APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!

Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!

Selama lima tahun pernikahan dalam novel modern Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!, sang suami selalu mengalah pada aturan intimasi yang sangat ketat dari istrinya yang taat agama. Namun, keyakinannya bahwa sang istri mencintainya hancur seketika saat ia melakukan misi penyelamatan di sebuah hotel yang terbakar. Di sana, ia justru menemukan istrinya sedang bersandar hangat di pelukan pria lain bersama seorang anak kecil, mengungkap rahasia menyakitkan yang selama ini tersembunyi rapat.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah menikah, Nindy selalu beralasan bahwa mendalami agama membutuhkan ketenangan. Oleh karena itu, dia tidak pernah mengizinkanku tidur di kamarnya. Bahkan pada tanggal 16 setiap bulan, setelah urusan suami istri selesai, aku hanya boleh membantunya merapikan seprai. Setelah itu, aku pergi sendirian.

Sekarang, aku tiba-tiba tersadar bahwa semua aturan ketat yang Nindy buat hanyalah alasannya untuk menjaga jarak dariku. Saat ini, rasa sakit yang begitu dahsyat membuatku sampai tidak bisa bersuara. Tangan dan kakiku mulai mati rasa, seluruh tubuhku seperti kehilangan daya untuk bergerak, dan jantungku …. Aku merasa seperti ada ribuan jarum yang menusuk jantungku di saat yang sama.

Namun, Nindy tetap tidak berniat menjelaskan apa pun. Dia justru memasang ekspresi dingin. "Siapa yang menyuruhmu masuk tanpa mengetuk? Kamu masih tahu aturan nggak? Keluar!"

Aku menunjuk diriku sendiri, lalu menatap Chicco dan tiba-tiba merasa semuanya sangat menyedihkan. Istriku bisa membiarkan pria asing tidur di kamarnya, bahkan hanya memakai handuk dan membiarkan pria itu mengeringkan rambutnya ....

Sedekat itukah hubungan mereka? Padahal aku adalah suami sahnya, tetapi dia malah berekpektasi agar aku harus mengetuk pintu kamarnya dulu sebelum masuk?

Nindy, kamu bukan hanya tidak menganggapku sebagai suamimu. Kamu bahkan tidak menganggap pernikahan ini ada. Aku benar-benar kecewa padamu.

"Nindy, kita cerai saja."

Lima tahun menikah, apa pun permintaan dingin dan tak masuk akalnya, aku selalu mengiakan. Bertahun-tahun ini, aku terbiasa memperlakukannya dengan lembut. Ini pertama kalinya aku bersikap dingin kepadanya.

"Cerai? Hanya karena ini?" Nindy tertegun, wajahnya penuh keterkejutan. Dia refleks menggeleng dan menolak, "Nggak, aku nggak mau cerai."

Ketegasannya membuatku terkejut. Kupikir hubungannya dengan Chicco sudah jelas dan dia hanya menungguku untuk mundur. Namun, dia menolaknya begitu cepat. Apa dia masih ingin mempertahankan rumah tangga kami?

Lima tahun aku sungguh-sungguh mencintainya sehingga aku secara naluriah mencari alasan untuk membelanya. Namun, kalimat Nindy berikutnya langsung melemparkanku ke dasar neraka!

"Aku lagi dalam masa disiplin. Bercerai sekarang adalah pelanggaran. Kamu mau cerai? Tunggu sampai masa disiplinku selesai."

Wajah Nindy sedingin es, nadanya tak memberi ruang untuk menyanggah. Ternyata selama ini aku hanya menghibur diri. Aku tertawa pahit, bahkan merasa mual oleh rasa perih di hati.

Aku baru sadar, ternyata selama ini dia bukan hanya tidak mengganggapku sebagai suaminya, bahkan baginya aku bukan manusia yang layak untuk dipertimbangkan. Lima tahun pernikahan, aku bahkan tak punya hak untuk mengajukan perceraian. Aku selalu berada di bawah aturan-aturannya.

"Nindy, maaf. Kamu jangan sampai cerai dengan Pak Ray gara-gara aku dan anakku. Aku nggak ingin merusak pernikahan kalian. Kalau memang begini jadinya, sebaiknya aku pergi. Andrew, pakai bajumu. Ini bukan rumah kita."

Chicco menghela napas dengan sedih, menggendong Andrew, dan bersiap pergi. Aku menutup mata, tak ingin melihat sandiwara penuh belas kasihan itu.

Apa yang Chicco katakan memang benar. Ini memang bukan rumah mereka, tetapi rumah yang sudah lima tahun kutata dan kuatur dengan hati-hati. Berani-beraninya mereka mengambil tempatku?

Namun tak kusangka, Nindy justru menghentikan mereka. "Barang-barang Andrew sudah dibereskan. Mana mungkin aku biarkan kalian pindah? Tinggallah. Ini urusan antara aku dan dia, nggak ada hubungannya dengan kalian."

Nindy menatapku, tatapannya setajam pisau. "Yang harus pergi itu bukan dia, tapi kamu. Andrew masih kecil. Kamu laki-laki dewasa nggak bisa sedikit berlapang dada? Apa kamu harus memaksa mereka ke jalan buntu?"

Setiap kata menusukku seperti bilah yang melukai sampai ke usus. Ternyata aku yang memaksa mereka ke jalan buntu? Apa aku harus sebaik itu, sampai ikut bertepuk tangan melihat mereka bermesraan?

Aku ingin bertanya, tetapi saat aku melihat wajah dingin Nindy, semua terasa tak ada artinya lagi. Pergilah. Sampai tahap ini, daripada terus menjadi lelucon, lebih baik semuanya diakhiri.

Aku pergi tanpa suara. Aku kembali ke kamarku, membereskan pakaian dan barang-barang, bersiap pindah dari rumah ini. Ironisnya, lima tahun menikah aku tak pernah membeli apa pun untuk diriku sendiri. Semua pikiranku hanya tertuju pada Nindy dan rumah ini.

Pada akhirnya, barang-barang yang benar-benar milikku hanya cukup memenuhi satu koper kecil, yang bisa dibereskan kurang dari satu jam.

Tak ada lagi jejakku di kamar ini. Lima tahun pernikahan kami pun resmi berakhir.

Sebelum pergi, kutinggalkan sepucuk surat perpisahan. Tak ada banyak kata, hanya memberi tahu bahwa hari Senin depan kami akan bertemu di pengadilan negeri.

Namun, saat membuka pintu, aku melihat Nindy berdiri di luar. Melihatku menenteng koper, keningnya langsung berkerut.

"Kamu mau ke mana?"

"Memberi kalian ruang. Hubungan kita sudah selesai."

Aku mencoba melewatinya, tetapi dia menghalangi dan mendorongku kembali.

"Ray, Andrew masih di rumah. Kamu mau membuat semuanya jadi memalukan di depan seorang anak kecil? Aku menyuruhmu pergi ke kamarmu, bukan pergi dari rumah ini."

Kamarku sudah rapi. Nindy langsung melihat surat itu. Setelah membaca isinya, dia tanpa ragu merobek surat itu dan menatapku dengan marah.

"Ray, aku bilang sekali lagi, aku nggak setuju cerai. Kalau kamu masih berani punya pikiran begitu, kamu tahu akibatnya!"

"Akibat apa?" Dengan hati yang hancur, aku balik menantang. "Melanggar aturanmu? Tapi saat kamu berbaring di pelukan Chicco, hanya memakai handuk dan membiarkan dia mengeringkan rambutmu, saat kamu berlaku seperti ibu Andrew, apa kamu ingat aturanmu? Kamu ingat agamamu?"

Belum selesai aku berbicara, wajah Nindy menggelap dan dia menamparku dengan keras. "Diam! Berani sekali kamu menghina agamaku!"

Aku terpaku. Tak pernah kusangka Nindy akan menamparku. Lima tahun menikah, meskipun sikapnya dingin, kami setidaknya saling menghormati. Tak pernah separah ini. Kini, tamparan itu menghancurkan sisa perasaanku padanya.

"Nindy, anggap saja aku nggak sanggup mengikuti aturanmu lagi. Lebih baik kita pisah baik-baik. Kita pernah hidup bersama, jadi nggak perlu membuat hubungan sekacau ini."

Ketegasanku seperti menyadarkannya sejenak. Wajah dinginnya sedikit melunak. "Aku memang salah karena menamparmu. Aku bisa minta maaf. Tapi kamu tahu itu hal yang paling aku jaga dan justru kamu menyerangku dari sana."

Mendengar dia memutarbalikkan kesalahan, aku hanya mencibir. "Terserah kamu mau pikir apa."

Kata-kata itu kukembalikan padanya bulat-bulat.

Nindy terdiam sejenak, lalu tampak marah lagi. "Ray, kenapa kita nggak bisa saling percaya sedikit? Orang yang mendalami agama nggak berbohong. Kalau aku bilang aku nggak akan mengkhianati pernikahan ini, berarti memang nggak akan. Kenapa kamu harus melawan?"

Aku berkata tanpa ekspresi, "Aku hanya ingin menghentikan kerugianku."

Nindy tampak frustrasi, lalu merebut koperku. "Kamu mau ke mana terserah. Tapi aku nggak setuju cerai."

Setelah mengatakan itu, dia pergi.

Barulah aku sadar tubuhku pun gemetar disertai rasa sakit yang menghantam. Jantungku seperti diremas oleh tangan tak kasatmata, membuatku sulit bernapas.

Apa Nindy berpikir hanya karena dia mengambil koperku, aku tidak bisa pergi? Dia salah. Itu hanya pakaian dan barang-barang harian. Aku bisa membelinya lagi. Yang aku tidak tahan adalah tinggal di sini.

Jadi, aku tetap pergi. Begitu keluar, aku menerima telepon dari tim.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 MINGGU MENGEJAR CINTA
8.7
Perjalanan bisnis Anya mendadak kacau karena kendala teknis yang memaksanya tinggal selama tiga minggu. Masalah kian pelik saat keponakan rekan bisnisnya melamar secara tiba-tiba, bahkan mengancam nyawa Anya setelah penolakan tersebut. Di tengah bahaya, Dastan yang merupakan mantan teman sekelasnya hadir menyelamatkan. Namun, Anya mulai mencurigai motif asli Dastan. Apakah ini ketulusan masa lalu atau ada niat lain? Anya harus menyelesaikan semua sebelum waktunya habis.
Sampul Novel Istri Polos sang Milyarder
8.6
Akibat ulah orang tak bertanggung jawab, Cantika tak mampu membayar biaya pengobatan ayahnya. Demi melunasi utang medis tersebut, ia terpaksa menikah sebagai istri kedua seorang miliarder dan bersedia mengandung anaknya. Namun, pernikahan impiannya justru berubah menjadi siksaan yang kejam layaknya neraka. Akankah perempuan polos ini sanggup bertahan menghadapi penderitaan tersebut, atau ia akan memilih melarikan diri demi meraih kembali kebebasannya?
Sampul Novel Istriku Bukan Selingkuhanku
8.1
Satu dekade membina rumah tangga, bara cinta antara aku dan Mas Bram tak pernah padam. Sebagai bos sibuk yang kerap mengurus cabang di luar kota, ia selalu punya cara cerdik untuk menemuiku secara sembunyi-sembunyi dari ibunya. Pagi ini, kehangatan itu kembali terasa lewat pelukan manja dan kecupan mesra di leher saat aku sibuk di dapur. Sikap romantisnya selalu berhasil memanjakan diriku, membuatku tak berdaya dan hanyut dalam pesona gairah suami tercinta.
Sampul Novel Oh My Beebu
7.9
Masa dewasa muda Angela yang tenang seketika terusik oleh kehadiran tiga pria berinisial R. Mereka adalah Randy sang mantan pacar yang sulit dilupakan, Raffa si adik kelas yang kerap memberi kejutan, serta Revin, mantan kakak kelasnya dahulu. Interaksi dengan ketiga lelaki ini menghadirkan berbagai cerita berbeda yang rumit, membingungkan, sekaligus menguras emosi. Angela kini harus menghadapi dinamika hubungan pelik dalam kisah romansa remaja yang penuh liku ini.
Sampul Novel Pernikahan kontrak dengan ayah kekasih
9.4
Demi mengatasi krisis keuangan, seorang gadis terpaksa mengambil keputusan ekstrem. Ia menerima tawaran dari seorang wanita sekarat untuk menikahi suaminya yang sangat berkuasa. Kejutan pahit menantinya saat mengetahui calon suaminya, pria kaya yang jauh lebih tua, merupakan ayah kandung dari kekasihnya sendiri. Demi uang, ia rela merelakan cintanya dan terjebak dalam pernikahan kontrak yang rumit serta penuh dilema moral.
Sampul Novel SUAMIKU MANTAN PACAR, PACARNYA MANTANKU
8.3
Talitta memilih mengungsi ke Bandung demi menyembuhkan luka akibat pengkhianatan Yuda dan Elsa. Di kota baru ini, Birly mengenalkannya pada Davaro, pria yang ternyata merupakan mantan pacar Elsa. Situasi kian pelik ketika orang tua Talitta kembali dari Jerman dan menjodohkannya dengan Davaro. Talitta pun mencurigai adanya rencana di balik semua ini. Akankah pernikahan yang berawal dari masa lalu rumit ini mampu memicu cinta sejati di antara mereka?