APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel DANCING WITH DESTINY

DANCING WITH DESTINY

Jane Miles sangat menikmati hari-harinya yang tenang sebagai dokter hebat. Namun, kecelakaan tragis masa lalu merenggut seluruh memorinya akibat Amnesia Retrograde. Kehidupan damai Jane seketika sirna begitu Rafael Klein hadir. Pria tersebut datang membawa kekacauan demi mendesak Jane agar bersedia menerima takdirnya sebagai pewaris tunggal dinasti Klein yang sangat berpengaruh. Hubungan romansa dewasa ini diwarnai oleh benturan konflik dan misteri masa lalu.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Dokter Jane,"

Jane setengah berlari memasuki pintu UGD. Satu jam yang lalu dia meninggalkan rumah sakit untuk pulang dan beristirahat. Belum sempat menyentuh kenop pintu rumahnya, ponsel Jane kembali berdering dan memaksanya menyeret kembali langkahnya menuju rumah sakit.

Sebelum ke ruang UGD, Jane menyempatkan diri mampir ke ruangannya untuk berganti pakaian yang berbau busuk—campuran keringat dan desinfektan yang begitu mengganggu indera penciuman.

"Report." Perintah Jane pada Sarah yang mengimbangi langkahnya—menuju ranjang dimana para koas berkumpul.

"Apa yang dilakukan kawanan newbie itu? Kenapa mereka hanya menonton pasien!" batin Jane kesal karena para koas hanya menatap pasien tanpa melakukan tindakan apapun.

"Apa yang kalian lakukan? Minggir!" bentaknya mengusir orang-orang yang mengelilingi ranjang. "Sarah, injeksi Propofol 1%."

Tubuh pasien yang mengalami trauma pasca operasi, menggelepar karena shok dalam kondisi setengah sadar. Setelah obat penenang disuntikan melalui cairan infus, perlahan-lahan pasien kembali tenang.

Jane berbalik menghadap kawanan para koas. "Apa pasien ini tontonan bagi kalian?" bentaknya marah.

Dua laki-laki dan tiga wanita yang sudah menjalani tahun kedua masa koas di UGD memilih diam, menundukkan pandangan menatap lantai. Mereka terlalu takut menghadapi amukan dokter Jane yang dikenal sebagai dokter bertangan dingin namun bermulut tajam.

Jane mendesah kesal. Jemarinya memijit kening yang berdenyut nyeri. Tidak ada gunanya memarahi para newbie ini. Sepertinya mereka mulai kebal sehingga memilih jalur aman, yaitu diam seribu bahasa.

"Jane, follow me," panggil Johan—wakil direktur rumah sakit. Pria itu tiba-tiba muncul dari balik pintu samping UGD.

"Kumpulkan tesis kalian di meja ku sore ini," perintah Jane lalu menyusul langkah Johan.

Wajah para newbie seketika panik begitu mendengar kata tesis yang seharusnya di kumpulkan dua hari lagi tiba-tiba harus berada di atas meja sang pembimbing, sore ini juga. Mereka langsung berlomba—lari ke ruangan khusus dimana tumpukan tesis seharga nyawa berada.

"Kenapa?" Johan menyerahkan kotak susu stroberi favorit Jane.

"Biasa, para newbie itu selalu membuat kepala ku sakit."

"Santai Jane, kamu membuat mereka mengkerut seperti mencit. Aku menerima puluhan email keluhan tentang betapa kejamnya dokter Melissa Jane Miles terhadap para koas," canda Johan menanggapi keluhan Jane.

Jane berdecak sebal. "Bocah," makinya.

"Kita mau kemana?" alih Jane yang penasaran karena Johan melangkah besar, terburu-buru.

"Kamu belum dengar?"

"Apa?"

"Keluarga pasien datang untuk mengajukan keluhan dan mereka ingin bertemu dengan dokter yang menangani," jelas Johan.

"Apa aku melakukan kesalahan?" Jane mencoba mengingat apa saja yang dilakukannya kemarin.

"Tidak, tidak ada masalah kecuali surat peringatan yang ada di meja ku pagi ini dari kementerian kesehatan."

"Kamu tahu? Mereka akan memanggilmu untuk interogasi," cerca Johan bernada menyindir.

"Ah." Jane menggaruk tekuk nya kikuk. "Sorry J, sepertinya para freak rules itu tidak suka improvisasi."

Johan menghentikan langkahnya dan berpaling untuk menatap Jane tajam, "dan sayangnya aku juga tidak suka dengan improvisasi mu, Jane," tandas Johan lalu kembali melanjutkan langkahnya.

Jane tersenyum canggung. "Wah, sepertinya aku tidak akan selamat kali ini!" Desahnya cemas dalam hati.

***

Jane mengetuk meja mengikuti nada yang berputar di otaknya. Dua jam menunggu membuat sel-sel di otaknya menjerit frustasi. Dia tidak suka menyia-nyiakan waktu tanpa mengerjakan apapun, baginya setiap menit berharga.

Begitu pintu ruangan terbuka—Jane, Johan dan asistennya, bersamaan mengalihkan pandangan kearah orang-orang yang muncul dari balik pintu.

"Inikah orang-orang yang mereka tunggu?" batin Jane.

"Mr. Klein, perkenalkan beliau adalah wakil direktur rumah sakit JH Hospital, Johan Bastian," ujar Gio.

"Dan ini—"

"Melissa Jane Miles, senang bertemu lagi dengan mu, dokter Jane."

Jane menyambut uluran tangan dari pemilik bola mata biru yang membantunya selama operasi darurat.

"Ah, ya. Kurasa semalam aku lupa mengucapkan terima kasih sudah membantu ku."

"Hanya terima kasih?"

Kening Jane mengerut, dia menaikkan sebelah alisnya—bingung. "Kurasa itu cukup mengingat pasien itu adalah anggota anda," sindirnya sembari menarik lepas tangannya.

"Dokter Jane, tuan Rafael sengaja datang untuk mengucapkan terima kasih atas pertolongan anda," jelas Fey—sekretaris Rafael.

Jane mengingat wajah angkuh dari wanita yang tengah menyapanya. "Aku hanya menjalankan tugas ku."

"Sepertinya urusan ku disini sudah selesai, aku kembali ke UGD," pamit Jane tanpa berniat untuk melanjutkan basa-basi.

"Oh, nampaknya dokter Jane cukup sibuk. Sayangnya anda tidak dapat pergi sebelum rapat ini selesai."

Rafael menghalangi langkah Jane, matanya mengarah pada bola mata bermanik cokelat teduh itu. Banyak hal yang ingin dibicarakannya dengan sang dokter. Terlepas apa yang dilakukannya kemarin, ada hal khusus yang membuat Rafael tertarik untuk mengenal dokter ini lebih jauh.

"Maaf, tapi beberapa menit lagi jadwal praktek siang ku dan rasanya tidak etis terlambat menemui pasien dengan alasan rapat," tolak Jane telak. Dia cukup terganggu dengan cara Rafael menatapnya.

"Ku harap anda bisa berkompromi, dokter Jane," tuntut Rafael setengah memaksa.

"Tidak," balas Jane tegas.

Johan melihat adanya ketegangan diantara Jane dan pria bernama Rafael, keduanya tampak saling melemparkan tatapan menantang.

"Jane, pergilah," sela Johan.

Meski tidak mengerti apa yang terjadi diantara dua orang ini tapi Johan yakin saat ini Jane tidak nyaman dengan kehadiran Rafael.

"Ya," sahut Jane singkat lalu segera berlalu meninggalkan ruangan.

Rafael beralih pada Johan, raut hangat dan ramah yang ditunjukkannya di hadapan Jane seketika menguap—berubah datar dan dingin.

*****

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BUKAN KISAH SEMPURNA
8.8
Adinda terpaksa menikahi Alvin demi membiayai pengobatan Alvaro yang sedang koma. Namun, masalah rumit muncul saat ia mengetahui bahwa Alvin sebenarnya belum melajang. Tugas Adinda adalah membuat pria itu melupakan istrinya. Ketika ia berhasil memikat hati Alvin, Alvaro justru terbangun dari komanya. Adinda pun terjebak dilema besar: bertahan menjadi yang kedua bagi Alvin, atau kembali kepada Alvaro namun menghadapi penolakan keras dari pihak keluarganya.
Sampul Novel Cinta yang Luruh Bersama Cahaya Terakhir
8.0
Saat menjalani pengambilan sel telur ketiga untuk bayi tabung, sang istri harus berjuang sendiri karena suaminya, Johannes, beralasan lembur. Tengah malam, ia terbangun dengan tubuh membengkak parah dan kesulitan bernapas. Dalam kondisi kritis, ia menghubungi Johannes. Namun, teleponnya justru diangkat wanita asing bersuara mesra. Keadaan kian mencekam saat terdengar suara cambukan dan erangan sebelum panggilan terputus, mengungkap misteri kelam di balik pernikahan mereka.
Sampul Novel Kembaran Obsesinya
8.5
Baskara Adinata menyewa jasaku, tetapi ketulusanku dibalas pengkhianatan. Dia memakai teknologi deepfake demi mengubah wajahku mirip kakak tiriku, Karininia, yang dia gila-gilaan puja. Saat Karininia memfitnahku, Baskara membiarkanku disiksa sampai tanganku hancur lalu menjeboskanku ke penjara. Demi warisan ibu, aku menerima tawaran ayah tiri untuk menikahi pria asing bernama Keenan Adiwijaya. Aku pun pergi jauh demi memulihkan hidup dari pria yang menjadikanku mainan.
Sampul Novel OBSESI CINTA UNTUK NADEEVA
8.6
Rheno jatuh cinta pada Nadeeva, ibu tiri sahabatnya yang dilingkupi masa lalu kelam. Nadeeva kini bimbang memilih masa depan baru bersama Rheno atau bertahan dengan Aiman, suami yang menikahinya demi melindungi nyawa dan hartanya. Meski sepuluh tahun berumah tangga, pernikahan mereka tanpa kemesraan karena sebuah kesepakatan. Di bawah ancaman pembunuh misterius, sanggupkah Rheno membujuk Aiman agar bersedia melepaskan Nadeeva?
Sampul Novel Suamiku Menuduhku Selingkuh
9.1
Pertemuan santai dengan sahabat mendadak berubah menjadi kekacauan brutal saat meja mereka dihantam hingga terbalik. Sekelompok orang asing tiba-tiba mengepung dan melontarkan tuduhan perselingkuhan keji sambil merekam kejadian tersebut. Ketika situasi memanas hingga temannya terluka akibat hantaman kursi, sang istri bertindak cepat untuk melindunginya. Ia segera menghubungi polisi serta pengacara guna memproses perceraian dengan suaminya, Ben, tanpa memberinya sepeser pun harta.
Sampul Novel The Letter I Wrote For You
8.4
Arshaka Januar memendam rasa cinta mendalam pada sahabatnya, Earlyta Camille, walau tahu perasaan itu salah dan tak berbalas. Namun, melihat Earlyta sangat menderita dalam pernikahan yang menyiksa memicu hasrat Arshaka untuk merebutnya. Meski yakin mampu memberikan kehidupan yang jauh lebih membahagiakan, Arshaka didera kenyataan pahit bahwa dirinya mungkin bukanlah sosok yang bisa menjadi sumber kebahagiaan sejati bagi wanita tersebut.