APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel KUNCI LATHI

KUNCI LATHI

Azalia terbangun tanpa memori sedikit pun tentang masa lalunya. Satu-satunya petunjuk yang tersisa hanyalah kepingan mimpi buruk yang terasa begitu nyata dan mengerikan. Kehilangan identitas secara misterius memaksa gadis ini hidup dalam ketakutan yang mencekam. Kini, di tengah kegelapan yang terus mengepung, ia harus berjuang keras mencari jawaban. Mampukah ia mengungkap kebenaran di balik jati dirinya yang hilang dan lolos dari jeratan teror yang tiada henti?
Bab
Bagikan

Bab 2

Aza mundur dan ternganga. Suara itu bukan teriakannya. Suara itu bukan suaranya. Aza menutup mulutnya dan mundur perlahan karena lampu itu ternyata adalah kepala-kepala manusia yang diawetkan sehingga bentuknya begitu kecil dan ketika Aza mendekatinya, kepala itu membuka mulutnya dan berteriak keras. Ketika berteriak cahaya terpancar dari dari kepala manusia kecil itu.

Mengerikan sekali. Teriakan itu terus terdengar. Suaranya seperti orang yang kesakitan dan sangat sedih. Aza menutup telinganya karena ketakutan dan juga merasa ikut merana mendengar teriakan itu.

"Aaaarrrgghhh! Hentikan!" teriak Aza panjang. Dia benar-benar ingin teriakan itu berhenti dan ... dan setelah Aza berhenti berteriak suasana menjadi sangat hening, sepi dan sangat mencurigakan.

Aza memejamkan matanya erat-erat. Dia sepertinya tahu apa yang terjadi, tetapi dia takut membuka matanya.

"Aza! Aza!"

Ah, suara itu. Suara itu sangat dikenali Aza, entah suara siapa, Aza tidak yakin, dan Aza yakin sekarang dia pasti sudah kembali ke kamarnya atau bahkan selama ini dia masih berada di kamarnya. Ah, selalu begitu. Ketika Aza mendengar suara orang melangkah dan ular melata, pasti akan ada orang yang meninggal, entah tetangganya, entah saudaranya. Kemudian setelah itu, Aza akan mengalami mimpi buruk. Mimpi yang selalu sama. Yaitu Aza kecil pergi ke pasar setan dengan almarhumah ibunya. Dan setelah itu Aza akan tersadar di tempat yang tidak diduganya. Biasanya di tempat yang berbeda dengan tempatnya tidur tadi.

"Mbak Aza bisa mendengar ustadz?"

Aza terlonjak kaget. Dia mendengar suara yang baru dan belum pernah didengarnya. Akhirnya Aza membuka matanya perlahan.

Seketika cahaya membanjiri mata Aza, dan memaksa Aza untuk menutup matanya kembali.

"Alhamdulillah, Mbak Aza sudah bangun?" Suara itu begitu merdu merasuki telinga Aza. Ah, suara itu begitu menenangkan dan menyejukkan hati. Sehingga akhirnya Aza memutuskan untuk membuka matanya lagi.

Aza melihat dua orang wanita berjilbab besar tersenyum pada Aza. Wanita itu terlihat sangat ramah dan menenangkan. Aza tersenyum dengan wajah bingung.

"Saya di mana?" tanya Aza perlahan. Dua wanita itu berpandangan, wajah mereka nampak panik.

Aza berdeham.

"Saya di mana?" tanya Aza lagi. Kali ini dia memandang kedua wanita itu dengan wajah yang juga panik. Kedua wanita itu tidak memperhatikan Aza dan malah menoleh ke arah dua orang pria di belakang mereka. Kedua pria itu memiliki rambut panjang dan berjenggot panjang dan tebal.

Rasa takut mulai merambati punggung Aza ketika Aza mencoba memanggil mereka berempat dan mereka berempat menoleh ke arah Aza dengan pandangan takut dan waspada.

"Kasihan sekali," kata salah seorang pria, "nampaknya ada yang membuatnya tak bisa bicara."

Aza membeliak tak percaya. Dia tidak bisa bicara? Bukankah tadi dia menanyakan di mana dia berada? Atau bahasa mereka berbeda? Tetapi Aza bisa memahami apa yang mereka katakan, berarti bahasa mereka sama, kan?

Kepanikan melanda Aza. Wajahnya pucat pasi, karena Aza menyadari bahwa perkataan pria tadi benar. Dia pasti tidak bisa bicara! Napas Aza nampak tersengal dan sesak. Mereka berempat segera mendekati Aza.

"Mbak Aza! Istighfar dulu, Mbak! Tenangkan diri dulu! Ini semua adalah tipu daya jin belaka. Jangan terpancing! Istighfar dan tenangkan diri dulu, njih, Mbak?" Salah satu pria berambut panjang itu mengambil HPnya dan memberikan pada Aza.

"Mbak Aza bisa mengetikkan apa yang Mbak Aza inginkan di sini," kata pria itu, kemudian dia memberikan HPnya kepada Aza sambil tersenyum. Secara tidak sadar Aza juga ikut tersenyum, karena senyum pria itu ramah dan agak sedikit lucu.

"Mbak Aza bisa mendengar kami?" Aza mengangguk.

"Alhamdulillah. Silahkan tuliskan apa yang terjadi, ya, Mbak?"

Aza nampak bingung. Dia memandang pria ramah itu. Kemudian mengetik di HP pria itu dan memberikan HPnya pada sang pria.

"Saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya lupa." Pria itu membaca ketikan Aza di HPnya. Mereka berpandangan dengan kebingungan yang nampak jelas di wajah mereka.

"Sepertinya kita harus bicara sebentar, Mas Naim," kata pria berambut panjang yang lain dan mereka berempat berbisik-bisik di sudut ruangan itu beberapa saat. Tak lama kemudian kedua wanita itu kembali kepada Aza dan dua pria berambut panjang tadi keluar ruangan tempat Aza berbaring.

Aza baru menyadari kalau dia tidak berada di rumah sakit. Dia berada di sebuah kamar yang nyaman, bersih dan wangi. Mungkin rumah seseorang yang menolong Aza.

Wanita itu tersenyum pada Aza. Aza terkejut, karena ternyata kedua wanita itu wajahnya hampir mirip, mungkin mereka bersaudara.

"Mbak Aza, kalau Mbak Aza tidak lelah, kami minta tolong Mbak Aza untuk menuliskan mimpi buruk yang Mbak Aza alami, ya? Nanti kami akan minta orang yang menemukan Mbak Aza bercerita kepada kita," kata wanita yang lebih tinggi. Wanita satunya mengangguk. Aza mengangguk. Dia buru-buru mengetik di HP yang diberikan wanita itu padanya.

[Saya di mana? Mbak berdua namanya siapa?]

Wanita itu menerima HPnya dengan agak heran dan membaca pesan Aza tadi. Wanita itu tersenyum.

"Mbak Aza sekarang berada di Karang Legi. Tepatnya Pesantren Ruqyah Karang Legi. Nama saya Asma dan ini sepupu saya, Mbak Salma," jawab wanita berparas cantik dan lembut itu. Aza tersenyum mendengarnya. Dugaannya benar, mereka bersaudara. Aza kemudian mengangguk dan meneruskan menuliskan cerita mimpi buruknya tadi di HP wanita bernama Asma itu.

Tiba-tiba tangan Aza bergetar sendiri. Dia tidak bisa mengendalikan gerakan tangannya. Aza menelan ludah ketakutan. Dia tidak bisa memegang HP milik Asma. HP itu terlepas dari pegangannya dan entah kenapa dia tiba-tiba berdiri di ranjangnya dan sangat ingin melarikan diri.

Kedua wanita itu berusaha memanggil dan memegangi Aza. Sepertinya mereka ingin menenangkan Aza, tetapi sepertinya Aza terlalu liar dan Aza mulai berteriak-teriak sendiri.

Pintu kamar itu terbuka. Aza menjerit tertahan, dia melihat sosok pria yang sangat ditakutinya.

****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benih Lain di Kandungan Istriku
8.9
Kehidupan rumah tangga Kian mendadak terguncang setelah ia menemukan alat tes kehamilan positif di dekat ranjangnya. Penemuan ini langsung mengarahkan kecurigaannya kepada sang istri, Aurelie. Namun, rahasia kelam membayangi benak Kian; secara medis ia divonis mandul dan tidak mungkin memiliki anak. Kini, ia didera tanya besar tentang siapa pemilik sebenarnya dari benda itu. Benarkah Aurelie tega mengkhianatinya dan mengandung anak dari pria lain?
Sampul Novel Gairah Liar Isteriku
9.5
Pernikahan Nara dan Rama tampak sempurna di mata publik, padahal Nara memendam kesepian yang luar biasa. Demi mengisi kekosongan hati, ia nekat menjalin perselingkuhan dengan Arka. Namun, kedamaian semu itu hancur ketika Arka mengirim ancaman untuk membeberkan hubungan rahasia mereka. Kini, Nara terjebak dalam pusaran pengkhianatan dan rasa sakit yang hebat. Di tengah kemelut asmara yang penuh misteri ini, ia harus berjuang keras demi menemukan kembali jati dirinya.
Sampul Novel Jejak Cinta di Kota Hujan
9.7
Naya, seorang penulis yang kehilangan inspirasi, memutuskan pergi ke kota kecil yang selalu diguyur hujan. Di sana, ia terpikat oleh Arga, seorang barista misterius dengan rahasia besar. Ketika hubungan mereka semakin dekat, Naya mengetahui bahwa Arga sebenarnya adalah penulis terkenal yang bersembunyi dari skandal masa lalunya. Kini, Naya dihadapkan pada pilihan sulit: membongkar identitas asli Arga demi kebenaran, atau melindungi rahasia pria yang dicintainya.
Sampul Novel Kakak Beradik 
8.0
Kematian tragis sang protagonis terjadi tepat di hari ulang tahunnya bersama saudara kembarannya. Di tengah duka yang palsu, sang kembaran justru menangis dalam pelukan kekasih protagonis. Sementara itu, kemarahan keluarga memuncak; sang ibu terus menelepon tanpa henti, sang ayah mencaci maki dirinya sebagai anak tidak tahu berterima kasih, dan kembarannya mengirim pesan kejam yang menuduhnya egois. Namun, di balik semua tuduhan dan kebencian tersebut, rasa sakit di dada sang protagonis akhirnya benar-benar lenyap untuk selamanya.
Sampul Novel Misteri Bangku Kosong
8.1
Memasuki SMA swasta elite sebagai murid pindahan baru, aku langsung dihadapkan pada kejanggalan di ruang kelas. Di barisan belakang, terdapat sebuah meja dan kursi merah tua yang dibiarkan kosong. Anehnya, seluruh teman sekelas memperlakukan bangku mati itu seolah-olah berpenghuni, bahkan menyapa dan mengajaknya berbicara setiap hari. Di sekolah baru ini, semua orang tampaknya bisa melihat sosok tak kasat mata yang menduduki tempat tersebut, menyisakan aku sebagai satu-satunya orang yang tidak menyadari kehadiran misterius itu.
Sampul Novel Pertunangan Berdarah
8.2
Sebuah unggahan konsultasi yang viral di media sosial menarik perhatianku. Di sana, seorang netizen mengaku mengidap HIV namun sengaja merahasiakan kondisi medis tersebut dari tunangannya. Didorong rasa penasaran, aku mulai menelusuri detail demi detail dalam kisah yang memicu kemarahan publik itu. Namun, kecurigaan berubah menjadi kengerian saat aku menyadari bahwa sosok pacar yang sedang dijebak dalam rencana pernikahan mematikan tersebut memiliki kemiripan mutlak dengan diriku sendiri.