
Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!
Bab 5
Aku secara naluriah ingin segera menelepon Nindy untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Namun kemudian, aku merasa itu tidak ada artinya. Faktanya sudah sangat jelas.
Meskipun dia tidak setuju bercerai, aku akan pergi dan belum tentu bisa selamat kembali. Sudahlah.
Aku meletakkan ponsel. Sebelum pergi, aku tidak ingin menambah beban sendiri. Awalnya aku hanya ingin mematikan laptop, lalu mengambil koper dan pergi, tetapi tak kusangka Chicco kembali mengirim pesan.
Kali ini sebuah video. Sampul videonya adalah dia dan Nindy berdiri bersama di atas panggung. Kebahagiaan manis hampir meluap dari layar. Baru saja direkam?
Hatiku bergetar, tetapi tetap memutar videonya.
Di atas panggung tadinya berdiri seorang guru, mengundang orang tua Andrew naik untuk menceritakan kisah cinta mereka. Nindy menggenggam tangan Chicco dan naik. Dewi yang katanya tidak menginginkan apa pun itu, kini malah terlihat malu-malu.
Nindy berkata terlebih dahulu, "Chicco adalah cinta pertama masa kecilku. Sejak SD, kami selalu sekelas, sampai akhirnya dia baru menyatakan cinta padaku waktu kuliah ...."
"Setelah lulus, kami melangkah ke dalam istana pernikahan dengan bahagia. Keberuntungan terbesar dalam hidupku adalah bertemu seorang pria yang begitu mencintaiku dan begitu sempurna."
Mataku langsung membelalak. Chicco adalah cinta pertama Nindy? Padahal waktu kami pacaran, dia jelas berkata akulah cinta pertamanya. Dia bilang dirinya seperti selembar kertas putih, memintaku menjaganya baik-baik.
Aku pun berjanji sepenuh hati, memanjakannya saat pacaran. Setelah menikah, bahkan rasanya aku ingin memberikan bintang-bintang di langit untuknya. Aku selalu menghormati setiap keinginannya.
Pada akhirnya, ini hasilnya? Hatiku seperti ditarik secara paksa, lalu dibanting ke lantai dan diinjak-injak sampai hancur. Saking sakitnya, aku hampir tidak bisa bernapas. Aku jatuh terduduk dan tubuhku gemetar tanpa henti. Air mata mengaburkan penglihatanku.
Nindy ... ternyata selama ini kamu membohongiku. Kebohongan sang dewi sudah dimulai sejak masa pacaran. Bukan pernikahan kami penuh kebohongan. Dia tidak pernah mengatakan satu kalimat jujur pun kepadaku ....
Video terus berlanjut. Terdengar suara kekaguman dari para orang tua di luar layar. Ada yang menyuruh Nindy menceritakan lebih banyak hal-hal romantis apa yang pernah terjadi.
Aku tersenyum pahit. Saat baru bersama Nindy, aku juga pernah menyiapkan kejutan-kejutan romantis untuknya. Namun, reaksinya semakin lama semakin dingin. Dia pernah berkata terus terang bahwa dia paling membenci hal-hal romantis. Bagi orang yang belajar agama, romantis itu tidak berguna, tidak sebanding dengan ketulusan.
Aku percaya padanya. Aku menekan perasaanku, menemaninya dalam kehidupan yang hambar, hanya untuk membuktikan ketulusanku. Namun, hati ini sudah lama dia hancurkan berkali-kali.
Di video kembali terdengar suara lembut dan malu-malu Nindy. "Kami tentu kami punya banyak hal romantis. Dia itu pria yang sangat romantis, sudah tak terhitung berapa banyak kejutan yang dia buat untukku."
"Saat baru bersama, dia begadang tiga malam untuk diam-diam merajutkan tas untukku, bahkan nggak berani memberikannya langsung, dan bohong bilang itu hadiah undian. Saat itu, melihat dia menguap terus dengan mata panda, aku bersumpah dalam hati bahwa hidupku hanya untuk dia."
Nindy dan Chicco berpegangan tangan dengan erat, saling memandang penuh kasih. "Tas itu masih kusimpan sampai sekarang."
"Lalu suatu hari setelah kami menikah, aku asal bilang masakan kantor nggak cocok dengan seleraku. Malamnya saat aku pulang, dia sudah menyiapkan satu meja penuh hidangan yang dia masak sendiri."
"Setiap hidangan adalah favoritku. Belakangan baru kuketahui, demi mencari bahan terbaik, dia keliling kota setengah hari, memasak sampai kedua tangannya penuh luka bakar."
Nindy mengangkat kedua tangan Chicco dengan penuh emosi dan menciumnya di depan umum. "Aku nggak akan pernah lupa hal itu. Saat itu, aku menyayanginya, bilang dia bodoh, tapi dia bilang dia nggak menyesal dan hanya ingin melihatku tersenyum."
"Dan waktu aku demam tinggi, dia menemani tiga hari tiga malam tanpa tidur sampai akhirnya masuk rumah sakit. Dia bilang, nyawaku lebih penting dari nyawanya ...."
Setiap kali Nindy mengisahkan sesuatu, terdengar suara iri para orang tua. Suara-suara itu seperti pisau yang menusuk hatiku. Sakitnya sampai ke dalam tulang.
Videonya masih panjang, tetapi aku langsung mematikan laptop. Karena aku sudah tidak sanggup mendengarnya.
Sakit, luluh lantak .... Setiap kisah romantis itu seperti ribuan sayatan di tubuhku.
Semua itu ... jelas-jelas adalah hal-hal yang kulakukan untukmu! Aku memekik dalam hati. Hatiku membeku.
Ternyata sang dewi bukan tidak punya perasaan. Dia bukan sosok yang dingin atau tak peduli. Sikap dingin itu ... hanya ditujukan padaku seorang.
Semua kebaikan yang kuberikan padanya, dia ingat. Namun, semuanya dia akui sebagai perbuatan pria lain. Padahal sama sekali bukan begitu.
Tas yang kuanyam tiga malam, dia hanya bilang terima kasih, lalu tidak pernah memakainya lagi. Setiap kali kutanyakan, dia hanya bilang tidak suka modelnya. Aku menyesal berhari-hari, menyalahkan diri karena tidak memahami seleranya.
Hidangan yang kusajikan untuknya, dia tidak makan sampai habis. Dia bahkan memarahiku habis-habisan, bilang sebagai seorang yang belajar agama, dia pantang kemewahan dan pemborosan. Menurutnya, aku melakukan itu karena tidak menghormatinya.
Aku menjelaskan dengan panik, bilang aku hanya ingin membuatnya tersenyum. Namun, Nindy tidak memedulikanku, lalu tinggal di kuil selama seminggu.
Tentang luka bakar di tanganku, kupikir dia tidak mengetahuinya. Sekarang aku sadar, dia tahu. Hanya saja, dia malas peduli.
Saat dia demam tinggi, akulah yang mengambil cuti dari tim dan menjaganya siang malam. Dia menyuruhku pergi. Kukira karena dia merasa tidak tega padaku, tetapi yang kudapat justru hanya rasa muaknya.
Katanya demam itu ujian dari Tuhan, bahkan sebuah berkah. Dia melarangku masuk kamarnya selangkah pun, bilang aku kotor dan bodoh.
Aku sampai tidak bisa tidur karena menyalahkan diri, lalu mempelajari ajaran agama siang malam. Namun, tidak pernah kutemukan ajaran bahwa "sakit itu berkah" seperti yang dia bilang. Kupikir aku yang bodoh, tetapi ternyata itu hanya alasannya untuk menjauhiku.
Jadi, dia bukan tidak mengerti kebaikanku. Dia hanya memberikan hatinya pada orang lain dan tak sudi menerima hatiku.
Nindy, ini salahku. Salahku karena pernah bertemu denganmu. Tidak ada yang lebih menyedihkan dari hati yang mati.
Air mata sudah habis. Aku justru merasa lega, bersyukur karena ada setengah hari ini untuk mengetahui semua kebenaran. Pernikahan konyol ini memang harus diakhiri.
Dewi tidak punya cinta, maka manusia biasa ini harus berhenti berharap. Aku meminta kertas dan pena dari resepsionis hotel, menulis sepucuk surat perpisahan.
[ Nindy, mau kamu setuju atau nggak, mau kamu sedang dalam masa pantangan atau nggak, kita resmi berakhir. ]
[ Aku merelakanmu dan cinta pertamamu, Chicco. ]
[ Andrew itu pasti anak kandung kalian berdua, 'kan? Aku nggak ngerti, kamu sudah menutupinya begitu keras, begitu lelah bersamaku, kenapa kamu masih menikah denganku? ]
[ Lima tahun membuatku sadar betapa konyolnya aku selama lima tahun ini. Terus terang, aku menangis sampai air mataku habis, tapi bukan untukmu, melainkan karena aku merasa diriku nggak pantas diperlakukan seperti ini! ]
[ Sebagai suamimu, aku membencimu sampai ke tulang. Tapi sebagai seorang petugas pemadam kebakaran, aku nggak menyesal telah menyelamatkan kalian bertiga di hotel itu. Sekarang, aku akan berangkat tugas lagi. ]
[ Anggap saja aku mati dalam tugas ini. Kita nggak akan pernah bertemu lagi. Surat ini adalah surat perpisahan. ]
Anda Mungkin Juga Suka





