APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Luka Batin Istriku

Luka Batin Istriku

Seorang suami terkejut saat mendapati Tari menyuguhkan minuman mencurigakan kepada bayi mereka, Adel. Ketakutan menyergap Tari hingga ia hanya bisa menangis membisu tanpa sanggup membela diri. Kemarahan sang suami kian memuncak begitu tahu stok susu anak mereka telah habis. Ia pun nekat membanting botol susu yang tersisa setengah demi memaksa sang istri bicara jujur. Di balik tangisan histeris yang pecah, sebuah rahasia yang menyayat hati akhirnya mulai terkuak.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Ada apa ini ribut-ribut?" Teriakan Ibu menggema dari arah luar dapur.

"Ibu." Ucapku tanpa ku sadari. Terlihat raut wajah Ibu yang menegang lalu kembali normal.

"Ada apa, Pras?" Tanya Ibu dengan lembut kearahku. Berbeda sekali dengan saat ibu baru akan memasuki dapur barusan.

"Tadi Pras lihat Tari makan makanan sisa dan Pras marah. Mengapa Tari bisa makan makanan sisa padahal makanan yang ada di meja makan saja tadi masih banyak." Ujarku menjawab pertanyaan Ibu.

"Kamu itu gimana sih, Tari kalau masih lapar ya makan makanan yang ada di meja jangan makan makanan sisa. Gak baik loh untuk kesehatan kamu, apalagi kan kamu sedang menyusui." Tutur Ibu dengan lembut ke Tari.

Ku lihat Tari hanya menundukkan kepalanya tanpa berani melihatku maupun Ibu. Aku tahu Tari saat ini sedang menangis. Terlihat dari bahunya yang terguncang.

Menurutku ada hal yang tidak beres di sini. Mengapa Tari sampai memakan makanan sisa dan sejak kapan Tari melakukan ini semua. Memang selama ini aku tidak pernah melihatnya makan dan ini pertama kalinya aku melihatnya makan setelah yang terakhir sebelum Tari melahirkan empat bulan lalu.

"Sekarang kamu makan ya Tari. Jangan sampai suamimu banyak pikiran hanya karena kamu makan dari sia piringnya." Ibu menuntun Tari kembali ke meja makan. Di sana terdapat beberapa hidangan yang memang hanya di tutupi oleh tudung saji.

Ada raut ketakutan yang Tari perlihatkan saat Ibu menuntunnya ke arah meja makan. Bahkan Tari memandangku seakan ingin mengatakan sesuatu namun ia pendam.

"Kamu ngapain masih di situ, Pras ini sudah siang apa tidak ke kantor?" Pertanyaan Ibu mengagetkanku dari lamunan. Gegas aku mengambil dokumen yang sebelumnya aku letakan di meja dekat kulkas.

"Aku berangkat dulu ya, Bu, Dek. Kamu makan yang banyak biar ASI nya lancar. Aku nitip Tari dan Adel ya, Bu." Ucapku sebelum meninggalkan mereka untuk berangkat ke kantor.

*****

Aku pulang sedikit malam kali ini. Ada lembur yang harus aku kerjakan. Terlihat Tari sedang melamun di teras rumah, terbukti dia tidak menyadari aku yang melewatinya dengan mengendarai mobil. Memang sengaja tak ku bunyikan kelakson untuk memberitahunya tentang kepulangan ku karena takut jika Adel akan terganggu dengan suaranya.

"Dek." Panggilku saat berada tepat di sampingnya.

"Eh, Mas sudah pulang? Kapan pulangnya kok aku tidak tahu." Tanya Tari kaget karena panggilanku.

"Baru saja. Ayo masuk, angin malam tidak baik untukmu. Dimana Adel?" Tanyaku, pasalnya tak ku dapati Adel dalam gendongan Tari.

"Adel sudah tidur, Mas tadi minum obat." Jawab Tari datar.

"Kamu kenapa, Dek?" Tanyaku khawatir. Pasalnya malam ini Tari kembali terlihat berubah. Sikapnya dingin dan tidak ada lagi senyum hangat yang menghiasi wajahnya.

"Tidak ada. Ayo masuk!" Ajaknya pergi mendahuluiku.

"Aku ke kamar dulu mau mandi. Tolong bikinkan aku teh hangat ya, Dek!" Titahku sebelum berlalu untuk membersihkan diri. Seharian berkutat dengan beberapa file yang menguras pikiran membuatku membutuhkan air dingin untuk sekedar menyiram kepalaku yang terasa panas.

Setelah badan terasa lebih baik akibat guyuran air dingin gegas aku keluar untuk menemui Tari. Tak lupa sebelum aku meninggalkan kamarku ku lihat Adel yang sudah terlelap dalam bok bayinya. Ku sentuh kening Adel yang malam sebelumnya hangat.

"Masih panas dan sepertinya lebih panas dari kemarin malam." Gumamku.

Aku menelusuri isi rumah untuk menemukan Tari. Biasanya Tari akan meletakkan teh buatannya di depan televisi nyatanya hanya ada Ibu yang sedang menyaksikan sinetron dengan air putih di atas meja dan camilan di toples yang sedang di pangkuannya.

"Ibu lihat Tari?" Tanyaku pada Ibu yang tengah fokus melihat sinetron favoritnya.

"Tidak, di dapur mungkin." Jawab Ibu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.

Aku melangkah ke dapur namun tidak ku temukan Tari di sini. Entah mengapa langkah kaki ini membawaku ke depan kotak sufor yang sudah tidak berdiri lagi, mungkin akibat tersenggol. Ku benarkan letak kotak susu itu namun dahiku mengernyit saat ku dapati isinya kosong.

"Mengapa kotak kosong masih di taruh di sini. Mengapa tidak langsung di buang saja agar tidak memenuhi meja." Gumamku berjalan membuang kotak susu itu ke tempat sampah.

"Mas." Panggian Tari mengejutkanku.

"Eh, Dek dari mana saja kamu. Mas mencarimu sejak tadi."

"Aku dari belakang. Sebentar aku bikinkan tehnya."

Ku lihat Tari dengan cekatan membuat teh yang sebelumnya aku minta.

"Ini, Mas tehnya. Aku letakkan di dekat Ibu ya, Mas." Tari membawa teh yang baru saja di buatnya ke ruangan bersantai. Tempat dimana Ibu tengah menonton televisi dengan santainya.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ini. Ibu sudah sejak tadi beranjak ke kamar dan Tari mungkin sudah sejak tadi terlelap menemani Adel. Memang akhir-akhir ini Tari lebih sering tidur lebih awal.

Benar saja, Tari sudah memejamkan matanya saat aku baru saja sampai di kamar. Terlihat Adel tidur dalam dekapan Tari. Mungkin Adel baru saja menyusu dan tertidur hingga masih tidur dalam dekapan Tari. Sungguh pemandangan yang sungguh indah melihat kedua wanita yang sangat aku cintai tertidur dengan damainya.

Baru saja ku rebahkan tubuh ini lengkingan tangis Adel kembali membuat mataku terjaga.

"Adel kenapa, Dek?" Tanyaku dengan mengucek mata yang sebelumnya mengantuk.

"Demamnya naik lagi. Badan Adel panas banget." Jawab Tari dengan wajah khawatir sekaligus bingung.

"Apa obatnya tidak bereaksi?" Tanyaku ikut khawatir.

"Entahlah, Mas." Tari berlalu meninggalkanku di dalam kamar lalu kembali membawa satu botol susu di tangannya. Di minumkannya air itu ke Adel.

Ku perhatikan Adel yang meminumnya dengan rakus membuatku teringat sesuatu. Bukankah tadi sore susu Adel telah habis dan tak ku lihat Tari membelinya malam ini. Aku juga tidak keluar membelikannya susu malam ini karena memang aku yang sering kali pergi untuk membeli susu untuk anakku.

"Susu Adel habis, Dek kenapa itu terlihat encer?" Tanyaku dengan hati-hati. Pasalnya ku lihat susu yang Adel minum memiliki warna yang tidak putih pekat namun bening.

"Ti-tidak, Mas susu Adel masih ada kok." Jawab Tari dengan terbata.

Tari meletakkan Adel yang sudah kembali tertidur ke tempat tidur milik kami. Ini selalu Tari lakukan saat Adel sedang sakit.

Sudah dua malam aku melihat Adel yang meminum susu dengan warna putih bening dan baru tadi sore aku menemukan kotak susu Adel yang kosong. Perasaan mengganjal pun menyelimuti hatiku. Pertanyaan apa yang sebenarnya Tari berikan pada Adel pun bersarang di benakku.

"Aku ambil minum dulu ya, Dek." Ucapku meninggalkan Tari yang tengah berbaring memeluk Adel. Ku lihat Tari mengangguk.

Aku bergegas berjalan ke arah dapur. Ada yang ingin aku pastikan kali ini. Benar saja, tidak ada kotak susu di atas meja. Bahkan saat aku mengecek tempat sampah otak susu yang tadi sore aku buang masih ada di sana. Lalu apa yang sebenarnya Tari berikkan untuk Adel? Pertanyaan itu seolah memenuhi isi kepalaku

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu
8.9
Tiga tahun Renee bertahan dalam pernikahan tanpa cinta dengan Arvin Suryana, pria yang dipaksa menikahinya demi tanggung jawab. Meski kerap diabaikan dan dikhianati, Renee tetap bersabar demi putra mereka. Namun, kehadiran kekasih masa lalu Arvin menghancurkan segalanya saat sang anak justru memanggil wanita itu 'Mama'. Sadar cintanya sia-sia, Renee memilih pergi dan mengajukan cerai. Tak disangka, sang CEO dingin justru memburunya dan menolak melepaskannya sebelum Renee melahirkan anak kedua mereka.
Sampul Novel Cinta Ipar Duda
9.6
Keputusan Viona menetap di rumah mertua justru membawanya ke situasi pelik. Di sana, ia terus diusik oleh Dion, sang kakak ipar yang kerap bertindak nekat di luar batas. Di tengah perjuangan menyelamatkan pernikahannya yang retak, Viona malah menemukan berbagai rahasia gelap serta kebenaran mengejutkan tentang sosok asli Dion. Sanggupkah ia bertahan menghadapi intimidasi ini? Misteri besar perlahan terkuak saat Viona mulai menyingkap tabir kebenaran.
Sampul Novel Keputusan Takdir
8.5
Sallyana harus merelakan impian indahnya hancur ketika Veen mengusirnya secara paksa. Butuh perjuangan keras baginya untuk menyembuhkan luka dan melupakan masa lalu. Namun, saat ia mulai bangkit, takdir justru mempertemukan mereka kembali dalam situasi yang jauh berbeda. Apakah Sallyana akan kembali terpikat pada Veen, ataukah ia akan melabuhkan hatinya pada sosok baru yang menemaninya di masa-masa sulit? Keputusan takdir akan menentukan akhir perjalanan cintanya.
Sampul Novel Kita Hanya Menikah
9.1
Elisa Andreas sangat mencintai Arya, tetapi insiden fatal merenggut kesuciannya hingga berujung kehamilan. Saat menuntut tanggung jawab, Arya menolak keras karena yakin tidak pernah menyentuhnya. Di tengah hancurnya reputasi Elisa, Arya berjuang membuktikan kebenaran sekaligus melacak sosok asli di balik malam kelam itu. Akankah dalang sebenarnya terungkap? Simak kisah penuh misteri ini dalam jalinan takdir yang rumit.
Sampul Novel Misteri Cinta
9.4
Pernikahan Oceania Samudra hancur berantakan setelah Banyu Siliwangi mangkir, disusul ledakan tragis di gedung acara. Kini, Ochi terseret dalam penyelidikan polisi yang dipimpin oleh perwira ketus, Badai Putra Alam. Di tengah ancaman teror yang membahayakan nyawanya, Badai bertindak sebagai pelindung demi profesionalitas. Namun, sebuah pelukan tak sengaja mengubah segalanya, memicu perasaan mendalam dalam diri Badai yang membuatnya enggan melepaskan Ochi.
Sampul Novel Mr. Devil
8.1
Hidup Ellena hancur setelah ayah kandungnya sendiri tega menjualnya demi ambisi bisnis yang kotor. Kini, ia menjadi tawanan di mansion megah milik Hogue, sosok vampir kejam dengan hasrat menyimpang yang kerap menyiksa fisiknya. Diperlakukan layaknya budak tanpa harga diri di bawah kekuasaan pria sadis tersebut, Ellena terjebak dalam penderitaan yang tiada akhir. Mampukah ia bertahan hidup menghadapi segala kekejaman Hogue?