APKDock Logo
Sampul Novel Ketua Geng Itu Suamiku

Ketua Geng Itu Suamiku

8.0 / 10.0
Ayu, siswi pintar penerima beasiswa di SMA Garuda, terpaksa menikah muda dengan Bin, ketua geng motor Garuda Steel yang penuh masalah. Kehidupan tenang Ayu seketika runtuh usai melihat langsung pertarungan mematikan suaminya. Sembari berusaha keras untuk lulus sekolah, Ayu didera kebimbangan karena kepedulian yang ditunjukkan Iky, sahabat suaminya sendiri. Kini, mereka harus bersatu melawan musuh bersama sekaligus menyelesaikan cinta segitiga yang rumit.

Ketua Geng Itu Suamiku Bab 1

"Eh, Yu! Elo gantiin gue piket, ya! Gue lagi banyak urusan!" ujar Jeni ke gue yang nggak sempat menolak.

Jeni segera memakai tas-nya terburu-buru entah memang ada urusan atau memang ingin menghindari tugas piketnya hari ini. Terpaksa gue pun melempar tas yang sempat gue kenakan dengan kesal ke bangku gue lagi, dan mulai menjalankan piket kelas.

Waktu berlalu, gue menghela napas panjang, lelah setelah piket yang seakan nggak ada habisnya. Sapu di tangan kanan gue, gue genggam erat, sementara mata gue ngelirik jam dinding yang tergantung di kelas.

Sudah lewat pukul lima sore, dan sekolah mulai sepi. Hampir semua murid sudah pulang, kecuali beberapa teman gue yang masih sibuk membereskan ruang kelas.

"Kenapa juga sih gue harus nurutin si Jeni cewek manja kayak dia? Seenaknya aja nyuruh-nyuruh gue!" gumam gue sambil menyapu sisa-sisa sobekan kertas yang berserakan di lantai, sambil mendengus kesal.

"Nih, kerjaan bocah laki-laki lempar-lempar kertas! Perang kertas apaan coba. Nyusahin yang piket!" Gue terus menggerutu nggak ikhlas ngerjain piket hari ini. Iya lah nggak ikhlas! Harusnya ini si Jeni Tuan Putri itu yang ngerjain!

Setelah selesai, gue simpan sapu di pojok kelas. "Udah, beres. Gue butuh istirahat, nih," ujar gue ke teman-teman lain sambil melangkah keluar kelas.

Udara sore yang mulai dingin menyapu wajah gue, buat gue sedikit rileks setelah seharian terjebak di ruangan.

Daripada langsung pulang, gue memutuskan untuk istirahat sebentar di belakang sekolah. Tempat ini selalu jadi spot favorit gue kalau mau menjauh dari keramaian. Apalagi sekarang, dengan sekolah yang hampir kosong, suasananya tenang banget.

Gue berjalan melewati lorong-lorong sekolah yang semakin sepi. Sesekali masih terdengar suara obrolan dari beberapa anak yang juga kebagian piket, tapi gue memilih nggak ikut campur. "Gue capek. Nggak mood buat ngobrol."

Begitu sampai di belakang sekolah, gue menyandarkan punggung gue ke dinding, memejamkan mata. "Cuma sebentar aja, sebelum pulang," pikir gue. Rasanya damai di sini, jauh dari hiruk pikuk sekolah, seolah dunia sedang berhenti sejenak.

Gue baru aja mau merem sebentar, nikmatin angin sore yang sejuk, ketika tiba-tiba suara ribut dari arah belakang bikin gue waspada. Awalnya gue nggak terlalu peduli, tapi semakin lama suara itu makin jelas, kayak ada yang berantem.

"Gila, apaan tuh?" gumam gue, penasaran. Rasa capek gue langsung hilang entah ke mana. Gue berdiri dan pelan-pelan ngintip dari balik tembok, nggak jauh dari tempat gue tadi bersandar.

Pandangan gue langsung ketancap ke arah lapangan kecil yang jarang dipake, dan lo tahu siapa yang ada di sana? Bin. Si anak berandal sekolah yang sering banget bikin onar. Dia lagi ribut sama beberapa anak yang gue nggak kenal.

Gue ngelihat mereka saling dorong, dan Bin, ya Tuhan ... dia lagi ngerebut sesuatu dari tangan salah satu cowok di situ. Gue nggak jelas lihatnya dari jauh, tapi yang pasti, itu kayak bungkusan kecil warna putih. Serbuk putih. Apa ... narkoba?

"Gila, beneran nih? Dia jualan narkoba juga apa beli narkoba?" jantung gue tiba-tiba berdetak kencang. Gue panik. Gue harus cabut dari sini, sebelum gue kepergok lihat mereka.

Gue langsung muter balik dan lari secepat mungkin. Gue nggak peduli baju gue kena tanah, nggak peduli seragam gue ketarik ranting-ranting tajam yang bikin robek. Yang ada di pikiran gue cuma satu, gue harus jauhin mereka!

Tapi sialnya, kaki gue keseleo pas gue nginjek akar pohon. Rasanya nyeri, tapi gue nggak berhenti. Gue paksain buat lari, tapi langkah gue makin pelan. Gue ngerasa ada yang ngejar di belakang, dan lo tahu siapa?

"Lo mau ke mana?" suara berat itu terdengar jelas banget di telinga gue.

Gue menoleh, dan gue lihat Bin! Dan ya ..., gue ketangkep!

"Shit!" gue mengumpat dalam hati. Keringet dingin mulai ngalir di pelipis gue.

Gue nggak sempet ngelawan waktu Bin narik tangan gue dan ngebawa gue pergi. Nafas gue masih ngos-ngosan, kaki gue sakit, tapi gue dipaksa buat jalan. "Lo apaan sih! Lepasin gue!" teriak gue sambil ngebet narik tangan, tapi cengkeraman Bin kuat banget.

"Diam," jawabnya dingin, tanpa lihat ke arah gue.

Pikiran gue makin kacau. Gue nggak tahu dia mau ngapain gue, dan makin jauh kita jalan, makin gue sadar kalo arah kita menuju... gudang sekolah? Tempat yang paling sering dipake buat hal-hal yang nggak bener. "Bin, lo mau bawa gue ke mana?!"

Tapi dia nggak jawab apa-apa. Dia terus narik gue masuk ke dalam gudang itu. Pintu besinya berderit pas dibuka, dan gue langsung diseret masuk. Lampu remang-remang bikin suasananya makin nyeremin. Gudang ini kayak tempat yang ditinggalin, banyak barang berdebu, dan bau apek langsung nyerang hidung gue.

"Lo denger ya!" Bin akhirnya ngomong sambil dorong gue ke tembok. "Jangan pernah ikut campur urusan gue!"

Gue mau bales, tapi lidah gue kelu. Jantung gue berdegup kencang, dan otak gue nggak bisa mikir jernih. Gue cuma bisa mundur pelan-pelan, sambil nahan rasa takut yang mulai merambat ke seluruh tubuh gue.

Tapi sebelum gue bisa buka mulut, pintu gudang kebuka keras.

"Eh! Kalian ngapain di sini?"

Suara itu bikin gue dan Bin langsung noleh bersamaan. Security sekolah berdiri di depan pintu dengan mata melotot, lihat gue dan Bin di pojokan gudang, dengan posisi gue yang kelihatan... nggak bener. Baju gue yang robek, nafas gue yang masih tersengal-sengal. Gue langsung panik.

"Pak, ini nggak kaya yang bapak pikirin!" Gue nyoba ngomong, tapi security itu udah keburu narik kesimpulan.

"Ya ampun, kalian mesum di sekolah?! Gila, ini udah keterlaluan!" dia langsung ngeluarin walkie-talkie.

Gue cuma bisa melotot ke arah Bin. Mati gue!

Lanjut Membaca

Daftar Isi Ketua Geng Itu Suamiku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Aku Bukan Boneka
8.5
Menghadapi rumor perselingkuhan suaminya yang kaya, protagonis novel romantis misteri Aku Bukan Boneka berniat menyelidiki kebenaran demi melindungi haknya. Namun, ibu kandungnya justru mengacaukan pameran seni yang ia persiapkan selama tiga tahun. Sang ibu menghancurkan lukisan berharga miliaran rupiah sambil melontarkan hinaan keji di depan umum, berdalih demi kebaikannya. Di balik tuntutan agar ia mandiri dan bercerai, terungkap rencana licik sang ibu yang ingin menjodohkannya dengan duda paruh baya miskin.
Sampul Novel Camelia Sinesis
8.3
Pertemuan Jean dan Camila pada tahun 1941 membawa kehangatan baru bagi Jean, seorang mantan narapidana kasus pembunuhan. Camila, janda dari pria Belanda, menerima kehadiran Jean dengan tulus hingga pria itu merasa dihargai lagi. Namun, sebuah rahasia gelap tersimpan rapat: korban pembunuhan Jean sebenarnya adalah mantan suami Camila. Ketika kebenaran akhirnya terkuak, segalanya telah berubah rumit. Jean terlanjur mencintai Camila, sementara Camila telanjur menganggap Jean sebagai figur ayah terbaik bagi anak-anaknya.
Sampul Novel Gairah Istri Kelima Juragan
9.3
Suami Malini lenyap tanpa jejak, meninggalkan tumpukan utang yang menjeratnya. Di tengah keputusasaan, Juragan Chandrakanta yang bergelimang harta datang menawarkan jalan keluar dengan menjadikannya istri kelima. Sempat menolak dan memilih kerja kasar, Malini akhirnya tak kuasa membendung pesona sang juragan. Lewat daya pikat dan mantra rahasia, ia takluk dalam semalam. Akankah Malini sepenuhnya menyerah pada gairah dan masuk ke lingkaran keluarga Chandrakanta?
Sampul Novel Gulai Daging Ibu
9.1
Demi menghidupi anak-anak dan suaminya yang lumpuh, Parni mengambil langkah nekat. Wanita empat puluh tahun ini terhimpit beban hidup yang berat hingga terseret ke dalam dosa yang sangat mengerikan. Tindakan ekstrem apa yang sebenarnya ia lakukan sampai membuat seluruh warga desa dicekam ketakutan luar biasa? Simak kisah kelam penuh misteri tentang pengorbanan tragis yang berujung pada teror mencekam bagi seluruh penduduk kampung.
Sampul Novel Pendekar Sembilan Matahari
9.5
Demi berguru pada Empat Sesepuh, Chen Long rela bertahan dari segala penindasan di Perguruan Tong Lam Pai. Impian itu kandas saat ia ditolak, namun takdir mempertemukannya dengan seorang koki tua misterius yang mengangkatnya sebagai murid. Chen Long segera menyadari bahwa sang koki adalah sosok sakti mandraguna. Sayang, perjalanan cintanya dengan Xiao Liong Li penuh rintangan hingga memisahkan mereka selama lima belas tahun. Di tengah pencarian, kesetiaan Chen Long diuji oleh banyak wanita yang terpikat padanya.
Sampul Novel Suami Tiga Bulan
8.5
Manda, seorang direktur sukses berusia 35 tahun, terancam dicopot dari jabatannya jika tidak cepat menikah dan punya anak demi memenuhi syarat sang Oma. Di tengah keputusasaan, ia menawarkan kesepakatan gila kepada Adam, sekuriti tampan yang sedang terlilit utang. Manda bersedia melunasi seluruh utang Adam, asalkan pria itu mau menjadi suaminya selama tiga bulan dan membuatnya hamil. Akankah pernikahan kontrak ini berhasil menyelamatkan karier Manda?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan