APKDock Logo
Sampul Novel Mafia Koplak: Kekacauan Cinta Antara Don Arkhan dan Si Bebeb Gila

Mafia Koplak: Kekacauan Cinta Antara Don Arkhan dan Si Bebeb Gila

9.0 / 10.0
Kehidupan Don Arkhan, bos mafia yang dingin dan disegani, berubah total setelah menikahi Yara. Tingkah konyol dan kelakuan ajaib sang istri terus menguji kesabarannya. Di balik keceriaan itu, Yara rupanya memendam trauma masa lalu yang membuatnya takut akan keintiman. Di tengah gempuran ancaman dari rival organisasinya, Arkhan berjuang meruntuhkan tembok pertahanan hati Yara. Inilah kisah cinta yang absurd sekaligus emosional antara sang predator dan istrinya yang unik.

Mafia Koplak: Kekacauan Cinta Antara Don Arkhan dan Si Bebeb Gila Bab 1

Suasana malam itu di sebuah ballroom mewah di Jakarta dipenuhi dengan kerlap-kerlip lampu kristal dan suara gelas saling berdenting. Acara amal yang diadakan oleh para sosialita ibu kota sedang berlangsung meriah. Para tamu berdandan megah dengan gaun mahal dan jas elegan, saling melempar senyum palsu sambil bertukar basa-basi. Namun di tengah kemewahan itu, seorang wanita muda bergaun merah terang dengan motif polkadot besar tampak sibuk mondar-mandir, wajahnya mencerminkan kebingungan.

Yara Avanindra, sang "bebeb koplak", jelas terlihat tak cocok dengan suasana formal ini. Dengan poni rambut yang sedikit mencuat karena salah pakai hairspray, ia tampak seperti anak ayam tersesat di kandang elang.

"Mana sih itu amplop donasi?! Kok tiba-tiba hilang gitu aja!" gumam Yara sambil menggigit kukunya. Ia baru saja ditugaskan oleh panitia untuk mengawasi amplop donasi berisi uang puluhan juta, tapi entah bagaimana, amplop itu menghilang dari meja tempat ia meletakkannya tadi.

Yara menatap sekeliling dengan gelisah. Ballroom yang luas itu penuh dengan tamu, dan semuanya tampak sibuk berbincang atau berdansa. Tidak ada yang mencurigakan. Namun, matanya tiba-tiba terpaku pada seorang pria di sudut ruangan. Pria itu mengenakan jas hitam sempurna yang membungkus tubuh atletisnya, wajahnya tajam dengan rahang tegas, dan sorot matanya dingin seperti es. Ia sedang berdiri sendirian dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celananya, terlihat seperti tidak terlalu menikmati acara ini.

"Ah! Jangan-jangan dia malingnya!" pikir Yara. Logika sederhana ala Yara langsung menghubungkan ekspresi pria itu yang tampak "mencurigakan" dengan hilangnya amplop donasi.

Tanpa berpikir panjang, Yara meraih tas kecilnya dan berjalan dengan penuh keyakinan ke arah pria itu. Langkahnya cepat dan penuh semangat, meskipun sebenarnya hatinya berdebar-debar. Ia tidak tahu siapa pria itu, tapi yang jelas, ia harus mendapatkan amplop itu kembali.

♡ ♡ ♡

Don Arkhan, pemimpin mafia paling ditakuti di Indonesia, berdiri di sudut ruangan sambil menatap bosan ke arah keramaian. Ia sebenarnya tidak ingin hadir di acara ini, tapi Rendra, tangan kanannya, bersikeras bahwa kehadiran mereka penting untuk menjaga citra organisasi. Lagipula, acara seperti ini adalah tempat yang sempurna untuk membangun koneksi dengan para "penguasa" di permukaan.

Namun, malamnya yang tenang mendadak terganggu oleh sosok wanita yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Wanita itu berdiri dengan tangan berkacak pinggang, wajah penuh percaya diri, meskipun ada sedikit gugup di matanya.

"Hei, Mas Maling!" seru Yara dengan suara yang sedikit gemetar, tapi nada menuduhnya jelas.

Don Arkhan mengangkat alisnya, sedikit bingung. Ia tidak percaya ada seseorang yang cukup nekat untuk memanggilnya "maling" di depan umum.

"Maaf?" jawab Arkhan singkat, suaranya rendah dan penuh wibawa. Sorot matanya yang dingin membuat Yara sedikit mundur, tapi ia mencoba menguatkan diri.

"Jangan pura-pura nggak tahu, ya! Saya tahu kamu nyuri amplop donasi! Cepat balikin, deh, sebelum saya lapor ke panitia!" Yara menunjuk wajah Arkhan dengan jari telunjuknya. Gaya bicaranya penuh semangat, meskipun tubuhnya sedikit gemetar.

Arkhan menatap wanita di depannya dengan ekspresi datar. Ia mencoba mencerna situasi ini. Siapa wanita ini? Dan kenapa ia berani menuduhnya mencuri?

"Amplop donasi?" tanya Arkhan dengan nada datar, suaranya nyaris seperti bisikan. Ekspresinya tetap tenang, tapi ada sedikit kerutan di dahinya.

"Iya! Amplop donasi! Jangan pura-pura bego, Mas! Saya lihat kamu berdiri di dekat meja waktu amplop itu hilang!" balas Yara, nadanya semakin tinggi. Ia merasa bahwa pria di depannya ini terlalu santai, bahkan setelah ia menuduhnya.

Dalam hati, Arkhan merasa terhibur. Sudah lama sejak ada seseorang yang berani berbicara kepadanya dengan nada seperti ini. Biasanya, orang-orang langsung gemetar di hadapannya. Tapi wanita ini? Ia seperti tidak takut mati.

"Saya rasa kamu salah orang, Nona," jawab Arkhan akhirnya, suaranya tetap tenang. Ia melirih sedikit, seolah mencoba menahan tawa. "Saya tidak mencuri apa pun."

"Tapi... tapi muka kamu tuh kayak... ya, kayak maling!" Yara tergagap, tapi tetap mencoba mempertahankan posisinya. Dalam hati, ia mulai ragu. Pria ini memang terlihat mencurigakan, tapi ia tidak punya bukti apa-apa.

Rendra, yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari Arkhan, akhirnya melangkah mendekat. Ia tidak bisa menahan senyum melihat situasi ini. "Bos, kayaknya kita baru ketemu orang paling berani di acara ini," gumamnya sambil melirik Yara.

Arkhan hanya menghela napas. "Sudah cukup. Aku tidak punya waktu untuk omong kosong ini."

Yara menggigit bibirnya, merasa malu tapi juga tidak ingin menyerah begitu saja. "Oke, kalau kamu nggak mau ngaku, saya panggil panitia, ya! Biar mereka yang urus!"

Arkhan menatapnya tajam. "Coba saja. Tapi aku jamin, kamu akan menyesal."

Nada suaranya yang rendah dan dingin membuat Yara merinding. Tapi sebelum ia bisa membalas, seorang petugas keamanan tiba-tiba mendekat.

"Maaf, Nona Yara. Amplop donasinya sudah ditemukan. Ternyata jatuh di bawah meja," kata petugas itu sambil menyerahkan amplop tersebut.

Wajah Yara langsung memerah. Ia menoleh ke arah Arkhan dengan canggung. "Oh... jadi nggak hilang?"

Arkhan hanya menatapnya tanpa ekspresi, tapi ada sedikit senyum di sudut bibirnya.

♡ ♡ ♡

Setelah kejadian itu, Yara mencoba menghindari Arkhan selama sisa acara. Ia merasa malu luar biasa atas tuduhannya tadi. Tapi, entah kenapa, pria itu selalu muncul di mana pun ia berada. Ketika ia pergi ke meja makanan, Arkhan ada di sana. Ketika ia berdiri di dekat panggung, Arkhan berdiri tidak jauh darinya.

"Apa dia ngikutin aku?" gumam Yara pelan sambil melirik ke arah Arkhan, yang tampak berbicara dengan beberapa tamu.

Namun, pikirannya segera teralihkan ketika panitia menghampirinya untuk memberikan tugas baru. Ia diminta untuk membagikan kupon hadiah kepada para tamu. Tugas ini cukup sederhana, tapi bagi Yara, apa pun bisa menjadi rumit.

Sambil membawa setumpuk kupon, Yara mulai membagikannya kepada para tamu. Namun, karena terlalu fokus, ia tidak melihat ke arah kakinya dan akhirnya tersandung kabel yang melintang di lantai. Tubuhnya terhuyung ke depan, dan sebelum ia menyadarinya, ia sudah menabrak seseorang.

Braak!

Kupon-kupon di tangannya beterbangan ke udara, dan tubuhnya jatuh tepat ke dada seseorang. Ketika ia mendongak, ia melihat wajah Arkhan yang dingin menatapnya.

"Masya Allah, Mas! Kenapa sih selalu ada di mana-mana?! Kamu ngikutin aku, ya?!" seru Yara dengan nada panik.

Arkhan mendesah pelan. "Kamu yang nabrak aku, Nona. Lagi pula, aku tidak punya waktu untuk mengikuti orang sepertimu."

Yara mengerutkan dahi. "Orang sepertiku? Maksud kamu apa? Jangan-jangan kamu masih dendam karena aku tuduh maling tadi, ya? Dengar ya, aku udah minta maaf dalam hati, kok!"

Rendra, yang berdiri tidak jauh, tertawa kecil mendengar percakapan mereka. "Bos, kayaknya kamu baru nemu lawan yang cocok," gumamnya pelan.

Arkhan hanya menggelengkan kepala. Ia tidak tahu apa yang membuatnya tetap sabar menghadapi wanita ini, tapi ada sesuatu tentang Yara yang membuatnya sulit untuk mengabaikannya begitu saja.

♡ ♡ ♡

Malam itu, setelah acara selesai, Yara merasa lega bisa keluar dari ballroom tanpa harus bertemu Arkhan lagi. Namun, ketika ia sedang berjalan menuju parkiran, sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Kaca jendela mobil itu turun, dan wajah Arkhan muncul dari baliknya.

"Masuk," kata Arkhan singkat.

Yara tertegun. "Hah? Masuk ke mana? Aku nggak pesan taksi online, deh."

Arkhan menatapnya tajam. "Aku tidak suka mengulangi perintah dua kali. Masuk sekarang, atau aku yang menarikmu masuk."

Lanjut Membaca

Daftar Isi Mafia Koplak: Kekacauan Cinta Antara Don Arkhan dan Si Bebeb Gila

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel BERBEDA KEYAKINAN
8.0
Alif dan Nurul saling jatuh cinta, tetapi jalan mereka tidak mudah. Ketika hubungan kian serius, Khairunnisa dari masa lalu Alif kembali datang membawa pernyataan cinta. Alif juga harus berjuang demi mendapatkan restu dari ayah Nurul, Pak Handoko, yang enggan melepas putrinya. Di tengah perjuangan itu, sikap Nurul mendadak berubah setelah pulang dari Surabaya. Alif terus meyakinkannya, tanpa tahu bahwa Nurul menyimpan sebuah rahasia besar yang jauh lebih rumit dari masalah restu.
Sampul Novel Jangan Pernah Mengkhianatiku
9.0
Arvella Siregar kabur dari kekejaman Rivan, suaminya, lalu tersesat di hutan hingga diselamatkan oleh Kael Mahendra yang misterius. Di sana, ia bergabung dengan kelompok ahli untuk belajar bertahan hidup dan melatih ketangguhannya. Arvella akhirnya menemukan fakta bahwa kematian orang tuanya merupakan konspirasi jahat, bukan kecelakaan biasa. Bersama Kael, ia bersiap keluar dari hutan untuk menuntut balas sekaligus mengungkap asal-usulnya meski nyawa taruhannya.
Sampul Novel Maaf, Aku Tidak Pantas Buatmu
8.6
Irfan, pria tampan dan taat beragama, masih terluka karena penolakan Iffah yang merasa tidak sepadan dengannya. Padahal, kecerdasan dan kesalehan Irfan membuatnya menjadi sosok dambaan. Di saat alasan penolakan itu masih menyisakan tanya, hadirlah Rayhan, seorang lulusan Malaya University yang berupaya mendekati Iffah. Situasi ini membuat Iffah bimbang. Haruskah ia membuka hati untuk Rayhan, ataukah ia akan kembali merajut asa bersama Irfan, cinta lama yang masih tersimpan di hatinya?
Sampul Novel Married to the Scandalous Billionaire
9.5
Pasca berseteru dengan sang ibu tiri, Beverley Holmes tak menyangka namanya tertulis di undangan pernikahan sendiri. Ia rupanya telah dijual untuk melunasi utang bernilai jutaan dolar. Brent Oliver, sang suami miliarder, awalnya bertekad mengabaikan pesona Beverley. Namun, kepolosan sang istri perlahan mulai meruntuhkan pertahanannya. Kini Brent terjebak dalam dilema besar: tetap setia pada kekasih rahasianya atau sepenuhnya menyerah pada daya tarik Beverley.
Sampul Novel Putri Raja Kasino: Pembalasan
8.4
Luna Croft dikhianati oleh Smith Caldwell, kekasih yang mencampakkannya demi Alice Moore setelah merasa kaya raya. Namun saat jatuh bangkrut, Smith justru menyerahkan Luna kepada rentenir demi melunasi utang. Dianggap sebagai gadis yatim piatu yang tak berdaya, Luna justru tertawa saat dikepung. Dengan berani, ia menuntut untuk menghadap bos kasino demi mengungkap identitas aslinya yang selama ini dirahasiakan.
Sampul Novel Tipu Muslihat Suami Jahat
9.2
Mengarungi pernikahan bagaikan mengemudikan kapal di laut lepas. Peran suami sangat penting sebagai nakhoda demi menjaga rumah tangga tetap kokoh. Namun, ancaman terbesar justru muncul dari dalam hubungan itu sendiri. Nendra, sosok yang semestinya menjadi pelindung utama, ternyata menyimpan rencana rahasia yang buruk. Alih-alih menyelamatkan ikatan suci mereka, ia malah secara sadar berusaha menghancurkan dan menenggelamkan bahtera rumah tangga tersebut.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan