APKDock Logo
Sampul Novel CINTA SANG JANDA

CINTA SANG JANDA

9.4 / 10.0
Demi menghidupi anak tercinta setelah bercerai, Rahma rela melakoni pekerjaan apa saja yang halal. Suatu hari, sebuah insiden kecelakaan mempertemukan dirinya dengan Rian, sosok pria tampan yang kemudian selalu melindungi dan mendampinginya. Hubungan mereka kian dekat, namun perbedaan status sosial serta keyakinan membuat keluarga enggan memberi restu. Perjuangan cinta mereka pun kini diuji oleh rintangan berat dari nenek Rian. Mampukah keduanya bertahan?

CINTA SANG JANDA Bab 1

"Bu, beli satu ekor, bisa?"

Aku berdiri di lapak penjual ikan. Berharap ibu penjual ikan mau melayani. Namun, wanita berkaca mata itu masih sibuk melayani pelanggannya yang membeli banyak. Tidak apa-apa, aku memang datang belakangan.

Aku mendesah pasrah karena belum juga dilayani. Padahal aku datang lebih dulu. Namun, kaki ini enggan beranjak dari sana. Sabar menunggu sampai pelanggan lain selesai dilayani. Cipratan air yang bercampur darah ikan sesekali mengenai gamisku.  Sudah hampir lima belas menit  berdiri, tetapi ibu penjual ikan seolah menganggapku seperti arwah penasaran yang tak terlihat.

Aku tak tahan lagi, ingin segera beranjak hendak pergi. Akan tetapi, panggilan dari ibu penjual ikan membuat kaki ini tak jadi beranjak. Ibu penjual ikan tersenyum misteri padaku.

“Mau beli berapa kilo?”

“Satu ekor boleh, Bu?” tanyaku agak malu.

“Hmm, ya. Sebentar.”

Mata ini melihat ke arah lain, suasana pasar pagi ini cukup ramai.

"Ini, ikannya, Mbak." Ibu penjual ikan memberikan kresek hitam kepadaku. Aku menyambutnya dengan senyuman.

“Satu ekor kan, Bu?” tanyaku lagi. Agak heran karena kantong itu agak sedikit berat.

“Iya.”

"Berapa, Bu?" tanyaku cemas, karena kantong itu terasa agak berat.

"Tak usah dibayar," ucap ibu itu tersenyum.

“Jangan gitu, Bu. Saya bayar saja," ucapku tak enak hati. Aku bukan pengemis yang menginginkan belas kasihan orang.

"Ambil saja, Mbak.”  Ia memaksaku, lalu melanjutkan melayani pembeli yang baru datang.

"Terima kasih, Bu."

"Sama-sama."

Aku segera berlalu dari lapak ibu penjual ikan. Mengitari pasar, mencari penjual tempe. Sesampainya di sana, aku membeli tempe tiga ribu rupiah. Bapak penjual tempe mengambil uangnya.

Setelah semua bahan yang aku beli dapat. Aku pun segera buru-buru pulang. Anak semata wayangku pasti sudah menunggu di kontrakan.

***

Sesampainya di kontrakan, aku menemukan pintu sudah tertutup. Mungkinlah Laila sudah pergi ke sekolah? Aku berharap anak semata wayangku baik-baik saja. Aku langsung berlalu, masuk ke kontrakan dan menuju ke dapur.

Senyumku mengembang, kali ini bisa memasak ikan untuk putriku. Laila pasti senang, dan akan makan dengan sangat lahap.

Ketika membuka kantong, aku sangat terkejut. Apa maksud ibu tadi? Isi kantong yang ia berikan hanyalah tulang dan kotoran ikan. Seketika air mata ini langsung jatuh.

Kresek berisi kotoran ikan itu segera aku buang ke tong sampah. Aku sambar jilbab di atas kasur, segera pergi ke pasar lagi. Membeli ikan ke penjual ikan yang lain.

Sesampainya di pasar, aku langsung berinteraksi dengan penjual ikan yang lain.

"Pak, ikannya bisa dibeli seekor saja?” tanyaku pada bapak penjual ikan.

"Bisa, kok, Mbak."

"Ikan emasnya satu ekor saja, ya, Pak."

Bapak penjual ikan mengambil seekor ikan mas yang berenang ke sana ke mari. Setelah memasukkannya ke dalam kantong kresek, lalu dinaikkan ke timbangan.

"Beratnya, dua ons, Mbak. Jadi, delapan ribu, ya."

Aku serahkan uang sepuluh ribu, bapak penjual ikan mengembalikan uangnya dua ribu.

Aku kembali ke rumah dengan hati lega. Sepulang sekolah, putriku  pasti akan segera melihat tudung saji. Sebelum sang putri  pulang aku bertekat harus selesai masak.

***

Bu, ikan gorengnya, enak." Putriku—Laila tersenyum girang, dia makan dengan sangat lahap.

"Alhamdulillah, Nak."

"Ibu, nggak makan?"

"Nanti. Kamu makan saja, dulu."

"Terima kasih, ya, Bu. Akhirnya Laila bisa makan ikan juga. Semenjak ayah tinggalin kita ....” Ucapan Laila langsung terhenti.

"Ssst! Sudahlah, Nak. Jangan bahas tentang ayahmu, lagi. Luka ibu akan berdarah kembali jika kamu bahas itu." Aku memotong kalimat yang diucapkan Laila.

"Maafin, ya, Bu."

Setelah Laila selesai makan, aku segera mengambil nasi dan memakannya di dapur. Semua itu, agar Laila tidak tahu bahwa ibunya hanya makan tempe goreng. Jika Laila tahu, pasti dia akan sedih.

Aku menyuap nasi yang tidak terlalu putih itu ke mulut. Bayangan kejadian tadi pagi masih teringat. Begitu teganya ibu penjual ikan itu menghina. Namun, semua itu membuatku semakin bersemangat untuk bekerja. Mengumpulkan uang yang banyak, agar bisa menopang hidup. Sebagai seorang janda, aku tidak mau dipandang sebelah mata.

Cepat-cepat aku selesaikan makan, karena tumpukan kresek berisi kain tetangga, sudah memanggil-manggil untuk segera dicuci.

****

Punggung bekas suntikan bius ketika aku melahirkan dulu terasa ngilu. Tumpukan kain yang sudah kering masih menanti untuk diselesaikan. Kupaksakan menyetrika baju, malam nanti aku harus mengantar baju-baju ini.

Laundry rumahan, itulah usahaku sejak ditinggalkan oleh ayah Laila. Bukan karena dia tak mencintaiku, hanya saja dia terlalu patuh pada ibunya. Mertua yang selalu kuhormati justru memprovokasi anaknya. Mas Judid menceraikanku, karena sudah melahirkan secara tak normal. Siapa yang tak ingin melahirkan normal?

Tanpa terasa, luka itu kembali berdarah. Kejadian pahit itu tak bisa aku lupakan. Tekatku sudah bulat. Aku akan berusaha terus demi sang buah hati.

"Ibu, menagis?"

Teguran Laila membuatku tersadar.

"Tidak, Sayang. Kamu sudah pulang ngajinya?" tanyaku, sengaja mengalihkan pembicaraan. Aku tak boleh rapuh di depan Laila.

"Udah, Ibu. Kerjaan ibu belum beres, ya?"

Laila mendekat, meraih tanganku, menciumnya penuh rasa hormat.

"Belum, Sayang. Ya, ini mau ibu lanjut," ucapku tersenyum, sambil mengusap pipi Laila.

"Maafkan, Laila, Bu. Tidak bisa bantu."

"Jika mau bantu ibu, Laila harus rajin belajar."

"Baiklah, Ibu."

Kupeluk erat tubuh Laila. Putri semata wayang, yang dulu aku perjuangkan. Aku berjanji akan membahagiakannya.

Luka yang aku rasakan, dia tidak boleh ikut merasakannya.

****

Selepas salat isya, aku bergegas mengantar baju kepada semua pelanggan. Laila terpaksa aku kunci di kontrakan, karena dia sudah tidur.

Jalanan yang cukup ramai tidak membuatku terlalu was-was. Aku ngontrak di dalam gang yang padat penduduk. Kontrakan kecil, yang terjangkau harganya. Sebenarnya ibu pemilik kontrakan juga sudah memberi kemudahan kepada kami. Beliau tahu aku adalah orang tua tunggal.

Aku sudah sampai di depan rumah Bu RT. Tangan ini terangkat mengetuk pintu tiga kali. Tak lupa salam kuucapkan. Tidak perlu menunggu lama, Bu RT sudah nongol di ambang pintu.

"Bu, bajunya."

"Nggak masuk dulu, Rahma?"

"Tidak usah, Bu."

"Sebentar ibu ambilkan uangnya," ucap Bu RT berlalu ke kemarnya.

"Ini, Rahma. Kembaliannya buat jajan Laila, saja."

"Terima kasih, Bu."

Setelah mengantar baju Bu RT, aku segera melangkah menuju rumah pelanggan yang lain. Tidak terlalu jauh, hanya saja berbelok dan beda gang.

***

Malam semakin larut, kantuk mulai bergelayut di kelopak mata ini. Tubuh yang remuk redam mulai meronta meminta haknya. Itu semua sudah sering aku rasakan. Bergelut dengan kain kotor, menyelesaikannya dengan kedua tangan ini. Menjemur, menyetrikanya.

Langkah kupercepat, takut kalau saja Laila bangun dan mencari ibunya.

Uang hasil usaha hari ini kugenggam erat. Besok pagi aku akan membeli ikan untuk Laila lagi. Itu adalah lauk kesukaannya, jika dia senang, pasti ada saja rezeki yang datang.

Tit! Tit!

Klakson keras dari motor seseorang memekakkan telingaku. Padahal aku sudah menepi, tapi dia masih saja terus membunyikan klason motornya.

Tit! Tit!

Aku berhenti, memalingkan tubuh ke belakang. Tiba-tiba saja motor yang ada di belakangku melaju ke arahku.

Bruk!

Tubuh ini ambruk menghantam jalan.  Kakiku terasa sangat sakit, tak bisa aku tahan lagi, sekujur tubuhku pun terasa ngilu. Mataku menjadi sayu, dan lambat laun, pandanganku menjadi gelap.

"Mbak, Mbak." Samar-samar kudengar seseorang memanggilku. Setelahnya aku tak tahu lagi. Aku tak sadarkan diri.

Bersambung ....

Lanjut Membaca

Daftar Isi CINTA SANG JANDA

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Gadis yang Ternoda
7.9
Kehamilan Leanna akibat satu malam tak terduga memaksa Dean membatalkan rencana pernikahannya dengan Trisha. Kini, setelah resmi menikah, Dean justru menyimpan dendam mendalam dan menganggap Leanna sebagai perusak masa depannya. Di tengah dinginnya sikap sang suami, mampukah Leanna melunakkan kekerasan hati Dean? Perjalanan penuh luka Leanna dalam memperjuangkan cinta dan mempertahankan pernikahan yang diawali kebencian ini pun dimulai.
Sampul Novel Jangan Pernah Mengkhianatiku
9.0
Arvella Siregar kabur dari kekejaman Rivan, suaminya, lalu tersesat di hutan hingga diselamatkan oleh Kael Mahendra yang misterius. Di sana, ia bergabung dengan kelompok ahli untuk belajar bertahan hidup dan melatih ketangguhannya. Arvella akhirnya menemukan fakta bahwa kematian orang tuanya merupakan konspirasi jahat, bukan kecelakaan biasa. Bersama Kael, ia bersiap keluar dari hutan untuk menuntut balas sekaligus mengungkap asal-usulnya meski nyawa taruhannya.
Sampul Novel Legenda Sage Pengendara Phoenix
9.3
Kiran, pemuda asal Qingchang, terikat takdir dengan The Flame, Phoenix legendaris milik mendiang Sage Putih Alaric yang tewas di tangan Kaisar Warlock. Demi bertahan hidup, sang Phoenix melakukan penyatuan jiwa berbahaya dengan Kiran. Ingatan peristiwa ini terkunci hingga Kiran tumbuh menjadi jenius ilusi di Institut Magentum. Namun, ia dituduh sebagai pengkhianat dan pewaris Klan Phoenix Merah, memicu perburuan maut oleh Kekaisaran Hersen.
Sampul Novel Om Teman Masa Kecil Ayah
9.3
Perjalanan pulang menggunakan bus tidur di hari libur menjadi awal dari peristiwa yang tak terlupakan. Setelah kembali dari toilet dalam kondisi kabin yang gelap gulita, sebuah kekeliruan terjadi saat mencari ranjang. Di balik tirai yang salah, seorang pria misterius telah menunggu. Alih-alih boneka silikon yang baru dibeli untuk memuaskan hasrat, pertemuan tak terduga di atas ranjang sempit itu justru menuntun pada pergulatan intim yang intens dan penuh gairah panas di tengah malam.
Sampul Novel Perjanjian Rahim
9.6
Demi uang, Calista sepakat menyewakan rahimnya pada Darian. Ide nekat ini dirancang Mireya, sahabat Calista yang juga pacar Darian, karena enggan hamil. Awalnya Calista mengira transaksi ini murni profesional. Namun, benih cinta justru tumbuh antara Calista dan Darian seiring kehamilannya. Keadaan memburuk ketika sifat buruk Mireya mulai terbongkar, mengubah kesepakatan bisnis ini menjadi pusaran konflik batin yang berbahaya bagi mereka.
Sampul Novel Salah Pilih Pengantin
8.7
Fauzan sangat mencintai Rani, tetapi kesalahpahaman fatal memaksanya menikahi Zahra, kakak kandung wanita yang ia puja tersebut. Pernikahan tak terduga ini menempatkan hubungan Fauzan dan Rani di tengah dilema yang rumit. Kini, masa depan mereka berada di persimpangan jalan. Akankah ada celah bagi mereka untuk bersatu kembali, ataukah takdir justru akan memisahkan jalan hidup mereka selamanya?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan