APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel KUNCI LATHI

KUNCI LATHI

Azalia terbangun tanpa memori sedikit pun tentang masa lalunya. Satu-satunya petunjuk yang tersisa hanyalah kepingan mimpi buruk yang terasa begitu nyata dan mengerikan. Kehilangan identitas secara misterius memaksa gadis ini hidup dalam ketakutan yang mencekam. Kini, di tengah kegelapan yang terus mengepung, ia harus berjuang keras mencari jawaban. Mampukah ia mengungkap kebenaran di balik jati dirinya yang hilang dan lolos dari jeratan teror yang tiada henti?
Bab
Bagikan

Bab 3

Aza menjerit terus dan dia merasa ada yang akan keluar dari perutnya. Aza merasa begitu mual. Dia begitu takut dan khawatir dia akan muntah di atas ranjang, sehingga dia segera melompat turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi kecil yang ada di ujung ruangan itu. Untunglah Aza masih sempat berlari dengan cepat, sehingga dia bisa mengeluarkan semua isi perutnya di kamar mandi.

Setelah itu Aza merasa begitu lega. Dia merasa sangat ringan ketika berdiri, seperti melayang dan terjatuh ketika keluar dari kamar mandi.

"Tolong!" Aza sangat ingin berteriak tetapi dia hanya bisa berbisik pelan dan akhirnya menyerah dalam kebingungan dan ketakutan.

****

Aza terbangun dengan tubuh yang segar, tetapi masih dalam selimut kebingungan. Dia benar-benar tidak tahu kenapa dia bisa sampai ke Karang Legi, tempat yang sangat jauh dari rumahnya. Bukankah kemarin dia hanya membuka pintu kamarnya setelah mendengar suara langkah kaki dan suara ular melata itu? Oh, ya, dia juga merasakan embusan angin dingin itu di wajahnya dan ... dan tiba-tiba saja dia sudah berjalan-jalan di pasar setan dan dia melihat lampu itu! Oh, lampu mengerikan itu!

Aza membayangkan bagaimana lampu berwujud kepala manusia yang begitu kecil itu membuka mulutnya dan mengeluarkan suara teriakan yang begitu keras. Sama sekali tidak sepadan dengan ukuran kepala itu. Aza merinding dan gemetaran mengingat rasa sakit yang bisa didengarnya dari suara itu. Aza terbangun sepenuhnya, dia mendelik kaget ketika menyadari bahwa kepala kecil itu masih hidup, karena kepala itu bisa berteriak, kan? Kalau kepala itu sudah diawetkan bagaimana mungkin kepala itu bisa berteriak merana seperti kemarin atau tadi atau kapan? Aza benar-benar bingung.

Aza berteriak frustasi. Dia panik, takut dan tidak mau harus melakukan apa. Bayangan kepala kecil yang membuka mulutnya dengan penuh rasa sakit itu. Aza bisa mengingat detail kerutan di sekitar mulut dan mata kepala kecil itu.

Aza menjerit panjang ....

****

Fiki menghela napas kesal. Dia membiarkan wanita muda bernama Aza itu menjerit dan berteriak lagi. Fiki menunggu saat yang tepat untuk meruqyah Aza dan kemudian meminta bantuan seorang ustadzah untuk membaringkan Aza di ranjangnya lagi.

Sejak Fiki memasuki ruangan itu kemarin, Aza langsung menunjukkan reaksi penolakan dan sudah berteriak-teriak histeris pada Fiki. Reaksi yang wajar dan sering ditemui Fiki ketika meruqyah pasien yang kerasukan dan diganggu jin, yang sepertinya takut melihat dan bertemu peruqyah seperti dirinya.

Fiki tersenyum ketika melihat Aza sudah berbaring dengan tenang. Mata Aza nampak sudah meredup dan tidak lagi membeliak liar seperti kemarin. Aza nampak memandang Fiki dengan keheranan.

"Bapak siapa?" tanya Aza.

"Saya Fiki, Mbak Aza. Mbak Aza sudah baikan?" tanya Fiki.

Wajah Aza nampak bingung, dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan Salma mendekatinya sambil tersenyum bahagia.

"Ah, Mbak Aza sudah bisa bicara lagi. Alhamdulillah. Mbak Aza masih ingat dengan apa yang terjadi kemarin, Mbak?" tanya Salma. Aza nampak mengerjapkan matanya dan mengangguk.

"Saya kemarin tidak bisa bicara. Sekarang apakah Mbak Salma bisa memahami apa yang saya katakan?" tanya Aza. Salma mengangguk.

"Ya, Mbak. Insya Allah saya dan kami semua sudah memahami apa yang dikatakan Mbak Aza. Insya Allah Mbak Aza sudah sembuh, njih, Mbak?" kata Salma dengan mata berkaca-kaca dan kemudian memeluk Aza. Fiki melihat dan menunggu dengan sabar, kadang Salma --istrinya-- memang mudah terbawa perasaan, itulah kenapa Fiki tidak memperbolehkan Salma ikut meruqyah dengan ustadzah yang lainnya.

Setelah tenang, kemudian Fiki meminta Aza untuk menceritakan apa yang terjadi kemarin. Cerita Aza sama dengan cerita dari Asma dan Salma. Semua klop.

"Mbak Aza sering merasa mendadak mengantuk dan kemudian bermimpi buruk seperti ini?" tanya Fiki. Aza mengangguk.

"Semenjak kapan, Mbak?" tanya Fiki lagi. Aza nampak berpikir keras dan kemudian menggelengkan kepalanya.

"Saya tidak ingat, Ust, tetapi sepertinya sudah cukup lama. Mungkin sejak saya masih kecil," kata Aza, "pokoknya setiap saya mendengar suara orang melangkah persis di depan pintu kamar saya dan suara ular melata yang menurut saya mengikuti langkah kaki orang itu, pasti akan terjadi dua hal. Yang pertama akan ada orang yang meninggal dan yang kedua saya akan bermimpi buruk lagi dan terbangun di tempat yang berbeda dengan tempat saya tidur tadi. Selalu seperti itu, Ust."

Fiki mengangguk. Dia nampak berpikir, tetapi kemudian Fiki tersenyum lebar.

"Mbak Aza istirahat dulu, njih? Nanti kalau sudah benar-benar sehat dan kuat, kita akan bicara lagi," kata Fiki dan meminta Asma dan Salma untuk membantu Aza. Fiki kemudian keluar dari ruangan itu dengan selaksa kebingungan di kepalanya.

****

Aza masih takjub dengan ustadz yang tadi menemuinya. Ustadz itu memperkenalkan diri sebagai Fiki dan matanya ... oh, mata ustadz itu membuat Aza merinding. Mata Fiki yang berbeda warnanya dan seperti transparan itu, seakan menghunjam masuk ke dalam sanubari Aza. Mata itu seakan bisa tahu apa yang disembunyikan Aza, sehingga Aza merasa takut untuk berbohong.

Ketakjuban Aza bertambah ketika melihat mata yang sama pada seorang anak lelaki yang digandeng oleh Fiki memasuki sebuah ruangan luas pada keesokan harinya. Anak lelaki itu memiliki warna mata kanan dan kiri yang berbeda, seperti warna mata Fiki dan wajah mereka juga mirip. Aza yakin bahwa mereka adalah anak dan bapak.

Anak lelaki itu memandang Aza lekat, membuat Aza risih dan akhirnya Aza menunduk dalam-dalam. Kemudian kedua wanita yang masih diingat Aza bernama Asma dan Salma masuk ke dalam ruangan bersama dengan seorang wanita setengah tua yang agak bungkuk. Aza mengerjapkan matanya beberapa kali. Wanita itu ... wanita itu, kan yang hendak menolongnya ketika dia jatuh di pasar setan!

****

"Astaghfirullah!" desis Fiki sambil mencebik, "ada apa dengan dia sebenarnya? Kenapa masih saja diganggu oleh jin?" tanya Fiki dengan sebal ketika Aza mulai menjerit lagi dan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dengan kesal ketika melihat wanita yang menolong dan membawa Aza ke Pesantren Ruqyah kemarin. Aza berteriak dengan menggunakan bahasa yang tidak dimengerti semua orang. Kadang hanya seperti geraman atau dengusan saja.

Mereka semua berpandangan kebingungan.

"Sepertinya saya sudah pernah melihat ajian yang membuat orang mengantuk dan tiba-tiba tertidur seperti Mbak Aza ini, njih, Ust?" tanya seorang pria berambut panjang yang duduk di samping Fiki.

Fiki mengangguk.

"Ya, Ust. Benar sekali. Saya dan Ustadz Iqbal pernah meruqyah kasus serupa ini di Karang Pandan, Ust," jawab Fiki.

Sekarang semua mata memandang ke arah Fiki. Pria lain yang juga berambut panjang mengerutkan keningnya.

"Kalau tidak salah nama ajian itu adalah Kunci Lathi, kan, Ust?"

"Njih, Mas Naim. Betul sekali. Nama ajian itu adalah Kunci Lathi."

****

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DOKTER FORENSIK
7.9
Akibat penyakitnya, Randa, seorang dokter forensik, kesulitan membedakan kenyataan dan khayalan hingga merasa bisa bicara dengan mayat. Di tengah kondisi ini, ia bimbang memilih antara Evlyn dan Avita. Setelah menjatuhkan pilihan pada Evlyn, Randa tersadar bahwa wanita itu rupanya sudah meninggal tujuh bulan lalu. Kini, saat Avita berjuang menyadarkannya, Randa dihadapkan pada pilihan sulit: tetap terbuai dalam halusinasi atau bangkit menghadapi realitas yang menyakitkan.
Sampul Novel Dokter Forensikku, Kakakku
8.3
Suzanne dibenci oleh kakaknya yang menganggapnya bertanggung jawab atas kematian tragis sang tunangan, Yani, lima tahun silam. Dendam itu menemui ujung mengerikan ketika jasad Suzanne yang hangus terbakar mendarat di meja autopsi kakaknya sendiri. Harapan sang kakak agar Suzanne mati akhirnya terwujud. Namun, begitu menyadari identitas mayat di hadapannya adalah sang adik, rasa bersalah dan kebenaran yang terlambat langsung menghancurkan kewarasan sang dokter forensik hingga ia menjadi gila.
Sampul Novel "KALA" Buah Cinta Terlarang
8.8
Tuduhan meracuni mertua menghancurkan pernikahan Kayli dan Gala. Saat berjuang memulihkan nama baiknya, Kayli justru menemukan kegelapan dalam dirinya sendiri. Rentetan peristiwa aneh membuatnya ragu akan kesadarannya saat tragedi terjadi. Apakah ia mengidap kepribadian ganda, atau ada sosok mistis yang merasuki raganya? Teka-teki ini semakin membingungkan ketika Zael, sahabat lamanya, tiba-tiba memanggilnya dengan nama Kala.
Sampul Novel Korban Terakhir yang Digambar Ibu adalah Aku
9.2
Sebagai seniman forensik andal, ibu Janice mengabaikan telepon darurat putrinya saat diculik karena mengira itu hanya lelucon perusak ulang tahun sang adik. Janice pun tewas disiksa tanpa pertolongan. Begitu hasil tes DNA keluar, sang ibu yang syok bergegas ke TKP. Menggunakan sisa tulang yang ada, ia mencoba menggambar sketsa korban dengan tangan gemetar. Meski terus menyangkal, setiap goresan pensilnya selalu membentuk wajah Janice saat meregang nyawa, menyisakan tangis penyesalan yang terlambat.
Sampul Novel Misteri Mata Air Kembar Yang Tak Pernah Kering
9.2
Mata air kembar di Kampung Serigi tak pernah kering dan menjadi penyelamat warga saat kemarau. Namun, di balik keajaiban pancuran bambu tersebut, tersimpan misteri kelam dan pantangan yang sangat ketat. Siapa pun yang berani melanggar aturan akan didatangi oleh entitas gaib penjaga tempat sakral itu. Kini, teror mistis terus membayangi penduduk lokal dan pendatang, mengubah ketenangan sumber air legendaris ini menjadi ancaman nyata yang mencekam.
Sampul Novel Misteri Ular Xaver
8.5
Sepulang dari Kota Xaver, ibu membawa patung dewa ular yang diklaim bisa membuatnya awet muda jika disembah dengan darah menstruasi perawan. Aku dipaksa menyerahkan darahku, bahkan rambutku dipotong untuk dililitkan di kepala patung itu. Ibu tidak tahu bahwa aku menyimpan rahasia pernah menginap dengan pacarku saat kuliah. Dua bulan kemudian, kebohongan ini berbuah petaka saat kulit ibu mulai dipenuhi bercak biru mirip sisik dan mulai mengelupas layaknya ular asli.