
Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!
Bab 9
Setengah jam kemudian, Nindy menerima pesan dari asistennya.
[ Bu Nindy, sudah aku selidiki. Beberapa hari ini nggak ada kebakaran di dalam kota, tapi di wilayah pegunungan barat sempat terjadi kebakaran hutan. ]
[ Kondisinya sangat parah. Kabarnya tim pemadam dari kecamatan sekitar hampir habis-habisan. Tim Dua tempat Pak Ray bertugas juga ikut ke sana beberapa hari lalu. ]
Melihat ini, ekspresi Nindy langsung berubah drastis. Tubuhnya bangkit dari tepi ranjang tanpa kendali, bahkan sampai sedikit gemetar.
[ Terus, sekarang sudah terkendali? Ada korban dari tim Ray nggak? ]
Dengan tangan bergetar, Nindy mengetik kalimat itu dan menekan kirim. Saat ini, dia tidak bisa menjelaskan secara detail apa yang dia rasakan. Namun, rasa sesak di dadanya cukup kuat.
[ Untuk kondisi pasti di tempat kejadian belum jelas. Tapi beberapa hari ini, api sudah berhasil dikendalikan. ]
[ Bu Nindy, Pak Ray itu orang yang beruntung. Beliau pasti baik-baik saja. ]
Melihat balasan itu, Nindy memejamkan mata dengan pasrah. Hanya dia yang tahu, Ray sudah menghilang sejak beberapa hari lalu dan ponselnya sampai sekarang selalu tidak aktif.
Yang lebih membuatnya takut adalah kalimat terakhir dalam surat Ray. Dalam keadaan mental seperti itu ... jangan-jangan dia benar-benar nekat menghadapi kebakaran hutan tanpa peduli nyawanya?
[ Baiklah. ]
[ Cari lokasi tepatnya kebakaran hutan itu. Aku akan ke sana sekarang. ]
Saat membuka mata lagi, Nindy sudah membuat keputusan. Dia memberikan instruksi dengan tegas. Apa pun masalah antara dia dan Ray, itu urusan rumah tangga. Ray tetap suaminya yang sah. Dia harus melihat orangnya, mau itu hidup atau mati!
[ Baik, Bu. ]
[ Tapi, Pak Chicco sudah memesan restoran malam ini. Beliau bilang Ibu mungkin sibuk karena nggak membalas pesannya, jadi beliau meminta aku menyampaikan. Bagaimana? ]
Mendengar ini, Nindy mengernyit. Tak sampai beberapa detik, dia sudah mengambil keputusan.
[ Suruh dia batalkan. Malam ini aku ada urusan. Kita jadwalkan ulang lain hari. ]
[ Baik, Bu. ]
Setelah menutup percakapan, Nindy tidak bisa lagi duduk diam. Rasa gelisah menguasainya. Dia langsung mengambil kunci, keluar kamar, dan mengendarai mobil menuju arah pegunungan barat.
Lima menit kemudian, asisten mengirim lokasi lengkap dan mengingatkan agar berhati-hati. Nindy tidak membalas. Dia hanya menyalakan navigasi dan menambah kecepatan.
"Ray, kamu nggak boleh kenapa-napa! Meskipun akhirnya bercerai, aku nggak bisa biarkan semuanya menjadi nggak jelas seperti ini!"
Mobil melaju dengan sangat kencang. Perjalanan yang seharusnya satu jam, hanya ditempuh dalam 40 menit.
Semakin dekat dengan lokasi kebakaran, perasaan Nindy semakin buruk. Dari kejauhan saja dia sudah mencium bau hangus yang menusuk.
Semakin dekat, semakin jelas terlihat jejak-jejak tanah dan pepohonan yang hangus. Nindy menatap pemandangan itu, hingga seolah-olah bisa membayangkan kemungkinan terburuk tentang Ray.
Dadanya semakin sesak. Dengan satu injakan penuh, dia sampai di lokasi. Bukan pusat kebakaran, tetapi jalan tidak bisa lagi dilalui ke depan.
Nindy buru-buru turun dari mobil. Dia melihat beberapa mobil pemadam. Tidak jauh dari sana, ada tenda-tenda pos pemadam. Di dalamnya tampak bayangan para petugas pemadam kebakaran yang berlalu-lalang.
"Di sana!" Mata Nindy langsung berbinar. Dia cepat-cepat berjalan ke arah tenda.
Namun, baru beberapa langkah, dia mendengar suara tangisan banyak orang dari dalam tenda. Seketika, jantung Nindy seakan-akan berhenti berdetak. Langkahnya semakin cepat tanpa sadar.
"Ray, aku datang! Tolong jangan kenapa-napa!"
Setelah maju beberapa langkah lagi, Nindy melihat pemandangan yang membuatnya hampir tidak bisa berdiri. Di dalam area tenda itu, selain para petugas pemadam kebakaran, ada begitu banyak warga sekitar.
Mereka berkelompok, masing-masing mengelilingi tubuh-tubuh yang ditutupi kain putih, menangis pilu.
Nindy bahkan bisa melihat sebagian lengan yang masih mengenakan seragam pemadam di balik kain. Dia menyaksikan pemandangan yang menyayat hati itu sampai tidak bisa berkata-kata. Tubuhnya bahkan hampir terjatuh.
Nindy tidak bisa membayangkan ... bagaimana kalau salah satu yang terbaring itu adalah Ray? Dalam kelinglungan itu, rasanya ada begitu banyak kata yang tersumbat di dalam hatinya, tetapi tidak bisa diungkapkan.
"Ray ... kamu ada di sini nggak?" Mata Nindy langsung memerah. Dia bahkan tidak peduli dianggap tidak sopan. Dia mendekat dan membuka kain putih satu per satu untuk mengonfirmasi identitas.
"Yang ini bukan."
"Yang ini juga bukan ...."
Baru satu menit, Nindy sudah memastikan beberapa korban. Semua bukan Ray. Namun, dia sama sekali tidak berani menghela napas lega karena jumlah tubuh di sana terlalu banyak.
Yang Nindy tidak tahu adalah di sudut tenda, seorang pria berjaket pemadam baru kembali dan menggendong korban luka.
Begitu melihat sosok Nindy, pria itu tertegun. Nindy? Kenapa dia ada di sini?
Aku mengucek mataku, memastikan bahwa wanita yang berdiri tak jauh itu benar-benar Nindy. Istri sahku, atau lebih tepatnya mantan istriku.
"Dia ... datang mencariku?" Aku berdiri diam, menatap Nindy membuka satu per satu kain dengan wajah panik. Rasanya tidak bisa dipercaya. Belum pernah aku melihat Nindy sekhawatir itu terhadap diriku.
Sesaat, rasanya seperti dulu, di mana Nindy masih belum bersikap dingin, masih peduli padaku, dan masih mencintaiku. Apa mungkin dia masih mencintaiku?
Aku ingin melangkah menghampirinya. Namun, baru mengambil selangkah, kakiku berhenti. Sebab pada saat itu, bayangan Nindy di hari itu muncul jelas, saat dia mengaku sebagai pasangan Chicco di depan umum dan keduanya berciuman mesra.
Rasa sakit itu langsung menghentikan langkahku. Tidak mungkin. Nindy mana mungkin masih mencintaiku?
Paling dia datang karena membaca surat perpisahanku, tidak terima aku memutuskan sepihak, dan datang untuk mencari masalah.
Mengingat surat itu, hatiku langsung kembali tenang. Melihat Nindy yang panik, aku tidak lagi memiliki rasa apa pun. Terserah dia saja.
Keputusan sudah kutetapkan. Tidak akan ada jalan kembali. Mau dia cinta, benci, marah, ataupun dendam, itu semua sudah tidak ada hubungannya denganku.
Suami Nindy yang dulu selalu mengalah dan mencintainya setulus hati, sudah mati di kebakaran hutan ini. Yang hidup sekarang adalah Ray yang baru. Dalam hidup baru Ray, tidak ada Nindy.
Setelah membulatkan tekadku, aku diam-diam menjauh, mengambil posisi di tempat yang tidak terlihat olehnya, dan melanjutkan pekerjaan penanganan korban.
Sementara dia ... aku tidak khawatir timku mengenalinya. Bagaimanapun, Nindy yang selalu menjaga jarak dari dunia pribadiku tidak pernah sekali pun tampil sebagai istriku dalam acara tim. Tidak ada yang tahu bahwa kami menikah.
Setelah itu, aku melihat Nindy dimarahi keluarga korban karena membuka kain jenazah sembarangan. Dia pun pergi dengan linglung seperti tanpa jiwa.
Hingga sosoknya benar-benar hilang, aku tidak menoleh lagi. Yang aku tidak tahu adalah di dalam mobil, Nindy hampir sepenuhnya hancur.
Anda Mungkin Juga Suka





