APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Luka Batin Istriku

Luka Batin Istriku

Seorang suami terkejut saat mendapati Tari menyuguhkan minuman mencurigakan kepada bayi mereka, Adel. Ketakutan menyergap Tari hingga ia hanya bisa menangis membisu tanpa sanggup membela diri. Kemarahan sang suami kian memuncak begitu tahu stok susu anak mereka telah habis. Ia pun nekat membanting botol susu yang tersisa setengah demi memaksa sang istri bicara jujur. Di balik tangisan histeris yang pecah, sebuah rahasia yang menyayat hati akhirnya mulai terkuak.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku bangun agak siang kali ini karena semalam beberapa kali Adel kembali terbangun karena demamnya. Beranjak dari ranjang mendekati ranjang Adel dan menemukan Adel yang masih terlelap dengan nyenyaknya. Ku raba kening Adel yang semalam panas pun sudah membaik. Mungkin benar kata Ibu bayi akan lebih sering demam dan akan cepat membaik hanya dengan minum obat.

"Pagi, Sayang." Ucapku sambil memeluk istriku dari belakang dan berhasil mengejutkannya yang tengah memasak hidangan untuk sarapan nanti.

"Kamu sudah bangun, Mas. Sekarang kamu mandi, aku sudah siapkan perlengkapan kamu di kamar, di sofa kamar kita. Sebentar lagi aku akan selesaikan sarapannya." Tutur Tari tanpa senyumannya yang khas kali ini.

"Siap, Sayang." Ku kecup pipinya sebelum berlalu melaksanakan perintahnya untuk bersiap-siap pergi ke kantor.

Kembali ke meja makan dan semua hidangan lezat yang Tari masak sudah siap tersaji di atas meja makan.

"Enak banget kayaknya makanannya, Dek." Ujarku dengan semangat duduk berseberangan dengan Ibu.

"Kamu makan yang banyak, Pras biar kerjamu konsen. Jangan lupa minum vitamin juga." Titah Ibu padaku saat Tari sedang mengambilkan nasi beserta beberapa lauk untukku.

"Kamu tidak ikut makan, Dek?" Ku lihat Tari hanya duduk tanpa mengambil makanan sedikitpun untuknya.

"Aku sudah makan tadi, Mas. Maaf ya aku makan terlebih dahulu." Ujar Tari dengan menundukan kepalanya. Terdengar nada berat dari suaranya.

"Sudah sejak Adel lahir kita tidak pernah lagi makan bersama, Dek. Kamu memang selalu menemani Mas makan tapi kamu tidak pernah ikut makan. Mas rindu kita makan sama-sama lagi." Jujurku. Memang sejak Tari melahirkan Adel, ia sudah tidak pernah lagi terlihat makan bersama denganku. Setiap aku makan pasti Tari beralasan sudah makan terlebih dahulu sebelum ku.

"Sudahlah, Pras ibu menyusui emang begitu. Mudah lapar jadi ya biarin Tari makan terlebih dahulu. Kamu makan saja dan jangan jadikan itu pikiran untukmu. Lagian kan yang terpenting Tari sudah makan." Ibu menimpali ucapanku.

"Maaf, Mas." Tari semakin menundukkan kepalanya. Selalu seperti itu jika aku menyinggung hal ini. Aneh memang, jika ibu menyusui akan lebih sering merasakan lapar tapi anehnya tidak pernah sekalipun aku melihat Tari makan.

"Ya sudah, Dek tidak apa-apa yang penting kamu makan dan kamu juga harus makan yang banyak karena kamu harus berbagi nutrisi dengan Adel." Ku usap pucuk kepala Tari yang masih menunduk.

Aku makan dengan sesekali melihat Tari yang sering menunduk saat melihatku menyuapkan makanan kedalam mulutku. Seperti seorang yang menginginkannya namun enggan. Entahlah mungkin aku salah mengira.

"Kamu mau, Dek? Sini Mas suapin." Ku dekatkan satu sendok nasi dengan lauk kearah Tari.

"Nggak usah, Mas."

"Sekali saja."

Tari menerima suapan yang aku berikan. Dia tersenyum manis kearahku. Manis sekali menurutku. Senyumnya yang tak pernah berubah meski pipinya kian menirus, tak segembul saat aku baru bertemu dengannya dulu.

"Lagi ya, Dek." Ujarku.

"Tidak, Mas tidak usah. Aku kenyang." Ucapnya dengan menjauhkan sendok yang ku dekatkan kearahnya.

Terlihat sekali perubahan ekspresi dari raut wajah Tari. Senyum yang baru saja merekah seakan hilang entah kemana di gantikan dengan raut wajah seperti orang ketakutan.

"Kamu kenapa, Dek?" Tanyaku khawatir dengan perubahan Tari yang sangat drastis ini.

"Tidak apa, Mas lebih baik Mas lanjutkan sarapannya aku tinggal dulu. Nanti aku kembali lagi." Tari berlalu meninggalkanku tanpa senyuman. Ku lihat Ibu yang tengah menunduk seperti menahan senyum.

"Ada apa, Bu?"

"Ah tidak. Ayo makan yang banyak, Pras. Habiskan makanmu, Nak."

Acara sarapan aku lanjutkan dengan hikmat bersama Ibu. Tak ku ketahui kemana perginya Tari sejak tadi. Mungkin ia melihat Adel ke kamar kami. Pikirku.

"Dek, Mas berangkat kerja dulu ya." Teriakku saat sudah menyelesaikan sarapanku.

"Bu, Pras berangkat kerja dulu ya, Bu. Pras nitip Laras dan Adel." Tuturku pada Ibu yang masih duduk memakan buah apel kesukaannya.

"Iya, Pras tenang saja. Ibu pasti jaga menantu dan cucu Ibu." Jawab beliau dengan senyum yang merekah.

"Mas." Suara Tari yang memanggilku dari arah belakang. Wanita yang ku nikahi tiga tahun yang lalu itu berjalan terponggoh menghampiriku lalu mencium takzim tanganku. Aku yakin dia telah menyisipkan doa tulusnya untuk keselamatan dan kelancaran pekerjaanku nantinya.

"Mas berangkat dulu ya, Dek kabari Mas jika ada apa-apa dengan Adel." Ku kecup pucuk kepala Tari lalu menyalami ibu dan siap berangkat ke kantor.

*****

Dering ponsel membuatku menepikan mobil yang baru saja keluar dari pintu gerbang rumahku. Panggilan dari atasan yang membuatku kembali mengecek berkas-berkas yang akan aku bawa. Nanti siang akan ada pertemuan penting dengan rekan bisnis perusahaan tempatku bekerja dan itu merupakan pertemuan yang sangat penting.

Aku menepuk keningku sendiri saat hampir saja aku melewatkan satu dokumen yang sangat penting di ruang kerja pribadiku di rumah. Cerobohnya aku sampai dokumen sepenting itu sampai hampir tertinggal.

Ku putar balik kendaraan yang ku tumpangi dan bergegas memasuki ruang kerja pribadiku di rumah untuk mengambil dokumen yang sempat tertinggal. Rasa haus di tenggorokan membuatku memutar balik langkah menuju ke dapur untuk sekedar meminum air dingin yang akan melegakan tenggorokan.

"Apa yang kamu lakukan, Dek?" Mataku terbelalak saat aku melihat Tari, istriku tengah makan makanan sisa yang sudah berada di wastafel. Memang barusan aku tidak menghabiskan sarapanku karena kenyang dan alhasil masih ada sisa di piring makanku yang saat ini sedang di makan oleh Tari.

"M-Mas." Ucapnya gugup dengan segera meletakkan kembali piring yang jelas-jelas ia ambil dari wastafel dan ia makan isinya.

"Apa yang kamu lakukan, Tari. Apa kurang makanan yang ada di meja makan hingga kamu makan makanan sisa seperti ini?" Tanyaku mencengkeram lengannya agar ia mau menatap kearahku.

"Ma-maaf, Mas." Hanya itu yang mampu Tari katakan dengan air mata yang keluar menganak sungai di pipi yang tirus itu.

"Ada apa ini ribut-ribut?" Teriakan Ibu menggema dari arah luar dapur.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Foto Suamiku Diruang Keluarganya
8.7
Dua tahun menikah, Ane tak pernah menyangka akan menghadapi kenyataan pahit. Kebenaran bahwa dirinya hanyalah istri kedua Farel terungkap tanpa sengaja saat ia bertamu ke rumah salah satu wali muridnya. Di sana, sang ibu murid menjatuhkan sebuah foto keluarga rahasia. Ane sangat syok melihat sosok suaminya di foto itu. Kini, ia didera dilema batin yang hebat, harus memilih antara memperjuangkan cintanya atau pergi meninggalkan Farel.
Sampul Novel Gairah Bad Boy Salah Sasaran
8.6
Elang, mahasiswa nakal di kampusnya, berniat memikat Syahreni yang jelita dalam acara malam keakraban di alam terbuka. Namun, akibat pengaruh alkohol, rencananya berantakan. Ia salah masuk tenda dan malah terlibat dalam momen intim bersama Nindya, dosen pembimbingnya sendiri. Alih-alih mendapatkan gadis impiannya, Elang kini harus menghadapi konsekuensi besar dan kemarahan sang dosen akibat gairah malam itu yang salah sasaran.
Sampul Novel Gerhana
9.6
Pertikaian antara Gerhana Putri Alam dan preman sangar, Tangguh Langit Ramadhan, tak diduga memicu getaran asmara. Walau Tangguh bersikap cuek dan minder karena status Gerhana sebagai anak jenderal, sang gadis percaya ada ketulusan di hatinya. Meski Tangguh terus mengelak, Gerhana justru kerap menggoda rahasia pria itu yang kedapatan menyimpan fotonya. Akankah cinta mereka mampu mengatasi jurang perbedaan status sosial yang membentang?
Sampul Novel Kesemptan Kedua Juna
8.9
Penyesalan hebat melanda Juna tepat setelah resmi bercerai. Sebuah tragedi terjadi ketika Dara justru mengorbankan nyawanya sendiri demi menyelamatkan Juna dari kematian. Peristiwa tragis tersebut menjadi kunci pembuka berbagai rahasia besar yang selama ini tersimpan rapat. Juna akhirnya berhasil mengungkap identitas asli di balik D'SecretAdmirer, sosok misterius yang kerap mengiriminya puisi cinta. Kini, lembaran kebenaran yang sesungguhnya mulai terbentang.
Sampul Novel Madu Untuk Istriku
8.1
Kebahagiaan Reni hancur saat Dani, suaminya, meminta izin untuk berpoligami. Di tengah kondisi mengandung, Reni harus menghadapi kenyataan pahit ini. Ia meragukan komitmen Dani yang bahkan sering melalaikan ibadah, namun sang suami terus memohon hingga bersujud. Reni merasa muak dan menyadari pria yang ia cintai telah berubah total. Kini, ia terjebak dalam dilema besar antara mempertahankan rumah tangga demi calon bayinya atau menjaga harga dirinya yang terluka.
Sampul Novel Oh My CEO
8.1
Menginginkan anak tanpa ikatan pernikahan, Restu Kanaya Putri nekat meminta atasannya untuk menghamilinya. Pria itu adalah Alvian Saga Majendra, sang bos berwajah pucat yang juga sahabat dekatnya. Reres pun merencanakan perjalanan ke Bali demi menghabiskan tujuh malam penuh gairah bersama Saga. Akankah misi rahasia pengasuh pribadi ini berjalan mulus? Bagaimana kelanjutan hubungan profesional dan persahabatan mereka setelah malam-malam panas itu berakhir?