APKDock Logo
Sampul Novel Melayani Hasrat Mertua Dan Ipar

Melayani Hasrat Mertua Dan Ipar

8.1 / 10.0
Kehadiran ibu mertua dan adik ipar yang ingin menumpang tinggal membuat Galang cemas. Rumahnya yang kecil memicu kekhawatiran akan konflik dan sempitnya ruang. Namun, penjelasan tulus dari Gaby mengenai nasib malang keluarganya di desa berhasil menyentuh hati Galang. Atas dasar cinta pada sang istri, ia pun memberi izin. Kini, Galang harus bersiap menghadapi babak baru yang menantang demi menjaga keharmonisan rumah tangga mereka.

Melayani Hasrat Mertua Dan Ipar Bab 1

Matahari pagi menyinari wajah Galang yang penuh semangat meski masih tampak sedikit kebingungan. Berusia 19 tahun, ia mengenakan seragam bengkel sederhana yang sedikit kebesaran, tanda bahwa dia masih baru dalam dunia ini. Meski tanpa keahlian otomotif sama sekali, Galang tak gentar. 

Dengan langkah tergesa-gesa, ia menuju bengkel kecil di samping rumahnya, bangunan yang baru ia buka seminggu lalu sebagai bentuk tantangan sekaligus perjalanan belajar. Matanya yang tajam menyiratkan tekad kuat, sementara gerak tubuhnya yang canggung mengungkapkan ketidaktahuan yang ingin segera ia hilangkan.

 Baginya, bengkel ini bukan sekadar tempat mencari penghasilan, melainkan panggung untuk menaklukkan ketakutan dan mengasah kemampuan baru yang selama ini hanya ada dalam angan.

Belum sempat Galang membuka seluruh jendela bengkel, sebuah suara mesin motor terdengar mendekat. Raut wajahnya berubah saat ia mengintip dari balik jendela dan melihat sosok yang tak asing baginya. Dengan langkah ragu, ia membuka pintu bengkel sedikit dan mengintip ke luar.

"Eh, Ibu," gumamnya dalam hati, suaranya penuh keberatan. Itu adalah mertuanya, yang datang mengendarai motor bersama Amel, adik iparnya.

Namun pada akhirnya Galang memutuskan untuk menyambutnya. Raut wajahnya yang semula tegang berubah menjadi senyum simpul.

"Eh, Ibu... eh, Amel," sapa Galang dengan suara bergetar, tangan kirinya canggung menggaruk belakang kepala, sementara tangan kanannya berjuang membuka pintu bengkel yang agak berat. 

Amira, mertuanya, melangkah masuk dengan mata tajam yang menyisir setiap sudut bengkel kecil itu-seakan mencari rahasia di balik keputusan besar menantunya.

"Hmmm, kamu buka bengkel sekarang, ya?" ucap Amira, nada suaranya menyatu antara penasaran dan tak terduga. 

 Galang menarik napas dalam, berusaha menguatkan diri. "Iya, Bu. Aku putuskan berhenti kerja. Bagi saya, punya usaha sendiri lebih tenang dan menjanjikan," jawabnya dengan suara setengah yakin, setengah berharap penerimaan itu tulus. 

 Tiba-tiba Amel, adik iparnya yang masih remaja, melangkah masuk dengan langkah ringan, senyum manisnya memecah suasana tegang. 

"Hy, Kak Galang," sapa Amel penuh keceriaan. 

 Galang membalas dengan anggukan dan senyum yang lebih lebar-sebuah upaya menyembunyikan kerisauan yang bergelayut dalam dada.

 Di balik senyum itu, ada tanya dan takut yang belum bisa ia ucapkan. Akankah keluarga benar-benar bisa menerima perubahan hidupnya yang begitu drastis?

"Ayo, dek, kita ke sebelah aja. Di sini kotor," katanya seraya melirik ke adik iparnya, Amel, dan ibu mertuanya yang kemudian mengangguk pasrah.

Mereka bersama-sama melangkah ke rumah di samping. Sesampainya di ruang tamu rumah sebelah, Galang mempersilakan kedua tamunya.

"Duduk dulu Bu, Dek Amel. Sepertinya Geby lagi mandi," ujarnya sambil tersenyum kecut. Ia beranjak menuju kamarnya, langkahnya tergesa-gesa.

 Pintu kamar terbuka, dan pemandangan di dalam membuatnya tercekat. Geby hanya mengenakan pakaian dalam. Jantung Galang berdebar kencang, nafasnya menjadi tak beraturan.

"Sayang, boleh gas gak?" suara Galang bergetar, terbungkus harapan yang hampir putus asa. 

Senyum yang terlukis di wajahnya berusaha keras menutupi kegelisahan yang bergemuruh di dadanya. "Gas, gas, malam aja deh," balas Geby santai, seolah menggenggam ketegangan itu dan meremasnya habis tanpa sisa.

Galang mengangguk pelan, tapi matanya sudah menaruh tanda tanya yang dalam.

 "Oh ya, Ibu dan Amel udah datang, Mas?"

"Udah," jawab Galang, nada suaranya kini sarat kekecewaan, seperti api kecil yang meredup perlahan.

 Ia menjatuhkan diri di tepi kasur, pandangan kosong melayang ke kejauhan. Di benaknya, sosok Amel berputar-putar-dulu polos, culun, dengan kulit gelap penuh jerawat dan rambut kusut yang membuatnya tak terlihat istimewa. 

Namun kini, gadis itu berubah drastis menjadi sosok yang memikat hati.

"Amel... Kok bisa jadi secantik ini? Dulu?... dekil, item, jerawatan, culun, malah kureng, panoan... Aahh, apa yang terjadi? Kenapa aku tak pernah melihatnya sebelumnya?" bisiknya dalam hati, penuh campuran antara heran dan sesak. 

 Gelisah yang menyesak dada itu memaksanya bangkit, melangkah mendekat ke Geby tanpa suara. 

Dengan sentuhan lembut tapi penuh makna, ia memeluk dari belakang, sebuah kejutan kecil yang menandakan harapan. "Beneran dikasih nanti malam?" tanyanya, suaranya nyaris bergetar, menggantung di antara ragu dan kerinduan.

Gaby hanya tersenyum, sambil mengusap lembut wajah Galang. "Iya, kalau aku nggak kecapean," ucapnya penuh pengertian.

Galang mengangguk, memahami. "Ya udah, aku mau lanjut buka bengkel ya, Ibu dan Amel ada di luar," ujarnya ringan sambil mengecup pipi Gaby sebagai perpisahan, kemudian pelan-pelan melepas pelukan hangat mereka.

Langkah Galang terbawa ke luar, menyusuri pintu belakang yang langsung menuju ke bengkel di samping rumah.

Di sisi lain, Gaby melangkah keluar dari kamar, matanya bertemu dengan ibu dan adiknya. Air mata yang selama ini ia tahan, pecah begitu saja. Dengan langkah goyah ia mendekat, meluapkan segala rasa yang bercampur baur dalam pelukan ibunya. "Bu, maafkan Gaby ya, nggak bisa bantu banyak," bisiknya di tengah isak tangisnya, penuh penyesalan.

Dengan lelah, Amira menarik napas dalam-dalam sebelum mengungkapkan kata-katanya, "Sayang, hanya mendapatkan tempat di rumah ini, Ibu dan adikmu sudah sangat bersyukur. Di kampung, Ibu sering dicap sebagai janda gatal, dan itulah sebabnya Ibu menjual rumah kita, agar biaya kuliah adikmu tercukupi." Amira mengusap pundak Gaby lembut saat bicara, suaranya terdengar penuh kelelahan.

Amel, yang mendengarkan sisi-sisi percakapan itu, tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Matanya berkaca-kaca. Ketika melihat Ibu dan kakaknya berpelukan, Amel segera menyusul memeluk keduanya, menyatu dalam satu pelukan hangat yang menyimpan ribuan emosi.

"Demi Ibu, Amel berjanji tidak akan mengecewakan. Akan menjadi anak yang membanggakan," janji Amel dengan suara bergetar.

Gaby melepas pelukan perlahan, menatap Amel dengan pandangan penuh harap.

"Ya, kamu harus benar-benar serius kuliah, ya," katanya, kedua tangannya menggenggam wajah adiknya dengan lembut. 

Dalam nada yang berusaha keras terdengar tegas, Gaby menambahkan, "Ingat, di kota ini banyak pergaulan yang bisa menyesatkan, pilihlah yang benar, jangan sampai kamu salah langkah."

Setelah keriuhan mereda, Gaby memandu adik dan ibunya ke kamar tamu. Di ambang pintu, dia menoleh, "Bu, aku siap-siap dulu ya, mau berangkat kerja." Suaranya lembut namun tergesa-gesa.

Amira hanya mengangguk sambil duduk di pinggiran kasur, matanya lelah tapi tersenyum. "Iya, hati-hati ya, Nak."

Dia kemudian merebahkan diri, memejamkan mata sejenak.

Gaby menatap mereka berdua sebelum menambahkan, "Dek, kalau mau mandi, pakai kamar mandi di kamarku aja. Yang di belakang lagi direnovasi." Tanpa menunggu jawaban, dia bergegas ke kamarnya, memulai rutinitas paginya dengan pikiran yang bercampur aduk.

Sementara Amel memilih keluar dari kamar sambil merapatkan sweater yang ia kenakan. Langkahnya perlahan membawanya menjelajahi setiap sudut rumah. Sesampainya di teras, dia memilih untuk duduk, membiarkan sejuknya pagi memeluk tubuhnya. Matanya segera teralih ke arah bengkel di mana Galang, tampak tengah asyik dengan motor pelanggan.

Sesekali ia merenggangkan lehernya, mencoba memahami apa yang sedang dikerjakan. Ia bisa melihat kesalahan yang dilakukan Galang. Tak tahan melihatnya, Amel berdecak dan berteriak ke arah bengkel.

"Kak, itu ban tubeless loh, kenapa harus repot-repot lepas ?" teriaknya kebingungan.

Seorang pelanggan  menimpali, "Iya, Mbak. Saya sudah bilang juga, tapi dia bilang begini lebih aman, mengurangi risiko gagal."

Galang menoleh ke arah mereka dengan ekspresi serius, menunjukkan pengetahuannya sebagai mekanik. "Dek, kamu ini nggak ngerti soal motor. Biarkan yang profesional yang kerjakan," jawabnya sambil kembali fokus pada ban yang sedang ditanganinya.

Dengan tekad yang tidak akan mengalah, Amel membuka sebuah aplikasi dan mulai mencari tutorial cara menambal ban tubless. Setelah menemukannya, ia menyerahkan ponselnya kepada Galang.

"Coba lihat ini, cara yang bener, lebih simpel dan cepat," tuturnya dengan nada lembut.

Galang yang semula malu, kini merasakan rasa malu semakin mendalam dalam hatinya. Ia mendekat dan mencoba fokus menyimak video tersebut, berharap bisa mengerti setiap langkahnya.

Dengan perlahan, ia mulai mengikuti instruksi dari video tersebut dan setelah beberapa saat, ia berhasil.

"Sudah pak," ucap Galang, terengah-engah karena kelelahan.

Sang pelanggan, yang sudah kesal, merespons, "Kalau nggak bisa otomotif nggak usah buka bengkel."

Galang mencoba tetap tenang, "Maaf pak, tapi saya jamin, kalau lain kali bapak datang kesini dengan keluhan yang sama, perbaikan akan lebih cepat."

Tanpa berbicara lebih lanjut, pelanggan itu pun berlalu dengan wajah yang masih menunjukkan kekecewaan..

"Kak, maaf. "Tanpa diduga, Amel menyentuh wajah Galang, mengejutkannya hingga tangannya spontan memegang tangan Amel yang lembut. Mereka saling menatap, detik itu terasa berlangsung lama, membuat jantung Galang berdegup kencang.

Amel tersenyum nakal, "Ada oli kak, hehehe." Ucapnya ringan.

Galang, yang merasa hatinya berdebar, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya, "Makasih dek, sebenarnya ini tidak perlu, namanya juga montir," balasnya mencoba terdengar santai.

"Heheh, minimal tau tambal ban tubles dulu dong," sahut Amel dengan senyum menggoda sebelum ia berbalik untuk pergi.

Galang masih terpaku, matanya mengikuti sosok Amel yang menjauh. "Sadar lang," gumamnya dalam hati, menyadari betapa dia terpesona.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Melayani Hasrat Mertua Dan Ipar

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Derita Menantu Jelita
9.5
Kehidupan rumah tangga dalam novel modern "Derita Menantu Jelita" berubah drastis setelah sang suami mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan tragis. Situasi kian rumit ketika ayah mertua memutuskan tinggal bersama mereka. Demi menjaga kelangsungan garis keturunan, sang suami nekat melakukan aksi ekstrem dengan diam-diam membius istri dan ayahnya sendiri. Keputusan tersebut memicu rangkaian peristiwa misteri yang tak terkendali dan mengubah nasib mereka selamanya.
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Niat tulus Rheina menyelamatkan sahabatnya dari tuan tanah malah berujung pelik. Sang ayah justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat, menyeret Rheina ke dalam lingkaran konflik keluarga yang kelam dan merusak hidupnya. Di tengah kerasnya tekanan hidup yang dipenuhi kata kasar dan adegan dewasa, gadis lugu ini terjebak dalam cinta segitiga yang rumit. Saksikan perjuangan emosional Rheina menghadapi takdirnya yang sarat liku.
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Divonis kanker rahim stadium lanjut membuat Fatma harus mengubur mimpinya memiliki keturunan. Demi kebahagiaan sang suami, Satria, ia rela memintanya untuk beristri lagi. Namun, di balik keputusannya, terungkap fakta menyakitkan bahwa Satria sebenarnya tidak pernah mencintai Fatma. Walau Satria sempat menolak demi menjaga perasaannya, Fatma tetap memohon sambil menangis agar keinginan terakhirnya dikabulkan sebagai bukti ketulusan cintanya.
Sampul Novel Jebakan Cinta SANG MANTAN
9.0
Menjebak Ivander dalam pernikahan paksa rupanya menjadi penyesalan terbesar bagi Nada. Meski begitu, cara ini adalah satu-satunya jalan agar ia bisa terus mendampingi pria yang dahulu hidupnya telah ia hancurkan. Terbelenggu rasa bersalah, Nada kini bertekad menebus dosa masa lalu lewat pengabdiannya sebagai istri. Namun, akankah ketulusan Nada mampu meluluhkan amarah di hati Ivander, ataukah perjuangannya meraih maaf hanya akan berujung sia-sia?
Sampul Novel Kelahiranku, Kematian Ibuku, Dan Kebencian Ayahku
8.1
Setelah disiksa hingga tewas oleh penculik demi melindungi ayahnya, seorang gadis malang harus menerima kenyataan pahit bahwa ayahnya justru sibuk merayakan ulang tahun putri adopsinya. Panggilan telepon terakhirnya diabaikan dengan penuh kebencian. Keesokan harinya, jenazahnya ditemukan di depan kantor polisi dalam kondisi mengenaskan. Ironisnya, sang ayah yang bekerja sebagai ahli forensik memimpin langsung proses otopsi jasad putrinya sendiri tanpa menyadari identitas korban yang sangat ia benci.
Sampul Novel P. S. I LOVE YOU
8.5
Kehidupan Cyra Alesha, mahasiswi berumur dua puluh tahun yang bekerja paruh waktu di kota besar, berubah drastis akibat kesalahpahaman dengan Felix Domil. CEO muda yang kejam sekaligus pewaris tunggal tersebut tega menyiksa dan menginjak harga diri Cyra. Di tengah penderitaan itu, Cyra justru terpikat oleh pesona sang miliarder. Kini, ia dihadapkan pada pilihan sulit: terus bertahan menghadapi kekejaman Felix atau memilih berontak untuk membebaskan dirinya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan