APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kita Hanya Menikah

Kita Hanya Menikah

Elisa Andreas sangat mencintai Arya, tetapi insiden fatal merenggut kesuciannya hingga berujung kehamilan. Saat menuntut tanggung jawab, Arya menolak keras karena yakin tidak pernah menyentuhnya. Di tengah hancurnya reputasi Elisa, Arya berjuang membuktikan kebenaran sekaligus melacak sosok asli di balik malam kelam itu. Akankah dalang sebenarnya terungkap? Simak kisah penuh misteri ini dalam jalinan takdir yang rumit.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pria itu masih terus merutuki kebodohannya karena tidak bisa menahan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa melakukannya dengan Elisa? Anak dari orang yang selama ini berbuat baik dan merawatnya hingga sampai saat ini.

Iaa sungguh menyesal, kenapa jadi lupa diri seperti ini? Dan bagaimana kalau Tuan Andreas mengetahuinya?

Karena sudah merasa buntu, akhirnya ia menyuruh salah satu orang kepercayaannya untuk meminta bukti rekaman CCTV hotel, tempat dia menginap bersama Elisa.

"Maaf El, aku sungguh tidak bermaksud ingin lari dari tanggung jawab. Aku hanya tidak ingin kau kecewa, saat mengetahui siapa yang bersama mu malam itu." Ia terpaksa meretas rekaman CCTV hotel dan menghilangkan sebagian potongan video untuk menghilangkan bukti.

"Kamu boleh menggunakan uang ini dan pergi lah sejauh mungkin." Pria itu menyerahkan segepok uang pada orang yang menjadi suruhannya.

"Terima kasih, Tuan. Saya janji tidak akan mengatakannya pada siapa pun." undur diri dan berjalan meninggalkan bosnya.

"Aku yakin kamu tidak akan hamil, El? Kita melakukannya hanya sekali dan aku harap setelah ini tidak akan ada yang mengetahui apapun yang terjadi malam itu."

Ia segera membereskan peralatannya kembali, setelahnya ia merebahkan diri dan mulai memejamkan mata.

*****

Elisa menggeliat, merasakan tidur panjangnya yang tampak begitu nyenyak. Mungkin karena pikirannya sedang kacau atau akibat pergulatan panasnya semalam yang tidak di sengaja.

Gadis itu mengerjap,menatap sekeliling ruangan yang ia yakini adalah kamar penginapannya. Elisa tersenyum lega, saat ia tau kalau kejadian semalam hanya lah mimpi.

Mimpi?

Gadis itu bangkit dan baru sadar bahwa dia tidak mengenakan apapun yang membalut tubuhnya. Lantas melirik ke arah tempat tidur. Dan apa itu....

Darah?

Elisa jatuh terduduk ke lantai bersamaan dengan krystal bening yang lolos begitu saja dari pelupuk matanya.Jadi yang semalam?

Tidak?

Elisa menggeleng, menyangkal semua kejadian yang dia ingat hanyalah mimpi.

Tapi kenapa dia tidak memakai pakaian apapun? Dan bercak darah itu...

Kak Arya?

Kesedihannya sedikit berkurang, saat dia mengingat kembali pergulatan panasnya semalam dengan laki-laki itu. Padahal semalam jelas-jelas dia sengaja akan menggodanya. Tapi, setelah berhasil, justru Elisa merasa seperti wanita murahan.

Bukan itu mau Elisa sebenarnya. Dia hanya ingin menggoda, bukan menyerahkan tubuhnya pada lelaki itu.

Tapi, apa yang terjadi tidak akan bisa kembali. Setidaknya, jika sampai dia hamil. Elisa akan meminta pertanggung jawaban pada Arya.

Ya, Elisa yakin bahwa yang bersamanya semalam adalah Arya.

Gadis itu segera bangkit,memunguti satu-persatu pakaian miliknya yang sudah tidak berbentuk lagi.

Berjalan tertatih menuju kamar mandi, lalu membersihkan tubuhnya yang sudah sangat lengket.

🍀🍀🍀🍀🍀

Dua Bulan Berlalu....

Kediaman Andreas.

Elisa tengah menikmati sarapan pagi, bersama kedua orang tuanya. Entah kenapa beberapa hari belakangan ini tubuhnya terasa begitu lemas. Padahal Ia tidak pernah melakukan pekerjaan yang begitu berat. Nafsu makannya pun sedikit berkurang, Dia hanya suka makan-makanan yang asam dan pedas.

Seperti saat ini, Elisa hanya menatap makanan yang ada di hadapannya. Perutnya seakan menolak setelah mencium aroma roti bakar dan susu coklat yang ada di depannya, padahal biasanya Elisa sangat menyukai kedua menu sarapan tersebut.

Elisa berusaha baik-baik saja, dan memulai sarapannya. Dia tidak ingin terlambat datang ke kantor.

Baru satu suap roti bakar masuk ke mulut, tiba-tiba perut Elisa seakan di aduk-aduk.

Gadis itu segera berlari menuju wastafel lalu memuntahkan semua isi perutnya.

Tuan Andreas dan Nyonya Sintia yang melihat kejadian itu nampak terkejut, Mami Sintia segera berlari menyusul Elisa dan membantu memijit tengkuk putrinya.

"El,kamu sakit?" tanya Mami Sintia.

"El nggak tau Mi? Dari kemarin kepala El pusing," jawab gadis itu.

"Mungkin kamu kelelahan El? Sebaiknya hari ini kamu istirahat di rumah saja," pinta Mami Sintia lagi.

"Tapi El banyak kerjaan Mi?"

"Biar pekerjaanmu Roy yang menggantikannya," sela Papi Andreas membenarkan ucapan sang istri.

"Tapi, Pi...?"

"Benar kata Papi, El? Kamu sementara istirahat dulu di rumah."

"Baiklah," jawab Elisa, dia beranjak menaiki anak tangga menuju kamar dan ingin segera beristirahat agar badannya cepat pulih.

Baru dua langkah gadis itu menaiki anak tangga,tiba-tiba kepalanya terasa pusing, badannya semakin lemas, dan pandangannya tiba-tiba buram.

Lalu semua terasa gelap.

Brukkk,

"Ellllll.....!!!" Mami Sintia berteriak histeris, melihat anaknya jatuh tak sadarkan diri.

Papi Andreas langsung berlari menghampiri tubuh anaknya yang sudah tergeletak di lantai, "El, bangun Nak?" menepuk pipi putrinya pelan.

"Elisa kenapa Pi?" tanya Mami Sintia panik, wanita itu sudah menangis ketakutan melihat wajah Elisa yang semakin pucat.

Tanpa memperdulikan ucapan istrinya, Tuan Andreas segera membopong tubuh Elisa dan menuju kamar gadis itu.

Dia segera menghubungi Dokter pribadi keluarga Andreas agar segera datang.

Satu jam berlalu...

Nyonya Elisa mondar-mandir menunggu Dokter yang kini tengah memeriksa Elisa. Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan anaknya, kenapa bisa sampai pingsan?

"Maaf, Tuan, Nyonya. Bisa kita bicara di luar?" ucap Dokter meminta persetujuan.

"Apa tidak bisa bicara disini saja Dok?" ucap Nyonya Sintia memandang ke arah sang suami.

"Sebaiknya kita bicara di luar saja Mi," potong Tuan Andreas. Pria paruh baya itu tidak mau berlama-lama mendengar kabar tentang kondisi putrinya.

"Baiklah."

Mereka memilih keluar dari kamar meninggalkan Elisa yang belum sadarkan diri.

"Sebenarnya apa yang terjadi dengan putriku, Dokter?" tanya Tuan Andreas tidak sabar.

"Begini Tuan, Nyonya. Sebenarnya Nona Elisa tengah tidak apa-apa." Dokter memberi penjelasan. Matanya menatap kedua orang tua itu yang sekarang terlihat bingung.

"Tidak apa-apa bagaiman, Dokter? Elisa pingsan? Bagaimana mungkin dia baik-baik saja?"

Dokter muda itu bungkam. Ingin segera menjelaskan, tapi apa mereka mau mendengarnya?

"Dokter...?"

"Nona Elisa tidak apa-apa, hanya saja---....?"

*****

Nyonya Sintia yang tadinya hendak marah, kini hanya bisa menangis tergugu di samping Elisa. Dia tidak tega melihat keadaan putrinya yang masih terbaring lemah dengan infus yang menancap di tangannya.

"Mi, kenapa menangis?" Elisa yang beberapa menit yang lalu sudah sadar merasa bingung, karena melihat Mami Sintia menangis.

Kini dia bertambah ketakutan kalau-kalau dirinya mengidap sebuah penyakit yang berbahaya. "Mi...?" tanya Elisa kembali, karena melihat Mami Elisa menangis semakin kencang.

"Elisa, putriku---...?" Mami Sintia yang merasa sangat sedih kini memeluk anaknya dengan sangat erat.

"Mi? Katakan ada apa? Apa aku terkena penyakit yang berbahaya?" tanya Elisa dengan terisak, dia tidak bisa menahan tangisnya, saat melihat Mami Sintia menangis tersedu-sedu seperti itu.

Mami Sintia melepaskan pelukannya, lalu mengusap air mata yang menetes di pipi Elisa.

"El, katakan pada Mami, siapa yang melakukannya?"

"Siapa yang melakukannya?" Elisa mengulangi pertanyaan Mami Sintia dengan bingung.

"Iya Sayang, siapa yang melakukannya padamu? Katakan pada Mami?" tuntut Mami Sintia dengan tangis yang kembali pecah.

"Melakukan apa Mi?" Elisa kembali bertanya dengan mengerutkan keningnya.

"Siapa Pria yang sudah menghamilimu!" teriak Mami Sintia Emosi.

Deg,

Jantung Elisa berdetak tidak karuan, saat mendengar perkataan Mami Sintia.

"Ha-hamil?" lirih Elisa dengan wajah yang pucat. "Mi, aku---...?"

"Ya, Sayang. Kau sedang hamil, dan katakan, siapa Pria itu?"

Elisa masih terkejut dengan kabar yang di dengarnya, justru terdiam, dan tidak tahu harus berkata apa.

Dia tidak menyangka kejadian saat malam itu bisa membuat dirinya hamil. Padahal Ia melakukannya hanya sekali, itu pun dengan keadaan dirinya yang sangat mabuk.

"Elisa Andreas!!! Katakan siapa Ayah dari anak yang kau kandung!" sentak Mami Sintia emosi, melihat putrinya yang hanya diam saja.

"Mi---...?" Elisa menangis dengan wajah bingung dan ketakutan.

"Jangan menangis, El! Kau bukan wanita yang lemah, jadi cepat katakan pada Mami, siapa Pria itu?"

Elisa menggelengkan kepalanya, sambil terus menangis.

"Elisa! Cepat katakan siapa dia?" Mami Sintia mengguncang bahu utrinya.

"Mami, aku tidak bisa mengatakannya, karena---...?" Elisa menutup wajahnya dengan tangis yang semakin keras.

"Ya Tuhan, Mami Sintia mengusap air matanya sambil menarik napas, berusaha sabar dalam menghadapi Elisa.

"Dengar El! Mami tidak akan marah pada Pria itu, tapi kau harus mengatakan siapa dia? Sebelum Papi lebih dulu menemukannya! Karena kau pasti tahu sendiri apa yang akan Papi lakukan pada orang yang berani menyakitimu?" Mami Sintia menatap serius wajah putrinya.

"Tidak Mi, aku mohon cegah Papi. Pria itu tidak bersalah, aku yang menggodanya, karena saat itu aku mabuk," pinta Elisa memohon.

"Astaga, kamu mabuk, El?" Mami Sintia hampir limbung saat mendengar kelakuan putrinya itu.

"Maaf Mi,"jawab Elisa lirih.

Mami Sintia menghela napasnya, saat mendengar perkataan Elisa, memang bukan sepenuhnya salah laki-laki itu. Tapi, tetap saja dia harus bertanggung jawab atas semua perbuatannya.

"Oke. .Mami akan mencegahnya dan meminta Papi kembali kesini.Tapi kau harus berjanji untuk mengatakan semuanya dengan jujur." ucap Mami Sintia menegaskan.

Elisa menganggukkan kepalanya, dan dengan segera Mami Sintia menghubungi suaminya untuk kembali ke rumah. Setelah menutup ponsel, kini Mami Sintia menatap tajam pada putrinya.

"Sekarang katakan! Siapa dia!" Mami Sintia berkata dengan sangat tegas.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Cinta dan Keluarga
8.2
Dalam novel modern Antara Cinta dan Keluarga, kedatangan kakak sepupu pacar yang baru bercerai mengacaukan segalanya. Sambil membawa anak berusia lima tahun dalam kondisi hamil besar, wanita itu menumpang tinggal dan memperlakukan kekasih protagonis seolah miliknya sendiri. Ketegangan memuncak di sebuah acara keluarga ketika anak tersebut menyiramkan minuman dan berteriak menuduh protagonis telah merebut ayahnya.
Sampul Novel Fall For You (Rindu)
8.0
Bagi Rindu Kinasih, perjodohan dengan Derren Aji Putra yang dikira indah justru berujung pada siksaan fisik dan batin yang kejam. Saat hidupnya hancur, Danielo Chris hadir. Atasan Rindu yang memiliki trauma masa lalu terhadap kekerasan itu menawarkan sebuah jalan keluar berupa kontrak pernikahan. Kini, Rindu dihadapkan pada pilihan sulit: terus bertahan dalam ancaman maut suaminya, atau mengambil keputusan nekat demi meraih kebebasan.
Sampul Novel Jadi Korban Kelalaian Orang Tuaku
9.6
Seorang gadis diculik dan disiksa oleh musuh ayahnya yang ingin balas dendam. Saat pembunuh menghubungi sang ayah yang merupakan kapten polisi, panggilan itu diabaikan demi menemani sang adik di sebuah lomba. Korban pun tewas mengenaskan setelah lidahnya dipotong. Ketika sang ayah dan ibu yang seorang ahli forensik tiba di TKP untuk menyelidiki kasus ini, mereka mengutuk kekejaman pelaku. Tragisnya, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa jasad hancur yang sedang mereka periksa adalah putri kandung mereka sendiri.
Sampul Novel Jatah Malam Untuk Mertua
9.0
Leo menghadapi dilema berat ketika calon ibu mertuanya yang janda meminta hubungan intim sebagai syarat nikah. Sementara itu, Dinda terkejut saat ayah kandungnya, Pak Bram, menginginkannya dan mengajukan tuntutan yang sama. Terjebak dalam pusaran nafsu dan tekanan orang tua, akankah Leo dan Dinda mengkhianati komitmen demi memenuhi syarat gila tersebut? Kisah penuh intrik dan pengkhianatan ini akan menguji batas kesetiaan cinta mereka.
Sampul Novel Melayani Hasrat Mertua Dan Ipar
8.1
Kehadiran ibu mertua dan adik ipar yang ingin menumpang tinggal membuat Galang cemas. Rumahnya yang kecil memicu kekhawatiran akan konflik dan sempitnya ruang. Namun, penjelasan tulus dari Gaby mengenai nasib malang keluarganya di desa berhasil menyentuh hati Galang. Atas dasar cinta pada sang istri, ia pun memberi izin. Kini, Galang harus bersiap menghadapi babak baru yang menantang demi menjaga keharmonisan rumah tangga mereka.
Sampul Novel Nenek Mertua Yang Culas
9.7
Ambarningsih tidak juga berubah di hari tuanya. Setelah sukses merusak hubungan Ravindra dan Dewi, kini ia bersiap mengacaukan rumah tangga cucunya sendiri, Elang dan Citra. Di tengah kelicikan sang nenek yang terus mengintai, Citra harus berjuang keras mempertahankan pernikahannya. Mampukah ketulusan hati Citra menghadapi kekejaman Ambar dan membuatnya menyesal? Kisah perjuangan menantu melawan mertua yang culas ini penuh dengan ujian emosi yang mendalam.