
Lima Tahun yang Tiada Artinya
Bab 3
Begitulah, sama sekali tidak ada yang menanyakan pendapatku, mereka langsung menempatkan Syifa di rumahku.
Malamnya, Syifa sendiri mengetuk pintu memanggilku makan. Setelah aku menolak tiga kali, dia malah mulai menangis manja di luar pintu.
Tangisannya makin lama makin keras, sampai menarik Derrick datang. Dia langsung berkata sambil memanfaatkan situasi, "Kak Olivia sepertinya sangat nggak suka padaku. Aku sudah mengajaknya makan, tapi dia malah memarahiku."
Dengan wajah penuh kekesalan, aku membuka pintu, menatap Syifa yang menangis dengan ekspresi penuh kesedihan.
Derrick maju dengan wajah penuh rasa kasihan. Dia menggenggam lengan Syifa dan menenangkan, "Jangan nangis, serahkan saja kepadaku."
Syifa lalu mengeluarkan sebuah tusuk konde dari sakunya dan menyerahkannya padaku. "Kak Olivia, ini aku buat sendiri. Terimalah, mulai sekarang kita bisa berhubungan baik ya?"
Belum sempat kata-katanya selesai, aku langsung menyela, "Jangan mimpi. Akting pura-pura baik ini mau kamu tunjukkan ke siapa?"
Begitu aku selesai berbicara, Syifa melemparkan diri ke pelukan Derrick dengan ekspresi sedih.
Derrick marah dan langsung menamparku. "Olivia, aku sudah mengingatkanmu, Syifa itu sedang hamil. Dia harus menjaga emosinya tetap stabil. Kamu ini kejam sekali, mau bikin dia mati karena marah atau gimana?"
Ekspresinya terlihat seperti sedang memandang seorang penjahat besar. Tamparan itu pun menghancurkan sisa-sisa hubungan terakhir di antara kami.
Aku menatap pasangan berengsek di depanku, lalu melangkah maju dan membalas dengan dua tamparan keras di wajah Derrick.
Hampir seluruh tenagaku kukerahkan, pipi Derrick langsung memerah dan membengkak. Wajahnya pun penuh keterkejutan. "Olivia, kamu gila? Berani-beraninya menamparku!"
Aku menatap tanganku yang memerah, lalu terkekeh-kekeh. "Jelas-jelas kamu yang mulai duluan, kok malah marah-marah? Aku ini Nona Besar Keluarga Sanjaya, kamu kira kamu bisa seenaknya menindasku?"
Ibu Derrick mendengar keributan dan segera datang menengahi. "Olivia, Derrick itu cuma terbawa emosi sesaat, jangan kamu ambil hati."
Melihat wajahku tetap dingin tanpa sedikit pun melunak, dia buru-buru menarik lengan baju Derrick, terus-menerus memberi isyarat dengan matanya.
Ini memang pertama kalinya Derrick menamparku, aku bisa melihat dia juga agak tegang. Namun, mungkin karena ada Syifa atau mungkin karena harga diri, Derrick malah memalingkan wajah dan tidak mau meminta maaf.
"Derrick!" Ibu Derrick membentak keras. Dia tahu kalau kami terus bertahan seperti ini, yang rugi pasti Derrick.
"Memang tadi aku terlalu emosional. Tapi kalau kamu mau ikut Syifa makan malam sejak awal, semua ini nggak akan terjadi."
Kalimatnya sama sekali bukan permintaan maaf. Setiap kata justru menyalahkanku karena dianggap tidak dewasa. Hati ini seperti jatuh ke dasar jurang, aku bahkan tidak turun makan malam.
Semalam penuh aku tidak berinteraksi lagi dengan keluarga mereka, hanya Nabila yang merasa kasihan padaku dan mengantarkan makan malam ke kamarku.
Keesokan harinya aku tidur sampai siang. Saat melihat mereka sedang bersiap makan siang, aku langsung keluar rumah tanpa menoleh.
Asisten perusahaan memberitahuku, entah dari mana orang-orang mendapat kabar bahwa Derrick membawa pulang seorang wanita hamil setelah pulang dari dinas setengah tahun. Kantor pun mulai dipenuhi gosip tentangku.
Baru keluar rumah setengah jam, Derrick sudah mengirim pesan, memintaku membelikan dua kotak sarang burung untuk Syifa saat aku pulang.
Dia bahkan menambahkan supaya aku membelikan Syifa perhiasan sebagai hadiah untuk menebus kesalahanku kemarin. Nada memerintahnya membuatku ingin tertawa.
Aku hanya membalas dengan tidak acuh.
[ Kalau mau makan, kamu urus saja sendiri. ]
Begitu pesan itu terkirim, Nabila memberitahuku bahwa Syifa langsung mengambil semua suplemen kesehatan yang baru saja dikirim ibuku, dengan alasan itu baik untuk janin di kandungannya.
Aku pun bertanya, "Mereka bilang apa?"
Nabila menjawab dengan kesal, "Mereka senangnya bukan main. Katanya kalau wanita itu mau apa pun, silakan minta saja."
Ibuku mengirimkan suplemen khusus untukku setiap tiga bulan, supaya aku lebih memperhatikan kesehatan. Tak kusangka, niat baik ibuku malah dimanfaatkan mereka.
Bahkan ibu Derrick yang biasanya tahu batas pun membiarkannya, jadi aku tak perlu lagi menjaga harga diri mereka. Kalau mereka memperlakukanku seperti ini, kenapa aku harus menjaga harga diri mereka?
Aku langsung pergi ke kantor, mengadakan rapat tingkat tinggi, memeriksa perkembangan terbaru perusahaan, lalu menyusun ulang rencana kerja dan mengumumkannya ke seluruh karyawan.
"Mulai hari ini, aku akan kembali ke Grup Sanjaya. Untuk Derrick, dia nggak boleh lagi menginjakkan kaki di Grup Sanjaya!"
Anda Mungkin Juga Suka





