
Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!
Bab 10
"Ray! Dasar bajingan! Kenapa kamu seenaknya ninggalin aku begitu saja?" Begitu masuk ke dalam mobil, Nindy akhirnya tidak bisa lagi menahan emosi yang sudah lama runtuh. Air mata seketika bercucuran. Rasa sedihnya memuncak.
Barusan saat dia melihat satu per satu tubuh yang terbaring tak bergerak di bawah kain putih, semuanya memakai baju pemadam kebakaran. Hatinya sebenarnya sangat ketakutan. Dia takut tidak menemukan Ray. Lebih takut lagi kalau saat kain itu dibuka, Ray justru ada di bawahnya.
Saat ini, Nindy tak mampu lagi mempertahankan ketenangan dan kejernihannya. Dadanya seperti ditusuk jarum, perih luar biasa.
Ray benar-benar sudah mati? Dia tidak tahu, juga tidak berani terus melihat.
Padahal dia mengira bertahun-tahun mendalami ajaran agama bisa membuat hatinya cukup kuat. Namun pada detik ini, Nindy tetap saja roboh. Seperti anak kecil, dia menelungkup di kursi kemudi sambil menangis tersedu-sedu.
Saat ini, ponsel di sakunya berdering. Nindy hampir seketika bangkit. Dengan hati berdebar, dia meraih ponselnya.
"Ray?" Dalam sepersekian detik, pikirannya sudah mulai menyiapkan alasan pembenaran untuk Ray.
Mungkin Ray menghilang berhari-hari ini hanya karena sedang ikut pemadaman kebakaran hutan dan tidak sempat memberi kabar. Ponselnya mati mungkin karena berhari-hari tak ada daya di gunung.
Namun, Ray tetap mencintainya, tetap peduli padanya. Karena itu, saat ponsel menyala kembali, dia pasti langsung meneleponnya. Bukan begitu?
Memikirkan itu, suasana hati Nindy sedikit membaik. Namun pada detik berikutnya, tatapannya menegang di layar ponsel. Penelepon itu bukan Ray, melainkan Chicco.
"Kenapa dia?" Sekejap, senyuman di wajah Nindy membeku, lalu perlahan menghilang.
Padahal biasanya, dia paling sebal dengan panggilan dari Ray, sedangkan panggilan yang paling dia nantikan adalah dari Chicco. Namun, sekarang justru sebaliknya. Betapa berharapnya dia Ray yang menghubunginya sekali saja.
Nada panggilan terus berbunyi. Nindy mendongak, memandang reruntuhan sisa kebakaran hutan yang penuh luka, lalu menutup mata dengan pasrah.
Saat dia membuka mata lagi, air matanya telah dihapus, emosinya sudah dia kunci. Dia mengangkat telepon sambil menyalakan mobil, bersiap pergi.
"Halo, Chicco, ada apa?"
"Nindy, kenapa seharian kamu nggak hubungi aku? Lagi sibuk banget ya?"
"Oh ... ya, hari ini kantor lagi sibuk banget. Ada perlu apa?" Nindy ragu sejenak, tetapi tetap mengikuti arah bicara Chicco.
"Nggak ada apa-apa, cuma Andrew dari tadi nangis minta ketemu mamanya. Aku sampai kewalahan, makanya aku akhirnya telepon kamu. Nggak ganggu kamu, 'kan?" Dari seberang, suara Chicco terdengar hati-hati.
Belum sempat Nindy menjawab, suara Andrew yang tak sabar langsung menyela, "Mama! Kapan pulang? Aku sama Papa kangen Mama."
"Papa malam ini sudah pesan makanan enak di restoran, tapi Mama nggak datang, Papa sedih .... Tapi Papa bawa makanannya pulang! Mama pulang nggak? Kita makan bareng ya?"
Serangkaian pertanyaan polos itu membuat dahi Nindy yang sejak tadi mengerut, sedikit melonggar.
Dia menarik napas perlahan, tersenyum, dan berpura-pura santai. "Begitu ya. Kalau begitu, Andrew bilang ke Papa, Mama minta maaf ya. Tunggu Mama. Mama sudah selesai kerja. Malam ini Mama pasti pulang makan bareng kalian."
Begitu dia selesai berbicara, suara sorak kegembiraan Andrew langsung terdengar. Setelah itu, Chicco mengambil alih telepon agar Andrew tidak terus mengganggu. "Baiklah, kami tunggu di rumah. Perlu aku jemput?"
"Nggak, nggak usah."
"Kalau begitu, hati-hati di jalan. Aku sama Andrew nunggu kamu pulang."
"Ya," Nindy menjawab dengan senyuman. Nadanya lembut dan sabar.
Begitu telepon ditutup, dia baru menarik kembali senyuman itu. Ada kesuraman singkat di mata, sebelum emosinya kembali samar dan sulit diterka.
Nindy memutar balik mobil sambil menelepon asisten perusahaan.
"Halo, Bu Nindy, ada yang bisa kubantu?"
"Tolong cek daftar semua petugas pemadam yang gugur dalam kebakaran hutan ini, lihat apakah ada nama Ray." Hati Nindy bergetar, suaranya hati-hati.
"Separah itu? Pak Ray pasti baik-baik saja. Begitu aku selesai rekap, aku aku langsung hubungi Ibu." Asisten tampak terkejut mendengar itu.
"Nggak perlu terburu-buru." Nindy memandang sekilas ke arah area kamp pemadam kebakaran, lalu berkata pelan, "Besok saat jam kerja saja lapor ke aku. Malam ini aku ada urusan, jangan ganggu dulu."
"Baik, Bu."
Telepon ditutup. Ekspresi Nindy kembali datar. Dia menyimpan ponsel dan menginjak gas, menyetir pulang.
Ajaran Buddha berkata, tujuh emosi dan enam nafsu hanyalah ujian dunia terhadap hati manusia. Nindy tak bisa menghindari adanya emosi, tetapi dia tidak akan membiarkan emosi menguasainya terlalu lama.
Dia tahu jelas, berlama-lama di sini tidak ada gunanya. Ray mungkin sedang memadamkan api di gunung. Mungkin sedang merajuk, jadi sengaja menghindarinya. Atau mungkin memang sedang terbaring di sana ....
Namun, apa pun hasilnya, besok pagi semuanya bisa dikonfirmasi. Malam ini dia tidak akan menguras energi untuk hal itu. Dia hanya ingin pulang menemani Andrew.
Setelah Nindy pergi, kapten Tim Pemadam Dua tak sengaja melirik bagian belakang mobil Nindy, lalu bertanya padaku dengan heran, "Ray, mobil itu ... kok aku merasa kenal ya? Itu bukan mobil keluargamu? Istrimu datang cari kamu?"
Mendengar itu, hatiku bergetar sedikit. Namun, di wajahku hanya ada senyuman datar. Aku pun menggeleng. "Bukan, Kapten. Itu bukan mobil keluargaku. Mungkin orang yang salah jalan."
"Oh ya, kamu sudah berhari-hari di sini. Sudah kasih kabar ke istrimu kalau kamu aman?"
"Sudah. Dia tahu aku baik-baik saja, jadi tenang saja." Aku mengangguk dengan ekspresi datar.
"Bagus kalau begitu. Kerjaan di sini sudah hampir selesai. Barusan kami dapat kabar kalau tahap terakhir kebakaran itu akhirnya berhasil dipadamkan."
Kapten menghela napas lega. "Ray, pertempuran kita melawan bencana ini sudah berakhir. Besok kita kembali ke markas. Kalian pulanglah ke rumah."
Begitu dia selesai berbicara, para anggota tim langsung bersorak. Mereka akhirnya bisa pulang. Semua orang senang, kecuali aku.
Apa aku masih punya rumah untuk pulang? Terbayang punggung Nindy yang pergi begitu cepat, aku terdiam. Hatiku terasa tak nyaman.
Nindy, bagaimana aku harus percaya padamu? Tadi kamu masih panik mencari aku, tetapi detik berikutnya kamu bisa tersenyum lembut sambil menelepon seseorang di mobil?
Penelepon itu pasti Chicco, 'kan? Adegan tadi sebenarnya kulihat jelas, bahkan tertanam dalam ingatanku.
Gelombang sedih yang familier kembali muncul. Nindy hanya datang sebagai formalitas. Kali ini, kesedihan itu kutekan dalam-dalam, seolah-olah itu bukan apa-apa.
Anda Mungkin Juga Suka





