak atau gimana sih?"

Arkhan menatapnya tajam. "Jaga ucapanmu."

"Jaga ucapan? Aku? Oh, maaf, Tuan Mafia. Aku lupa kalau kamu ini raja besar yang nggak boleh disentuh harga dirinya."

Arkhan memejamkan mata sebentar, mencoba menenangkan diri. "Aku membawamu ke markas karena aku tidak bisa membiarkanmu sendirian. Setelah kejadian tadi, ada kemungkinan rivalku akan mencoba mendekatimu."

Yara terdiam. Ia tidak menyangka alasan Arkhan ternyata lebih serius dari dugaannya.

"Rival?" tanyanya pelan.

Arkhan mengangguk. "Damar. Dia mungkin akan mencoba memanfaatkanmu untuk menyerangku. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

Yara menelan ludah. Nama Damar sudah tidak asing lagi baginya. Pria itu adalah mantannya, seseorang yang pernah ia pikir ia cintai, sebelum ia tahu siapa sebenarnya pria itu.

"Tapi..." Yara mencoba mencari alasan. "Bukannya aku lebih aman kalau aku jauh dari kamu? Kalau aku ke markasmu, bukannya itu malah membuat aku jadi target yang lebih mudah?"

Arkhan menatapnya dengan tatapan dingin. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu. Selama kamu ada di dekatku, kamu aman."

Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Yara terdiam. Meskipun ia kesal, ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Arkhan benar-benar serius melindunginya. Tapi, di sisi lain, ia juga tidak tahan dengan sikap pria itu yang selalu merasa tahu yang terbaik.

"Kalau aku aman di dekatmu, kenapa aku masih merasa seperti anak kecil yang terus dimarahi?" gumam Yara pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Arkhan tidak menjawab. Ia hanya menatapnya sebentar, lalu kembali memalingkan wajah. Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan besar dengan penjagaan ketat. Yara menatapnya dengan mata melebar.

"Ini markasmu?" tanyanya.

Arkhan mengangguk. "Masuk."

Yara menghela napas panjang. "Baiklah, Tuan Mafia. Aku ikut. Tapi kalau aku bosan, aku nggak segan-segan kabur, ya."

Arkhan hanya menggelengkan kepala sambil berjalan masuk. Yara mengikutinya, meskipun hatinya masih penuh dengan keraguan.

♡ ♡ ♡

Di dalam markas, suasananya jauh lebih tegang daripada yang ia bayangkan. Semua orang menatap Arkhan dengan hormat, tapi juga dengan rasa takut. Yara merasa seperti ikan kecil yang dilempar ke kolam penuh hiu.

"Pak Arkhan," salah satu anak buah Arkhan mendekat, memberi laporan. "Ada kabar tentang Damar. Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu."

Arkhan mengangguk. "Kita bicarakan nanti. Pastikan keamanan di sekitar markas ditingkatkan."

Anak buah itu mengangguk, lalu pergi. Yara menatap Arkhan dengan kening berkerut.

"Damar lagi?" tanyanya. "Dia beneran nggak punya kerjaan lain selain bikin hidup orang lain susah?"

Arkhan tidak menjawab. Ia hanya berjalan ke ruang kerjanya, meninggalkan Yara yang masih berdiri di tengah ruangan dengan ekspresi bingung.

"Eh, aku harus ikut ke mana?" tanyanya, tapi Arkhan sudah menghilang di balik pintu.

Salah satu anak buah Arkhan mendekat, seorang pria muda dengan wajah yang cukup ramah. "Bu Yara, silakan ikut saya. Saya tunjukkan tempat Anda bisa beristirahat."

Yara mengangguk pelan, mengikuti pria itu. Tapi sebelum ia sempat melangkah jauh, ia mendengar suara Rendra dari belakang.

"Yara, jangan bikin kekacauan di sini, ya. Kita semua tahu kamu spesialis bikin rusuh."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Budak di atas Ranjang
8.3
Izabelle terpaksa menyerahkan kesuciannya kepada Jordan Heron demi melunasi utang judi sang ayah yang hampir membuat mereka kehilangan tempat tinggal. Bos mafia yang kejam itu telah menanti untuk merenggut kehormatan Belle lewat transaksi terlarang yang menyakitkan. Walau ada kenikmatan di tengah penderitaan, Belle justru menerima hinaan keji dari Jordan setelah malam intim mereka usai. Kini, dalam sekapan sang pria bajingan, sanggupkah Izabelle bertahan melewati masa depannya yang suram?
Sampul Novel ISABELLA
7.9
Demi mengejar impian, Isabella, gadis sederhana dari Turki, memilih hijrah ke London. Siapa sangka, keputusan itu justru menyeretnya ke dalam lingkaran hitam dunia mafia yang berbahaya. Di tengah ancaman maut dan kekerasan yang terus mengintai, ia bersama Alech, sang kekasih, harus berjuang mati-matian mempertahankan hubungan mereka. Sanggupkah kekuatan cinta menyatukan Isabella dan Alech melewati segala rintangan demi masa depan bersama?
Sampul Novel Kini Ku Hilang Selamanya
9.6
Merayakan tujuh tahun pernikahan dengan Lionel, sang bos mafia, sang istri awalnya berniat membagikan kabar kehamilannya. Namun, kemesraan mereka hancur saat ia mendengar obrolan rahasia Lionel dan anak buahnya dalam bahasa Iltan mengenai wanita lain bernama Sofia. Tanpa mereka sadari, sang istri memahami bahasa tersebut karena asal-usul neneknya. Menahan rasa sakit hati dan amarah di balik senyum palsunya, ia diam-diam mengambil keputusan besar. Melalui ponselnya, ia menerima tawaran proyek riset medis internasional, bersiap untuk pergi dan melenyapkan dirinya dari kehidupan sang suami dalam waktu tiga hari.
Sampul Novel Lepas dari Cinta yang Telah Retak
9.1
Tiga bulan terpisah dari putrinya, Dora, karena campur tangan sang mertua, Fiona, harapan seorang istri membubung saat Arga Pratama mengajaknya berkumpul di vila. Namun, reuni yang dinanti berubah pilu. Dora justru menolak sang ibu kandung dan lebih memilih memeluk erat Maya, pelayan mereka. Alih-alih membantu menjembatani jarak di antara mereka, Arga yang dingin justru bersikap acuh tak acuh. Menghadapi penolakan dari keluarganya sendiri, sang istri memutuskan mundur dan berhenti menunggu suaminya.
Sampul Novel Pengantin Mafia: Terlahir Kembali dalam Penghinaan
9.2
Diana Dixson tewas tragis di tangan Sophia Visconti dalam kejamnya dunia mafia. Bukannya membela, Vincent Rossi, suamiku, malah merekayasa bukti dan menuduh Diana gila demi melindungi Sophia. Aku pun dipaksa menandatangani surat maaf yang menginjak-injak harga diriku hanya demi menjaga peninggalan terakhir kakakku. Di balik paksaan keji itu, dendam membara dalam sukmaku. Aku bersumpah akan membalas dendam atas kematian Diana yang telah direnggut paksa.
Sampul Novel Tuan Mafia dan Gadis Desa
9.5
Dulu, Luke dan Mika disekap bersama oleh klan Mawar Hitam di sebuah rumah tua. Mika tak bisa melupakan tato kuno di dada Luke, sedangkan Luke selalu teringat keharuman tubuh Mika yang menenangkan. Kini takdir mempertemukan mereka kembali. Sayangnya, mereka kini berada di kubu yang berlawanan sebagai musuh yang saling mengincar nyawa. Di tengah konflik dendam masa lalu, akankah benih cinta bersemi di antara mereka, atau justru ambisi masing-masing yang akan menuntut kematian lawan?