APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dibuang, Bangkit, Menang!

Dibuang, Bangkit, Menang!

Tiga tahun mengabdi sebagai istri, Cindy justru diceraikan demi perempuan lain dan menjadi bahan cemoohan sekota. Namun, ia bangkit membuktikan bakat terpendamnya hingga mencapai kesuksesan luar biasa. Saat sang mantan menyesal dan memohon untuk rujuk, Cindy menolaknya dengan dingin. Di saat bersamaan, suami barunya yang tampan datang melindungi Cindy dan memperingatkan sang mantan agar tidak berani mengusik kehidupan mereka lagi.
Bab
Bagikan

Bab 2

Di Bar Verto, Cindy melepas kacamata berbingkai hitamnya dan menyelipkannya ke tangannya. Tanpa kacamata itu, matanya berbinar dengan kenakalan dan kehangatan.

Hilang sudah rambut lurus dan rata yang selalu dikenakannya seperti baju zirah. Sekarang rambutnya dicatok menjadi bergelombang, membingkai wajahnya seolah-olah dia cocok untuk sampul majalah. Dengan lipstik merah dan pancaran kepercayaan diri, dia menarik perhatian tanpa perlu berusaha.

Ada pesona dan daya tarik dalam setiap gerakan dan sikapnya. Dibandingkan dengan dirinya yang polos dan pendiam di rumah, dia seolah-olah telah berubah menjadi seseorang yang sama sekali berbeda.

Della mencondongkan tubuh, sambil memutar sedotan di dalam koktailnya. "Oh iya, ada kompetisi menembak minggu depan. Apakah kamu ingin pergi?"

"Aku tidak akan pergi," jawab Cindy tanpa ragu sedikit pun. "Sudah lama sekali aku tidak menembak. Tanganku tidak semantap yang dulu."

"Ayolah, siapa yang peduli tanganmu mantap atau tidak?" Della menyeringai menggoda. "Anggap saja kompetisi itu untuk melepaskan ketegangan. Bayangkan wajah Bagas tepat di sasaran dan lakukan mode penghancuran penuh."

Tawa kecil terdengar saat Cindy menyesap seteguk anggur. "Ini adalah saran yang bagus."

"Benar, kan?" Della menyeringai, nada bicaranya meninggi karena kegembiraan. "Oh—dan coba tebak siapa yang akan ada di sana? Delon. Orang yang hampir mengalahkanmu empat tahun lalu. Setelah kamu pensiun dari kompetisi, dia terus menjadi pusat perhatian sejak saat itu."

Della tidak menunggu Cindy menjawab saat dia menambahkan, "Dan coba tebak—hadiah tahun ini adalah Bugatti edisi terbatas. Bukan model yang bisa kamu beli begitu saja. Satu-satunya." Dia memberikan ponselnya kepada Cindy tanpa ragu sedikit pun. "Ini. Lihatlah kompetisinya."

Cindy membolak-balik rinciannya dalam hitungan detik. Hadiah uang bukanlah satu-satunya hal yang menarik perhatiannya. Yang benar-benar menonjol adalah kejutannya—para peserta akan disembunyikan di balik topeng dan nama samaran. Namun, siapa pun yang menang berhak memaksa orang lain untuk menunjukkan wajah asli mereka.

"Jika kamu masuk dan menang, kamu harus membuat Delon melepas topengnya. Aku sangat ingin tahu seperti apa rupa orang itu!" seru Della.

"Oke." Cindy memutar gelas anggurnya dengan lembut. Sudut-sudut mulutnya melengkung ke atas, membentuk seringai menggoda. "Jika aku muncul, aku tidak akan hanya bermain. Aku akan menaikkan taruhannya."

Della memiringkan kepala, rasa ingin tahu terpancar di matanya. "Baiklah kalau begitu, katakan padaku—apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan?"

Cindy tersenyum licik pada Della. "Beri tahu semua orang—siapa pun yang meraih kejuaraan tahun ini akan mendapatkan satu kesempatan perawatan dengan King. Tidak ada tanggal kedaluwarsa juga. Selama mereka memenuhi persyaratan King, kesepakatannya tetap berlaku."

Della hampir menumpahkan minumannya. "Kamu bercanda! Jika hal itu sampai bocor, orang-orang akan berdesakan satu sama lain hanya untuk mendaftar. Kompetisi menembak ini akan meledak."

"Aku mau ke kamar kecil." Tanpa berkata apa-apa lagi, Cindy bangkit dari tempat duduknya.

Saat dia belum berjalan jauh, sekelompok kecil pria melangkah dan menghalangi jalannya, gaya berjalan mereka cukup untuk membuat ruangan menjadi hening.

"Wanita cantik," ucap salah seorang dari mereka sambil menyeringai. "Sepertinya kamu butuh teman. Bagaimana kalau minum segelas?"

Mereka menatapnya dengan tajam, mengamatinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Senyum mereka tampak seolah-olah dia adalah sesuatu yang bisa mereka miliki.

Ekspresi Cindy menjadi sedingin es. Nada bicaranya tanpa kehangatan sedikit pun. "Enyah!"

Sepatah kata itu tampaknya hanya menyemangati mereka. "Wah, begitu galak?" ucap salah satu dari mereka sambil terkekeh. "Kami menyukai gadis yang galak dan membuat segala sesuatunya menjadi menarik."

Cindy tidak memiliki ekspresi apa pun di wajahnya. "Kesempatan terakhir. Minggir."

Alih-alih menyingkir, salah satu dari mereka bersiul dan mengulurkan tangan ke arah dada Cindy sambil menyeringai.

Cindy benar-benar kehilangan kesabarannya. Dia menepis pergelangan tangannya bahkan sebelum jari-jari pria itu menyentuhnya. Bunyi keras itu membuat seluruh kelompok pria tersebut membeku.

Pria itu berteriak, "Apa-apaan ini—"

Pria lainnya tidak mendapat kesempatan untuk membalas. Cindy bergerak seperti badai. Tendangan ke lutut. Siku ke rahang. Satu per satu, dia menjatuhkan mereka dengan ketepatan yang dingin.

Dalam sekejap, seluruh kelompok pria itu tergeletak di lantai, mengerang dan memegangi memar yang akan mereka ingat selama berminggu-minggu.

Di atas mereka, kekacauan itu terlihat dari balkon lantai dua.

"Wanita itu sungguh cantik," ucap salah seorang teman Bagas dengan mulut yang menganga lebar. "Keren, percaya diri—tepat tipeku."

Pandangan Bagas beralih kepada wanita berambut bergelombang itu, dan semakin lama dia menatap, semakin kuat rasa pengenalannya. Ada sesuatu di wajahnya—sesuatu yang aneh—yang membuatnya bertanya-tanya apakah dia sedang melihat Cindy, mantan istrinya.

Setelah menghabiskan sore di rumah sakit menemani Yuvia, Bagas setuju untuk pergi ke bar atas sarannya. Dia tidak menyangka akan bertemu seseorang yang tidak asing.

"Tunggu sebentar," gumam Yuvia sambil menyipitkan mata ke arah wanita di lantai bawah. "Bukankah itu Kak Cindy?"

"Tunggu, kamu bilang bahwa wanita yang cantik itu sebenarnya Cindy? Bagaimana mungkin? Wanita itu tidak mungkin ibu rumah tangga membosankan yang hampir tidak berbicara."

Rasa ingin tahu muncul dalam kelompok itu saat mereka mencondongkan tubuh, menyipitkan mata untuk meminta konfirmasi. Mereka segera mengenalinya—itu benar-benar mantan istri Bagas, dan keterkejutan itu menghantam mereka bagai tamparan.

Kumala Dewangga, adik perempuan Bagas, tidak menyembunyikan rasa jijiknya. "Lihatlah dia—berpakaian dengan begitu mencolok, bagaimana mungkin dia adalah gadis yang baik? Dia baru saja ditinggalkan oleh kakakku, dan dia datang ke bar dengan berpakaian seperti ini. Aku yakin dia sedang mencari om senang.

Beberapa pria tertawa dan mengikutinya untuk mengejeknya juga.

"Memang." Seseorang mencibir. "Wanita seperti itu butuh pria untuk memuaskannya."

"Bagas membuat keputusan yang benar dengan menceraikannya. Dengan penampilan seperti itu? Dia praktis mengiklankan dirinya sendiri."

"Dia hanya bisa mengandalkan pria, dia tidak bisa menghidupi dirinya sendiri tanpa pria. Dia akan menjual diri sepanjang hidupnya."

Ejekan mereka menggores kesabaran Bagas bagai paku di atas kaca. Dia sudah muak. "Hentikan!" bentaknya, nada bicaranya lebih tajam daripada yang mereka dengar sepanjang malam.

Tanpa menunggu jawaban, Bagas menatap mereka dengan tajam sekali lagi lalu melangkah ke arah Cindy.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Elegi of Rosr
9.1
Kegagalan pernikahan menghancurkan hidup Ayu Suwarjo. Demi menyelamatkan bisnis keluarga, sang ayah menjadikannya jaminan kepada Roy Punda, pria sombong yang kini menjadi suaminya lewat kontrak enam bulan. Pernikahan paksa ini dijalani Ayu demi kebahagiaan ibunya. Meski sulit, ia berupaya menjaga sikap di hadapan Roy. Di tengah rahasia dan petualangan yang menguji kesetiaan, akankah sandiwara pernikahan sementara ini berujung pada cinta sejati?
Sampul Novel Jangan Lari Sayangku
9.1
Sanny Chandra mengira pernikahan kontraknya dengan Jordan Wijaya akan selesai lewat perceraian. Namun, sikap dingin Jordan lenyap setelah menikah, berubah menjadi sangat posesif dan suka memanjakannya. Sanny terjebak ketika Jordan melanggar kesepakatan dengan menuntut hubungan intim hingga dirinya hamil. Saat Sanny menagih janji cerai dan surat kontrak yang telah dirobek, Jordan menolak keras untuk melepaskan istri yang kini sangat ia pertahankan.
Sampul Novel Kukira Dia Cinta, Ternyata Pemberi Luka
9.7
Saat Riko Fosa dan keluarganya bersiap menghalangi Nisa di rumah sakit demi kelahiran anak Erni, Nisa justru memilih tidak hadir. Riko yang mengira istrinya hanya egois karena tidak mau menerima anak tersebut, berniat memaafkannya jika Nisa bersedia meminta maaf. Namun, Riko tidak menyadari bahwa Nisa telah mengambil keputusan besar. Dia mendaftarkan diri ke PBB untuk menjadi dokter lintas batas dan bersiap mencabut kewarganegaraannya, meninggalkan Riko selamanya tanpa ada kesempatan untuk bertemu lagi.
Sampul Novel PELET DARAH HAID
9.3
Rencana pernikahan Clara hancur total setelah David, sang kekasih, mendadak berpaling pada sahabatnya sendiri. Namun, pengkhianatan pedih ini ternyata bukan kejadian biasa. Diam-diam, Rosa melakukan perbuatan keji dengan mendatangi dukun untuk memikat David lewat jalur hitam. Di balik rusaknya hubungan tersebut, ada rahasia kelam berupa praktik pelet darah haid yang mengerikan, yang sengaja digunakan Rosa demi merampas kebahagiaan Clara secara paksa.
Sampul Novel SPEKTRUM HATI QUENARRA
9.3
Pernikahan tanpa cinta mengikat Garra Bhalendra dan Quenarra Auristela Kim karena dendam serta perjodohan keluarga. Garra bertekad membuat hidup Quen sengsara. Di sisi lain, Quen rela menderita demi sang ayah, meski hatinya masih milik Eder Shadrach. Hubungan mereka kian rumit oleh benturan keyakinan dan rahasia kelam masa lalu Garra yang perlahan terbongkar. Sanggupkah Quen bertahan di situasi dingin ini? Simak pergulatan batin mereka dalam Spektrum Hati Quenarra.
Sampul Novel Suamiku, Nerakaku!
8.8
Tujuh tahun pengabdian cinta kepada Kennedy hancur seketika saat penculikan mengerikan terjadi. Alih-alih menyelamatkan istrinya, Kennedy justru menolak membayar uang tebusan karena terhasut oleh sekretarisnya yang menganggap ini cara terbaik untuk mendisiplinkannya. Setelah melewati siksaan yang bagaikan neraka, sang istri akhirnya tersadar dan memilih melepaskan hubungan ini. Namun, saat dia memutuskan untuk pergi selamanya, Kennedy justru bersujud sambil menangis demi mendapatkan pengampunan.