APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!

Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!

Selama lima tahun pernikahan dalam novel modern Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!, sang suami selalu mengalah pada aturan intimasi yang sangat ketat dari istrinya yang taat agama. Namun, keyakinannya bahwa sang istri mencintainya hancur seketika saat ia melakukan misi penyelamatan di sebuah hotel yang terbakar. Di sana, ia justru menemukan istrinya sedang bersandar hangat di pelukan pria lain bersama seorang anak kecil, mengungkap rahasia menyakitkan yang selama ini tersembunyi rapat.
Bab
Bagikan

Bab 4

Untuk pertama kalinya aku melihat Nindy begitu panik. Dia terlihat hampir menangis. Dan itu ... karena aku. Aku sedikit linglung, merasa dia masih mencintaiku.

Namun detik berikutnya, suara tangis Andrew terdengar. "Mama, Papa juga berdarah. Aku takut ...."

Nindy menoleh dan melihat Chicco juga memegangi lengannya yang berdarah. Tadi pecahan kaca terbang dan menggores lengannya, meninggalkan dua luka kecil.

"Chicco, aku antar kamu ke rumah sakit." Tanpa ragu sedikit pun, Nindy meninggalkanku dan menarik Chicco untuk pergi.

"Nindy, ajak Pak Ray juga. Lukanya lebih parah." Suara Chicco menyertai tangisan Andrew.

"Nggak, Papa. Aku takut darah, aku nggak mau dia!" Andrew menatapku dengan penuh penolakan.

Chicco tidak melanjutkan, hanya menatap Nindy. Beberapa detik saja, Nindy sudah membuat keputusan.

"Nggak bisa. Andrew bisa pingsan kalau lihat darah. Dia nggak boleh ikut. Biarkan saja, Ray itu petugas pemadam kebakaran. Dia mengerti pertolongan pertama, jadi dia bisa mengurus dirinya sendiri."

"Kita pergi!" Nindy menggendong Andrew sambil menarik tangan Chicco, pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Darah membuat penglihatanku kabur. Kini, darah dan air mata bercampur membasahi wajahku.

Akhirnya, pemilik restoran menyuruh seseorang membawaku ke rumah sakit untuk pertolongan darurat.

Untung tidak ada masalah besar, hanya luka ringan. Setelah dibalut, sudah tidak apa-apa. Hanya saja, dibanding rasa sakit di tubuh, hatiku sudah lama mati rasa.

Adegan ketika Nindy meninggalkanku tanpa ragu tadi, seperti seribu jarum menusuk jantungku, membuatnya penuh lubang hingga darahnya habis.

Aku terbaring di ruang rawat dengan perasaan hampa. Aku sudah tidak berharap apa pun dari Nindy, hanya berharap lukaku tidak menghalangiku berangkat besok.

Malam itu, aku terus terbangun karena rasa sakit. Ponselku hening sepanjang malam. Nindy tidak mengirim satu pesan pun, seolah-olah Chicco dan Andrew adalah seluruh hidupnya, dan aku hanya orang asing yang tak ada hubungannya.

Pagi berikutnya, aku terbangun oleh telepon kapten.

"Halo, Kapten."

"Ray, sudah siap?"

"Ya, aku bisa kembali ke regu sekarang."

Kepalaku tidak sesakit semalam. Aku mencoba turun dari tempat tidur dan tubuhku sudah bisa digerakkan.

Tentang Nindy, terserah dia. Aku hanya manusia biasa, sedangkan dia adalah dewi yang tak terjangkau.

"Kamu nggak perlu buru-buru. Kebakaran hutan kali ini sangat serius. Regu menunggu peralatan pemadam dari pusat. Begitu peralatan datang, kita langsung berangkat. Pemberitahuannya siang. Nanti aku kabari waktu tepatnya."

Telepon ditutup dan aku terpaku. Tambahan setengah hari waktu, tetapi aku tidak punya tempat untuk kembali.

Pulang? Tidak. Di sisa waktuku yang mungkin terakhir, aku tidak mau mempermalukan diriku sendiri lagi.

Saat itu, Nindy meneleponku. "Ray, jangan pulang dulu. Andrew nggak suka kamu. Dia bilang setiap kali kamu muncul, papanya selalu nggak senang atau terjadi kecelakaan. Anak itu masih kecil, biarkan dia menyesuaikan diri."

"Aku sudah memesankan hotel untukmu. Barang-barangmu akan dikirimkan oleh kepala pelayan. Untuk sementara ini, Chicco akan tinggal di rumah."

"Dia tidur di kamarmu. Kami nggak melakukan apa-apa, jadi kamu bisa tenang soal itu." Nada Nindy tetap seperti biasa, hanya sekadar pemberitahuan.

"Sudah ya, aku mau rapat. Aku tutup dulu."

Telepon berakhir dengan nada sibuk. Hatiku kembali tercabik-cabik. Nindy, kamu semakin keterlaluan.

Sejak pertama kali aku menyadari kejanggalan, lalu kamu mengadopsi anak, kemudian Chicco masuk rumah dengan alasan yang masuk akal, hingga kini kamu mengusirku keluar.

Kamu hanya belum terang-terangan mengakui hubunganmu dengan Chicco. Namun, sebagai dewi yang luhur, kamu memang meremehkan aku yang hanya manusia biasa ini. Sudahlah, anggap saja lima tahun masa mudaku sia-sia.

Menjelang keberangkatan ke garis terdepan kebakaran, aku justru menjadi lebih lega. Aku tak mau lagi terikat oleh urusan rumah tangga.

Setelah keluar dari rumah sakit, aku menuju hotel dan mengambil koperku. Yang tak kuduga, kepala pelayan juga mengirimkan laptop Nindy. Mungkin dia mengira itu milikku.

Karena laptop itu adalah hadiah yang kuberikan pada Nindy saat hari jadi kami. Waktu itu aku salah beli warna hitam, tetapi dia tidak keberatan dan memakainya sampai sekarang.

Itu laptop kerjanya. Aku awalnya tidak mau menyentuhnya. Namun, aku teringat di dalamnya ada banyak foto dan video masa pacaran kami. Saat itu dia belum terobsesi pada ajaran agama dan kami masih bahagia.

Karena aku akan pergi, sebaiknya aku hapus semua agar tidak menyakitkan mataku. Aku membuka laptopnya, berniat menghapus semuanya.

Tak kusangka, saat membuka laptop itu, akun WhatsApp-nya secara otomatis terbuka. Kotak obrolan paling atas begitu menusuk mata.

Chicco. Bukan hanya dipin di paling atas, pria itu bahkan mendapat catatan nama khusus satu huruf, "C".

Satu huruf sederhana, tetapi penuh ambigu. Sedangkan aku? Setiap hari aku mengiriminya puluhan pesan, tetapi tak ada satu pun jejakku terlihat di daftar obrolan.

Dadaku terasa nyeri. Aku menggulir ke bawah. Ruang obrolan dengan Chicco adalah satu-satunya yang dipin. Di bawahnya adalah grup perusahaan, beberapa wakil direktur, dan klien. Lebih ke bawah lagi ada grup belajar agama, teman-teman seiman, kepala kuil.

Paling bawah barulah aku, di urutan entah ke berapa puluh. Yang terpampang hanyalah nama akun WhatsApp-ku. Lima tahun menikah, aku bahkan tidak pantas mendapat nama khusus?

Yang lebih menyakitkan, aku satu-satunya kontak yang dia setel "jangan ganggu". Pantas saja setiap hari aku mengirim puluhan pesan, dia hanya membalas beberapa kata tiga hari sekali. Ternyata sejak awal, di mata sang dewi, aku tidak pernah ada.

Inilah pernikahan yang selama ini kupikir bahagia.

Tiba-tiba, rasanya sangat ironis. Satu huruf itu seolah-olah berubah menjadi monster yang mencabik-cabik hatiku, mengoyakku hingga hancur, lalu menenggelamkanku ke dasar laut.

Sakitnya sampai menusuk tulang, dinginnya sampai mematikan. Aku hampir sulit bernapas.

Aku hendak menutup WhatsApp, tetapi sebuah notifikasi muncul. Pesan dari Chicco. Itu adalah belasan foto saat Nindy dan Chicco menemani Andrew ikut lomba permainan di sekolah.

Foto pertama, Nindy, Chicco, dan Andrew memakai baju keluarga, berpegangan tangan, tersenyum bahagia.

Foto kedua, Nindy dan Chicco berdiri sangat dekat, bersama-sama mengangkat Andrew untuk memecahkan balon.

Foto ketiga, Andrew memegang sepotong biskuit, lalu mereka berdua menggigit dari dua sisi. Jarak bibir tinggal dua atau tiga sentimeter.

Foto-foto berikutnya semakin intim dari sebelumnya.

Dadaku sesak, tak bisa bernapas. Aku belum pernah melihat dewi yang dingin itu begitu bebas dan bahagia.

Di sudut kanan bawah ada watermark. Foto-foto itu diambil sepuluh menit lalu. Aku tertawa sinis. Pantas dia tidak membiarkanku pulang. Takut aku melihat ini.

Nindy, kamu bilang kamu sedang rapat. Bukankah katanya orang yang mendalami ajaran agama tidak boleh berbohong? Namun, kenapa dalam pernikahan kita ... hanya ada kebohongan?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 MINGGU MENGEJAR CINTA
8.7
Perjalanan bisnis Anya mendadak kacau karena kendala teknis yang memaksanya tinggal selama tiga minggu. Masalah kian pelik saat keponakan rekan bisnisnya melamar secara tiba-tiba, bahkan mengancam nyawa Anya setelah penolakan tersebut. Di tengah bahaya, Dastan yang merupakan mantan teman sekelasnya hadir menyelamatkan. Namun, Anya mulai mencurigai motif asli Dastan. Apakah ini ketulusan masa lalu atau ada niat lain? Anya harus menyelesaikan semua sebelum waktunya habis.
Sampul Novel Istri Polos sang Milyarder
8.6
Akibat ulah orang tak bertanggung jawab, Cantika tak mampu membayar biaya pengobatan ayahnya. Demi melunasi utang medis tersebut, ia terpaksa menikah sebagai istri kedua seorang miliarder dan bersedia mengandung anaknya. Namun, pernikahan impiannya justru berubah menjadi siksaan yang kejam layaknya neraka. Akankah perempuan polos ini sanggup bertahan menghadapi penderitaan tersebut, atau ia akan memilih melarikan diri demi meraih kembali kebebasannya?
Sampul Novel Istriku Bukan Selingkuhanku
8.1
Satu dekade membina rumah tangga, bara cinta antara aku dan Mas Bram tak pernah padam. Sebagai bos sibuk yang kerap mengurus cabang di luar kota, ia selalu punya cara cerdik untuk menemuiku secara sembunyi-sembunyi dari ibunya. Pagi ini, kehangatan itu kembali terasa lewat pelukan manja dan kecupan mesra di leher saat aku sibuk di dapur. Sikap romantisnya selalu berhasil memanjakan diriku, membuatku tak berdaya dan hanyut dalam pesona gairah suami tercinta.
Sampul Novel Oh My Beebu
7.9
Masa dewasa muda Angela yang tenang seketika terusik oleh kehadiran tiga pria berinisial R. Mereka adalah Randy sang mantan pacar yang sulit dilupakan, Raffa si adik kelas yang kerap memberi kejutan, serta Revin, mantan kakak kelasnya dahulu. Interaksi dengan ketiga lelaki ini menghadirkan berbagai cerita berbeda yang rumit, membingungkan, sekaligus menguras emosi. Angela kini harus menghadapi dinamika hubungan pelik dalam kisah romansa remaja yang penuh liku ini.
Sampul Novel Pernikahan kontrak dengan ayah kekasih
9.4
Demi mengatasi krisis keuangan, seorang gadis terpaksa mengambil keputusan ekstrem. Ia menerima tawaran dari seorang wanita sekarat untuk menikahi suaminya yang sangat berkuasa. Kejutan pahit menantinya saat mengetahui calon suaminya, pria kaya yang jauh lebih tua, merupakan ayah kandung dari kekasihnya sendiri. Demi uang, ia rela merelakan cintanya dan terjebak dalam pernikahan kontrak yang rumit serta penuh dilema moral.
Sampul Novel SUAMIKU MANTAN PACAR, PACARNYA MANTANKU
8.3
Talitta memilih mengungsi ke Bandung demi menyembuhkan luka akibat pengkhianatan Yuda dan Elsa. Di kota baru ini, Birly mengenalkannya pada Davaro, pria yang ternyata merupakan mantan pacar Elsa. Situasi kian pelik ketika orang tua Talitta kembali dari Jerman dan menjodohkannya dengan Davaro. Talitta pun mencurigai adanya rencana di balik semua ini. Akankah pernikahan yang berawal dari masa lalu rumit ini mampu memicu cinta sejati di antara mereka?