APKDock Logo
Sampul Novel Balas Dendamku: Menikahi Bos Mantan Suamiku

Balas Dendamku: Menikahi Bos Mantan Suamiku

9.3 / 10.0
Demi cinta, Vyora Arabelle rela melepas mimpinya. Namun, pernikahan tanpa restu itu hancur karena sang suami tega berkhianat demi harta setelah dihasut keluarganya. Di tengah keterpurukan dan luka akibat dihina, seorang pria misterius datang menawarkan bantuan untuk membalas dendam kepada sang mantan. Vyora pun menerima tawaran tersebut. Akankah rencana balas dendam ini menumbuhkan cinta baru yang tulus bagi Vyora, atau ia justru akan selamanya terjebak dalam bayang-bayang masa lalu?

Balas Dendamku: Menikahi Bos Mantan Suamiku Bab 1

Wanita berpenampilan sederhana namun tetap tak bisa menyembunyikan paras cantiknya terlihat menunggu lampu hijau berganti merah. Wanita itu dengan tak sabar ingin segera berlari menemui seseorang. Dengan amplop putih di tangannya. Wanita itu terus memandangnya dengan penuh kebahagiaan. Sebentar lagi ia akan mendapatkan impiannya. Ini seperti mimpi baginya. Sedikit lagi ia mampu menggenggamnya.

“Aku tidak sabar ingin memberitahunya.” Wanita itu berbicara dengan dirinya sendiri sambil menatap amplop putih di tangannya.

Waktu telah menghitung mundur. Lampu hijau kini berubah menjadi merah. Banyak pejalan kaki yang berdesakan untuk berebut berjalan di zona Zebra Cross. Tubuhnya yang kurus membuatnya terpontang-panting. Amplop putih yang dipegangnya tanpa sengaja terjatuh. Amplop putih yang sangat berarti untuknya. Wanita itu terlihat menunduk mencarinya. Desakan pejalan kaki membuat amplop putih terus berpindah tempat. Wanita itu terlihat kesulitan mengambilnya. Saat sudah tak terlalu banyak pejalan kaki. Wanita itu akhirnya mendapatkan amplop putihnya.

Amplop putih yang tadinya bersih menjadi kotor. Bukannya langsung menyeberang. Wanita itu terlihat membersihkan amplop putih miliknya dengan mimik sedih. Tanpa ia sadari lampu lalu lintas telah berubah hijau. Ia yang masih berdiri di tengah jalan membuat banyak kendaraan membunyikan klakson.

Setelah menyadari kesalahannya. Wanita itu segera menunduk meminta maaf sebelum akhirnya berjalan meninggalkan jalan raya.

Tanpa wanita itu sadari. Dari tadi terdapat pria misterius yang mengamatinya. Kaca mobilnya yang gelap membuatnya tak terlihat dari luar.

“Kau masih orang yang sama. Hatimu sangat lembut,” ucap pria itu dengan mata yang memandang kepergiannya.

Sudah sangat lama ia tidak tahu kabar wanita itu. Semenjak kematian saudaranya ia harus pindah ke luar negeri. Siapa yang akan mengira. Takdir mempertemukannya kembali meski ia tak yakin wanita itu masih mengenalinya.

“Jalan, Pak.”

*****

Mimik wajah wanita itu masih terlihat sedih saat melihat amplop putihnya yang tak bisa sebersih awal. Ia menyesali kecerobohannya. Untung saja lembaran di dalamnya masih baik-baik saja.

“Kenapa aku ceroboh sekali. Untung saja aku tidak kehilanganmu,” ungkapnya dengan penuh penyesalan.

Setelah memastikan amplop putihnya masih aman. Wanita itu melanjutkan kembali langkahnya. Dengan penuh keyakinan wanita itu memasuki sebuah Cafe. Baru ia membuka pintu Cafe. Ia langsung disambut lambaian tangan seorang pria yang sangat ia cintai. Semenjak kedua orang tuanya yang meninggal dalam kecelakaan. Wanita itu hidup sebatang kara. Saat ini ia hanya memiliki pria itu sebagai keluarganya.

“Vyora!” seru pria itu sambil melambaikan tangan ke arahnya.

Ya, wanita itu bernama Vyora Arabelle. Ia tersenyum dan membalas lambaian pria itu dengan ekspresi bahagianya.

“Apa kau sudah lama menungguku?” tanya Vyora.

“Tidak, aku baru saja datang,” ucapnya.

“Apa yang membuatmu tiba-tiba ingin bertemu denganku? Apa semua baik-baik saja, Vin?” tanya Vyora khawatir pada sosok kekasihnya yang sering dipanggilnya Kevin Diaskara.

Wajah Kevin terlihat murung. Semenjak kedatangannya. Kevin terus menekuk wajahnya.

Vyora memegang lengannya. “Vin, aku sedang bertanya padamu. Apa semuanya baik-baik saja?”

Kevin menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya mengangkat wajahnya.

“Aku habis bertengkar dengan papa,” ucapnya.

Saat Kevin mengatakannya. Vyora merasa bersalah padanya. Ini pasti karenanya. Dari dulu orang tua Kevin tak pernah merestui hubungannya. Vyora sempat ingin menyerah. Vyora yang tak ingin memisahkan anak dan orang tuanya. Vyora mengalah. Namun, karena keyakinan dan keteguhan hati Kevin. Akhirnya Vyora tak menyerah begitu saja. Kevin memberinya keyakinan jika nantinya orang tuanya pasti merestuinya.

“Apa karena hubungan kita lagi?” tanya Vyora sedih.

Melihat kesedihan di mata Vyora membuatnya tak tega. Kevin yang sangat mencintainya. Tak mungkin ia ingin melepaskannya begitu saja. Tak ingin membuatnya sedih. Kevin mencoba mengelak. Melihat amplop putih yang dipegangnya. Kevin tampak penasaran.

“Amplop apa itu?” tanya Kevin.

Vyora yang tadinya penuh semangat ingin memberitahunya. Melihat situasi yang tidak baik-baik saja. Tiba-tiba ia ingin mengurungkannya. Ia pikir ini bukan waktu yang tepat memberitahunya. Mungkin ia bisa memberitahunya di lain waktu.

“Ah, ini. Tidak, ini bukan apa-apa. Itu tidak penting.” Vyora segera menyembunyikan amplop putih miliknya di dalam tasnya.

“Kamu tadi belum menjawabku. Apa benar kau bertengkar karena hubungan kita?” Kevin yang tak menjawab membuatnya harus bertanya lagi.

“Kau tidak perlu memikirkannya. Lebih baik kita pesan makanan. Aku sangat lapar.” Tak ingin Vyora yang ke pikiran. Kevin tak ingin membahas lagi permasalahannya.

Mereka memutuskan menyudahi pembicaraannya. Keduanya menikmati makanannya dengan penuh bahagia. Meski di wajah keduanya tak dapat menampik jika mereka masih memikirkannya.

*****

“Maaf, aku tidak bisa mengantarmu.” Kevin sangat menyesali tak bisa mengantar Vyora pulang. Karena dirinya yang tiba-tiba mendapat telepon dari sekretarisnya. Terpaksa ia harus kembali ke perusahaan.

“Tidak apa, kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku bisa memesan Taksi,” ucap Vyora.

“Tetap saja aku merasa bersalah padamu. Aku yang mengajakmu bertemu. Tapi, aku harus segera pergi,” sesalnya.

Karena kesibukannya di perusahaan. Membuat Kevin jarang dapat bertemu dengan Vyora. Entah kenapa Kevin mencurigai ayahnya. Bisa saja ayahnya sengaja membuatnya sibuk agar tidak bisa menemui Vyora.

“Aku masih sangat merindukanmu,” ucap Kevin.

Mendengar itu Vyora tersenyum. Tidak hanya Kevin yang merindukannya. Begitu pula dengan dirinya. Ia juga sangat merindukannya. Namun, karena kesibukan sang kekasih. Vyora tak ingin menambah bebannya. Vyora harus bisa memahaminya.

“Beri aku pelukan.” Vyora merentangkan kedua tangannya. Tak lama Kevin datang memeluknya. Keduanya yang merasakan kenyamanan. Mereka terlihat saling tak ingin melepaskan pelukan.

“Kau harus segera pergi,” ucap Vyora meski keduanya masih saling berpelukan. Mereka tampak tak rela melepaskannya.

“Lima menit lagi,” ucap Kevin menenggelamkan pelukannya di leher Vyora.

“Tidak, nanti kau terlambat. Jangan buat papamu marah lagi padamu.”

Mendengar kata yang keluar dari mulut Vyora membuatnya melepaskan pelukannya.

“Baiklah.” Kevin melepaskan pelukannya dengan perasaan berat.

Seperti masih sulit melepaskannya. Perlahan Kevin melepaskan genggaman tangannya padanya.

“Aku pergi?!”

“Ya, hati-hati. Jangan ngebut,” ucap Vyora.

“Em.”

Kevin melambaikan tangannya. Setelah kepergian Kevin. Vyora tampak menekuk wajahnya menyesal. Ia yang tadinya ingin memberitahu kabar baik padanya. Karena waktunya yang tak tepat ia harus mengurungkannya.

Dengan memaksa dirinya tersenyum. “Masih banyak waktu. Aku masih bisa memberitahunya lain kali.”

*****

Waktu kepergiannya ke Jerman tinggal tiga hari lagi. Kesibukan Kevin membuatnya kesulitan mencari waktu yang tepat. Ia tak tahu ekspresi apa yang akan ditunjukkan Kevin nantinya.

“Vyora, maaf aku terlambat.” Vyora membalas dengan senyuman.

Melihatnya yang tampak kelelahan membuatnya kasihan. Kevin pasti banyak pekerjaan. Karena pertemuannya, Kevin harus meninggalkan pekerjaannya. Vyora tampak menyesalinya.

“Tidak apa, kau pasti sangat capek. Maaf, tak seharusnya aku mengganggumu,” ucap Vyora.

“Kau tidak perlu meminta maaf, Vio. Lagian, aku juga ingin membicarakan suatu yang penting padamu,” kata Kevin.

Kevin yang mengingat tujuan awal bertemu dengan Vyora. “Bukankah kau ingin bertemu denganku karena ingin membicarakan sesuatu juga?”

“Benar, tapi kau bisa memberitahuku terlebih dulu. Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, Vin. Sepertinya itu sangat penting,” ucap Vyora penasaran.

“Ya, ini sangat penting. Tapi kau bisa memberitahuku dulu. Sebenarnya ada apa tiba-tiba ingin bertemu denganku.”

Vyora dengan ragu mengambil amplop putih di tasnya. Tak langsung menyerahkannya.

“Sebenarnya sudah lama aku ingin memberitahumu. Namun, aku rasa ini waktu yang paling tepat.”

Kevin menatap amplop putih. Itu sebuah amplop yang sama saat dilihatnya waktu itu. Dengan perlahan Vyora menyerahkan amplop putih itu padanya.

“Sebenarnya apa ini?” tanya Kevin penasaran. Di luar amplop putih tertulis nama salah satu Universitas terbaik di Jerman. Kevin tahu negara Jerman terkenal dengan kampus seni. Terutama musiknya.

“Kau bisa membukanya,” ujar Vyora.

Dengan perlahan Kevin mulai membuka lembaran di dalamnya. Dan benar saja. Sesuai dugaannya. Kevin sangat tahu menjadi pianis merupakan cita-cita terbesarnya. Tapi, kenapa harus sekarang. Kenapa di saat ia telah mengambil keputusan besar justru Vyora akan meninggalkannya.

“Tiga hari lagi?” Kevin menyipitkan matanya.

“I—iya,” jawabnya.

“Kenapa baru memberitahuku sekarang?” ucap Kevin kecewa.

“Maaf, aku sudah ingin memberitahumu dari lama. Tapi, selalu saja waktunya tak tepat.” Vyora mencoba menjelaskannya.

“Lalu, apa kau pikir sekarang waktu yang tepat untuk memberitahuku?” Suara Kevin agak mengeras.

“Ma—maaf.” Vyora tidak tahu harus berkata apa selain meminta maaf.

“Kau tahu apa yang ingin aku katakan padamu?”

Vyora yang tak tahu hanya menunduk dan menggeleng.

“Orang tuaku ingin menjodohkanku dengan rekan bisnisnya,” ungkap Kevin.

Vyora yang tadinya menunduk berganti menatapnya.

“A—apa?”

“Ya, mereka ingin menjodohkanku. Dan kau tahu apa yang aku katakan padanya?” Sekali lagi Kevin mengajukan pertanyaan yang tak mampu dijawabnya.

“Aku menolaknya, Vyora. Bukan hanya itu. Aku bahkan rela meninggalkan semuanya demi mempertahankan hubungan kita.” Kevin mengusap wajahnya kecewa. Vyora tak tahu harus berkata apa. Vyora hanya menangis.

“Dan tinggal tiga hari lagi kau baru mengatakannya,” lanjut Kevin dengan penuh kekecewaan.

“Kalau begitu, kau bisa pergi bersamaku.” Entah kenapa Vyora tiba-tiba ke pikiran ingin mengajak pergi bersamanya.

Masalahnya, itu bukan solusi yang mudah. Jika saja Vyora memberitahunya dari awal Kevin bisa menyiapkannya. Namun, saat ia benar-benar telah menyerahkan semua fasilitas yang diberikan orang tuanya padanya. Itu tidak memungkinkan.

“Jika saja kau mengatakannya dari awal. Mungkin aku bisa memikirkannya. Orang tuaku telah memblokir semua kartu kreditku. Aku bahkan tak yakin uang tabunganku cukup untuk mencukupi kehidupanku.”

Vyora sangat ingin pergi ke Jerman. Impiannya yang sudah di depan mata tak mungkin ia melepaskannya begitu saja.

“Kalau kau berpikir ingin menjalin hubungan jarak jauh. Maaf, Vyora. Aku tidak bisa. Lebih baik aku melepaskanmu daripada tetap berhubungan tapi kita berjauhan,” ucap Kevin.

“Jika kau ingin tetap mempertahankan hubungan kita. Lepaskan impianmu. Dan menikahlah denganku,” lanjutnya.

“Jika kau memilihku. Temui aku.”

Kevin meninggalkannya begitu saja. Vyora tak bisa menahan lagi tangisnya. Kevin sangat penting baginya. Tapi impiannya juga sangat penting untuknya. Seandainya ia bisa memilih. Vyora ingin memiliki keduanya. Mungkin itu terdengar egois. Tapi, kalau disuruh memilih salah satu. Ia tidak bisa. Keduanya sangat penting untuknya.

Dengan sisa air matanya. Vyora dengan terburu-buru mengambil amplop putihnya dan memasukkannya asal ke dalam tas. Saat dalam perjalanan pergi. Tanpa sengaja Vyora menabrak seseorang.

“Maaf.” Vyora menunduk meminta maaf tanpa melihatnya. Dengan terburu-buru Vyora pergi. Tanpa ia sadari amplop putihnya yang dimasukkan asal ke dalam tasnya terjatuh.

Pria itu yang menyadari amplop putih terjatuh di depannya ia mengambilnya. Itu pasti milik wanita yang menabraknya. Pria itu segera memanggilnya.

“Tunggu!”

Mendengar suara pria itu memanggilnya. Vyora berhenti. Pikiran negatif tiba-tiba terlintas di benaknya. Vyora menghapus sisa air matanya. Ia terlalu malu untuk memperlihatkan air matanya di depan orang tak dikenalnya.

“Iya.”

Pria itu menghampirinya dan memberikan kembali amplop putih miliknya.

“Kau menjatuhkannya.”

Vyora menerimanya. “Terima kasih.”

Setelah menerima kembali amplop putihnya. Vyora melangkah pergi meninggalkannya.

“Dia benar-benar tidak mengenalku,” ucap pria itu dengan sendu.

“Jerman? Apa dia akan pergi ke Jerman?” Pria itu terlihat tersenyum miris. Baru saja takdir mempertemukannya kembali. Tapi, karena takdir pula ia harus mengetahui fakta jika wanita yang diam-diam ia kagumi akan pergi ke Jerman. Sungguh sangat menyakitkan takdir yang harus ia terima.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Balas Dendamku: Menikahi Bos Mantan Suamiku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Bukan Istri pilihan
8.8
Demi menyelamatkan hari pernikahan, Leana terpaksa menggantikan Sasmita, kakaknya yang mendadak kabur. Ia pun terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta bersama Elvano Mahendra, pria dingin yang terus menyalahkannya. Sadar tak pernah diinginkan, kesabaran Leana akhirnya habis saat sang kakak kembali. Namun, ketika Leana menuntut perceraian, Elvano justru menolak melepaskannya meski sang kekasih lama telah pulang. Mengapa pria itu bersikeras mempertahankan pernikahan mereka?
Sampul Novel Gairah di Kota kecil
8.2
Nikmati kisah asmara modern yang hangat dengan latar sebuah kota kecil yang sunyi namun sarat emosi. Lembar demi lembar novel ini menyajikan kedekatan emosional dan interaksi intim yang membara di antara para tokohnya. Pembaca diimbau bersikap bijaksana, karena alur cerita yang disajikan secara mendalam ini dirancang untuk memicu imajinasi serta fantasi romantis tentang hubungan fisik yang sangat mendalam dan terasa begitu nyata.
Sampul Novel I am always waiting for you (I'm fine 2)
7.8
Kepergian Ara Valeria tanpa kabar demi mengobati HIV yang dideritanya membuat Aldy Fathee, CEO arogan Fathee Grup, tumbuh menjadi sosok yang kian kejam. Takdir kembali mempertemukan mereka dalam sebuah proyek besar saat Aldy telah bertunangan dengan Melly. Meski Aldy mencoba mendekat, Ara kini bersikap sangat dingin. Setelah kecelakaan menimpa Ara, Aldy bertekad membongkar rahasia di balik sikap dinginnya itu. Akankah cinta mereka bersatu kembali?
Sampul Novel Pacar Online-ku Adalah Bosku
8.5
Menjalani hubungan virtual tanpa mengetahui identitas asli satu sama lain membawa kejutan besar bagi seorang karyawan saat menyadari pacar online-nya adalah bosnya sendiri. Karena terus menolak ajakan bertemu, ia akhirnya memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Keputusan ini membuat sang bos patah hati hingga meluapkan kekesalannya dengan memaksa seluruh staf lembur. Demi menyelamatkan kesehatan fisik dan mentalnya dari siksaan pekerjaan, ia kini berpikir untuk balikan dengan sang atasan.
Sampul Novel PENYESALAN DI UJUNG CINTA YANG HILANG
8.3
Tiga tahun pernikahan Silvia dan Erik ternyata cuma kedok untuk aksi balas dendam. Usai memilih bercerai dan menghilang, Silvia kembali empat tahun kemudian dengan membawa anak perempuan mereka. Di sisi lain, Erik yang tengah bersiap menikahi perempuan lain justru didera rasa bersalah yang luar biasa. Begitu sadar bocah itu adalah putri kandungnya, Erik berjuang keras menebus dosa masa lalu demi meraih kembali hati Silvia dan menyatukan keluarga mereka.
Sampul Novel Wanita Kedua Tuan Marcello
9.3
Kehilangan kesucian dalam sebuah tragedi memaksa Raya menjadi wanita kedua bagi Tuan Marcello. Keadaan kian pelik saat ia hamil dan diusir keluarganya. Demi masa depan, Raya menemui Marcello yang kemudian menikahinya secara rahasia di hari pernikahannya dengan Celina. Di tengah statusnya yang tersembunyi, perasaan cinta perlahan tumbuh di hati Raya. Mampukah ia merebut posisi istri sah dan menjadi satu-satunya wanita yang dicintai Marcello?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan