APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel CINTA SANG JANDA

CINTA SANG JANDA

Demi menghidupi anak tercinta setelah bercerai, Rahma rela melakoni pekerjaan apa saja yang halal. Suatu hari, sebuah insiden kecelakaan mempertemukan dirinya dengan Rian, sosok pria tampan yang kemudian selalu melindungi dan mendampinginya. Hubungan mereka kian dekat, namun perbedaan status sosial serta keyakinan membuat keluarga enggan memberi restu. Perjuangan cinta mereka pun kini diuji oleh rintangan berat dari nenek Rian. Mampukah keduanya bertahan?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Bu, beli satu ekor, bisa?"

Aku berdiri di lapak penjual ikan. Berharap ibu penjual ikan mau melayani. Namun, wanita berkaca mata itu masih sibuk melayani pelanggannya yang membeli banyak. Tidak apa-apa, aku memang datang belakangan.

Aku mendesah pasrah karena belum juga dilayani. Padahal aku datang lebih dulu. Namun, kaki ini enggan beranjak dari sana. Sabar menunggu sampai pelanggan lain selesai dilayani. Cipratan air yang bercampur darah ikan sesekali mengenai gamisku.  Sudah hampir lima belas menit  berdiri, tetapi ibu penjual ikan seolah menganggapku seperti arwah penasaran yang tak terlihat.

Aku tak tahan lagi, ingin segera beranjak hendak pergi. Akan tetapi, panggilan dari ibu penjual ikan membuat kaki ini tak jadi beranjak. Ibu penjual ikan tersenyum misteri padaku.

“Mau beli berapa kilo?”

“Satu ekor boleh, Bu?” tanyaku agak malu.

“Hmm, ya. Sebentar.”

Mata ini melihat ke arah lain, suasana pasar pagi ini cukup ramai.

"Ini, ikannya, Mbak." Ibu penjual ikan memberikan kresek hitam kepadaku. Aku menyambutnya dengan senyuman.

“Satu ekor kan, Bu?” tanyaku lagi. Agak heran karena kantong itu agak sedikit berat.

“Iya.”

"Berapa, Bu?" tanyaku cemas, karena kantong itu terasa agak berat.

"Tak usah dibayar," ucap ibu itu tersenyum.

“Jangan gitu, Bu. Saya bayar saja," ucapku tak enak hati. Aku bukan pengemis yang menginginkan belas kasihan orang.

"Ambil saja, Mbak.”  Ia memaksaku, lalu melanjutkan melayani pembeli yang baru datang.

"Terima kasih, Bu."

"Sama-sama."

Aku segera berlalu dari lapak ibu penjual ikan. Mengitari pasar, mencari penjual tempe. Sesampainya di sana, aku membeli tempe tiga ribu rupiah. Bapak penjual tempe mengambil uangnya.

Setelah semua bahan yang aku beli dapat. Aku pun segera buru-buru pulang. Anak semata wayangku pasti sudah menunggu di kontrakan.

***

Sesampainya di kontrakan, aku menemukan pintu sudah tertutup. Mungkinlah Laila sudah pergi ke sekolah? Aku berharap anak semata wayangku baik-baik saja. Aku langsung berlalu, masuk ke kontrakan dan menuju ke dapur.

Senyumku mengembang, kali ini bisa memasak ikan untuk putriku. Laila pasti senang, dan akan makan dengan sangat lahap.

Ketika membuka kantong, aku sangat terkejut. Apa maksud ibu tadi? Isi kantong yang ia berikan hanyalah tulang dan kotoran ikan. Seketika air mata ini langsung jatuh.

Kresek berisi kotoran ikan itu segera aku buang ke tong sampah. Aku sambar jilbab di atas kasur, segera pergi ke pasar lagi. Membeli ikan ke penjual ikan yang lain.

Sesampainya di pasar, aku langsung berinteraksi dengan penjual ikan yang lain.

"Pak, ikannya bisa dibeli seekor saja?” tanyaku pada bapak penjual ikan.

"Bisa, kok, Mbak."

"Ikan emasnya satu ekor saja, ya, Pak."

Bapak penjual ikan mengambil seekor ikan mas yang berenang ke sana ke mari. Setelah memasukkannya ke dalam kantong kresek, lalu dinaikkan ke timbangan.

"Beratnya, dua ons, Mbak. Jadi, delapan ribu, ya."

Aku serahkan uang sepuluh ribu, bapak penjual ikan mengembalikan uangnya dua ribu.

Aku kembali ke rumah dengan hati lega. Sepulang sekolah, putriku  pasti akan segera melihat tudung saji. Sebelum sang putri  pulang aku bertekat harus selesai masak.

***

Bu, ikan gorengnya, enak." Putriku—Laila tersenyum girang, dia makan dengan sangat lahap.

"Alhamdulillah, Nak."

"Ibu, nggak makan?"

"Nanti. Kamu makan saja, dulu."

"Terima kasih, ya, Bu. Akhirnya Laila bisa makan ikan juga. Semenjak ayah tinggalin kita ....” Ucapan Laila langsung terhenti.

"Ssst! Sudahlah, Nak. Jangan bahas tentang ayahmu, lagi. Luka ibu akan berdarah kembali jika kamu bahas itu." Aku memotong kalimat yang diucapkan Laila.

"Maafin, ya, Bu."

Setelah Laila selesai makan, aku segera mengambil nasi dan memakannya di dapur. Semua itu, agar Laila tidak tahu bahwa ibunya hanya makan tempe goreng. Jika Laila tahu, pasti dia akan sedih.

Aku menyuap nasi yang tidak terlalu putih itu ke mulut. Bayangan kejadian tadi pagi masih teringat. Begitu teganya ibu penjual ikan itu menghina. Namun, semua itu membuatku semakin bersemangat untuk bekerja. Mengumpulkan uang yang banyak, agar bisa menopang hidup. Sebagai seorang janda, aku tidak mau dipandang sebelah mata.

Cepat-cepat aku selesaikan makan, karena tumpukan kresek berisi kain tetangga, sudah memanggil-manggil untuk segera dicuci.

****

Punggung bekas suntikan bius ketika aku melahirkan dulu terasa ngilu. Tumpukan kain yang sudah kering masih menanti untuk diselesaikan. Kupaksakan menyetrika baju, malam nanti aku harus mengantar baju-baju ini.

Laundry rumahan, itulah usahaku sejak ditinggalkan oleh ayah Laila. Bukan karena dia tak mencintaiku, hanya saja dia terlalu patuh pada ibunya. Mertua yang selalu kuhormati justru memprovokasi anaknya. Mas Judid menceraikanku, karena sudah melahirkan secara tak normal. Siapa yang tak ingin melahirkan normal?

Tanpa terasa, luka itu kembali berdarah. Kejadian pahit itu tak bisa aku lupakan. Tekatku sudah bulat. Aku akan berusaha terus demi sang buah hati.

"Ibu, menagis?"

Teguran Laila membuatku tersadar.

"Tidak, Sayang. Kamu sudah pulang ngajinya?" tanyaku, sengaja mengalihkan pembicaraan. Aku tak boleh rapuh di depan Laila.

"Udah, Ibu. Kerjaan ibu belum beres, ya?"

Laila mendekat, meraih tanganku, menciumnya penuh rasa hormat.

"Belum, Sayang. Ya, ini mau ibu lanjut," ucapku tersenyum, sambil mengusap pipi Laila.

"Maafkan, Laila, Bu. Tidak bisa bantu."

"Jika mau bantu ibu, Laila harus rajin belajar."

"Baiklah, Ibu."

Kupeluk erat tubuh Laila. Putri semata wayang, yang dulu aku perjuangkan. Aku berjanji akan membahagiakannya.

Luka yang aku rasakan, dia tidak boleh ikut merasakannya.

****

Selepas salat isya, aku bergegas mengantar baju kepada semua pelanggan. Laila terpaksa aku kunci di kontrakan, karena dia sudah tidur.

Jalanan yang cukup ramai tidak membuatku terlalu was-was. Aku ngontrak di dalam gang yang padat penduduk. Kontrakan kecil, yang terjangkau harganya. Sebenarnya ibu pemilik kontrakan juga sudah memberi kemudahan kepada kami. Beliau tahu aku adalah orang tua tunggal.

Aku sudah sampai di depan rumah Bu RT. Tangan ini terangkat mengetuk pintu tiga kali. Tak lupa salam kuucapkan. Tidak perlu menunggu lama, Bu RT sudah nongol di ambang pintu.

"Bu, bajunya."

"Nggak masuk dulu, Rahma?"

"Tidak usah, Bu."

"Sebentar ibu ambilkan uangnya," ucap Bu RT berlalu ke kemarnya.

"Ini, Rahma. Kembaliannya buat jajan Laila, saja."

"Terima kasih, Bu."

Setelah mengantar baju Bu RT, aku segera melangkah menuju rumah pelanggan yang lain. Tidak terlalu jauh, hanya saja berbelok dan beda gang.

***

Malam semakin larut, kantuk mulai bergelayut di kelopak mata ini. Tubuh yang remuk redam mulai meronta meminta haknya. Itu semua sudah sering aku rasakan. Bergelut dengan kain kotor, menyelesaikannya dengan kedua tangan ini. Menjemur, menyetrikanya.

Langkah kupercepat, takut kalau saja Laila bangun dan mencari ibunya.

Uang hasil usaha hari ini kugenggam erat. Besok pagi aku akan membeli ikan untuk Laila lagi. Itu adalah lauk kesukaannya, jika dia senang, pasti ada saja rezeki yang datang.

Tit! Tit!

Klakson keras dari motor seseorang memekakkan telingaku. Padahal aku sudah menepi, tapi dia masih saja terus membunyikan klason motornya.

Tit! Tit!

Aku berhenti, memalingkan tubuh ke belakang. Tiba-tiba saja motor yang ada di belakangku melaju ke arahku.

Bruk!

Tubuh ini ambruk menghantam jalan.  Kakiku terasa sangat sakit, tak bisa aku tahan lagi, sekujur tubuhku pun terasa ngilu. Mataku menjadi sayu, dan lambat laun, pandanganku menjadi gelap.

"Mbak, Mbak." Samar-samar kudengar seseorang memanggilku. Setelahnya aku tak tahu lagi. Aku tak sadarkan diri.

Bersambung ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dibuang oleh Keluarga
9.7
Hari pernikahan Cindy Marissa berubah menjadi mimpi buruk saat Thomas Samono membatalkan upacara demi Yana Amerta yang baru kembali. Tak hanya kehilangan calon suami, kakak kandung Cindy pun tega meninggalkannya di altar dengan alasan Yana lebih membutuhkannya. Pengkhianatan mereka semakin nyata saat Yana memamerkan foto dirinya mengenakan gaun pengantin dan kalung yang seharusnya menjadi milik Cindy. Merasa hancur dan ditinggalkan sendirian oleh orang-orang terdekatnya, Cindy akhirnya memutuskan untuk menyerah dan memilih pulang kepada kedua orang tuanya.
Sampul Novel Ending Scene: Wanita Terakhir di Hati Presdir
8.6
Demi membalaskan dendam keluarganya, Kirei Nakamoto nekat menikahi River King Mountbatten, konglomerat yang mengalami kelumpuhan dan kebutaan. Sementara itu, River yang memendam trauma akibat pengkhianatan masa lalu juga sedang bersiap menghadapi ibu serta adik tirinya yang serakah. Hubungan yang semula terikat kesepakatan saling memanfaatkan ini perlahan berubah. Luka batin yang serupa justru menyatukan mereka dalam cinta. Mampukah Kirei menjadi pelabuhan terakhir bagi hati River?
Sampul Novel Istriku Cacat, Istriku Malang
9.7
Pasca kecelakaan tragis yang menewaskan tunangannya, Ellard Willard didera dendam mendalam. Ia melimpahkan seluruh kemarahannya kepada Emily Laura, perempuan yang dituduh sebagai penyebab utama musibah tersebut. Situasi ini menjebak mereka dalam ikatan rumit yang sarat akan penderitaan. Namun, saat perseteruan mereka semakin memuncak, Ellard justru terjerat dalam keintiman membingungkan yang perlahan mengikis batasan antara rasa benci dan obsesi tak terkendali.
Sampul Novel Rintik Hujan Yang Menggugurkan Cinta
8.0
Rumah tangga yang dibina sekian lama hancur seketika saat sang suami, Benson, diam-diam mendonorkan sperma kepada janda mendiang sahabatnya. Bukannya merasa bersalah, Benson justru memarahi istrinya dengan dalih rasa kemanusiaan dan setia kawan. Pengkhianatan ini kian nyata ketika sang janda memamerkan penthouse mewah baru lengkap dengan foto Benson yang sedang memasak di dapur mereka. Sadar bahwa pengorbanan dan toleransinya telah dieksploitasi habis-habisan, sang istri akhirnya membulatkan tekad untuk mengakhiri pernikahan beracun ini.
Sampul Novel Takdir Yang Tertunda
9.8
Move Herdianata, janda mandiri yang bekerja di perusahaan logistik, terjebak dalam konspirasi rumit. Setelah hubungan dengan kekasih virtualnya, Farhan, kandas, ia menjadi incaran skenario dingin dari CEO arogan bernama Ray Dianata. Demi melindungi Move dari ancaman besar, Ray berkolaborasi dengan Feronika Alfarest untuk mengusirnya. Namun, sebuah rahasia besar terkuak ketika identitas asli Farhan ternyata berhubungan erat dengan Ray. Mampukah Move bertahan di tengah skema berbahaya ini?
Sampul Novel Terbelenggu Cinta Kakak Ipar
9.2
Yuan dihantui rasa bersalah setelah melewati malam terlarang bersama kakak iparnya, Rafan. Walau sepakat merahasiakannya, ia tak bisa lupa. Di tengah situasi itu, perlakuan kejam dan perselingkuhan suaminya justru membuat Yuan kembali mencari perlindungan pada Rafan. Ketika rahasia gelap ini mulai terancam terbongkar, mampukah Yuan menemukan cinta sejati di tengah lingkaran pengkhianatan dan konflik keluarga yang rumit?