
Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!
Bab 3
"Halo, Kapten."
"Ray, ada kabar buruk. Semalam terjadi kebakaran hutan di pegunungan wilayah barat. Tiga regu sudah memadamkan mati-matian, tapi api masih sulit dikendalikan. Giliran kita sebentar lagi."
"Nggak masalah, aku selalu siap!"
Seketika, sarafku menegang, tak sempat lagi merasakan sakit di hati. Aku bersiap naik taksi menuju markas untuk siaga.
Kebakaran hutan yang lepas kendali adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Begitu merambat, entah berapa banyak keluarga tak bersalah yang akan terkena dampaknya. Dibandingkan bencana ini, urusanku dengan Nindy sama sekali bukan apa-apa.
"Kamu nggak perlu buru-buru ke sini. Situasi kali ini kamu pasti paham. Aku kasih kamu satu hari untuk benar-benar pamit pada keluargamu. Terutama istrimu. Kalau nggak salah, kamu sudah menikah, 'kan?"
Langkahku terhenti, perasaanku campur aduk. Semua orang di regu sebenarnya tahu aku sudah menikah, tetapi Nindy tidak pernah datang ke markas, bahkan entah berapa kali dia menolak undangan acara keluarga regu dengan alasan sibuk bekerja.
Jadi, kapten dan rekan-rekanku hampir melupakan keberadaannya.
"Baik, Kapten." Setelah menutup telepon, aku menghela napas panjang.
Lima tahun menikah, aku sangat paham temperamen Nindy. Seorang wanita yang sepenuh hati mendalami ajaran agama, tidak pernah peduli pada urusan-urusanku.
Setiap kali aku mendapat tugas, meskipun dia tahu, paling-paling hanya menanyakan dua kalimat sekadar formalitas.
Selama ini, aku sudah terbiasa dengan sikapnya yang dingin. Perlahan, aku pun berhenti mengganggunya. Namun kali ini, keadaannya berbeda ....
Meskipun harus menghadapi wajah dingin Nindy, aku tetap berbalik menuju rumah. Lima menit perjalanan berlalu dengan cepat. Saat melihatnya lagi, wajahnya tidak sedingin yang kubayangkan.
Nindy sedang bersiap keluar dengan mobil, tampak anggun dan sangat memikat. Aku belum pernah melihatnya berdandan secantik itu.
"Ada hal penting yang mau kubicarakan." Aku berjalan ke sisi mobilnya, tetapi dia bahkan tidak menoleh.
Suaranya datar saat menyahut, "Kita bicara setelah aku pulang nanti. Aku ada urusan mendadak."
"Kamu mau ke mana?" Aku sedikit mengernyit, tidak menyingkir. Kebakaran hutan sedang genting. Aku tidak tahu apakah aku masih punya waktu untuk menunggunya pulang.
Adapun urusan mendadak Nindy selama ini, selain pekerjaan di kantor, hanya pergi berdoa ke kuil. Namun yang tak kusangka, di kursi penumpang depan duduk Chicco.
Nindy tidak menjawab, tetapi Chicco justru menjelaskan, "Maaf, Pak Ray. Siang ini perusahaanku ada acara. Nindy ingin menemaniku."
Setelah itu, dia menoleh ke Nindy. "Nindy, kalau begitu biar aku pergi sendiri saja."
"Nggak perlu, dia nggak ada urusan penting. Urusanmu lebih penting." Nindy menolak tanpa keraguan, langsung menyalakan mobil dan melaju pergi.
Aku terpaku cukup lama, lalu baru sadar kembali. Tenggorokanku seolah-olah tersumbat batu besar. Sakitnya menusuk.
Lima tahun bersama, entah berapa banyak undangan acara kerjaku yang dia tolak, tetapi untuk menghadiri acara Chicco, dia bisa berdandan cantik dan berangkat pagi-pagi.
Acara makan siang, tetapi dia sudah berangkat dari pagi ....
Nindy, kamu bilang orang yang mendalami ajaran agama tidak berbohong dan tidak berkhianat. Namun, Chicco jauh lebih seperti suamimu, seperti orang yang benar-benar kamu pedulikan. Apa kamu menghadiri acaranya juga demi anak itu?
Aku hanya merasa konyol dan menyedihkan. Tubuhku seolah-olah diliputi hawa dingin yang menusuk.
Setelah dia pergi, aku pun tidak punya alasan untuk tetap tinggal. Rumah yang dulu penuh kehangatan dan harapan, kini terasa begitu menolak kehadiranku.
Setiap langkah meninggalkan rumah seperti menginjak gelembung kenangan indah yang pecah satu per satu. Langkah demi langkah penuh keindahan, langkah demi langkah hancur.
Sampai malam hari, aku menerima pesan dari Nindy.
[ Malam ini aku ada waktu. Kita keluar makan. Kamu bilang mau bicara, 'kan? ]
Ajakan sederhana itu terasa seperti belas kasihan yang dilemparkan padaku. Setelah ragu lama, aku tetap memutuskan untuk bertemu dan berbicara soal perceraian.
Jika aku benar-benar tidak kembali nanti, setidaknya aku bisa pergi tanpa beban, tanpa terus terjerat dengannya.
Aku memesan restoran tempat kami kencan pertama, memintanya datang sendiri, jangan membawa siapa pun. Jika takdir dimulai di sana, tentu harus diakhiri di sana juga.
Tempat duduk yang familier, bahkan lonceng angin di sudut jendela masih sama. Namun, kami sudah bukan orang yang sama.
Dia tidak membalas pesanku. Aku menunggu sampai lewat pukul 9 malam. Restoran hampir tutup, tetapi Nindy tetap tidak datang. Benar-benar dewi yang kejam. Sudahlah, aku sudah terbiasa diabaikan.
Namun, saat aku hendak pergi, Nindy datang membawa Chicco dan Andrew.
"Kenapa mereka ikut?" Aku mengernyit. Ini pertemuan perpisahan, juga urusan hidup dan mati, jadi aku tidak ingin ada orang luar.
Namun, Nindy tidak peduli. "Aku baru siap lembur. Chicco dan Andrew juga belum makan. Kenapa memangnya kalau mereka ikut?"
Sambil berbicara, Chicco dan Andrew sudah duduk di hadapanku. Di sebelahku ada kursi kosong, tetapi Nindy hanya melirik sebentar, lalu duduk di samping mereka.
"Chicco bilang, sebagai permintaan maaf, makan malam ini dia yang traktir. Ray, belajarlah seperti dia. Jangan pelit." Kata-kata yang dia lontarkan secara blak-blakan itu membuat dadaku kembali tersobek, sakit bukan main.
Makan malam terakhir ini, aku tidak ingin berdebat. Aku ingin berpamitan dengan baik. Namun, dengan Chicco dan Andrew di sana, semua kata-kata yang sudah kupersiapkan tersangkut di tenggorokan.
Nindy, kalau kamu tahu aku ingin mengucapkan selamat tinggal terakhir malam ini, apakah kamu akan menyesal membawa orang lain?
Namun, itu tidak penting lagi. Toh sudah tidak ada kesempatan. Hati sang dewi terlalu dingin. Aku tak sanggup lagi menyentuhnya.
"Pak Ray, makan saja. Aku yang bayar. Nindy sangat baik. Aku juga berterima kasih karena kamu mau menerima Andrew. Benar-benar terima kasih!"
Chicco mengangkat gelas ke arahku. Aku tidak bergerak, membuatnya kaku dan canggung.
"Jangan pedulikan dia, kita minum saja. Hatinya terlalu sempit, nggak sedermawan kamu. Nggak usah sia-siakan niat baikmu."
Nindy mengangkat gelas dan mendentingkannya dengan gelas Chicco. Saat menghibur Chicco, dia tidak lupa merendahkanku. Nada suaranya lembut, bahkan mengajak Andrew.
"Cheers!" Mereka bertiga bersulang, tersenyum cerah, mengobrol tentang dekorasi rumah, tentang hal -hal kesukaan Andrew.
Pada saat itu, aku yang duduk di hadapan mereka justru menjadi orang asing yang menumpang meja.
"Nindy, kamu yang mengajakku atau dia yang mengajakku?" Aku tiba-tiba menyadari sesuatu.
"Tentu saja Chicco yang berniat minta maaf duluan. Aku mana punya waktu?" Nindy mengernyit. Satu kalimat itu menghancurkan sisa harapanku tentangnya.
Ironis sekali. Pertemuan terakhirku dengannya ... ternyata adalah kesempatan yang diperjuangkan oleh Chicco. Sakitnya membuatku justru mendapat keberanian untuk melepaskannya.
"Siang tadi regu memberitahuku, aku harus pergi bantu memadamkan kebakaran hutan. Situasinya berbahaya. Mungkin aku nggak akan pulang. Aku pikir, setidaknya kita urus perceraian dulu. Aku merestui kalian."
Setelah mengatakannya, aku merasa lega. Namun tak kusangka, ketiga orang di depanku ... tidak ada yang mendengar.
Tawa mereka tidak berhenti, bahkan tak menoleh ke arahku. Saat itu, aku merasa diriku benar-benar seperti lelucon. Baru saja terasa lega, hatiku kembali ditusuk tajam.
"Nindy, kamu dengar apa yang kubilang?"
"Mm, iya. Hati-hati ya." Nindy hanya sibuk mengambilkan makanan untuk Andrew, menjawabku secara asal.
Aku tertawa pahit. Bagaimana aku bisa bertahan lima tahun dalam pernikahan seperti ini? Jika dia tidak mau mendengar, biarlah.
Aku berdiri hendak pergi. Namun tiba-tiba, lampu gantung di atas kepala bergoyang dan jatuh menghantam tepat di kepalaku!
Suara ledakan keras terdengar. Lampu kaca pecah berantakan, darah mengalir di kepala dan wajahku. Aku terhuyung dan jatuh.
Semua orang di restoran menoleh, termasuk Nindy.
"Ray!" Ekspresinya berubah drastis. Dia berlari ke arahku tanpa pikir panjang.
Anda Mungkin Juga Suka





