APKDock Logo
Sampul Novel Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!

Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!

9.4 / 10.0
Selama lima tahun pernikahan dalam novel modern Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!, sang suami selalu mengalah pada aturan intimasi yang sangat ketat dari istrinya yang taat agama. Namun, keyakinannya bahwa sang istri mencintainya hancur seketika saat ia melakukan misi penyelamatan di sebuah hotel yang terbakar. Di sana, ia justru menemukan istrinya sedang bersandar hangat di pelukan pria lain bersama seorang anak kecil, mengungkap rahasia menyakitkan yang selama ini tersembunyi rapat.

Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu! Bab 1

Istriku adalah orang yang mendalami ajaran agama. Hal yang paling tabu baginya adalah menuruti nafsu.

Urusan suami istri hanya boleh dilakukan setiap tanggal 16 setiap bulan, bahkan semua hal harus dia kendalikan dengan ketat.

Begitu aku melampaui batas, dia akan tanpa ragu menghentikan semuanya dan pergi.

Sudah lima tahun kami menikah. Meskipun aku punya banyak ketidakpuasan, karena mencintainya, aku terus mengalah. Aku sempat mengira bahwa meskipun dia adalah seorang "dewi" yang tidak berperasaan, setidaknya dia mencintaiku.

Sampai suatu hari, saat aku mengikuti tim ke sebuah hotel yang terbakar untuk melakukan misi penyelamatan, barulah aku sadar betapa salahnya aku selama ini.

Saat menemukannya, istriku sedang bersandar di pelukan pria lain. Di antara mereka, bahkan ada seorang anak kecil.

Istriku mendalami ajaran agama. Hal paling pantang baginya adalah menuruti nafsu.

Urusan suami istri hanya boleh dilakukan setiap tanggal 16 setiap bulan. Waktu berhubungan, baik itu posisi, ritme, bahkan ekspresiku, semuanya harus dia kendalikan dengan ketat. Begitu aku sedikit terlena, dia akan tanpa ragu menghentikan dan pergi dengan dingin.

Lima tahun menikah, meskipun aku tidak puas, aku tetap menuruti semuanya karena mencintainya. Aku selalu mengira bahwa meskipun dia adalah seorang dewi tanpa emosi, setidaknya dia juga mencintaiku.

Sampai pada hari aku ikut tim untuk melakukan penyelamatan di sebuah hotel yang terbakar, barulah aku sadar betapa salahnya aku.

Saat menemukannya, istriku sedang bersandar di pelukan pria lain dengan pakaian yang berantakan. Di antara mereka, ada seorang anak kecil.

Belum pernah aku melihat ekspresi Nindy begitu lembut. Walaupun dia juga ketakutan sampai merinding, dia tetap bersandar erat di pelukan pria itu, menenangkan anak itu dengan suara pelan.

Saat itu, aku terpaku di tempat, tidak tahu harus berbuat apa. Jelas suhu di sekitar sangat panas, tetapi seluruh tubuhku justru gemetar kedinginan. Hatiku seperti ditikam dengan kejam oleh seseorang.

"Ray, jangan bengong! Serahkan keluarga ini kepadaku, kamu cepat ke kamar berikutnya!" Teriakan kapten menyadarkanku. Kemudian, aku melihat kapten langsung berlari masuk.

Nindy Karya menatapku, Ray Ghafari, suami sahnya, dengan ekspresi tak percaya. Meskipun terhalang masker pelindung, aku tahu dia mengenaliku.

Tatapan kami bertemu, hatiku seperti disobek. Kalau mereka bertiga adalah keluarga, lalu aku ini apa?

Kondisi sedang darurat, jadi aku tidak sempat memikirkannya lebih jauh. Aku buru-buru pergi menyelamatkan orang lain yang terjebak di kamar berikutnya. Api baru padam setelah tiga jam penuh. Untungnya, tak ada korban jiwa.

Namun, saat aku keluar dari lokasi dengan hati campur aduk, Nindy, pria itu, dan anak itu semua sudah menghilang. Dia bahkan malas memberikan penjelasan padaku.

Aku tertawa pahit. Seketika, aku merasa bahwa pernikahan lima tahun ini hanyalah lelucon besar.

Saat pulang, Nindy yang biasanya selalu lembur sampai larut malam ternyata ada di rumah, seolah-olah sedang menungguku. Aku mengira dia akan menjelaskannya. Jika dia bisa menjelaskan kenapa dia ada di hotel itu, kenapa dia bersama pria lain, mungkin aku akan memaafkannya.

Rasa sakit yang menusuk hati, mungkin benar-benar tak berarti jika dibanding lima tahun perasaan kami.

Namun, dia malah membuka laptop dan memulai rapat video. Setelah lebih dari satu jam berlalu, dia bahkan tak melirikku sekali pun, seakan-akan di antara kami tidak pernah terjadi apa-apa.

Baru setelah rapat selesai, dia menatapku dengan dingin dan melemparkan sebuah dokumen.

"Surat adopsi?" Dua huruf besar itu menusuk sarafku.

"Ya, itu anak yang kamu lihat di hotel tadi. Mulai sekarang, kita mengadopsinya."

"Kenapa? Apa hubunganmu dengan anak itu dan apa hubunganmu dengan pria itu?"

"Namanya Chicco Kadir, ayahnya Andrew. Kami rekan kerja. Selebihnya bukan urusanmu, jangan tanya."

Ini dianggap penjelasan? Aku sangat kecewa, hanya bisa tersenyum miris. Ini lebih seperti pemberitahuan sepihak. Nada bicaranya bahkan sama sekali tidak memberiku hak untuk menolak.

"Kalau hubungan kerja, kenapa kalian ada di hotel? Kenapa waktu aku melihatmu, pakaianmu berantakan? Nindy, jawab aku! Anak itu punya hubungan darah denganmu atau nggak?"

Aku melontarkan pertanyaan itu dengan nada yang hampir histeris, tetapi Nindy hanya menatapku dalam diam, keningnya sedikit berkerut. "Kamu berpikir terlalu jauh. Orang yang mempelajari agama pantang melanggar. Aku nggak akan mengkhianati pernikahan kita."

Tidak akan mengkhianati? Tawaku terdengar makin memilukan. "Saking pantangnya kamu untuk melakukan kontak fisik sampai aku cuma boleh menyentuhmu sebulan sekali. Tapi kenapa kamu bisa begitu mudah bersandar di pelukan pria itu?"

Selama 1.800 hari lebih aku tidak pernah meragukannya, bahkan sepenuhnya mendukung keyakinannya. Sekarang, aku mulai merasa bahwa agama hanya alasan baginya.

Kerutan di kening Nindy semakin dalam. Suaranya mendingin. "Orang bersih tak butuh pembelaan. Terserah kamu mau berpikir apa."

"Kalau kamu merasa aku selingkuh dengan pria lain, mulai tanggal 16 setiap bulan, kamu nggak perlu datang lagi ke kamarku. Toh anak juga sudah ada."

"Kalau bukan untuk meneruskan keturunan, aku nggak akan mau melakukan hal yang membosankan itu denganmu."

Ucapannya seperti pisau yang mengiris jantungku. Aku sampai nyaris tidak bisa bernapas saking sakitnya. Ternyata kebersamaan kami sebulan sekali itu begitu menyiksa baginya?

Dewi tanpa emosi, bersih dari keinginan duniawi, tidak pernah mau melanggar aturan demi diriku yang hanya manusia biasa ini …. Pengecualian itu tidak pernah ada untukku.

"Sudah, istirahatlah."

Saat Nindy menutup laptop dan hendak pergi, aku menahan rasa sakit di dada dan memanggilnya. "Aku bisa terima soal adopsi Andrew. Tapi jangan sampai aku melihatmu berhubungan dengan orang yang tak berkepentingan. Setidaknya hormatilah suamimu ini sedikit!"

Langkah Nindy terhenti. "Anak itu belum bisa jauh dari ayah kandungnya. Kamu sendiri yang berpikiran kotor, malah menyalahkanku nggak menghargaimu."

Dia pergi begitu saja.

Malam itu, rasa sakit di dadaku terasa begitu menyiksa sampai aku tidak bisa tidur. Aku berguling-guling di tempat tidur, bahkan merasa berhalusinasi, seperti mendengar suara tawa Nindy dan Chicco dari kamarnya.

Pagi berikutnya, Andrew sudah diantarkan ke rumah. Barang-barang kecilnya memenuhi ruang tamu. Nindy dengan riang membantu membereskannya.

Aku melihat semua itu dengan perasaan campur aduk. Ternyata seorang "dewi" juga bisa tersenyum. Tidak seperti ekpresi datar yang dia tunjukkan saat kami menikah dan pindah ke rumah baru. Katanya orang yang belajar agama tidak boleh terlalu berlebihan dalam emosi, jadi dia selalu memasang wajah kaku. Sekarang aku baru mengerti, hanya aku yang tidak pantas.

Selesai beres-beres, Nindy menggandeng Andrew ke kamar untuk mandi. Entah kenapa, dari kamarnya terdengar suara tangisan anak itu dan suara gemericik shower berhenti.

Aku mulai khawatir. Nindy tidak pernah menjadi ibu, bahkan belum pernah mengurus anak. Andrew masih kecil. Kalau terjadi apa-apa saat mandi, itu akan merepotkan.

Lima tahun menikah, aku sudah terbiasa mengkhawatirkannya. Meskipun kami baru saja bertengkar hebat, aku tidak punya alasan untuk memarahi anak kecil. Sekarang Andrew sudah tinggal di sini, jadi aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja.

Aku mendorong pintu dan masuk. Yang pertama kulihat adalah jaket pria tergantung di dekat pintu. Aku terpaku.

Pintu kamar mandi setengah terbuka, jadi aku bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Andrew menggosok gigi sampai berdarah, lalu menangis ketakutan.

Nindy baru selesai mandi, hanya memakai handuk. Dia menenangkan anak itu dengan suara lembut. Di belakangnya, Chicco sedang membantu mengeringkan rambut Nindy. Sambil tersenyum, dia mengatakan Andrew penakut.

Betapa harmonis keluarga yang beranggotakan tiga orang itu. Padahal ini rumahku dan Nindy adalah istriku. Namun, saat ini aku justru terlihat seperti orang luar.

Wajahku seketika pucat, hatiku seperti disobek-sobek. Pemandangan itu bagaikan petir yang menghantam diriku. Kakiku lemas. Aku mundur beberapa langkah sampai menabrak dinding.

Suara itu membuat Chicco menoleh. Dia pun terlihat panik. "Pak Ray, jangan salah paham. Semalam aku mengantar Andrew. Dia masih kecil, nggak membiarkanku pergi, jadi aku menginap semalam. Aku hanya menemani anak, nggak ada hal lain ...."

Ucapannya membuat dadaku sakit tak tertahankan, lalu menyadarkanku pada sesuatu. Ternyata dia sudah datang sejak semalam. Suara yang kudengar saat setengah tertidur itu bukan halusinasi.

Chicco menghabiskan malam di kamar Nindy. Itu adalah sesuatu yang bahkan aku, suaminya, tidak pernah dapatkan.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Kisah romansa modern ini mengikuti perjalanan emosional David dan Arina dalam menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah keindahan bunga musim semi yang bermekaran, keduanya belajar saling memahami dan mengisi kekosongan hati masing-masing. Hubungan mereka pun tumbuh dengan indah seiring waktu, membuktikan bahwa satu musim yang singkat mampu menyatukan dua jiwa dalam sebuah ikatan cinta yang tulus serta sangat mendalam bagi mereka berdua.
Sampul Novel En-PD158
8.7
Demi menyembuhkan putra kandungnya dengan Lin Yanran yang terkena leukemia, Zhou Yu'an mendadak meminta cerai setelah tiga tahun menikah. Ia memohon kepada istrinya agar diizinkan memiliki anak lagi dengan sang mantan pacar demi mendapatkan sel pengobatan, berjanji akan kembali setelah semuanya usai. Namun, di balik tangis pilu suaminya, sang istri justru menemukan pesan provokatif dari Yanran yang menuntut Yu'an untuk menghamilinya malam itu juga.
Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Dalam keheningan malam yang menegangkan, Shila harus menahan rasa sakit dan gejolak gairah saat Sam menyentuhnya. Di tengah situasi berisiko tinggi ini, Sam memperingatkan Shila dengan bisikan lirih agar tetap diam. Mereka harus menyembunyikan hubungan terlarang ini dengan sangat hati-hati, sebab orang tua Shila berada sangat dekat dan bisa mendengar setiap suara di dalam rumah. Ketakutan akan ketahuan membuat hubungan rahasia mereka terasa kian mencekam.
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa untuk pembaca usia 21 tahun ke atas ini menyoroti sisi tersembunyi kehidupan yang penuh luka, dilema, dan kerinduan di balik topeng kesucian. Melalui narasi realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan diri di tengah kegelapan untuk menemukan cahaya. Sebuah hiburan mendalam tentang pencarian makna hidup serta cinta yang berliku, menyajikan perspektif baru bagi Anda.
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Divonis kanker rahim stadium lanjut membuat Fatma harus mengubur mimpinya memiliki keturunan. Demi kebahagiaan sang suami, Satria, ia rela memintanya untuk beristri lagi. Namun, di balik keputusannya, terungkap fakta menyakitkan bahwa Satria sebenarnya tidak pernah mencintai Fatma. Walau Satria sempat menolak demi menjaga perasaannya, Fatma tetap memohon sambil menangis agar keinginan terakhirnya dikabulkan sebagai bukti ketulusan cintanya.
Sampul Novel Light Of Love
8.1
Kayla Pratama tidak punya pilihan selain menjadi istri kedua dari miliarder Raga Dirgantara demi membalas utang budi masa lalunya. Hidup yatim piatu ini kian pelik saat ia menyadari perannya dalam pernikahan tersebut hanyalah untuk memberikan keturunan bagi sang pengusaha sukses. Tanpa status sosial yang jelas, Kayla harus bertahan menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya tidak lebih dari sekadar alat tanpa posisi nyata di mata sang suami.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan